ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Petai belalang (Archidendron clypearia (Jack) Nielson) secara tradisional digunakan sebagai tumbuhan obat untuk detoksifikasi, mendinginkan, mengurangi edema, dan mengobati diare. Tumbuhan petai belalang juga dipercaya dapat digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas, faringolaringitis, tonsilitis, dan gastroenteritis. Pemakaian dengan jumlah yang melebihi batas takaran dapat menyebabkan keracunan (ketoksikan), sehingga untuk menjamin keamanannya harus dilakukan uji toksisitas ekstrak daun petai belalang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun petai belalang terhadap larva udang Artemia salina Leach. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan tahapan determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimia, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 sebagai konsentrasi kontrol (negatif), 100, 150, 200, dan 250 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva udang yang berumur 24 jam. Analisis data dari hasil uji toksisitas menggunakan metode analisis probit untuk menghitung LC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak etanol daun petai belalang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid, dan pada Perhitungan rendemen diperoleh hasil sebesar 18,16 %. Pada hasil uji toksisitas diperoleh dengan nilai LC50 sebesar 251,2465 µg/mL, sehingga ekstrak etanol daun petai belalang termasuk dalam kategori toksik terhadap larva udang Artmia salina Leach.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Selutui puka adalah salah satu tumbuhan liar secara empiris oleh masyarakat suku dayak di Desa Karangan, Kecamatan Mook Manar Bulant, Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur yang digunakan sebagai obat kanker pada bagian kulit batang. Tujuan penelitian untuk mengetahui sifat toksik dan nilai LC50 ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol kulit batang selutui puka (Tabernaemontana macrocapa Jack) terhadap larva Artemia salina Leach. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahapan penelitian yaitu pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol, skrining fitokimia, penetasan telur larva Artemia salina Leach dan uji toksisitas akut ekstrak n-heksana, etil asetat dan etanol terhadap larva Artemia salina Leach dengan masing-masing konsentrasi 50 ppm, 100 ppm dan 200 ppm. Diperoleh ekstrak kental n-heksana sebanyak 4,34 g (rendemen 2,17%), ekstrak etil asetat sebanyak 2,7 g (rendemen 1,35%) dan ekstrak etanol sebanyak 7,05 g (rendemen 3,53%). Hasil skrining fitokimia kulit batang selutui puka ekstrak n-heksana mengandung senyawa alkaloid dan triterpenoid. Ekstrak etil asetat mengandung senyawa flavonoid dan triterpenoid. Ekstrak etanol mengandung senyawa alkaloid, triterpenoid, flavonoid, tannin, saponin, dan triterpenoid. Nilai LC50 ekstrak n-heksana 241,617 ppm (sangat toksik), ekstrak etil asetat 140,955 ppm (sangat toksik) dan ekstrak etanol 103,618 ppm (sangat toksik).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan Rambutan yang akan digunakan sebagai bahan obat harus diuji kualitas mutu dengan dengan melalui serangkaian uji agar keamanannya dapat terjamin dengan melakukan uji karakterisasi dan uji toksisitas akut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjamin mutu ekstrak melalui karakteristik parametrik spesifik dan non spesifik lalu dilanjutkan dengan mengetahui Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan tingkat toksisitas dari ekstrak terhadap larva Artemia salina L.
Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan non eksperimental, dengan tahapan penelitian antara lain: pembuatan simplisia, determinasi, ekstraksi maserasi, skrining fitokimia, karakterisasi spesifik dan non spesifik ekstrak, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 ppm sebagai kontrol (negatif), 50 ppm, 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva Artemia salina Leach yang berumur 18-36 jam dan dibagi dalam 5 kelompok pengujian. Tiap kelompok pengujian terdiri dari 10 ekor larva dengan 3 kali pengulangan. Analisis data untuk menghitung LC50 dihitung menggunakan metode analisis probit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk membandingkan uji toksisitas akut ekstrak etanol dengan dua daun yang berbeda yaitu daun sukun (Artocarpus atilis) dan daun cempedak (Artocarpus champeden.L) dengan menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan menggunakan analisis probit untuk menentukan LC50. Nilai LC50 merupakan angka yang menunjukkan konsentrasi ekstrak suatu tanaman yang dapat menyebabkan kematian hewan uji sebesar 50% dari jumlah hewan uji. Maka didapatkan LC50 daun sukun (Artocarpus atilis) adalah 3608.893 ppm dan daun cempedak (Artocarpus champeden.L) sebesar 314,78 ppm. Daun sukun dan daun cempedak mengandung flavonoid dan tanin. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa terjadi perbedaan nilai LC50 pada kedua jenis tanaman tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk membandingkan uji toksisitas akut genus Syzygium dari spesies yang berbeda yaitu daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun jambu air (Syzygium samarangense) sehingga didapatkan pebedaan LC50 dan potensi ketoksikan dari kedua spesies. Uji toksisitas kedua spesies menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC50. Didapakan LC50 daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) 347,216 bpj dan daun jambu air (Syzygium samarangense) 170,01 bpj. Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun jambu air (Syzygium samarangense) mengandung flavonoid dan tanin. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah daun salam dan daun jambu air memiliki potensi ketoksikan kategori toksik.