Profil penulis
ASTUTI
24 karya publik ditemukan.
Uji Mutu Fisik Sediaan Pulveres pada Apotek di Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat
IDENTIFIKASI FORMALIN PADA IKAN DI PASAR LOA KULUMENGGUNAKAN PEREAKSI SCHRYVER
Karakterisasi Madu Kelulut (Heterotrigona itama) Hasil Budidaya Kecamatan Loa Janan Kota Samarinda
Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang mendukung produksi madu, termasuk madu kelulut (Heterotrigona itama) yang dihasilkan oleh lebah tanpa sengat. Madu kelulut memiliki ciri khas rasa manis dan asam serta kandungan senyawa bioaktif yang bermanfaat sebagai antioksidan, antibakteri, dan bahan penyembuh luka. Kecamatan Loa Janan merupakan salah satu tempat budidaya madu kelulut yang ada di Kota Samarinda . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi madu kelulut hasil budidaya Kecamatan Loa Janan, Kota Samarinda. Karakterisasi meliputi parameter spesifik dan non-spesifik. Madu kelulut diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 95% dan diperoleh rendemen ekstrak sebesar 58,25%. Hasil karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik berupa simplisia agak cair berwarna coklat gelap, berbau khas, dan rasa agak asam. Organoleptik ekstrak berupa ekstrak kental berwarna coklat muda, berbau khas, dan rasa pahit. Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam air pada simplisia sebesar 66,69% dan ekstrak sebesar 68,99%. Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam etanol pada simplisia sebesar 79,65% dan ekstrak sebesar 67,88%. Simplisia dan ekstrak madu kelulut menunjukkan hasil positif metabolit sekunder pada senyawa alkaloid, polifenol, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil karakterisasi non-spesifik meliputi bobot jenis pada simplisia sebesar 1,33 g/mL dan ekstrak rata-rata sebesar 1,32 g/mL. Kadar air rata-rata pada simplisia sebesar 26,09% dan ekstrak sebesar 24,67%. Kadar abu total rata-rata pada simplisia sebesar 0,52% dan ekstrak sebesar 0,43%. Kadar abu tidak larut asam rata-rata pada simplisia sebesar 0,27% dan ekstrak sebesar 0,25%. Total keasaman rata-rata pada madu kelulut sebesar 188,86 mL NaOH/kg.
PENGANTAR ILMU GIZI : Pemahaman tentang Nutrisi dan Kesehatan
Buku “Pengantar Ilmu Gizi : Pemahaman tentang Nutrisi dan Kesehatan" adalah panduan yang membuka pintu wawasan mendalam mengenai pentingnya nutrisi dalam menjaga kesehatan manusia. Definisi dan lingkup ilmu gizi diperkenalkan secara jelas, menggambarkan bagaimana ilmu ini menjadi dasar pemahaman tentang nutrisi dan dampaknya pada tubuh. Buku ini menguraikan secara rinci makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak, serta mikronutrien seperti vitamin dan mineral, memandu pembaca melalui peran masing-masing dalam mendukung fungsi tubuh dan menjaga keseimbangan. Selain itu, buku ini menjelajahi pentingnya serat dan air dalam makanan, menjelaskan proses metabolisme, pencernaan, absorbsi, dan transportasi nutrisi. Isu sensitif malnutrisi seperti gizi kurang dan gizi lebih ditangani dengan hati-hati, sementara gangguan pola makan seperti anoreksia dan bulimia juga diberikan ruang dalam diskusi. Buku ini tidak hanya mengedukasi tentang dampak nutrisi pada kesehatan, tetapi juga mengaitkannya dengan penyakit terkait gizi, memberikan pemahaman lebih dalam mengenai hubungan antara pola makan dan kondisi medis. Dengan fokus pada regulasi dan standar gizi, buku ini menjadi panduan komprehensif bagi siapa pun yang ingin menerapkan ilmu gizi dalam kehidupan sehari-hari demi kesejahteraan dan kesehatan optimal.
Buku Ajar Gizi Dalam Daur Kehidupan
Buku Ajar Gizi Dalam Daur Kehidupan ini disusun sebagai buku panduan komprehensif yang menjelajahi kompleksitas dan mendalamnya tentang Gizi. Buku ini dapat digunakan oleh pendidik dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di bidang ilmu gizi dalam daur kehidupan dan diberbagai bidang Ilmu terkait lainnya. Buku ini dapat digunakan sebagai panduan dan referensi mengajar mata kuliah gizi dalam daur kehidupan dan menyesuaikan dengan Rencana Pembelajaran Semester tingkat Perguruan Tinggi masing-masing. Secara garis besar, buku ajar ini pembahasannya mulai dari konsep dasar gizi dalam daur kehidupan, gizi pada pra-konsepsi, gizi pada ibu hamil, gizi pada ibu menyusui, gizi pada balita, gizi pada bayi, gizi pada anak sekolah, gizi pada remaja, gizi pada dewasa. Selain itu materi mengenai gizi pada lansia dan materi mengenai standar nilai gizi WHO juga di bahas secara mendalam. Buku ajar ini disusun secara sistematis, ditulis dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, dan dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran.
Karakterisasi Madu Kelulut (Heterotrigona itama) Hasil Budidaya Kecamatan Loa Janan Kota Samarinda
Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang mendukung produksi madu, termasuk madu kelulut (Heterotrigona itama) yang dihasilkan oleh lebah tanpa sengat. Madu kelulut memiliki ciri khas rasa manis dan asam serta kandungan senyawa bioaktif yang bermanfaat sebagai antioksidan, antibakteri, dan bahan penyembuh luka. Kecamatan Loa Janan merupakan salah satu tempat budidaya madu kelulut yang ada di Kota Samarinda . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi madu kelulut hasil budidaya Kecamatan Loa Janan, Kota Samarinda. Karakterisasi meliputi parameter spesifik dan non-spesifik. Madu kelulut diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 95% dan diperoleh rendemen ekstrak sebesar 58,25%. Hasil karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik berupa simplisia agak cair berwarna coklat gelap, berbau khas, dan rasa agak asam. Organoleptik ekstrak berupa ekstrak kental berwarna coklat muda, berbau khas, dan rasa pahit. Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam air pada simplisia sebesar 66,69% dan ekstrak sebesar 68,99%. Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam etanol pada simplisia sebesar 79,65% dan ekstrak sebesar 67,88%. Simplisia dan ekstrak madu kelulut menunjukkan hasil positif metabolit sekunder pada senyawa alkaloid, polifenol, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil karakterisasi non-spesifik meliputi bobot jenis pada simplisia sebesar 1,33 g/mL dan ekstrak rata-rata sebesar 1,32 g/mL. Kadar air rata-rata pada simplisia sebesar 26,09% dan ekstrak sebesar 24,67%. Kadar abu total rata-rata pada simplisia sebesar 0,52% dan ekstrak sebesar 0,43%. Kadar abu tidak larut asam rata-rata pada simplisia sebesar 0,27% dan ekstrak sebesar 0,25%. Total keasaman rata-rata pada madu kelulut sebesar 188,86 mL NaOH/kg.
Farmakologi Pada Kebidanan
Konsep Dasar Farmakologi, Konsep Farmakokinetik, Konsep Farmakodinamik, Aspek Legal Dalam Pemberian Obat Oleh Bidan, Penggolongan Obat, Cara Penyimpanan Obat, Patofisiologi Penyakit Umum Yang Berkaitan Dengan Praktik Kebidanan, Dosis Obat Dan Pengelolaan Obat Dan Pelayanan Resep, Analisa Dan Penjelasannya Pada Unit Kia Di Puskesmas
Farmakologi dalam Bidang Kebidanan
Tujuan utama penulisan buku Farmakologi Dalam Bidang Kebidanan ini adalah untuk memberi pembaca suatu pemahaman dasar tentang ilmu Farmakologi yang dapat diterapkan dalam pelayanan kebidanan khususnya mengenai proses penghantaran obat dan pentingnya terapi obat yang aman dan efektif. Pemahaman yang baik mengenai Farmakologi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia tenaga kesehatan sehingga seorang Bidan khususnya bisa memberikan pelayanan kesehatan secara holistic dan profesional. Buku ini terdiri atas 12 bab Bab 1 Konsep Dasar Farmakologi Bab 2 Konsep Farmakodinamik Bab 3 Farmakokinetik Bab 4 Kewenangan Bidan Dalam Pemberian Obat Bab 5 Prinsip Pemberian Obat Pada Ibu Hamil Bab 6 Kategori Obat Pada Ibu Hamil Bab 7 Penggolongan Obat Bab 8 Cara Penyimpanan Obat Bab 9 Patofisiologi Penyakit Umum Yang Berkaitan Dengan Praktik Kebidanan Bab 10 Terapi Cairan Bab 11 Dosis Obat Dan Mengolah Obat Bab 12 Pembuatan Resep Obat
BUKU AJAR FARMAKOLOGI DAN TERAPI I
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dalam bidang farmakologi, serta tuntutan akan kompetensi seorang dokter, maka diharapkan buku ajar ini dapat terbantu memahami materi farmakologi dengan lebih mendalam. Sehingga capaian lulusan pada program ini dapat tercapai dan bermanfaat di kemudian hari bagi semua kalangan, dan para pasien yang membutuhkan pada khususnya
MANAJEMEN STRATEGIK (sebuah kajian dalam Pendidikan Islam)
Buku ini, di samping secara akademis sangat diperlukan, juga sekaligus memberikan arah yang jelas bagaimana operasi ilmu Manajemen Strategis ini diterapkan untuk membangun kemajuan LPI dari aspek manajerial dan leadershipnya. Dengan karya-karya semacam ini, yang tergabung dalam sistem keilmuan program studi MPI, kita dapat berharap secara bertahap stigma terhadap LPI sebagai lembaga pendidikan “yang tahan hidup, banyak masalah, dan tidak maju” itu dapat kita atasi.
Fitoremediasi Pencemar Limbah Organik dan Anorganik di Wilayah Pesisir Menggunakan Tumbuhan Mangrove
Buku ini berisi pembahasan mengenari pesisir, pencemaran yang terjadi di pesisir, metode fitoremediasi, mangrove, dan kemampuan mangrove mendegradasi pencemar di pesisir. Buku ini ditujukan sebagai referensi dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup untuk pemulihan pencemaran limbah organik dan anorganik di wilayah pesisir menggunakan tumbuhan mangrove.
Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Di Kota Salatiga
Buku "Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis di Kota Salatiga ini merupakan sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh tim penutis. Kota Satatiga sebagai satah satu kota dengan kepadatan penduduk tinggi memang harus menghadapi berbagai permasalahan kompleks di bidang pembangunan. Kondisi ini melatarbelakangi pentingnya untuk melakukan penelitian terkait Kajian Lingungan Hidup Strategis (KLHS) di Kota Salatiga. KLHS merupakan tahap awal dari proses penyusunan rancangan pembangunan sehingga dapat diperkirakan dampak negatif terhadap lingkungan apabila Kebijakan, Rencana dan Program (KRP) dilaksanakan. Melalui hasil penelitian yang dituangkan di dalam buku ini, para pembaca dapat menangkap rekomendasi penyempurnaan KRP. Muara akhir yang diharapkan adalah dapat menjadi rujukan untuk pembangunan yang berkelanjutan di Kota Salatiga.
Modul Pembelajaran Komunikasi Antarpribadi
Buku ini membahas dan mempraktekkan komunikasi antar pribadi sebagai dasar keterampilan berkomunikasi. Materi pembahasan yaitu tentang konsep komunikasi antarpribadi, sistem komunikasi, prinsip komunikasi antar pribadi, teori-teori komunikasi antar pribadi, ciri dan keefektifan hubungan interpersonal serta peranan budaya dalam komunikasi antar pribadi untuk mengaplikasikan pembukaan diri yang responsif gender melalui proses 3M, serta melakukan identifikasi profil komunikator, mempelajari juga bentuk dan fungsi komunikasi verbal dan non verbal tanpa bias gender, dan bagaimana mendiagnosis konflik yang menjadi hambatan dalam berkomunikasi antar pribadi yang berperspektif gender.
Modul Kesejahteraan Remaja
Menjadi sejahtera adalah menjadi bahagia dan berdaya. Mengingat pentingnya menjadi pribadi yang merasa sejahtera maka perlu diketahui upaya-upaya untuk merealisasikannya. Setiap tahapan usia dan tidak terkecuali remaja berhak untuk menjadi sejahtera, ketika mampu mengevaluasi mengenai potensi dirinya ataupun keterbatasan yang dimiliki, juga mampu mengenali emosi yang dimilikinya baik positif maupun negatif. Di samping itu, tentunya masih terdapat faktor lain yang turut berperan, namun dibatasi pembahasannya pada modul ini. Modul ini secara khusus membahas mengenai upaya meningkatkan kesejahteraan pada remaja. Hal tersebut didasari oleh karena remaja adalah masa yang penuh gejolak dan tantangan tersendiri, di sisi lain adalah sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, remaja perlu diberikan pijakan agar berkembang sesuai tahapan perkembangannya. Melalui penerapan modul ini, diharapkan dapat menambah referensi dan menjadi acuan tata laksana intervensi bagi pembacanya atau pemerhati di ranah psikologi remaja.
Uji Mutu Fisik Sediaan Pulveres pada Apotek di Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat
STUDI LITERATUR GAMBARAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PASIEN BPJS RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT
Studi ini bertujuan untuk menggambarkan waktu tunggu pelayanan resep pasien BPJS di rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator penting untuk menjaga kinerja mutu rumah sakit. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa jurnal penelitian. Berdasarkan Keputusan Kemenkes RI NO : 129/Menkes/sk/II/2008 untuk resep non racIkan 30 menit dan resep racikan 60 menit. Hasil penelitian studi ini rata-rata pelayanan resep non racikan 20,44 menit: 2,65 menit dan 83,76 menit. Rata-rata pelayanan resep racikan 30,95 menit: 15,53 menit dan 91,08 menit. Kesimpulan yang di dapat waktu tunggu pelayanan resep dipengaruhi oleh Sumber Daya Manusia, Jenis Resep, Sarana dan Prasarana dan SOP Rumah Sakit.
STUDI LITERATUR GAMBARAN WAKTU TUNGGU PELAYANAN RESEP PASIEN BPJS RAWAT JALAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT
Studi ini bertujuan untuk menggambarkan waktu tunggu pelayanan resep pasien BPJS di rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator penting untuk menjaga kinerja mutu rumah sakit. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa jurnal penelitian. Berdasarkan Keputusan Kemenkes RI NO : 129/Menkes/sk/II/2008 untuk resep non racIkan 30 menit dan resep racikan 60 menit. Hasil penelitian studi ini rata-rata pelayanan resep non racikan 20,44 menit: 2,65 menit dan 83,76 menit. Rata-rata pelayanan resep racikan 30,95 menit: 15,53 menit dan 91,08 menit. Kesimpulan yang di dapat waktu tunggu pelayanan resep dipengaruhi oleh Sumber Daya Manusia, Jenis Resep, Sarana dan Prasarana dan SOP Rumah Sakit.
STUDI LITERATUR KARAKTERISTIK BAGIAN TUMBUHAN Ficus racemosa Linn
ABSTRAK Secara empiris bagian tumbuhan Ficus racemosa L. dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti khasiat pada daun digunakan untuk disentri dan diare. Khasiat pada buah digunakan untuk batuk kering, luka bakar, cacingan, kusta, keputihan, kanker dan kudis. Khasiat pada kulit kayu sebagai obat penyakit kulit, pencahar, diabetes, maag, keputihan, gangguan saraf, diare dan penyakit vagina. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik daun, buah dan kulit kayu dari tumbuhan Ficus racemosa L. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian studi literatur. Objek yang diteliti adalah karakteristik bagian tumbuhan Ficus racemosa L. Tahapan penelitian dimulai dari reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data yaitu data dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil karakterisasi spesifik tumbuhan Ficus racemosa L., pada kadar sari larut air rata-rata ekstrak daun 10,89%, ekstrak buah 9%, ekstrak kulit kayu 11,27%, dan kadar sari larut etanol rata-rata ekstrak daun 1,78%, ekstrak buah 7%, ekstrak kulit kayu 8,48%. Hasil skrining fitokimia pada ekstrak daun (flavonoid, steroid dan terpenoid), pada ekstrak buah (alkaloid, flavonoid, tanin dan steroid), pada ekstrak kulit kayu (flavonoid, tanin, saponin, steroid dan terpenoid). Hasil karakterisasi non spesifik pada kadar abu total rata-rata ekstrak daun 11,56%, ekstrak buah 3,96%, ekstrak kulit kayu 16,31%. Kadar abu tidak larut asam rata-rata ekstrak daun 3,52%, ekstrak buah 9,29%, ekstrak kulit kayu 1,35%, sedangkan kadar abu larut air ekstrak buah rata-rata 7,45%.
STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTINOSISEPTIF DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.)
Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) merupakan salah satu tanaman herbal. Tumbuhan kratom dapat digunakan sebagai obat demam, meringankan nyeri otot dan mengurangi nafsu makan. Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) memiliki efek analgesik opioid (antinosiseptif). Kandungan utama daun kratom adalah mitraginin yang memiliki afinitas kuat pada reseptor opioid. Studi ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antinosiseptif ekstrak dan fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Fraksi n-heksan daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi diklorometana daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi air daun kratom dosis I (140mg/kgBB), dosis II (280mg/kgBB) dan dosis III (560 mg/kgBB) memiliki efek antinosiseptif. Kesimpulan dari studi ini adalah terdapat perbedaan aktivitas antinosiseptif fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Fraksi air daun kratom dosis 560 mg/kgBB memiliki aktivitas antinosiseptif lebih lemah dibandingkan dosis 280 mg/kgBB yang dihasilkan oleh fraksi n-heksan dan fraksi diklorometana.