Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

13 hasil
Subjek: rendemen
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN METODE PERKOLASI DAN INFUNDASI TERHADAP RENDEMEN DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK DAUN SIRIH HUTAN (Piper aduncum L.)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Efisiensi teknologi ekstraksi hingga saat ini menjadi tantangan besar dalam hilirisasi komoditas tanaman obat di industri farmasi. Piper aduncum L. (sirih hutan) merupakan tumbuhan obat potensial yang profil mutu ekstraknya sangat dipengaruhi oleh karakteristik metode penyarian, Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan persen rendemen serta mengevaluasi profil golongan senyawa metabolit sekunder dan sidik jari Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ekstrak daun Piper aduncum L. melalui komparasi metode perkolasi (etanol 70%, suhu ruang) dan infundasi (akuades, 90°C selama 15 menit). Sampel daun diperoleh dari Desa Loa Lepu, Kutai Kartanegara. Pengujian meliputi preparasi simplisia, ekstraksi, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia kualitatif, serta analisis KLT menggunakan pembanding kuersetin. Data kuantitatif dianalisis secara statistik menggunakan uji Independent Samples T-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode infundasi menghasilkan rendemen rata-rata lebih tinggi (33,31% ± 0,34) dibandingkan metode perkolasi (28,97% ± 0,86), dengan perbedaan bermakna secara statistik (p 0,05). Susut pengeringan serbuk simplisia sebesar 4,97%, sedangkan kadar air ekstrak infundasi dan perkolasi masing-masing sebesar 6,64% ± 0,10 dan 6,20% ± 0,05. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua ekstrak mengandung alkaloid, fenolik, flavonoid, triterpenoid, dan tanin; saponin terdeteksi hanya pada ekstrak infundasi, sedangkan steroid tidak terdeteksi pada kedua ekstrak. Profil KLT terbaik diperoleh pada eluen n-heksana:etil asetat (2:8). Ekstrak perkolasi menunjukkan diversifikasi senyawa yang lebih luas (7 noda) dibandingkan ekstrak infundasi (4 noda), di mana kedua ekstrak mengindikasikan kemiripan migrasi dengan pembanding kuersetin pada nilai Rf 0,49 dan 0,64. Secara umum, infundasi lebih tinggi dalam menghasilkan rendemen, sedangkan perkolasi menunjukkan keragaman profil KLT yang lebih luas.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perbandingan Metode Pengeringan Oven dan Kering Angin Terhadap Skrining Fitokimia dan Hasil Rendemen Ekstrak Daun Sirih Hutan (Piper Aduncum L.)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pengeringan merupakan tahapan pascapanen yang berperan penting dalam menjaga mutu simplisia dan kestabilan senyawa bioaktif tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan metode pengeringan oven dan kering angin terhadap rendemen ekstrak etanol serta hasil skrining fitokimia daun sirih hutan (Piper aduncum L.). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan dua perlakuan pengeringan, yaitu kering angin dan oven suhu 40°C. Simplisia diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Parameter yang diamati meliputi susut pengeringan, rendemen ekstrak, kadar air, dan skrining fitokimia. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk membandingkan nilai rendemen serta hasil skrining fitokimia, dan secara statistik menggunakan uji Shapiro-Wilk untuk uji normalitas, dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney untuk data susut pengeringan yang tidak berdistribusi normal, serta uji Independent Sample t-test untuk data kadar air yang berdistribusi normal dan homogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan oven menghasilkan susut pengeringan sebesar 5,18%, rendemen 21,09%, dan kadar air 4,41%, sedangkan pengeringan kering angin menghasilkan susut pengeringan sebesar 4,96%, rendemen 27,73%, dan kadar air 6,76%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode pengeringan menghasilkan golongan metabolit sekunder yang sama, yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid/terpenoid. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan susut pengeringan antara kedua metode (p = 0,046 0,05), dengan mean rank metode oven (5,00) lebih tinggi dibandingkan kering angin (2,00). Hasil uji Independent Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada kadar air antara kedua metode (p = 0,013 0,05), dengan kadar air metode oven lebih rendah dibandingkan kering angin.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP RENDEMEN EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan tanaman obat yang banyak dimanfaatkan karena kandungan senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Senyawa tersebut dapat diperoleh melalui proses ekstraksi, dengan rendemen sebagai salah satu indikator penting yang menentukan keberhasilan proses tersebut. Nilai rendemen dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama jenis pelarut yang digunakan karena perbedaan tingkat kepolaran pelarut akan mempengaruhi kemampuan melarutkan senyawa metabolit sekunder. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut terhadap rendemen ekstrak jahe merah. Metode ekstraksi yang dipilih adalah metode maserasi karena prosedurnya sederhana, dan mudah dilakukan tanpa memerlukan pemanasan yang tinggi. Kajian dilakukan terhadap dua jurnal ilmiah yang membahas ekstraksi jahe merah menggunakan pelarut polar (etanol 96%), semi-polar (etil asetat), dan non-polar (n-heksana). Data yang dikaji meliputi tahapan pembuatan simplisia, metode ekstraksi, dan nilai rendemen. Hasil kajian menunjukkan bahwa etanol 96% secara konsisten menghasilkan rendemen tertinggi dibandingkan pelarut lainnya, sementara perbedaan nilai rendemen juga dipengaruhi oleh perlakuan awal bahan dan cara ekstraksi yang digunakan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi literatur skrining fitokimia dan nilai rendemen ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack.) berdasarkan perbedaan jenis pelarut

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah, salah satunya adalah tumbuhan sungkai (Peronema canescens Jack.), yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan tradisional. Daun sungkai memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat memberikan aktivitas farmakologi sebagai antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi. Kandungan senyawa aktif dan rendemen ekstrak daun sungkai dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Penelitian studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa kimia dan rendemen ekstrak daun sungkai berdasarkan variasi jenis pelarut. Penelitian dilakukan dengan membandingkan dua jurnal utama yang menggunakan pelarut etanol 96% dan metanol. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak dengan pelarut etanol 96% mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan steroid dengan rendemen 7,28%. Ekstrak dengan pelarut metanol mengandung golongan senyawa flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan steroid dengan rendemen 8,85%. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis pelarut mempengaruhi efektivitas ekstraksi senyawa aktif dan nilai rendemen. Pelarut metanol cenderung menghasilkan rendemen lebih tinggi, meskipun tidak mampu mengekstraksi alkaloid secara optimal seperti etanol. Pemilihan pelarut sangat berpengaruh terhadap hasil skrining fitokimia dan nilai rendemen ekstrak daun sungkai, sehingga penting untuk mempertimbangkan karakteristik senyawa target dan kepolaran pelarut.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Rendemen Ekstrak Daun Kersen (Mutingia calabura L. ) Berdasarkan Metode Maserasi, Refluks dan Sokletasi

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu tahapan pengembangan obat adalah pengolahan bahan baku yang dapat menjamin bahan bermutu secara fisika dan kimia. Agar meningkatkan mutu sediaan obat dari bahan alam, maka ekstrak harus mempunyai kualitas yang baik secara fisik dan kandungan kimianya. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendemen adalah metode ekstraksi. Metode ekstraksi yang biasa digunakan antara lain maserasi, refluks dan sokletasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk membandingkan hasil rendemen ekstraksi daun kersen dengan menggunakan berbagai metode ekstraksi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan objek penelitian berupa metode ekstraksi menggunakan metode maserasi, refluks dan sokletasi. Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian nilai rendemen pada perbedaan metode dari ekstraksi daun pepaya menghasilkan nilai rendemen yang berbeda-beda disetiap metode, pada metode maserasi mendapatkan hasil rendemen sebesar 23,9%, metode refluks mendapatkan hasil 27,3% sedangkan pada metode sokletasi mendapatkan hasil rendemen sebesar 28,92%. Hal ini disebabkan oleh pelarut apa yang digunakan, ukuran partikel, jumlah sampel, metode ekstraksi yang digunakan, dan lama waktu ekstraksi.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Profil Rendemen Ekstrak Etanol Tumbuhan Suku Zingiberaceae Menggunakan Metode Maserasi

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil rendemen ekstrak etanol tumbuhan suku Zingiberaceae menggunakan metode maserasi. Zingiberaceae merupakan jenis tumbuhan temu-temuan, yang memiliki rimpang berbau khas dan memiliki potensi sebagai obat radang telinga tengah, dermatitis, hepatitis, katarak, batu ginjal, radang ginjal, radang vagina, kelenjar prostat, kemandulan, dan ejakulasi dini. Beberapa macam tumbuhan Zingiberaceae yang dapat digunakan sebagai obat-obatan diantaranya yaitu kunyit, kencur, jahe.Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan yaitu nilai rendemen, penyajian data dalam bentuk deskriptif berupa tabel dan grafik, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Berdasarkan studi literatur diperoleh hasil nilai rendemen ekstrak etanol dari rimpang kunyit sebesar 22%, rimpang kencur 20,54%, dan rimpang jahe sebesar 17,43%.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENGARUH VARIASI PELARUT TERHADAP RENDEMEN EKSTRAK DAUN KELOR (Moringa Oleifera L)

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui nilai rendemen ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L) yang diekstraksi menggunakan berbagai pelarut. Daun kelor (Moringa oleifera L) tanaman ini telah dikenal selama berabad-abad sebagai salah satu tanaman sayuran yang multiguna padat nutrisi, hampir semua bagian dari tanaman kelor ini dapat dijadikan sumber makanan karena mengandung senyawa aktif dan gizi lengkap. Daun kelor mengandung metabolit primer seperti protein, lemak karbohidrat, berbagai mineral, vitamin dan asam amino sehingga dapat dimanfaatkan sebagai makanan alternatif pada kasus malnutrisi, selain itu daun kelor juga mengandung, metabolit sekunder. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehungga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil dari studi literatur ini, didapatkan bahwa nilai rendemen terbesar pada ekstrak etanol 70% sebesar 12,69% dengan kandungan senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan, saponin. Bahwa ternyata daun kelor banyak tersari pada pelarut yang polar, maka bisa disimpulkan senyawa metabolit sekunder yang ada dalam daun kelor lebih banyak bersifat polar.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR KARAKTERISASI DAN SKRINING FITOKIMIA BIJI KOPI ROBUSTA (Coffea canephora) BERDASARKAN PENGARUH PENYANGRAIAN

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Biji kopi mengandung senyawa seperti kafein, asam klorogenat dan senyawa-senyawa nutrisi. proses penyangraian merupakan tahapan pembentukan aroma dan citarasa khas kopi dari dalam biji kopi dengan perlakuan panas. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan hasil rendemen, penetapan kadar air, Skirining Fitokimia biji kopi robusta (Coffea canephora) berdasarkan pengaruh penyangraian. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal-jurnal ilmiah serta dokumen yang terkait seperti Karya Tulis Ilmiah. Data dianalisis secara deskriptif dengan cara membandingkan literatur tentang rendemen, perhitungan kadar air, dan skrining fitokimia biji kopi robusta. Berdasarkan hasil penelusuran jurnal dan literatur, dapat disimpulkan bahwa hasil rendemen tertinggi biji kopi robusta yang tidak disangrai yaitu 35%, lalu hasil penetapan kadar air tertinggi pada biji kopi yang disangrai yaitu 4,28% dan hasil skirining fitokimia biji kopi yang tidak disangrai menghasilkan senyawa terbanyak yaitu alkaloid, flavonoid, tannin, fenol, terpenoid, minyak atsiri, saponin

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN RENDEMEN HASIL MASERASI DENGAN PELARUT ETANOL PADA TUMBUHAN Famili Euphorbiaceae

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jatropha dan Euphorbia termasuk famili Euphorbiaceae yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat salah satunya dalam bidang kesehatan. Daun jarak pagar (Jatropha curcas) dan daun jarak merah (Jatropha gossypifolia) digunakan untuk mengatasi sakit perut dan demam. Daun patikan kebo (Euphorbia hirta) digunakan untuk mengatasi sesak napas dan radang tenggorokan. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan hasil rendemen dengan etanol 70% dan etanol 96% ekstrak etanol daun jarak pagar (Jatropha curcas), daun jarak merah (Jatropha gossypifolia) dan daun patikan kebo (Euphorbia hirta). Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil rendemen etanol 70% pada tumbuhan (Jatropha curcas), daun jarak merah (Jatropha gossypifolia) dan daun patikan kebo (Euphorbia hirta) masing-masing sebesar 21,5%, 21,23% dan 30%. Selain itu, pada etanol 96% masing-masing sebesar 11,28%, 4,38% dan 11,261%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah nilai rendemen pada etanol 70% lebih besar dibandingkan dengan etanol 96%.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PENETAPAN RENDEMEN DAUN SALAM (Syzygium polyanthum (Wight) DAN DAUN JAMBU BOL (Syzygium malaccense L.) SECARA MASERASI DAN SOXHLETASI

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Tumbuhan salam (Syzygium polyanthum (wight.) Walp) Dan Daun Jambu Bol (Syzygium malaccense L.) termasuk ke dalam famili Myrtaceae. Daun dari kedua tumbuhan tersebut memilki zat aktif yang berkhasiat obat. Zat aktif dalam tumbuhan dapat di piashkan dari campuran dengan ekstraksi, sehingga nilai rendemen dapat diketahui. Tujuan penelitian untuk mengetahui nilai rendemen ekstrak daun salam dan daun jambu bol yang di ekstraksi secara maserasi dan sokletasi. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur dengan tahapan penelitian yaitu : reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan Analisa data pada penelitian ini adalah analisa deskriptif, yaitu berupa nilai rendemen daun salam dan jambu bol berdasarkan metode maserasi dan soklet Hasil yang diperoleh dari perbandingan metode ekstraksi didapatkan nilai maserasi pada daun jambu bol 10,92% dan sokletasi 11,56% dan pada daun salam maserasi 22% dan sokletasi 44%.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR RENDEMEN EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) METODE MASERASI DENGAN BERBAGAI PELARUT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi ini bertujuan untuk membandingkan hasil rendemen ekstraksi daun pepaya dengan menggunakan berbagai pelarut yang berbeda. Daun pepaya merupakan tumbuhan yang berasal dari daerah tropis, masyarakat pada umumnya menggunakan daun pepaya sebagai pelunak daging, pengobatan malaria, demam berdarah, pereda nyeri haid dan juga anti jerawat. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, majalah ilmiah serta dokumen yang terkait seperti skripsi dan jurnal ilmiah. Data yang diambil dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil penelitian nilai rendemen pada perbedaan pelarut dari ekstraksi maserasi daun pepaya menghasilkan nilai rendemen yang berbeda-beda disetiap pelarutnya hal ini disebabkan oleh pelarut apa yang digunakan, ukuran partikel, jumlah sampel, metode ekstraksi yang digunakan, lama waktu ekstraksi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN RENDEMEN EKSTRAK DAUN Pluchea Indica DAN DAUN Eupotarium Triplinerve BERDASARKAN VARIASI KONSENTRASI ETANOL

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan beluntas (Pluchea indica L) dan tumbuhan prasman (Eupotarium triplinerve) merupakan tumbuhan dari suku Asteraceae yang banyak dikenal di beberapa daerah Indonesia. Kedua tumbuhan tersebut memiliki khasiat sebagai obat, khususnya bagian daunnya. Khasiat obat dari suatu tumbuhan dikarenakan adanya senyawa aktif dalam tumbuhan tersebut. Senyawa aktif dapat dipisahkan dari campurannya dengan cara ekstraksi. Hasil ekstraksi berupa ekstrak yang dapat ditentukan nilai rendemennya. Salah satu faktor yang mempengaruhi nilai rendemen adalah konsentrasi pelarut. Tujuan penelitian studi literatur ini adalah mengetahui nilai rendemen ekstrak etanol daun beluntas dan daun prasman berdasarkan variasi konsentrasi pelarut. Tahap penelitian meliputi pengumpulan literatur terkait rendemen ekstrak , reduksi data berupa meringkas literatur sehingga didapatkan data utama inti penulisan, penyajian data dalam tabel ; menganalisa data dan penarikan simpulan. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa jurnal penelitian. Hasil telaah literatur menyimpulkan nilai rendemen ekstrak daun beluntas dengan konsentrasi etanol 60% sebesar 36,5393%; konsentrasi 70% sebesar 34,1831%; konsentrasi 80% sebesar 37,2404%; konsentrasi 96% sebesar 38,2167%. Nilai rendemen ekstrak daun prasman dengan konsentrasi etanol 60% sebesar 3,92%; konsentrasi 80% sebesar 4,40%, konsentrasi 96% sebesar 5,33%.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR NILAI RENDEMEN EKSTRAK TUMBUHAN Ficus MENGGUNAKAN METODE MASERASI

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan Ficus merupakan tumbuhan yang termasuk dalam famili Moraceae dan telah tersebar luas diberbagai wilayah. Masyarakat memanfaatkan potensi yang dimiliki tumbuhan sebagai alternatif pengobatan tradisional. Secara empiris tumbuhan ficus memiliki khasiat sebagai antidiare, antikanker, antimikroba, analgesik, antiinflamasi, antioksidan, penawar racun, dan antibakteri. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui nilai rendemen ekstrak tumbuhan Ficus dengan menggunakan metode maserasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi literatur. Tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dari pengumpulan data-data seperti jurnal-jurnal ilmiah, meringkas data, lalu kemudian mengolah data penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dari jurnal ilmiah. Berbagai literatur yang diperoleh memiliki bagian-bagian tumbuhan berbeda dengan proses ekstraksi maserasi dan penggunaan pelarut yang berbeda sehingga hasil filtrat ekstrak yang diperoleh bervariasi, hal tersebut juga dapat berasal dari tempat tumbuh tumbuhan Ficus yang berbeda-beda. Ekstraksi dengan metode maserasi terhadap tumbuhan Ficus pada spesies berbeda menghasilkan nilai rendemen ekstrak yang bervariasi diantaranya Ficus racemosa L. memperoleh ekstrak etanol pada buah sebanyak 9,2%, dan akar 1,3125%. Ekstrak n-heksan pada kulit batang sebanyak 2,28% dan ekstrak petroleum eter pada daun sebanyak 4,79%. Kemudian ekstrak etanol pada daun Ficus carica L. sebanyak 13,56%. Ekstrak etanol pada buah Ficus benjamina L. sebanyak 1,004%. Ekstrak etanol pada buah Ficus variegata Blume. sebanyak 4,5%. Tumbuhan Ficus memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail