ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan mengembangkan sabun padat yang mengandung ekstrak kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dan minyak atsiri jeruk lemon (Citrus limon) untuk meningkatkan kualitas produk kosmetik. Metode yang digunakan adalah eksperimen, meliputi ekstraksi, formulasi sabun, dan uji fisik seperti uji organoleptis, pH, stabilitas busa, homogenitas, dan uji iritasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sabun padat dengan konsentrasi ekstrak kulit buah naga merah 2,1%, 3,6%, dan 4,2% memenuhi standar sifat fisik yang baik. Uji organoleptis menunjukkan perubahan warna sesuai dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, dan pH sabun berada dalam rentang aman (9-11). Formula 3 menunjukkan stabilitas busa terbaik, dan uji iritasi pada 15 panelis menunjukkan tidak ada efek iritasi pada kulit. Kesimpulannya, sabun padat ini aman digunakan dan memanfaatkan limbah kulit buah naga merah, mendukung pengembangan produk kosmetik berbahan alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Minyak atsiri daun kemangi (Ocimum basilicum L.) berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam sediaan toner. Minyak atsiri memiliki berbagai aktivitas biologis seperti antibakteri, antiparasit, antijamur, antivirus, antioksidan, antiinflamasi, dan antikanker. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum gliserin dan propilenglikol sebagai humektan dalam formulasi toner minyak atsiri daun kemangi. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode penelitian desain faktorial penuh 2² (Design-Expert 13) dengan variasi gliserin (10% dan 15%) serta propilenglikol (5% dan 10%). Evaluasi meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, waktu kering, dan aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik, dengan nilai pH 4,88–6,38, viskositas 2,30–4,70 cPs, dan waktu kering 1,05–1,11 menit. Analisis ANOVA menunjukkan gliserin berpengaruh dominan terhadap respons pH, sedangkan viskositas dipengaruhi secara signifikan (p0,05). Formula optimum memiliki aktivitas antibakteri terhadap propionibacterium acnes dengan rata-rata zona hambat 14,00 ± 0,87 mm (kategori kuat). Disimpulkan bahwa kombinasi gliserin dan propilenglikol menghasilkan formula toner minyak atsiri daun kemangi yang optimal, memenuhi persyaratan mutu fisik, serta berpotensi sebagai toner alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan bahan alami sebagai fixative agent pada sediaan pengharum ruangan dan linen spray semakin berkembang karena dinilai lebih aman dan ramah lingkungan. Minyak atsiri cendana (Santalum album L.) diketahui memiliki aroma yang lembut, stabil, serta mampu memperlambat penguapan komponen volatil sehingga berpotensi meningkatkan daya tahan aroma sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi terbaik minyak atsiri cendana sebagai fixative agent alami berdasarkan karakteristik fisik dan daya tahan aroma serta mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap aroma sediaan pengharum ruangan dan linen spray. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan empat formula yang mengandung minyak atsiri cendana pada konsentrasi 0% (F1), 0,3% (F2), 0,5% (F3), dan 0,8% (F4). Seluruh formula dievaluasi melalui uji organoleptik, pH, homogenitas, stabilitas, stain test, uji penguapan zat cair, Longevity test, dan uji hedonik. Data hasil pengujian dianalisis secara deskriptif, sedangkan data uji hedonik dianalisis menggunakan uji Friedman Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik fisik yang baik, meliputi warna putih kekuningan, kejernihan agak keruh, homogen, nilai pH 5, stabil selama penyimpanan, serta tidak meninggalkan noda pada kain. Peningkatan konsentrasi minyak atsiri cendana mampu memperlambat laju penguapan sehingga meningkatkan daya tahan aroma sediaan. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa seluruh formula dapat diterima oleh panelis, dengan formula F4 memperoleh tingkat kesukaan tertinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi minyak atsiri cendana sebesar 0,8% merupakan konsentrasi terbaik sebagai fixative agent alami pada sediaan pengharum ruangan dan linen spray.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Keanekaragaman bahan baku minyak atsiri yang ada di Indonesia terdiri atas empat puluh jenis dari sembilan puluh sembilan jenis tanaman atsiri yang ada di dunia. Beberapa jenis minyak atsiri Indonesia yaitu salah satunya adalah kayu putih. Penggunaan minyak atsiri sebagai bahan baku industri seperti pembuatan kosmetik, antiseptik dan obat-obatan. Berkembangnya variasi pemanfaatan kayu putih membuat permintaan kebutuhan minyak kayu putih semakin meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil evaluasi sediaan lotion minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi Subsp. cajuputi) dengan variasi konsentrasi minyak kayu putih yang memenuhi syarat fisik. Variabel bebas lotion dengann konsenterasi 0%, 5%, 10%, dan 20%. Uji fisik meliputi evaluasi organoleptis, homogenita, tipe emulsi, pH, viskositas, daya sebar uji freeze-thaw dan serta uji hedonik dari formulasi sediaan lotion minyak kayu putih yang berasal dari daerah Imogiri, Yogyakarta. Hasil penelitian diperoleh hasil evaluasi minyak kayu putih dapat diformulasikan menjadi sediaan pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% karena memenuhi persyaratan uji organoleptis, homogenitas, pH, tipe emulsi, viskositas, daya sebar, dan memenuhi uji stabilitas freeze thaw. Sifat fisik terbaik didapatkan pada formula dengan konsentrasi minyak kayu putih 10% dan juga merupakan yang paling disukai oleh panelis. Sediaan minyak kayu putih memiliki rasa panas saat di oleskan di permukaan kulit, memiliki bau yang enak, mudah di tuangkan, mudah di oleskan di permukaan kulit, terasa lengket di permukaan kulit, memiliki rasa yang lembab, mudah di cuci dengan air, terasa cukup nyaman di gunakan di kulit sebagai.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Aromaterapi merupakan suatu metode pengobatan alternatif yang berasal dari bahan tanaman mudah menguap, dikenal pertama kali dalam bentuk minyak atsiri. Minyak atsiri yang diuapkan juga dianggap sebagai komponen utama dalam aromaterapi yang digunakan untuk merelaksasikan tubuh salah satunya lilin aromaterapi yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai alat penerangan, media terapi dan penyegar ruangan. Lilin aromaterapi akan menghasilkan aroma yang memberikan efek terapi dan bau bila dibakar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik lilin aromaterapi yang dihasilkan Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah artikel. Tahapan penelitian meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis data pada studi ini menggunakn metode analisis deskriptif. Kesimpulan yang dapat diambil adalah kombinasi paraffin dan stearin dengan perbandingan (40:60), (10:30), (10:90) dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan lilin aromaterapi yang memenuhi persyaratan SNI 0385-1989-A/II 0348-1980. Lilin aromaterapi dengan minyak atsiri minyak lavender, minyak jeruk lemon dan minyak nilam memberikan efek nyaman. Lilin dengan minyak minyak mint, minyak rosemary dan minak nilam memberikan efek rileks. Sedangankan, lilin dengan minyak atsiri jasmine memberikan efek segar dan rileks.