ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus merupakan salah satu tantangan kesehatan global terbesar pada abad ke-21 dengan prevalensi yang terus meningkat secara signifikan. Penggunaan obat antidiabetes atau terapi insulin memiliki keterbatasan berupa biaya yang relatif mahal, efek samping yang tidak diinginkan, dan potensi resistensi obat pada penggunaan jangka panjang. Daun salam (Syzygium polyanthum) telah digunakan secara empiris oleh masyarakat Indonesia sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar glukosa darah. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian air rebusan daun salam terhadap kadar glukosa darah. Hasil penelitian dari artikel yang dilakukan di Desa Kopek dengan 18 responden penderita diabetes melitus tipe 2 sebelum intervensi didapatkan hasil ratarata kadar glukosa darah sebesar 178,22 mg/dL dan setelah intervensi seduhan daun salam selama seminggu menjadi 148,39 mg/dL. Begitu pula pada penelitian yang dilakukan di Desa Paok Motong dengan total 41 responden didapatkan rata-rata kadar glukosa darah sebelum intervensi ialah 194,49 mg/dL dan setelah intervensi menjadi 179,27 mg/dL. Kesimpulan dari studi literatur ini ialah penggunaan seduhan daun salam dapat menurunkan kadar glukosa darah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Menurut data dari World Health Organization, prevalensi hipertensi pada populasi dewasa di Indonesia mencapai 31,7% dengan angka yang lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita. Salah satu tanaman herbal yang dikenal memilik khasiat dalam menurunkan tekanan darah adalah daun salam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik responden penderita hipertensi yang mengkonsumsi rebusan daun salam, serta untuk memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat mengenai pengobatan alternatif yang lebih alami dan aman. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini merupakan jenis studi literatur dengan mengambil data sekunder yang diperoleh dari hasil penelitian-penelitian sebelumnya. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif, yaitu dengan menyajikan data yang fokus pada hasil pengaruh rebusan daun salam pada penyakit hipertensi. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan nyata tekanan darah sistolik dan diastolik setelah konsumsi rebusan daun salam secara rutin. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p 0,05, yang mengindikasikan pengaruh nyata dari terapi herbal tersebut. Penurunan tekanan darah dikaitkan dengan mekanisme vasodilatasi dan aktivitas antihipertensi dari kandungan senyawa aktif daun salam. Kelompok yang paling banyak mengalami hipertensi adalah perempuan usia di atas 50 tahun dan mayoritas berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Rebusan daun salam terbukti dapat menurunkan tekanan darah secara nyata pada penderita hipertensi, dan dapat digunakan sebagai terapi pendukung alami yang aman, terutama jika dikombinasikan dengan perubahan gaya hidup dan pengobatan medis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp) merupakan salah satu tanaman yang berkhasiat sebagai obat yang telah di manfaatkan secara turun temurun sebagai obat tradisional oleh masyarakat. Bagian tanaman salam yang banyak dimanfaatkan ialah daun. Daun salam mempunyai khasiat mengobati kolesterol, diabetes, diare dan hipertensi. Tanaman salam memiliki senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada tanaman dipengaruhi oleh proses pengeringan bahan baku simplisia. Metode pengeringan yang tepat diperlukan agar memperoleh simplisia daun salam yang baik sehingga diharapkan simplisia tidak mudah rusak selama penyimpanan dan ekstrak yang dihasilkan memiliki kadar flavonoid yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan metode pengeringan simplisia terhadap kadar flavonoid ekstrak etanol daun salam. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Tahapan penelitian ini dimulai dari determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia dengan perbedaan metode pengeringan yaitu pengeringan dengan sinar matahari langsung, kering angin, dan oven suhu 50°C, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, skrining fitokimia, dan uji kadar flavonoid ekstrak etanol daun salam menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Perbandingan metode pengeringan dianalisis dengan statistik uji one way ANOVA untuk mengetahui perbedaan jumlah kadar flavonoid ketiga metode pengeringan. Hasil kadar flavonoid ekstrak daun salam pada pengeringan menggunakan matahari tidak langsung (dilapisi kain hitam) sebesar 2,3034% ± 0,085, pengeringan dengan kering angin sebesar 1,5711% ± 0,032 dan pengeringan menggunakan oven dengan suhu 50°C sebesar 2,7190% ± 0,078. Analisis data statistik kadar flavonoid menggunakan uji one way ANOVA dengan sig 0,05 dan didapatkan sig 0,000 yaitu terdapat perbedaan yang signifikan antara metode pengeringan matahari, kering angina dan oven. Nilai kadar flavonoid menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada kadar flavonoid ekstrak daun salam dengan perbedaan cara pengeringan.nilai kadar flavonoid tertinggi terdapat pda ektrak etanol daun salam dengan metode pengeringan oven suhu 50°C sebesar 2,7190% ± 0,078.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun salam dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Daun salam adalah tumbuhan Indonesia yang bermanfaat sebagai antibakteri. Studi literatur ini membahas nilai zona hambat ekstrak antibakteri daun salam terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Daun salam (Syzygium polyanthum Wight.) memiliki kandungan kimia berupa minyak atsiri (0,05 % yang terdiri dari sitral dan eugenol), tanin dan flavonoid. Studi literatur ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal ilmiah. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum W.), sedangkan variabel terikatnya adalah diameter zona hambat bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Metode kerja yang digunakan adalah difusi sumuran. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa nilai zona hambat dari bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans yang diperoleh dari jurnal ilmiah. Berdasarkan hasil studi literatur, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun salam dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 2,5%, 5%, 10% dan 20% dengan kategori lemah, sedangkan konsentrasi 7,5%, 10% dan 40% termasuk kategori sedang. Aktivitas daya hambat terhadap bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi 10%, dan 15% dengan kategori lemah, pada konsentrasi 0,5% dan 25% kategori sedang, sedangkan pada konsentrasi 5%, 7%, dan 10% termasuk kategori kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk membandingkan uji toksisitas akut genus Syzygium dari spesies yang berbeda yaitu daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun jambu air (Syzygium samarangense) sehingga didapatkan pebedaan LC50 dan potensi ketoksikan dari kedua spesies. Uji toksisitas kedua spesies menggunakan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai LC50. Didapakan LC50 daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) 347,216 bpj dan daun jambu air (Syzygium samarangense) 170,01 bpj. Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) dan daun jambu air (Syzygium samarangense) mengandung flavonoid dan tanin. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah daun salam dan daun jambu air memiliki potensi ketoksikan kategori toksik.