Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

9 hasil
Subjek: kulit buah
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK METANOL KULIT BUAH TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage) DENGAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan untuk pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak metanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) berdasarkan nilai IC₅₀. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan secara in vitro menggunakan metode DPPH dengan prinsip pengukuran penurunan absorbansi radikal bebas. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan vitamin C sebagai pembanding. Aktivitas antioksidan dinyatakan dalam persentase penghambatan terhadap radikal bebas DPPH dan selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai IC₅₀ sebagai parameter aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai IC₅₀ ekstrak metanol kulit buah tampoi yaitu 13,5849 ppm dan rata-rata nilai IC₅₀ vitamin C sebagai pembanding yaitu 8,4020 ppm. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi dan vitamin C sangat kuat. Hal ini diperkuat dengan uji analisis statistik menggunakan independent sample t-test yang menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara dua kelompok tersebut.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Kadar Pro-Antosianidin Pada Seduhan dan Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) dengan metode spektrofotometri UV-Vis

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan tumbuhan yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia secara alami sebagai tanaman kaya antioksidan, namun pemanfaatan dari kulit buah naga merah belum sepenuhnya dimaksimalkan. Kulit buah naga merah dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengobati diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Penarikan senyawa serta aktivitas biologis dari suatu tanaman dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Metode seduhan dan maserasi dipilih karena merupakan metode yang mudah, murah serta lebih aplikatif digunakan masyarakat. Ekstrak etanol dan seduhan kulit buah naga merah memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, terpenoid dan proantosianidin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kadar proantosianidin ekstrak etanol dan seduhan kulit buah naga merah dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan determinasi, pengumpulan kulit buah naga merah, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, pembuatan seduhan, dan penetapan kadar proantosianidin menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding katekin. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar pada ekstrak sebesar 7,47 mgCE/ g ± 0,18 dan pada seduhan didapatkan hasil sebesar 6,33 mgCE/g ± 0,21667. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar proantosianidin pada ekstrak lebih besar dibanding pada seduhan. Hasil analisis data secara statistik kadar proantosianidin menggunakan uji Independent Sample Test menunjukkan nilai P 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara ekstrak dan seduhan kulit buah naga merah.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi Dan Skrining Fitokimia Kulit Buah Labu Kuning (Cucurbita moschata Dutch)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Buah labu kuning diketahui sebagai sumber fenolat yang baik, termasuk flavonoid, antosianin, dan karotenoid. Buah labu kuning memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung nutrisi dan senyawa bioaktif. Kulit buahnya memiliki tekstur yang keras dan cukup tebal hal tersebut menyebabkan buah labu kuning lebih awet dibandingkan buah lainnya. Selama ini kulit buah labu kuning dianggap sebagai limbah. Namun ternyata kulit buah labu kuning memiliki potensi sebagai antibiotik dan antioksidan. Penelitian tentang kulit labu kuning masih terbatas, sehingga perlu dilakukan eksplorasi agar pemanfaatannya lebih optimal. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning serta kandungan senyawa metabolit sekunder nya. Metode penelitian ini meliputi, determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, karakterisasi spesifik dan non spesifik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning.Variabel bebas pada penelitian ini adalah simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Variabel terikat meliputi hasil skrining fitokimia dan hasil pengukuran karakteristik simplisia dan ekstrak.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Labu Kuning (Cucurbita moschata) Berdasarkan Perbedaan Metode Ekstraksi

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Buah labu kuning merupakan tanaman yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi kulit dari buah labu kuning jarang dimanfaatkan bahkan dianggap limbah yang tidak terpakai. Di sisi lain, kulit labu kaya akan metabolit sekunder seperti kandungan flavonoid, alkaloid, saponin dan terpenoid. Bahkan kulit buah labu kuning juga memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat. Kandungan senyawa aktif dalam tumbuhan dapat dipisahkan dengan cara ekstraksi. Metode ekstraksi yang digunakan akan berpengaruh terhadap senyawa aktif yang diperoleh, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas farmakologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kulit labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental melalui beberapa tahapan dimulai dari determinasi tanaman, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi dan refluks, uji aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer dengan metode DPPH (2,2 Difenil-1-Pikrihidrazil). Analisis data yang digunakan berupa data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung dan diolah dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi agar dapat dipaparkan secara baik dan diinterpretasikan secara mudah.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH LIMPASU (Baccaurrea lanceolata) BERDASARKAN PERBEDAAN CARA PENGERINGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Nama :Sa’diah Muliawati Program studi :Sarjana Farmasi Judul skripsi :Penetapan Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol Kulit Buah Limpasu (Baccaurea lanceolata) Berdasarkan Perbedaan Cara Pengeringan Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis. Pembimbing : 1. apt. Supomo, M.Si. 2. apt. Fitri Handayani, M.Si. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang telah diketahui dapat memberikan efek farmakologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid pada ekstrak etanol kulit buah limpasu (Baccaurrea lanceolata) berdasarkan perbedaan cara pengeringan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi: pengumpulan sampel, determinasi, pembuatan simplisia menggunakan metode pengeringan sinar matahari dan oven, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, dan penetapan kadar flavonoid. Ekstrak etanol kulit buah limpasu menggunakan perbandingan kuersetin konsetrasi 100 ppm dengan seri konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Nilai absorbansi diukur dengan Spektrofotometri UV- Vis. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung untuk menilai absorbansi dari masing-masing konsentrasi untuk diolah data dalam bentuk tabel, grafik dan narasi. Hasil penelitian pada P. oven ekstrak etanol kulit buah limpasu memiliki kadar flavonoid sebanyak 1,1075± 0,0746 dan P. matahari ekstrak etanol kulit buah limpasu memiliki kadar flavonoid sebanyak 1,4438± 0,0274. pengeringan matahari memberikan hasil kadar flavonoid yang lebih tinggi di bandingkan pengeringan oven.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pemanfaatan Kulit Buah dan Kulit Umbi Sebagai Indikator Asam-Basa Alternatif Alami Dengan Perbandingan Variasi Suhu Pengeringan

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indikator asam basa alami dapat dibuat dengan mengesktrak bagian dari tanaman, seperti batang, daun, bunga, buah dan kulit buah atau kulit umbi. Antosianin merupakan sub-tipe senyawa organik dari keluarga flavonoid. Antosianin adalah pigmen larut air yang secara alami terdapat pada berbagai jenis tumbuhan. Kestabilan antosianin dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu transformasi struktur, pH, suhu, cahaya dan oksigen. Kadar antosianin akan menurun pada suhu 100oC karena terjadi degradasi pada antosianin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu pengeringan pada kulit buah dan kulit umbi terhadap pembuatan indikator asam- basa. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan teknik sampling yang digunakan adalah metode Purposive Sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah kulit buah naga, kulit buah manggis dan kulit ubi jalar ungu. Sampel diperoleh dari pasar tradisional Kota Samarinda. Tahapan penelitian ini dimulai dengan determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku yaitu kulit buah naga, kulit buah manggis dan kulit umbi jalar ungu, persiapan sampel, mengeringkan sampel dengan variasi suhu 30oC, 40oC, 50oC, 60oC, dan 70oC selama 8 jam, pembuatan ekstrak dari kulit buah dan umbi yang kemudian akan digunakan sebagai indikator asam-basa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi suhu pengeringan berpengaruh terhadap hasil kertas indikator asam basa alami. Kulit buah naga, kulit buah manggis dan kulit ubi ungu memiliki potensi untuk dijadikan indiktor asam basa alternatif dan ekstrak dari simplisia kulit ubi ungu yang dikeringkan dengan suhi 60oC dan 70oC memiliki potensi yang paling besar untuk dijadikan kertas indikator asam basa alternatif karena dapat memberikan hasil perbedaan warna ketika diujikan dengan larutan asam kuat, basa kuat, asam lemah dan basa lemah

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Kadar Flavanoid Total Ekstrak Etanol Daun dan Kulit Buah Alpukat (Persea Americana Mill) dengan Metode Spektrofotometri Uv-Vis

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak etanol kulit buah dan daun alpukat secara empiris spektrofotometri Uv-Vis. Tanaman alpukat (Persea americana) termasuk dalam famili Lauraceae yang berkhasiat obat. Manfaat tanaman ini antara lain mengobati penyakit seperti sariawan, kencing batu, sakit gigi, muka kering, bengkak karena peradangan dan juga kencing manis. Kandungan zat aktif kulit buah alpukat adalah senyawa flavonoid yang dapat digunakan untuk melindungi kulit terhadap sinar UV atau mampu mengurangi kerusakan kulit, karena senyawa ini bekerja sebagai bahan aktif tabir surya sedangkan daun alpukat mengandung komponen fitokimia seperti saponin, tanin,flavonoid,dan alkaloid. Tahap penelitian meliputi pengumpulan literatur, reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data, yaitu data dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan,melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Hasil menunjukkan bahwa kadar flavonoid total ekstrak etanol 90% daun alpukat lebih tinggi yaitu sebesar 64,12 mg/g dibandingkan ekstrak etanol 96% kulit alpukat yaitu sebesar 4,0122 mg/g

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KANDUNGAN METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L.) BERDASARKAN VARIASI PELARUT

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi ini bertujuan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder ekstraksi kulit buah manggis dengan menggunakan variasi pelarut. Pelarut yang dibandingkan dalam penelitian ini adalah etanol 95 %, metanol, dan etil asetat. Etanol 95% dan methanol merupakan pelarut yang bersifat polar sedangkan etil asetat adalah pelarut yang bersifat semi polar. Kulit buah manggis memiliki aktivitas farmakologi sebagai antioksidan, antikanker, antiinflamasi, antibakteri, antifungi, dan lain-lain. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari menelaah buku-buku, dokumen yang terkait seperti skripsi dan jurnal ilmiah. Data yang diambil dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Berupa data metabolit sekunder dari perbedaan pelarut ekstraksi kulit buah manggis. Tahap penelitian meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif dengan melihat data perbandingan hasil metabolit sekunder kulit buah manggis, dengan menggunakan pelarut ekstraksi yang berbeda. Hasil penelitian kandungan metabolit sekunder yang ada pada kulit buah manggis dari variasi pelarut didapatkan hasil yang berbeda. Pada pelarut Etanol 95% mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan polivenol. Serta steroid dan triterpenoid. Sedangkan pada pelarut Etil asetat dan metanol mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan polifenol serta triterpenoid.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

FORMULASI EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH SEBAGAI ZAT WARNA DALAM SEDIAAN PEWARNA BIBIR

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika, yang bertujuan untuk mewarnai bibir agar dapat menyempurnakan bentuk dan memberikan warna dekoratif pada bibir. Pewarna yang terkandung dalam sediaan pewarna bibir memegang peranan yang sangat penting sebab pewarna tersebut yang akan memberikan sentuhan warna pada bibir si pemakainya. Namun pemakaian sediaan pewarna bibir dalam jangka waktu yang panjang dapat memberikan efek samping bagi penggunanya oleh karena itu alternatif lain yang dapat diberikan untuk formula pewarna yang aman adalah dengan menggunakan bahan alam. Studi ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak kulit buah naga merah sebagai zat warna alami dalam sediaan pewarna bibir. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan objek penelitian berupa formulasi sediaan pewarna bibir yang mengandung ekstrak kulit buah naga merah. Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat yaitu data uji sifat fisik sediaan pewarna bibir meliputi uji homogenitas, uji organoleptik, uji titik lebur, uji iritasi, dan pengukuran pH. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ekstrak kulit buah naga merah mengandung senyawa betasianin yang berpotensi menjadi zat warna alami dalam sediaan pewarna bibir.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail