ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas adalah atom atau molekul dengan elektron tidak berpasangan yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif, sehingga dapat merusak sel-sel tubuh dengan menyerang makromolekul seperti lipid, asam nukleat, dan protein. Kerusakan ini dapat dicegah oleh senyawa antioksidan, yang mampu menghambat atau mencegah proses oksidasi. Antioksidan alami dapat ditemukan dalam berbagai tanaman, salah satunya adalah daun kratom yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-etilbenzoatiazolin-6-sulfonat). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kratom, serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Daun kratom diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Dilakukan fraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol air terhadap ekstrak etanol daun kratom, setelah itu dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS terhadap ekstrak dan fraksi daun kratom. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun kratom diperoleh nilai IC50 2,7101 ppm, fraksi n-heksan nilai IC50 16,4710 ppm, fraksi etil asetat IC50 4,4733 ppm, dan fraksi etanol air nilai IC50 6,1873 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi di antara sampel lainnya karena nilai IC50 ekstrak etanol yang paling rendah dibanding fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, fraksi etanol air.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Luka bakar merupakan luka yang cukup sering terjadi dan dapat menyebabkan kerusakan yang serius pada lapisan kulit, bahkan hingga jaringan yang lebih dalam. Berbagai alternatif terapi alami mulai banyak dikembangkan, salah satunya dengan memanfaatkan senyawa bioaktif dari tumbuhan yang memiliki potensi sebagai agen penyembuh luka. Daun kokang sendiri dipercayai oleh masyarakat suku Dayak Benuaq memiliki khasiat menyembuhkan luka dan menghilangkan bekas luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) dalam penyembuhan luka bakar pada punggung mencit jantan (Mus musculus). Penelitian ini bersifat kuantitatif dan kualitatif eksperimental. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun kokang dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30%. Tahapan penelitian ini meliputi pengambilan sampel, determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi sampel, skrining fitokimia, pembuatan konsentrasi dosis ektrak, penyiapan hewan uji, pembuatan luka bakar, perawatan luka bakar dan pengamatan penyembuhan luka bakar. Pengolahan data dilakukan dengan One Way ANOVA (Analysis Of Variant) dan dilanjutkan dengan pengujian data LSD (Least Significant Diference).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia terletak di garis khatulistiwa sehingga memungkinkan terpapar sinar matahari dengan intensitas tinggi yang dapat merusak kulit akibat radiasi UV A dan UV B. Daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) berpotensi sebagai tabir surya alami dan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Variabel terikatnya adalah aktivitas tabir surya ekstrak dan fraksi daun kokang. Hasil penelitian pada serbuk simplisia daun kokang didapatkan nilai susut pengeringan 10,73% dan hasil rendemen ekstrak 15,4% dengan nilai kadar air ekstrak 6,39%. Hasil yang didapatkan dari rendemen fraksi n-heksan 10,04%, fraksi etil asetat 22,92%, dan fraksi etanol air 36,96%. Hasil penelitian terhadap nilai SPF (Sun Protection Factor) menunjukkan konsentrasi 2500 ppm berturut-turut yaitu pada fraksi n-heksan memiliki nilai SPF 34,46 ± 0,13 (high protection), fraksi etanol air 29,73 ± 0,03 (medium protection), ekstrak etanol 28,94 ± 0,35 (medium protection) dan nilai SPF paling rendah pada fraksi etil asetat 15,91 ± 0,07 (medium protection). Hasil analisis data menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi memiliki nilai signifikansi (sig.) > 0,05 yang artinya berdistribusi normal, serta nilai homogenitas varians sebesar 0,206 (> 0,05) yang menunjukkan varians homogen. Uji One-Way Analysis of Variance (ANOVA) dinyatakan adanya perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai keempat sampel (p 0,05). Analisis data lanjutan menggunakan Uji Post Hoc Test (PHT) didapatkan bahwa keempat sampel memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda sehingga tidak dapat dianggap identik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 19,85% penduduk Indonesia atau sekitar 64 juta jiwa belum memiliki fasilitas cuci tangan di rumah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya inovasi produk pembersih yang praktis, higienis, dan mudah dibawa, seperti sabun kertas (paper soap). Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi mutu fisik sabun kertas berbahan aktif ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum L.) berdasarkan parameter Standar Nasional Indonesia (SNI) 3532:2021 tentang sabun padat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Ekstrak daun kemangi diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dengan rendemen sebesar 21,97%, kemudian diformulasikan ke dalam sediaan sabun kertas dengan konsentrasi ekstrak 3% (F1), 6% (F2), dan 9% (F3), serta formula kontrol tanpa penambahan ekstrak (F0). Evaluasi mutu fisik meliputi uji organoleptik, kadar air, alkali bebas, pH, dan tinggi busa. Data hasil pengujian disajikan dalam bentuk nilai rata-rata dan standar deviasi, kemudian dibandingkan dengan persyaratan mutu berdasarkan SNI 3532:2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik organoleptik yang berbeda sesuai dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Nilai kadar air Formula F0, F1, F2, dan F3 berturut-turut sebesar 12,77% ± 0,47; 14,97% ± 5,00; 15,69% ± 0,49; dan 16,49% ± 0,05. Nilai alkali bebas berturut-turut sebesar 0,088% ± 0,0040; 0,072% ± 0,0040; 0,061% ± 0,0046; dan 0,050% ± 0,0046. Nilai pH berturut-turut sebesar 11,10 ± 0,05; 10,10 ± 0,05; 10,03 ± 0,04; dan 10,00 ± 0,05. Tinggi busa yang dihasilkan berturut-turut sebesar 26,00 ± 5,29 mm; 40,00 ± 6,24 mm; 55,33 ± 4,16 mm; dan 78,33 ± 11,59 mm. Berdasarkan hasil evaluasi dan perbandingan dengan persyaratan mutu SNI 3532:2021, Formula F1, F2, dan F3 memenuhi persyaratan pada seluruh parameter yang diuji, sedangkan Formula F0 tidak memenuhi persyaratan pada parameter pH karena memiliki nilai pH sebesar 11,10 yang melebihi batas maksimum yang dipersyaratkan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kemangi dapat diformulasikan menjadi sabun kertas yang memenuhi persyaratan mutu fisik SNI 3532:2021. Penambahan ekstrak menghasilkan perbedaan karakteristik fisik antarformula di mana konsentrasi yang lebih tinggi menurunkan pH, serta meningkatkan kadar air dan tinggi busa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Acne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang dipicu oleh kolonisasi bakteri patogen, utamanya Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan antibiotik konvensional secara terus-menerus berisiko memicu resistensi bakteri. Minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang mengandung senyawa aktif utama eugenol (75,27%) berpotensi sebagai agen antibakteri alami alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas dan diameter zona hambat minyak daun cengkeh terhadap pertumbuhan Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran (diameter 6 mm). Minyak daun cengkeh diuji pada seri konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50% v/v menggunakan pengencer DMSO 1%. Klindamisin 1% digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat di sekeliling sumuran setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan minyak daun cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 3,57 mm (lemah), 6,83 mm (sedang), 10,35 mm (kuat), dan 14,15 mm (kuat). Pada Staphylococcus epidermidis, rata-rata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 3,33 mm (lemah), 6,27 mm (sedang), 9,97 mm (sedang), dan 12,60 mm (kuat). Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p 0,001). Uji lanjut Post-Hoc menggunakan Games-Howell pada Cutibacterium acnes (karena varians tidak homogen) dan Tukey HSD pada Staphylococcus epidermidis mengonfirmasi bahwa seluruh kelompok konsentrasi berbeda signifikan secara statistik (p 0,05). Disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri minyak daun cengkeh cenderung meningkat seiring peningkatan konsentrasi, dengan Cutibacterium acnes menghasilkan diameter zona hambat yang cenderung lebih besar dibandingkan Staphylococcus epidermidis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan bahan alam dalam produk kosmetik semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan dan keberlanjutan lingkungan. Salah satu bahan alam yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan aktif kosmetik adalah daun senduduk (Melastoma malabathricum L.). Masker gel peel-off merupakan sediaan perawatan kulit berbentuk gel yang setelah diaplikasikan pada kulit akan mengering dan membentuk lapisan film tipis, transparan, elastis, serta mudah dikelupas. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan formula masker gel peel-off yang mengandung ekstrak daun senduduk dengan variasi kombinasi Polyvinyl Alcohol (PVA) dan Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC) guna memperoleh sediaan dengan karakteristik fisik yang optimal. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan pendekatan optimasi formula menggunakan metode Design Factorial. Hasil penelitian ini diperoleh data sifat fisik sediaan yang dianalisis menggunakan aplikasi Design Expert® versi 13. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan komposisi optimum PVA dengan konsentrasi 15% dan HPMC dengan konsentrasi 2%, keduanya mampu mempengaruhi karakteristik pada sediaan masker gel peel-off ekstrak daun senduduk. Hasil pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS menunjukkan bahwa masker gel peel-off ekstrak daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) memiliki nilai IC₅₀ sebesar 11,5010 ppm, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 0,5017 ppm. Berdasarkan klasifikasi aktivitas antioksidan, kedua sampel termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat karena memiliki nilai IC₅₀ kurang dari 50 ppm. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sediaan tetap mampu mempertahankan aktivitas antioksidan yang sangat kuat setelah proses formulasi, sehingga berpotensi digunakan sebagai produk perawatan kulit untuk membantu menangkal radikal bebas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bibir rentan mengalami kekeringan dan kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet (UV). Daun kratom (Mitragyna speciosa (Korth.)) mengandung metabolit sekunder dengan sifat antioksidan dan fotoprotektif, sehingga berpotensi menjadi bahan aktif dalam lip balm. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula optimal lip balm ekstrak daun kratom dengan menggunakan kombinasi Cera alba dan Vaseline album, serta untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari formula optimal tersebut. Penelitian dilakukan secara eksperimental. Ekstrak daun kratom diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70%, kemudian dikarakterisasi melalui pengujian susut pengeringan, kadar air, dan skrining fitokimia. Selanjutnya, ekstrak diformulasikan ke dalam sediaan lip balm dengan variasi konsentrasi Cera alba dan Vaseline album. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, serta penentuan nilai SPF secara in vitro menggunakan metode Mansur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air ekstrak sebesar 14,86% dan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, serta steroid. Seluruh formula menghasilkan sediaan lip balm yang homogen dengan karakteristik fisik yang memenuhi persyaratan. Variasi konsentrasi Cera alba dan Vaseline album memberikan pengaruh terhadap karakteristik fisik sediaan, sedangkan formula dengan komposisi 90% Vaseline album dan 3% Cera alba menghasilkan karakteristik yang paling baik. Formula tersebut memiliki nilai SPF rata-rata sebesar 26,30 ± 2,04, yang termasuk dalam kategori proteksi ultra.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap produk perawatan kulit berbahan alam mendorong pengembangan sediaan kosmetik yang lebih efektif. Daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) mengandung flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan, namun pemanfaatannya dalam sediaan topikal masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimum Tween 80 dan PEG 400 pada formulasi serum nanoemulsi ekstrak daun senduduk serta mengetahui aktivitas antioksidannya. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode Factorial Design menggunakan Tween 80 sebagai surfaktan dan PEG 400 sebagai kosurfaktan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70% kemudian diformulasikan menjadi serum nanoemulsi. Evaluasi sediaan meliputi organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, transmitan, ukuran droplet, polydispersity index (PDI), dan zeta potensial. Formula optimum ditentukan menggunakan perangkat lunak Design Expert, kemudian dilakukan verifikasi dan pengujian aktivitas antioksidan dengan metode ABTS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formula optimum diperoleh pada konsentrasi Tween 80 sebesar 12,844% dan PEG 400 sebesar 14,663%. Hasil verifikasi formula optimum menunjukkan karakteristik fisik yang baik dengan nilai pH 6,4, viskositas 20 cP, transmitan 96,34%, ukuran droplet 91 nm, Polydispersity Index (PDI) 0,364, dan zeta potensial -2,86 mV. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa parameter pH, viskositas, dan zeta potensial tidak berbeda signifikan antara hasil prediksi dan verifikasi (p > 0,05). Formula tersebut memiliki nilai IC₅₀ sebesar 115,85 ± 33,79 ppm, yang termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sedang. Dengan demikian, ekstrak daun senduduk berpotensi dikembangkan sebagai serum nanoemulsi antioksidan berbahan alam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid. Perbedaan metode ekstraksi dapat memengaruhi jumlah rendemen, kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antibakteri ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi maserasi dan digesti serta variasi konsentrasi terhadap rendemen, kandungan metabolit sekunder, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi dan digesti, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode digesti menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi dibandingkan metode maserasi, yaitu sebesar 34,90% dan 18,02%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode ekstraksi mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dengan kategori daya hambat lemah pada konsentrasi 1% dan sedang pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan konsentrasi berpengaruh signifikan (p0,05) terhadap diameter zona hambat, sedangkan antara metode ekstraksi dan konsentrasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi memengaruhi rendemen dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan terhadap Staphylococcus aureus, dengan metode digesti memberikan hasil yang lebih baik pada rendemen ekstrak dibandingkan metode maserasi. Namun, metode digesti memiliki aktivitas antibakteri yang lebih rendah dibandingkan metode maserasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Face mist berbasis bahan alam memiliki potensi sebagai sediaan perawatan kulit, namun kombinasi humektan yang optimal untuk menghasilkan karakteristik fisik yang baik sekaligus mempertahankan aktivitas antioksidan masih perlu ditentukan. Penelitian ini bertujuan menentukan formula optimum face mist ekstrak daun senduduk (Melastoma malabathricum L.) dengan variasi konsentrasi gliserin dan propilenglikol serta mengevaluasi aktivitas antioksidannya menggunakan metode ABTS. Penelitian dilakukan melalui determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%, skrining fitokimia, formulasi face mist menggunakan desain faktorial dengan bantuan Design Expert 13, evaluasi sifat fisik sediaan, optimasi formula, verifikasi menggunakan One Sample T-Test, dan pengujian aktivitas antioksidan metode ABTS dengan vitamin C sebagai kontrol positif. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak sebesar 19,63% dengan susut pengeringan 8,67%, kadar air 20,17%, serta ekstrak mengandung flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan steroid. Formula optimum diperoleh pada kombinasi gliserin 15,5% dan propilenglikol 8% dengan nilai desirability 0,737. Formula tersebut memiliki pH 4,977, viskositas 66,667 cP, daya semprot 5,575 cm, dan waktu kering 3,29 menit. Hasil verifikasi menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil prediksi dan hasil percobaan (p>0,05), sehingga model optimasi dinyatakan valid. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan nilai IC₅₀ face mist optimum sebesar 565,85 ± 63,325 ppm, sedangkan vitamin C sebesar 0,5017 ± 0,1872 ppm. Dengan demikian, kombinasi gliserin dan propilenglikol yang diperoleh mampu menghasilkan face mist dengan karakteristik fisik yang memenuhi target optimasi, namun aktivitas antioksidannya masih tergolong sangat lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit infeksi masih menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara berkembang, karena dapat meningkatkan angka kejadian penyakit dan kematian. Salah satu bakteri penyebab infeksi yang sering dijumpai adalah Escherichia coli, yaitu bakteri flora normal usus yang dapat bersifat patogen apabila jumlahnya berlebihan. Tingginya kasus resistensi antibiotik mendorong pencarian alternatif antibakteri dari bahan alam, salah satunya daun singkong (Manihot esculenta Crantz). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol 70% daun singkong terhadap bakteri E. coli. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan, menelaah, dan menganalisis jurnal ilmiah yang relevan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun singkong menghasilkan diameter zona hambat sebesar 19 mm, 25 mm, dan 29 mm pada konsentrasi 20%, 40%, dan 60% dengan kategori kuat hingga sangat kuat. Pada penelitian lainnya, diameter zona hambat yang diperoleh sebesar 3,5 mm, 4,4 mm, dan 5,2 mm pada konsentrasi 50.000 ppm, 100.000 ppm, dan 150.000 ppm setara dengan 5%, 10%, dan 15%, dengan kategori lemah hingga sedang. Perbedaan aktivitas antibakteri dipengaruhi oleh perbedaan konsentrasi ekstrak, metode yang digunakan, serta faktor biologi dan kimia saat proses pembuatan ekstrak. Berdasarkan hasil tersebut, ekstrak etanol 70% daun singkong berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri alami terhadap E. coli.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia termasuk negara yang memiliki kasus kematian akibat resistensi antibiotik yang cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan eksplorasi bahan alam sebagai alternatif antibakteri. Daun matoa (Pometia pinnata) berpotensi sebagai senyawa antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, saponin, tanin dan steroid. Perbedaan umur daun dapat mempengaruhi kadar metabolit tersebut dan aktivitas antibakterinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun matoa tua dan muda terhadap bakteri Staphylococcus aureus ATCC 33591. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengujian kadar air ekstrak, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer) dengan variasi konsentrasi 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Analisis data yang digunakan adalah uji statistik Independent T-Test. Hasil penelitian menunjukkan kadar air ekstrak daun muda matoa sebesar 5,45% dan ekstrak daun tua sebesar 7,80% termasuk dalam kategori ekstrak kental. Ekstrak daun muda matoa memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 11,37 mm sedangkan ekstrak daun tua memiliki aktivitas antibakteri dengan rata-rata sebesar 12,19 mm. Terdapat perbedaan rata-rata zona hambat antara ekstrak daun tua dan muda matoa, yang menunjukkan daun tua memiliki zona hambat lebih besar dibandingkan daun muda, meskipun secara statistik hasil uji menunjukkan nilai sig 0,126 > 0,05 yang menyatakan tidak terdapat perbedaan signifikan antara zona hambat kelompok ekstrak daun muda dan daun tua matoa.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus merupakan salah satu tantangan kesehatan global terbesar pada abad ke-21 dengan prevalensi yang terus meningkat secara signifikan. Penggunaan obat antidiabetes atau terapi insulin memiliki keterbatasan berupa biaya yang relatif mahal, efek samping yang tidak diinginkan, dan potensi resistensi obat pada penggunaan jangka panjang. Daun salam (Syzygium polyanthum) telah digunakan secara empiris oleh masyarakat Indonesia sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar glukosa darah. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian air rebusan daun salam terhadap kadar glukosa darah. Hasil penelitian dari artikel yang dilakukan di Desa Kopek dengan 18 responden penderita diabetes melitus tipe 2 sebelum intervensi didapatkan hasil ratarata kadar glukosa darah sebesar 178,22 mg/dL dan setelah intervensi seduhan daun salam selama seminggu menjadi 148,39 mg/dL. Begitu pula pada penelitian yang dilakukan di Desa Paok Motong dengan total 41 responden didapatkan rata-rata kadar glukosa darah sebelum intervensi ialah 194,49 mg/dL dan setelah intervensi menjadi 179,27 mg/dL. Kesimpulan dari studi literatur ini ialah penggunaan seduhan daun salam dapat menurunkan kadar glukosa darah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus merupakan ganguan metabolik kronis yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia akibat ganguan sekresi insulin, kerja insulin, atau kombinasi keduanya. Hal ini menyebabkan terhambatnya penyerapan glukosa oleh sel tubuh, sehingga glukosa menumpuk di dalam darah. Hiperglikemia yang tidak terkontrol dapat memicu komplikasi kronis. Penderita diabetes melitus dapat memanfaatkan tanaman obat sebagai upaya penanganan non-farmakologis, salah satunya melalui pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera). Daun kelor mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, tanin, isothiocynate, betakaroten, vitamin C, vitamin E serta selenium yang berperan sebagai antioksidan dan antidiabetik. Senyawa-senyawa tersebut mampu meningkatkan sensitivitas insulin dan melindungi sel beta pankreas dari kerusakan akibat stress oksidatif serta membantu proses penyerapan glukosa oleh sel tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas rebusan daun kelor melalui studi literatur dengan membandingkan dua artikel penelitian di Desa Balam Jaya dan di Desa Limehe Timur. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan objek penelitian pasien penderita diabetes melitus tipe 2 di kedua desa tersebut yang diberi air rebusan daun kelor. Hasil studi literatur menunjukan adanya penurunan kadar glukosa darah di desa Balam jaya sebesar 71,48 mg/dl dan di Desa Limehe Timur sebesar 146,8 mg/dl. Perbedaan hasil tersebut mengindikasikan bahwa dosis dan durasi pemberian daun kelor, serta karateristik individu sangat mempengaruhi efektivitas rebusan daun kelor. Berdasarkan hasil studi tersebut pemberian rebusan daun kelor terbukti efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes melitus tipe 2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun jambu biji (Psidium guajava) merupakan salah satu dari jenis terapi herbal untuk menangani penyakit diabetes melitus (DM), bagian tanaman jambu biji yang dapat dijadikan obat DM salah satunya adalah bagian daun. Daun jambu biji Mengandung tanin dan kalsium dimana tanin menghambat enzim -glikosidase sehingga memperlambat pelepasan glukosa dalam darah. Melalui studi literatur tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian rebusan daun jambu biji untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien DM. Objek penelitian ini adalah informasi hasil penurunan kadar gula darah setelah pemberian air rebusan daun jambu biji. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, berupa data kualitatif dan kuantitatif yang disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Kadar glukosa sebelum diberikannya rebusan daun jambu biji kelompok maupun intervensimaupun kontrol adalah 257,09 mg/dl dan 232,79 mg/dl sedangkan setelah diberikan air rebusan daun jambu biji adalah 189,36 mg/dl dan 232,79 mg/dl. Kesimpulan dari penelitian pemberian rebusan air daun jambu biji efektif dalam menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus type 2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker dan penyakit jantung. Senyawa antioksidan alami dibutuhkan untuk menangkal kerusakan sel akibat stres oksidatif. Daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung flavonoid dan polifenol yang memiliki potensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan ekstrak daun kelor yang diperoleh melalui metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi literatur deskriptif-komparatif terhadap beberapa jurnal ilmiah, dengan fokus pada dua jurnal utama: Verawati et al. (2020) dan Nurulita et al. (2019). Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH dengan parameter nilai IC₅₀. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ dari ekstrak daun kelor masing-masing sebesar 87,45 µg/mL dan 97,48 µg/mL, yang termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sedang. Variasi nilai dipengaruhi oleh durasi maserasi (2-3 hari) dan metode evaporasi pelarut (rotary evaporator vs oven). Kesimpulannya, metode maserasi dengan pelarut etanol 70% cukup efektif dalam menghasilkan ekstrak daun kelor dengan potensi antioksidan yang signifikan. Temuan ini memperkuat peluang pemanfaatan daun kelor sebagai bahan alami dalam pengembangan produk kesehatan preventif berbasis antioksidan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Menurut data dari World Health Organization, prevalensi hipertensi pada populasi dewasa di Indonesia mencapai 31,7% dengan angka yang lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Salah satu tanaman herbal yang dikenal memilik khasiat dalam menurunkan tekanan darah adalah daun salam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik responden penderita hipertensi yang mengkonsumsi rebusan daun salam, serta untuk memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang lebih alami dan aman. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini merupakan jenis studi literatur dengan mengambil data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif, yaitu dengan menyajikan data yang fokus pada hasil pengaruh rebusan daun salam pada penyakit hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nyata tekanan darah sistolik dan diastolik setelah konsumsi rebusan daun salam secara rutin. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p 0,05, yang mengindikasikan pengaruh nyata dari terapi herbal tersebut. Penurunan tekanan darah dikaitkan dengan mekanisme vasodilatasi dan aktivitas antihipertensi dari kandungan senyawa aktif daun salam. Kelompok yang paling banyak mengalami hipertensi adalah perempuan usia di atas 50 tahun dan mayoritas berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Rebusan daun salam terbukti dapat menurunkan tekanan darah secara nyata pada penderita hipertensi, dan dapat digunakan sebagai terapi pendukung alami yang aman, terutama jika dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan medis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama kematian global yang sering dijuluki sebagai silent killer Oleh karena itu, penggunaan daun seledri (Apium graveolens L.), yang mengandung senyawa aktif seperti apigenin menjadi semakin diminati. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji literatur terkait efektivitas daun seledri dalam menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi serta menganalisis metode pemberian yang optimal (seduhan atau rebusan). Penelitian dilakukan dengan metode studi literatur menggunakan database Google Scholar dari tahun 2019 hingga 2024. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk menggambarkan efektivitas daun seledri sebagai antihipertensi berdasarkan dua jurnal utama. Hasil kajian menunjukkan bahwa daun seledri efektif menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik, baik dalam bentuk rebusan maupun seduhan. Pemberian air rebusan daun seledri terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap penurunan tekanan darah pada kelompok lansia hipertensi. Temuan ini menunjukkan potensi daun seledri sebagai alternatif pengobatan hipertensi yang aman, ekonomis, dan minim efek samping. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan dosis dan metode administrasi yang optimal .
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Secara empiris bunga kenop digunakan untuk pengobatan sesak nafas karena asma, bronchitis kronis, panas pada anak, radang mata serta disentri. Daun bunga kenop mengandung saponin, alkaloid, flavonoid, gum, mucilago, kumarin dan gula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun bunga kenop konsentrasi 15%, 20% dan 30% dalam menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental. Ekstrak daun bunga kenop diperoleh dari proses maserasi dengan pelarut etanol 70% dan dilakukan skrining fitokimia. Pengujian aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram pada larutan uji konsentrasi 15%, 20% dan 30% terhadap bakteri Salmonella typhi dengan kontrol positif kloramfenikol dan kontrol negatif DMSO. Pengamatan dilakukan dengan mengukur zona bening di sekitar kertas cakram menggunakan jangka sorong selama inkubasi setiap 1x24 jam, 2x24 jam dan 3x24 jam. Data yang diperoleh dengan hasil rata rata zona hambat pada konsentrasi 15% sebesar 1,40 mm, pada konsentrasi 20% sebesar 1,82 mm, dan pada pada konsentrasi 30% sebesar 2,51 mm. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 15%, 20% dan 30% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Salmonella typhy dengan kategori respon lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Petai belalang (Archidendron clypearia (Jack) Nielson) secara tradisional digunakan sebagai tumbuhan obat untuk detoksifikasi, mendinginkan, mengurangi edema, dan mengobati diare. Tumbuhan petai belalang juga dipercaya dapat digunakan untuk mengobati infeksi saluran pernapasan atas, faringolaringitis, tonsilitis, dan gastroenteritis. Pemakaian dengan jumlah yang melebihi batas takaran dapat menyebabkan keracunan (ketoksikan), sehingga untuk menjamin keamanannya harus dilakukan uji toksisitas ekstrak daun petai belalang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun petai belalang terhadap larva udang Artemia salina Leach. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan tahapan determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimia, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 sebagai konsentrasi kontrol (negatif), 100, 150, 200, dan 250 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva udang yang berumur 24 jam. Analisis data dari hasil uji toksisitas menggunakan metode analisis probit untuk menghitung LC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ektrak etanol daun petai belalang mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid, dan pada Perhitungan rendemen diperoleh hasil sebesar 18,16 %. Pada hasil uji toksisitas diperoleh dengan nilai LC50 sebesar 251,2465 µg/mL, sehingga ekstrak etanol daun petai belalang termasuk dalam kategori toksik terhadap larva udang Artmia salina Leach.