Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

5 hasil
Subjek: Interaksi obat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KEMBANG JANGGUT KUTAI KARTANEGARA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg berdasarkan pengukuran berulang. Dalam praktik klinis, pasien hipertensi sering memperoleh terapi kombinasi antihipertensi serta obat untuk penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien hipertensi periode Oktober–Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 100 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik total sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, diagnosis, dan terapi obat. Potensi interaksi obat diidentifikasi menggunakan aplikasi Drugs.com dan diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan menjadi minor, moderate, dan mayor, kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 144 potensi interaksi obat. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi kategori minor sebanyak 28 kasus (19,44%) moderate merupakan yang terbanyak yaitu 69 kasus (47,92%), kategori mayor sebanyak 25 kasus (17,36%), serta 22 kasus (15,28%) yang tidak menunjukkan adanya potensi interaksi obat. Berdasarkan mekanisme interaksinya, potensi interaksi lebih banyak terjadi melalui mekanisme farmakodinamik dibandingkan farmakokinetik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pasien hipertensi di Puskesmas Kembang Janggut memiliki potensi interaksi obat yang didominasi oleh kategori moderate dengan mekanisme interaksi farmakodinamik, sehingga identifikasi potensi interaksi obat diperlukan untuk mendukung keamanan dan rasionalitas terapi pasien.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT PASIEN HIPERTENSI DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD AJI MUHAMMAD PARIKESIT TENGGARONG

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi hipertensi seringkali disertai dengan penyakit lain sehingga pasien mendapatkan terapi lebih dari satu obat. Kombinasi obat ini berpotensi untuk terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit periode Juli-Desember 2025. Jenis penelitian ini merupakan non-eksperimental dengan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi mekanisme interaksi dan tingkat keparahan (major, moderate, minor). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 263 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 206 (78,33%) sampel yang berpotensi mengalami interaksi obat dengan total kejadian sebanyak 562 interaksi. Berdasarkan severity level dari total kejadian tersebut, interaksi tingkat moderate merupakan interaksi yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 493 (87,72%), diikuti minor sebesar 51 (9,07%), dan major sebesar 18 (3,20%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi adalah pasangan obat amlodipin dengan atorvastatin sebanyak 56 (9,96%) dengan kategori moderate.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS GAMBARAN INTERAKSI OBAT PADA RESEP DI APOTEK MEDIA FARMA SAMARINDA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Interaksi obat merupakan salah satu dari delapan kategori Drug Related Problems (DRPs) yang paling sering dilaporkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Polifarmasi menjadi faktor risiko utama terjadinya interaksi obat, dengan prevalensi global mencapai 37%. Apotek Media Farma Samarinda melayani sekitar 9.000 resep dari 12.000 kunjungan pasien setiap bulan, sehingga berpotensi meningkatkan kejadian interaksi obat yang signifikan secara klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran interaksi obat berdasarkan pasangan obat, frekuensi kejadian, dan derajat keparahan pada resep yang diterima di Apotek. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap resep periode Oktober 2025. Sampel penelitian berjumlah 620 resep yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Identifikasi interaksi obat dilakukan menggunakan Software DrugBank dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 522 resep (84,19%) berpotensi mengalami interaksi obat dengan total 522 kejadian interaksi. Berdasarkan derajat keparahan, interaksi moderat merupakan kategori yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 271 kejadian (51,92%), diikuti interaksi minor sebanyak 143 kejadian (27,39%), dan interaksi major sebanyak 108 kejadian (20,69%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi pada kategori minor adalah acetaminophen dan amoxicillin (11,19%), kategori moderat adalah acetaminophen dan dexamethasone (12,55%), dan kategori major adalah dexamethasone dan dextromethorphan (21,30%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang menerima resep di Apotek Media Farma Samarinda berada pada kelompok usia dewasa (19-59 tahun), berjenis kelamin perempuan, dan menerima terapi polifarmasi minor (2-4 obat). Sebagian besar resep berpotensi mengalami interaksi obat dengan derajat keparahan moderat sebagai kategori yang paling dominan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN INTERAKSI OBAT DALAM RESEP DAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS BARONG TONGKOK

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Kondisi ini ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Berdasarkan laporan profil kesehatan, jumlah penderita DM menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sehingga memerlukan perhatian serius. Pasien DM umumnya memiliki penyakit penyerta, sehingga sering menerima lebih dari satu jenis obat dalam satu resep. Penggunaan monoterapi maupun terapi kombinasi berpotensi menimbulkan interaksi obat, yaitu kondisi ketika dua atau lebih obat yang digunakan secara bersamaan saling memengaruhi efek masing-masing. Penelitian ini bertujuan menggambarkan potensi interaksi obat pada resep pasien DM. Metode yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari resep elektronik di Instalasi Farmasi Puskesmas Barong Tongkok. Analisis dilakukan menggunakan Drugs.com dan Microsoft Excel secara sistematis untuk mendukung keamanan dan efektivitas terapi pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 174 resep pasien, sebanyak 132 pasien (75,9%) memiliki potensi interaksi obat, sementara 42 pasien (24,1%) tidak menunjukkan potensi interaksi. Total kejadian interaksi obat tercatat sebanyak 228 kejadian, dengan tingkat keparahan terbanyak adalah kategori moderat sebanyak 183 kejadian (80,3%), diikuti kategori minor sebanyak 37 kejadian (16,2%), dan kategori mayor sebanyak 8 kejadian (3,5%). Pasangan obat yang paling banyak berinteraksi adalah glimepirid dengan metformin, sementara interaksi mayor ditemukan pada kombinasi amlodipin dengan simvastatin. Temuan ini mengindikasikan tingginya beban farmakoterapi dan risiko polifarmasi pada pasien DM di Puskesmas Barong Tongkok, sehingga diperlukan pemantauan klinis yang ketat serta peran aktif apoteker dalam melakukan skrining, evaluasi, dan monitoring terapi guna memastikan keamanan dan efektivitas pengobatan bagi pasien

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI ANALISIS INTERAKSI OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT JALAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KUDUNGGA SANGATTA KUTAI TIMUR

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan salah satu dari 10 penyakit tidak menular yang menyebabkan kematian tertinggi yang ditandai dengan nilai tekanan darah yang melebihi batas normalnya. Pada terapi pengobatan hipertensi umumnya dengan menggunakan monoterapi atau kombinasi terapi obat yang dapat memungkinkan terjadinya interaksi obat. Interaksi obat merupakan terdapatnya dua atau lebih obat yang diberikan secara bersamaan yang dapat memberikan efek masing-masing obat. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jenis obat antihipertensi yang menyebabkan interaksi obat. Jenis penelitian yang dilakukan secara deskriptif non eksperimental dengan pengambilan data secara retrospektif. Objek yang diteliti adalah data interaksi obat antihipertensi yang diperoleh berdasarkan hasil rekam medis pasien hipertensi rawat jalan. Sampel penelitian ini adalah data rekam medis pasien hipertensi rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Kudungga Sangatta Kutai Timur periode bulan Januari-Juni tahun 2023. Data yang telah diidentifikasi selanjutnya diolah untuk mengetahui interaksi obat antihipertensi. Peninjauan data menggunakan situs drugs.com untuk mengetahui interaksi obat yang terjadi serta analisis data dengan menggunakan aplikasi Microsoft excel. Penelitian ini memaparkan persentase dalam bentuk tabel hasil dari data interaksi obat dengan kategori yang telah didapatkan. Hasil penelitian yang diperoleh obat antihipertensi yang menyebabkan interaksi obat berdasarkan tingkat keparahan minor 2 kasus (2%), moderate 58 kasus (48%) dan mayor 17 kasus (14%). Berdasarkan mekanisme interaksi obat farmakodinamik sejumlah 44 kasus (59%) dan farmakokinetik sejumlah 30 kasus (41%). Obat antihipertensi yang mengalami interaksi terbanyak adalah penggunaan obat amlodipin dan bisoprolol sebanyak 17 kasus (30%) dengan tingkat keparahan interaksi obat moderate.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail