Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

9 hasil
Subjek: refluks
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOLIK DAN FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN WANYI (Mangifera caesia Jack.) BERDASARKAN PERBEDAAN METODE EKSTRAKSI

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun wanyi (Mangifera caesia Jack.) Secara tradisional telah dimanfaatkan dalam berbagai pengobatan herbal karena kandungan zat aktifnya. Daun wanyi diketahui kaya akan senyawa flavonoid. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tujuan penelitian untuk mengetahui kadar flavonoid total daun wanyi (Mangifera caesia Jack.) berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Serbuk simplisia daun wanyi diekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 95% selama 24 jam dan diekstraksi secara refluks menggunakan etanol 95% dengan suhu 60°C selama 1 jam. Penentuan kadar flavonoid total ekstrak daun wanyi dengan spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Hasil yang diperoleh dari data spektrofotometri UV-Vis adalah kadar flavonoid total ekstrak etanol daun wanyi dengan metode maserasi sebesar 7,5766 ± 0,2163 mgQE/g dan secara refluks sebesar 4,4324 ± 0,2576 mgQE/g. Analisis data statistik kadar flavonoid total menggunakan uji Mann-Whitney menghasilkan nilai signifikansi 0,046 (p 0,05), menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua metode ekstraksi.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Wanyi (Mangifera caesia Jack) Berdasarkan Perbedaan Metode Ekstraksi Maserasi dan Refluks

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Metode ekstraksi dapat mempengaruhi kandungan dan kadar senyawa aktif suatu simplisia. Daun wanyi (Mangifera caesia Jack) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun wanyi dengan membandingkan dua metode ekstraksi maserasi dan refluks menggunakan metode uji DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Penelitian ini mencakup tahapan utama yaitu determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol daun wanyi dengan metode ekstraksi maserasi dan refluks, penetapan kadar air, skrining fitokimia, uji aktivitas antioksidan dan analisis data. Aktivitas antioksidan diuji dengan mengukur kemampuan ekstrak dalam menghambat radikal bebas DPPH yang dinyatakan sebagai nilai IC50. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak maserasi dan refluks daun wanyi mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Pengujian antioksidan ekstrak maserasi daun wanyi diperoleh nilai rata-rata IC50 sebesar 11,65 ppm dan ekstrak refluks daun wanyi sebesar 10,36 ppm. Berdasarkan hasil uji statistik dengan Independen T-Test diperoleh nilai signifikan (0,262) > p-value (0,05) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pengujian antioksidan daun wanyi dengan metode maserasi dan refluks. Hasil uji antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak daun wanyi dengan metode maserasi maupun refluks termasuk dalam kategori sangat kuat sehingga dapat menjadi acuan dalam pengembangan produk antioksidan alami.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK BUAH LABU KUNING (Cucurbita moschata Duch). BERDASARKAN PERBEDAAN METODE EKSTRAKSI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang menjadi sumber karotenoid serta berbagai senyawa bioaktif, termasuk senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder yang memiliki berbagai aktivitas biologis, salah satunya sebagai antioksidan. Besarnya kandungan senyawa aktif dalam ekstrak, dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar senyawa fenolik total berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi dan refluks, penetapan kadar air, skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik total. Hasil penelitian, diperoleh nilai rata-rata susut pengeringan sebesar 7,12.%. Rendemen ekstrak hasil maserasi 38,91% dan refluks 35,39%. Hasil rata-rata penetapan kadar air ekstrak secara maserasi 5,88% dan secara refluks 7,07%. Hasil skrining fitokimia secara maserasi dan secara refluks diperoleh senyawa fenolik, flavonoid, saponin. Kadar rata-rata fenolik total dari ekstraksi secara maserasi adalah17,69 mg GAE/g mg GAE/g dan secara refluks 30,81 mg GAE/g. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa perbedan metode ekstraksi berpengaruh terhadap kadar rata-rata fenolik total buah labu kuning.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH LABU KUNING (Cucurbita Moschata Duch.) BERDASARKAN PERBEDAAN METODE EKSTRAKSI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang termasuk dalam keluarga cucurbitaceae. Buah labu kuning kaya akan sumber nutrisi, salah satunya adalah senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder dan memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan yang juga terdapat pada kulit buah labu kuning. Kadar senyawa aktif bahan alam dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, determinasi tanaman, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dan refluks, skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Variabel bebas pada penelitian ini adalah metode maserasi dan refluks, variabel terikat adalah kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning dan hasil skrining. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa kadar fenolik total yang dinyatakan dalam mg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit buah labu kuning mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenolik total ekstrak kulit buah labu kuning dengan perbedaan ekstraksi maserasi dan refluks, diperoleh masing-masing kadar sebesar 113,45 ±1,56 mg GAE/g dan 125,69 ±0,28 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen selanjutnya digunakan uji independent t-test dengan hasil nilai p value (0,00 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenolik total antara kedua sampel.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Kulit Buah Labu Kuning (Cucurbita moschata) Berdasarkan Perbedaan Metode Ekstraksi

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Buah labu kuning merupakan tanaman yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi kulit dari buah labu kuning jarang dimanfaatkan bahkan dianggap limbah yang tidak terpakai. Di sisi lain, kulit labu kaya akan metabolit sekunder seperti kandungan flavonoid, alkaloid, saponin dan terpenoid. Bahkan kulit buah labu kuning juga memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat. Kandungan senyawa aktif dalam tumbuhan dapat dipisahkan dengan cara ekstraksi. Metode ekstraksi yang digunakan akan berpengaruh terhadap senyawa aktif yang diperoleh, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas farmakologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kulit labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental melalui beberapa tahapan dimulai dari determinasi tanaman, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi dan refluks, uji aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer dengan metode DPPH (2,2 Difenil-1-Pikrihidrazil). Analisis data yang digunakan berupa data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung dan diolah dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi agar dapat dipaparkan secara baik dan diinterpretasikan secara mudah.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR SAPONIN BERDASARKAN PERBEDAAN METODE EKSTRAKSI EKSTRAK METANOL KULIT BATANG SEKILANG (Embelia borneensis Scheff.)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sekilang (Embelia borneensis Scheff.) merupakan tumbuhan yang secara empiris digunakan sebagai penangkap ikan, pengusir lintah dan perawatan rambut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis dan kadar saponin ekstrak metanol kulit batang sekilang berdasarkan perbedaan metode ekstraksi secara gravimetri. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia kulit batang sekilang, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi, refluks dan sokhlet, penetapan kadar saponin dengan metode gravimetri. Analisis kandungan saponin meliputi: identifikasi saponin, identifikasi jenis saponin, penetapan kadar saponin dan analisis data. Objek penelitian adalah jenis dan kadar saponin berdasarkan perbedaan metode ekstraksi terhadap ekstrak metanol kulit batang sekilang. Variabel bebas pada penelitian ini adalah metanol, maserasi, refluks dan sokhlet; Variabel terikat pada penelitian ini adalah jenis dan kadar dari ekstrak metanol kulit batang sekilang; dan variabel kontrol pada penelitian ini adalah metode gravimetri. Sampel yang digunakan adalah kulit batang Sekilang yang diperoleh dari Desa Long Temuyat. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling. Data yang diperoleh adalah kadar saponin kulit batang sekilang berdasarkan hasil dari tiga metode ekstraksi yang digunakan berbeda. Data dianalisis dengan uji statistik one way anova untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan jumlah kadar saponin berdasarkan perbedaan metode. Hasil identifikasi jenis saponin dari ekstrak metanol kulit batang sekilang adalah jenis saponin triterpenoid. Hasil dari analisis data dengan uji statistik one way anova diperoleh bahwa terdapat perbedaan signifikan antar metode ekstraksi terhadap kadar saponin kulit batang sekilang yaitu dengan sig = 0,009 dengan taraf signifikan 0,05 (5%).

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Rendemen Ekstrak Daun Kersen (Mutingia calabura L. ) Berdasarkan Metode Maserasi, Refluks dan Sokletasi

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu tahapan pengembangan obat adalah pengolahan bahan baku yang dapat menjamin bahan bermutu secara fisika dan kimia. Agar meningkatkan mutu sediaan obat dari bahan alam, maka ekstrak harus mempunyai kualitas yang baik secara fisik dan kandungan kimianya. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendemen adalah metode ekstraksi. Metode ekstraksi yang biasa digunakan antara lain maserasi, refluks dan sokletasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk membandingkan hasil rendemen ekstraksi daun kersen dengan menggunakan berbagai metode ekstraksi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan objek penelitian berupa metode ekstraksi menggunakan metode maserasi, refluks dan sokletasi. Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian nilai rendemen pada perbedaan metode dari ekstraksi daun pepaya menghasilkan nilai rendemen yang berbeda-beda disetiap metode, pada metode maserasi mendapatkan hasil rendemen sebesar 23,9%, metode refluks mendapatkan hasil 27,3% sedangkan pada metode sokletasi mendapatkan hasil rendemen sebesar 28,92%. Hal ini disebabkan oleh pelarut apa yang digunakan, ukuran partikel, jumlah sampel, metode ekstraksi yang digunakan, dan lama waktu ekstraksi.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK TONGKOL JAGUNG BERDASARKAN METODE MASERASI DAN REFLUKS

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak tongkol jagung berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Tongkol jagung merupakan simpanan makanan untuk pertumbuhan biji jagung selama melekat pada tongkol, maka dari itu tongkol jagung disinyalir memiliki senyawa-senyawa aktif yang dapat berpotensi sebagai antioksidan. Objek penelitian adalah aktivitas antioksidan tongkol jagung yang diekstraksi secara maserasi dan refluks. Tahapan penelitian yaitu mengumpulkan artikel ilmiah kemudian mereduksi data dan data yang dikumpulkan diringkas sehingga didapatkan data utama tulisan, penyajian secara deskriptif dalam bentuk tabel, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang perbandingan aktivitas antioksidan ekstrak etanol tongkol jagung dari metode ekstraksi maserasi dan refluks. Berdasarkan telaah literatur, dapat disimpulkan bahwa ekstrak tongkol jagung yang diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 60% memiliki aktivitas penangkal radikal bebas yang paling tinggi yaitu 75,9%. Sedangkan ekstrak tongkol jagung yang diekstraksi secara refluks dengan pelarut etanol 80% memiliki aktivitas penangkal radikal bebas yang paling tinggi yaitu 66,9%.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PERBANDINGAN KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK ETANOL TONGKOL JAGUNG (Zea mays. L) BERDASARKAN PERBEDAAN METODE EKSTRAKSI DAN KONSENTRASI PELARUT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi ini bertujuan untuk membandingkan metode maserasi dan refluks dengan menggunakan konsentrasi pelarut etanol 70% dan 75% terhadap kadar fenolik total ekstrak etanol tongkol jagung. Perbandingan metode ekstraksi dan konsentrasi pelarut dapat menggambarkan tinggi atau rendahnya kadar fenolik total dalam suatu tanaman. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil nilai rendemen tongkol jagung yang didapatkan untuk ekstraksi menggunakan maserasi dan refluks etanol 70% adalah 6,68% dan 7,86%. Nilai rendemen untuk ekstraksi menggunakan maserasi dan refluks etanol 75% adalah 7,83% dan 13,17%. Hasil kadar fenolik total yang dihasilkan dari ekstrak tongkol jagung menggunakan metode ekstraksi maserasi dan refluks sebesar 0,312 mg/g dan 0,397 mg/g (etanol 75%). Kesimpulan yang dapat diambil adalah metode ekstraksi refluks dengan pelarut etanol 75% memiliki nilai rendemen lebih besar dibandingkan dengan metode ekstraki maserasi yang akan berpengaruh terhadap kadar fenolik total ekstrak etanol tongkol jagung.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail