ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik, tetapi juga perlu aktif dalam organisasi untuk mengembangkan soft skills seperti kepemimpinan, kerja sama, dan komunikasi yang berguna untuk melatih mereka nanti menjadi tenaga kefarmasian serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Tujuan penelitian ini mengetahui persepsi dan partisipasi mahasiswa serta melihat hubungan antara persepsi dan partisipasi. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, yaitu pendekatan yang memungkinkan dilakukan pencatatan dan penganalisisan data hasil penelitian secara numerik dengan menggunakan perhitungan statistik. Sampel dalam penelitian ini seluruh mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda prodi S1 Farmasi angkatan 2021 dan angkatan 2022. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner berbentuk google form dengan skala Likert. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan, sedangkan variabel terikatnya adalah partisipasi mahasiswa. Hasil analisis data dilakukan melalui uji validitas, reliabilitas, normalitas, homogenitas, dan uji t satu arah menggunakan SPSS, Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa terhadap organisasi kemahasiswaan tergolong positif, baik pada mahasiswa yang mengikuti maupun yang tidak mengikuti organisasi. Tingkat partisipasi mahasiswa aktif dalam berbagai bentuk organisasi, baik sebagai anggota maupun pengurus. Uji t satu arah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi dan partisipasi. Artinya, semakin positif persepsi mahasiswa terhadap organisasi, maka semakin tinggi kemungkinan mahasiswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun persepsi positif terhadap organisasi kemahasiswaan untuk mendorong keterlibatan mahasiswa yang lebih aktif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar matahari berlebihan tanpa perlindungan yang tepat dapat menyebabkan gangguan kesehatan kulit, seperti penuaan dini, hiperpigmentasi, hingga peningkatan risiko kanker kulit. Penggunaan tabir surya (Sunscreen) merupakan salah satu langkah pencegahan untuk melindungi kulit dari dampak radiasi UV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, perilaku penggunaan tabir surya (Sunscreen), serta hubungan antara keduanya pada mahasiswa STIKSAM. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 612 mahasiswa aktif Program Sarjana Farmasi, Diploma III Farmasi, dan Sarjana Gizi Tahun Akademik 2025/2026. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan terhadap variabel tingkat pengetahuan, perilaku penggunaan Sunscreen, serta karakteristik responden. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penggunaan Sunscreen pada mahasiswa STIKSAM. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik (68,8%) dan perilaku penggunaan Sunscreen kategori baik (60,3%). Uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penggunaan Sunscreen (p=0,000; r=0,419).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Aisyiyah Dwi Iftifa’iyah Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Swamedikasi pada Mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan di Universitas Mulawarman Samarinda Pembimbing : Dr. apt. Triswanto Sentat, M.Farm-Klin. Swamedikasi yang tidak tepat berisiko menimbulkan kesalahan terapi dan efek samping obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap swamedikasi pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan di Universitas Mulawarman Samarinda. Penelitian kuantitatif analitik berdesain cross-sectional ini melibatkan 200 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri dari 100 mahasiswa kesehatan dan 100 mahasiswa non-kesehatan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis secara univariat, bivariat dengan uji Chi-Square, serta multivariat menggunakan Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden secara umum memiliki tingkat pengetahuan swamedikasi tinggi (70,0%) dan sikap swamedikasi baik (66,5%). Uji Chi-Square membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap swamedikasi (𝑝 = 0,000). Terdapat hubungan yang signifikan antara rumpun ilmu (jurusan) dengan tingkat pengetahuan swamedikasi (𝑝 = 0,017), di mana mahasiswa kesehatan memiliki proporsi pengetahuan tinggi yang lebih besar (77,0%) dibandingkan mahasiswa non-kesehatan (63,0%). Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara jurusan dan sikap swamedikasi (𝑝 = 0,123). Pemodelan PCA mengonfirmasi bahwa tingkat pengetahuan merupakan faktor determinan utama yang paling dominan dalam membentuk sikap swamedikasi pada kedua kelompok mahasiswa. Kesimpulannya, tingkat pengetahuan berhubungan positif dengan sikap swamedikasi mahasiswa. Diperlukan edukasi kesehatan berbasis kognitif yang terstruktur untuk meningkatkan literasi obat dan mendorong perilaku swamedikasi yang aman di lingkungan universitas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pandemi COVID-19 telah menimbulkan tantangan besar bagi kesehatan masyarakat global, di mana vaksinasi menjadi strategi utama untuk membentuk kekebalan kelompok. Namun, keberhasilan program vaksinasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk peran media sosial sebagai saluran utama penyebaran informasi maupun disinformasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh media sosial terhadap persepsi vaksinasi COVID-19 di kalangan mahasiswa melalui pendekatan studi literatur terhadap dua konteks berbeda, yakni Malawi dan Irlandia. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif, mengacu pada artikel ilmiah yang relevan. Hasil menunjukkan bahwa di Malawi, terdapat korelasi positif antara kepercayaan terhadap informasi vaksin di media sosial dan keterlibatan mahasiswa dalam diskusi daring, sedangkan di Irlandia tidak ditemukan hubungan signifikan antara media sosial dan keputusan vaksinasi. Sebaliknya, faktor-faktor seperti riwayat vaksinasi, jenis akomodasi, dan kurasi informasi digital lebih memengaruhi sikap vaksinasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa konteks sosial, budaya, serta literasi digital memainkan peran penting dalam membentuk persepsi mahasiswa terhadap vaksinasi. Oleh karena itu, strategi komunikasi vaksinasi harus disesuaikan dengan karakteristik lokal, didukung oleh literasi media yang kuat dan penyebaran informasi berbasis bukti ilmiah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam merancang kampanye vaksinasi yang lebih efektif, khususnya di kalangan mahasiswa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Resiliensi akademik merupakan kemampuan mahasiswa untuk bangkit dari tantangan akademik, mengelola stres, dan tetap berfokus pada tujuan, yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan kinerja akademik, khususnya pada pendidikan intensif seperti farmasi. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara resiliensi akademik dan kinerja akademik mahasiswa farmasi berdasarkan studi literatur, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat resiliensi. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini adalah membandingkan pengaruh tingkat resiliensi akademik terhadap kinerja akademik mahasiswa farmasi di Malaysia dengan mahasiswa farmasi di Amerika Serikat. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu memberikan gambaran tentang data-data hasil penelitian yang telah terkumpul berupa gambaran kejadian tingkat resiliensi yang memengaruhi kinerja akademik mahasiswa farmasi. Hasil penelitian dari dua literatur yang dibandingkan yaitu kinerja akademik mahasiswa farmasi secara signifikan dipengaruhi oleh beberapa faktor tingkat resiliensi akademik seperti jenis kelamin, tahun studi, kemampuan individu dalam menyelesaikan masalah, dukungan sosial serta pemikiran yang adaptif. Kesimpulan dari studi literatur ini ialah tingkat resiliensi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja akademik mahasiswa farmasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pandemi COVID-19 yang dimulai pada Desember 2019 telah menimbulkan dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan mental, terutama di kalangan mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pandemi COVID-19 terhadap kesehatan mental mahasiswa di dua negara yang memiliki konteks geografis berbeda, yaitu Uni Emirat Arab dan Brazil. Berdasarkan studi literatur yang mengacu pada dua jurnal utama, penelitian ini menemukan bahwa mahasiswa mengalami peningkatan stres, kecemasan, dan depresi selama pandemi, dengan prevalensi gangguan mental yang tinggi akibat perubahan drastis dalam sistem pendidikan, keterbatasan interaksi sosial, tekanan finansial, dan kecemasan terkait COVID-19. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis studi literatur dengan metode cross-sectional, yang menggambarkan dampak pandemi pada kesehatan mental mahasiswa. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya penyediaan layanan konseling dan dukungan psikologis yang lebih baik oleh institusi pendidikan, serta kesadaran yang lebih tinggi dari masyarakat, orang tua, dan keluarga tentang pentingnya kesehatan mental mahasiswa. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan yang mendukung kesejahteraan mental mahasiswa di masa depan.