Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Piper aduncum L.
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN METODE PERKOLASI DAN INFUNDASI TERHADAP RENDEMEN DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK DAUN SIRIH HUTAN (Piper aduncum L.)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Efisiensi teknologi ekstraksi hingga saat ini menjadi tantangan besar dalam hilirisasi komoditas tanaman obat di industri farmasi. Piper aduncum L. (sirih hutan) merupakan tumbuhan obat potensial yang profil mutu ekstraknya sangat dipengaruhi oleh karakteristik metode penyarian, Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan persen rendemen serta mengevaluasi profil golongan senyawa metabolit sekunder dan sidik jari Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ekstrak daun Piper aduncum L. melalui komparasi metode perkolasi (etanol 70%, suhu ruang) dan infundasi (akuades, 90°C selama 15 menit). Sampel daun diperoleh dari Desa Loa Lepu, Kutai Kartanegara. Pengujian meliputi preparasi simplisia, ekstraksi, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia kualitatif, serta analisis KLT menggunakan pembanding kuersetin. Data kuantitatif dianalisis secara statistik menggunakan uji Independent Samples T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode infundasi menghasilkan rendemen rata-rata lebih tinggi (33,31% ± 0,34) dibandingkan metode perkolasi (28,97% ± 0,86), dengan perbedaan bermakna secara statistik (p 0,05). Susut pengeringan serbuk simplisia sebesar 4,97%, sedangkan kadar air ekstrak infundasi dan perkolasi masing-masing sebesar 6,64% ± 0,10 dan 6,20% ± 0,05. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrak mengandung alkaloid, fenolik, flavonoid, triterpenoid, dan tanin; saponin terdeteksi hanya pada ekstrak infundasi, sedangkan steroid tidak terdeteksi pada kedua ekstrak. Profil KLT terbaik diperoleh pada eluen n-heksana:etil asetat (2:8). Ekstrak perkolasi menunjukkan diversifikasi senyawa yang lebih luas (7 noda) dibandingkan ekstrak infundasi (4 noda), di mana kedua ekstrak mengindikasikan kemiripan migrasi dengan pembanding kuersetin pada nilai Rf 0,49 dan 0,64. Secara umum, infundasi lebih tinggi dalam menghasilkan rendemen, sedangkan perkolasi menunjukkan keragaman profil KLT yang lebih luas.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Metode Pengeringan Oven dan Kering Angin Terhadap Skrining Fitokimia dan Hasil Rendemen Ekstrak Daun Sirih Hutan (Piper Aduncum L.)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pengeringan merupakan tahapan pascapanen yang berperan penting dalam menjaga mutu simplisia dan kestabilan senyawa bioaktif tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan metode pengeringan oven dan kering angin terhadap rendemen ekstrak etanol serta hasil skrining fitokimia daun sirih hutan (Piper aduncum L.). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan dua perlakuan pengeringan, yaitu kering angin dan oven suhu 40°C. Simplisia diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Parameter yang diamati meliputi susut pengeringan, rendemen ekstrak, kadar air, dan skrining fitokimia. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk membandingkan nilai rendemen serta hasil skrining fitokimia, dan secara statistik menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk uji normalitas, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk data susut pengeringan yang tidak berdistribusi normal, serta uji Independent Sample t-test untuk data kadar air yang berdistribusi normal dan homogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan oven menghasilkan susut pengeringan sebesar 5,18%, rendemen 21,09%, dan kadar air 4,41%, sedangkan pengeringan kering angin menghasilkan susut pengeringan sebesar 4,96%, rendemen 27,73%, dan kadar air 6,76%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode pengeringan menghasilkan golongan metabolit sekunder yang sama, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid/terpenoid. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan susut pengeringan antara kedua metode (p = 0,046 0,05), dengan mean rank metode oven (5,00) lebih tinggi dibandingkan kering angin (2,00). Hasil uji Independent Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kadar air antara kedua metode (p = 0,013 0,05), dengan kadar air metode oven lebih rendah dibandingkan kering angin.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh Metode Ekstraksi Maserasi dan Digesti Ekstrak Etanol Daun Sirih Hutan (Piper aduncum L.) Terhadap Aktivitas Antibakteri Staphylococcus aureus

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid. Perbedaan metode ekstraksi dapat memengaruhi jumlah rendemen, kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antibakteri ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi maserasi dan digesti serta variasi konsentrasi terhadap rendemen, kandungan metabolit sekunder, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi dan digesti, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode digesti menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi dibandingkan metode maserasi, yaitu sebesar 34,90% dan 18,02%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode ekstraksi mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dengan kategori daya hambat lemah pada konsentrasi 1% dan sedang pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan konsentrasi berpengaruh signifikan (p0,05) terhadap diameter zona hambat, sedangkan antara metode ekstraksi dan konsentrasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi memengaruhi rendemen dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan terhadap Staphylococcus aureus, dengan metode digesti memberikan hasil yang lebih baik pada rendemen ekstrak dibandingkan metode maserasi. Namun, metode digesti memiliki aktivitas antibakteri yang lebih rendah dibandingkan metode maserasi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail