ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar ultraviolet (UV) dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, seperti penuaan dini hingga peningkatan risiko kanker kulit. Salah satu bentuk perlindungan terhadap sinar UV adalah penggunaan tabir surya. Kandungan senyawa antioksidan, seperti fenolik dan flavonoid, diketahui berperan dalam meningkatkan efektivitas tabir surya melalui kemampuan menyerap sinar UV. Daun tampoi (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Mull.Arg.) diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid, serta berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam formulasi tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenolik, flavonoid, dan nilai SPF dari ekstrak etanol daun tampoi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tahapan ekstraksi menggunakan metode maserasi etanol 70%, dilanjutkan dengan pengujian kadar fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu, pengujian flavonoid dengan metode AlCl₃, serta penentuan nilai SPF secara in vitro dengan cara menganalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol daun tampoi yaitu alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, steroid dan triterpenoid. Kadar fenolik sebesar 27,8021 ± 0,9553mg GAE/g dan kadar flavonoid sebesar 2,1548 ± 0,1586%. Nilai SPF ekstrak etanol daun tampoi pada konsentrasi 125 ppm sebesar 3,2005 dan 250 ppm sebesar 6,7021 termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan nilai SPF pada konsentrasi 500 ppm sebesar 13,3355 dan 1000 ppm sebesar 27,0735 termasuk dalam kategori sedang. Korelasi menunjukkan bahwa kadar flavonoid memiliki hubungan sangat kuat terhadap nilai SPF sebesar 0,9007, sedangkan kadar fenolik menunjukkan hubungan rendah sebesar 0,362.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekstrak etanol biji alpukat mengandung alkaloid, saponin, karbohidrat, asam amino, glikosida, terpenoid, fenol, flavonoid dan kumarin glikosida. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada tanaman sangat dipengaruhi oleh proses pengeringan. Metode pengeringan yang tepat diperlukan agar diperoleh ekstrak biji alpukat dengan kadar senyawa fenolik yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar fenolik ekstrak etanol biji alpukat berdasarkan perbedaan cara pengeringan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan , pengambilan sampel, pembuatan simplisia dengan cara pengeringan alami secara matahari langsung dan pengeringan buatan dengan oven pada suhu 60℃, ekstraksi secara maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh dinalisis secara deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji alpukat metode pengeringan matahari dan oven positif mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid. Hasil penelitian diperoleh kadar total fenolik ekstrak biji alpukat menggunakan metode pengeringan matahari langsung sebesar 194,8769 ±0,3795 mg GAE/g dan kadar total fenolik ekstrak biji alpukat menggunakan metode pengeringan oven suhu 60℃ sebesar 56,1492 ±0,3957 mg GAE/g. Analisis data kadar fenolik menggunakan uji Independent T-Test dengan p0,05 dan didapatkan Sig. (2-tailed) adalah 0,000 maka H1 diterima yaitu, terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metode pengeringan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Madu merupakan cairan alami yang umumnya memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah dan memiliki senyawa fenolik. Madu hutan dihasilkan oleh lebah liar Apis dorsata yang bersifat agresif. Madu merupakan produk turunan lebah yang mengandung berbagai senyawa fenolik dan memiliki aktivitas antivirus. Fenolik merupakan senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus hidroksil (OH‾) yang menempel pada cincin aromatik.i Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol madu hutan kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Selatan Kalimantan Utara dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini meliputi determinasi hewan, ekstraksi, uji organoleptis, uji kadar air, skrining fitokimia, dan uji kadar fenolik total dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi Folin-ciocalteau dan pembanding asam galat. Hasil penelitian skrining fitokimia yang terdapat pada ekstrak madu hutan kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Selatan terdapat metabolit sekunder yaitu, flavonoid, polifenol, dan triterpenoid. Hasil ekstraksi rendeman madu hutan Kayan Hilir sebesar 77,18% sedangkan madu hutan Kayan Selatan sebesar 79,96%. Kadar fenolik total ekstrak etanol madu hutan kecamatan Kayan Hilir sebesar 1,7303 ± 0,0169 mg GAE/g, sedangkan kadar fenolik total ekstrak madu hutan kecamatan Kayan Selatan sebesar 1,5096 ± 0,0504 mg GAE/g. Analisis data pada ekstrak madu hutan kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Selatan homogen dan normal dilanjutkan uji independen T-test Two-Sampel Assuming Equal Variances didapatkan hasil p-value yaitu 0,002 (p 0,05) (adanya perbedaan yang signifikan).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Mei Lika Syaroh NIM : 21482011255 Judul Skripsi : Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Pembimbing : 1. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. 2. apt. Siti Jubaidah, S.Far., M.Pd. Madu kelulut merupakan madu yang berasal dari lebah tanpa sengat (Heterotrigona itama) yang memiliki manfaat aktivitas bioligis sebagai antibakteri, antiinflamasi dan penyembuh luka, serta memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya yaitu fenolik. Senyawa fenolik merupakan senyawa kimia yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan gugus kromofor. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol pada madu kelulut dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Data kualitatif diperoleh melalui skrinning fitokimia madu kelulut, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari penetapan kadar senyawa fenolik pada madu kelulut. Tahapan penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia madu kelulut, ekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, fraksinasi bertingkat, skrining fitokimia, dan uji kadar fenolik total ekstrak etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding asam galat. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenolik ekstrak etanol 95% adalah 1,2958±0,1362 mgGAE/g, fraksi n-heksana 1,2535±0,0254 mgGAE/g, fraksi etil asetat 2,9765±0,0733 mgGAE/g, dan fraksi etanol-air 1,1712±0,0175 mgGAE/g. Uji normalitas menunjukkan kadar fenolik total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar fenolik total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,055 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar fenolik dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) tidak ada perbedaan yang signifikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung berbagai senyawa fitokimia flavonoid, alkaloid, tanin, saponin dan steroid. Senyawa fenolik meliputi kuinon fenolik, flavonoid, fenil propanoid, fenol monosiklik, polifenol, dan kuinon fenolik. Senyawa fenolik merupakan jenis senyawa metabolit sekunder yang memiliki sifat astringen, antidiare, antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar fenolik total dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun matoa. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi, penetapan kadar air, uji skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik total dengan pereaksi folin-ciocalteu dengan pembanding asam galat dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dengan pembanding vitamin C. Berdasarkan hasil penelitian pada ekstrak etanol daun matoa terdapat metabolit sekunder yaitu fenolik, flavonoid, dan steroid. Rendemen ekstrak etanol daun matoa yang diperoleh sebesar 22,30%. Hasil perhitungan dari penetapan kadar fenolik total ekstrak etanol daun matoa sebesar 260,3177± 0,5388 mg GAE/g yang berarti dalam setiap ekstrak etanol daun matoa setara dengan 260,3177 mg asam galat. Hasil perhitungan dari aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa diperoleh IC50 sebesar 13,40 ppm termasuk kategori aktivitas antioksidan yang sangat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang menjadi sumber karotenoid serta berbagai senyawa bioaktif, termasuk senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder yang memiliki berbagai aktivitas biologis, salah satunya sebagai antioksidan. Besarnya kandungan senyawa aktif dalam ekstrak, dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar senyawa fenolik total berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi dan refluks, penetapan kadar air, skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik total. Hasil penelitian, diperoleh nilai rata-rata susut pengeringan sebesar 7,12.%. Rendemen ekstrak hasil maserasi 38,91% dan refluks 35,39%. Hasil rata-rata penetapan kadar air ekstrak secara maserasi 5,88% dan secara refluks 7,07%. Hasil skrining fitokimia secara maserasi dan secara refluks diperoleh senyawa fenolik, flavonoid, saponin. Kadar rata-rata fenolik total dari ekstraksi secara maserasi adalah17,69 mg GAE/g mg GAE/g dan secara refluks 30,81 mg GAE/g. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa perbedan metode ekstraksi berpengaruh terhadap kadar rata-rata fenolik total buah labu kuning.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang termasuk dalam keluarga cucurbitaceae. Buah labu kuning kaya akan sumber nutrisi, salah satunya adalah senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder dan memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan yang juga terdapat pada kulit buah labu kuning. Kadar senyawa aktif bahan alam dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, determinasi tanaman, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dan refluks, skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Variabel bebas pada penelitian ini adalah metode maserasi dan refluks, variabel terikat adalah kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning dan hasil skrining. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa kadar fenolik total yang dinyatakan dalam mg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit buah labu kuning mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenolik total ekstrak kulit buah labu kuning dengan perbedaan ekstraksi maserasi dan refluks, diperoleh masing-masing kadar sebesar 113,45 ±1,56 mg GAE/g dan 125,69 ±0,28 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen selanjutnya digunakan uji independent t-test dengan hasil nilai p value (0,00 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenolik total antara kedua sampel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang banyak
ditemukan di Indonesia dan dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan
pengobatan. Daun tanaman ini mengandung berbagai metabolit sekunder seperti
flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan senyawa fenolik yang berperan sebagai
antioksidan. Kandungan senyawa fenolik dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut
yang digunakan selama proses ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kadar fenolik total ekstrak daun jarak pagar menggunakan variasi
pelarut etanol 70%, etanol 95%, dan metanol. Penelitian menggunakan rancangan
eksperimental dengan teknik purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi
determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode
maserasi, skrining fitokimia, serta penetapan kadar fenolik total menggunakan
metode Folin-Ciocalteu yang diukur secara spektrofotometri UV-Vis dengan
asam galat sebagai standar. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji
homogenitas, One Way ANOVA, dan dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total ekstrak etanol 70%,
etanol 95%, dan metanol berturut-turut sebesar 22,8289 ± 1,53 mg GAE/g,
36,0400 ± 0,66 mg GAE/g, dan 20,6133 ± 2,62 mg GAE/g. Uji One Way ANOVA
menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar ketiga kelompok pelarut
(p<0,05). Hasil uji lanjut Bonferroni menunjukkan bahwa ekstrak etanol 95%
berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 70% dan metanol, sedangkan antara
ekstrak etanol 70% dan metanol tidak terdapat perbedaan yang signifikan
(p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 95%
menghasilkan kadar fenolik total tertinggi, sehingga lebih efektif dibandingkan
etanol 70% dan metanol dalam mengekstraksi senyawa fenolik daun jarak pagar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman herbal yang mengandung senyawa bioaktif, khususnya senyawa fenolik, yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Kandungan senyawa fenolik yang terekstraksi dari bahan alam dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, terutama berdasarkan tingkat polaritasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak rimpang kunyit hitam dengan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95%, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penetapan kadar fenolik total menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dengan pembanding asam galat. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kunyit hitam positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, fenolik, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil penetapan kadar fenolik total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar fenolik total tertinggi sebesar 85,8743 ± 0,8622 mg GAE/g, diikuti ekstrak metanol sebesar 53,9945 ± 0,4897 mg GAE/g dan ekstrak etanol 95% sebesar 49,9234 ± 0,9029 mg GAE/g. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p-value 0,000 (0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar fenolik total ekstrak kunyit hitam pada variasi pelarut yang digunakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar ultraviolet (UV) memberikan sejumlah manfaat bagi kehidupan, namun di balik manfaat tersebut, sinar UV dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi manusia seperti dapat memicu pembentukan radikal bebas pada jaringan kulit yang berujung pada terjadinya stres oksidatif, penuaan dini, hingga risiko kanker kulit. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif akibat paparan sinar matahari adalah dengan penggunaan tabir surya yang mengandung senyawa bioaktif alami. Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) yang dapat ditemukan di wilayah Kalimantan, diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan serta berpotensi sebagai tabir surya alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar fenolik, kadar flavonoid total, serta nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak metanol kulit buah tampoi menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan dilakukan secara in vitro. Objek penelitian ini adalah ekstrak metanol kulit buah tampoi. Pengujian kadar fenolik total menggunakan metode Folin-Ciocalteu, kadar flavonoid total menggunakan metode AlCl3, dan pengujian SPF dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak metanol kulit buah tampoi yaitu flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total ekstrak metanol kulit buah tampoi sebesar 40,55 ± 0,44 mg GAE/g, kadar flavonoid total ekstrak metanol kulit buah tampoi sebesar 15,68 ± 0,42 mg QE/g, dan nilai SPF tertinggi diperoleh pada konsentrasi 1500 ppm sebesar 22,2824 termasuk dalam kategori SPF sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun petai belalang (Archidendron clypearia (Jack.) Nielsen) memiliki senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, steroid dan fenol. Senyawa fenol memiliki lebih dari satu gugus fenol (gugus hidroksi) dalam setiap molekulnya dan memiliki sifat antioksidan yang berkhasiat menghambat radikal bebas, menurunkan resiko kanker, penyakit jantung koroner, stroke, inflamasi dan penyakit neuro degeneratif. Tujuan penelitian ini untuk mengtahui kandungan total senyawa fenol pada ekstrak etanol daun petai belalang. Penelitian ini bersifat non eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia daun petai belalang, pembuatan ekstrak daun dengan metode maserasi dan menggunakan pelarut etanl 70%, uji skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik secara spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi folin-ciocalteau dan pembanding asam galat. Penetapan kadar fenolik total ditetapkan menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi folin-ciocalteau dan asam galat sebagai pembanding. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif. Berdasakan hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa metabolit sekunder yaitu, alkaloid, flavonoid, saponin, steroid dan fenol. Hasil rendemen ekstrak etanol daun petai belalang didapatkan sebanyak 18,16%. Sedangkan hasil dari penetapan kadar fenolik total ekstrak etanol daun petai belalang sebesar 23,543±1,0720 mg GAE/g yang menandakan dalam setiap ekstrak etanol daun petai belalang setara dengan 23,543 mg asam galat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Biji buah markisa mengandung beberapa senyawa seperti flavonoid, polifenol, dan saponin yang memiliki efek sebagai antioksidan, hipoglikemia, antihipertensi dan perbaikan kondisi kulit. Aktivitas antioksidan dipengaruhi oleh total flavonoid, dimana semakin tinggi senyawa flavonoid yang terdapat pada suau ekstrak maka semakin tinggi aktivitas antioksidannya, sehingga senyawa polifenol dan flavonoid memiliki korelasi dengan aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik dan flavonoid ekstrak metanol biji markisa ungu. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan determinasi tanaman, pengumpulan biji markisa dari Tana Toraja, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak metanol biji markisa, uji kadar air, skrining fitokimia, penetapan kadar fenolik menggunakan asam galat dengan reagen folin ciocalteau dan penetapan kadar flavonoid menggunakan pembanding kuersetin dengan metode spektrofotmetri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji markisa ungu mengandung sejumlah besar besar flavonoid, saponin, triterpenoid, tanin,dan fenol. Ekstrak biji markisa ungu mengandung senyawa fenolik dengan pembanding asam galat yang dibaca pada panjang gelombang 745 nm diperoleh rata-rata kadar fenol sebesar 72,76 mgGAE/ g Ekstrak dan mengandung senyawa flavonoid dengan pembanding kuersetin yang dibaca pada gelombang 440 nm, diperoleh rata-rata kadar flavonoid sebesar 49,03 mgQE/ g Ekstrak
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limpasu merupakan salah satu spesies tumbuhan yang banyak ditemukan di Kalimantan Selatan yang mempunyai data empiris sebagai tanaman obat. Ekstrak kulit limpasu mengandung senyawa metabolit sekunder, salah satunya adalah senyawa fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap kadar fenolik ekstrak etanol kulit buah limpasu (Baccaurea lanceolata). Penelitian dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi sampel, pengambilan sampel, pembuatan simplisia menggunakan pengeringan matahari dan pengeringan oven pada suhu 50°C, ekstrasi secara maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik menggunakan perbandingan asam galat dengan konsentrasi 12,5 25; 50; 100; dan 200 ppm. Nilai absorbansi diukur menggunakan alat spektrofotometer UV-Vis. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif yang dianalisis secara deskriptif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki aneka tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah – buahan salah satunya adalah buah alpukat yang permintaanya meningkat setiap tahunnya. Buah alpukat merupakan buah yang termasuk paling sering dikonsumsi. Masyarakat memanfaatkan pada buahnya saja sedangkan bagian lainnya seperti bijinya kurang dimanfaatkan. Pengeringan menggunakan oven dapat menghasilkan berat kering konstan lebih cepat, yang dipengaruhi oleh suhu yang digunakan sehingga dapat meningkatkan biaya produksi sedangkan pengeringan dengan sinar matahari dapat memberikan keuntungan dari segi biaya produksi yang murah dengan waktu yang singkat namun sinar matahari dapat mendegradasi senyawa fitokimia yang terkandung dalam simplisia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perlakuan pengeringan matahari langsung dan pengeringan oven serta menguji kadar fenolik total dengan fraksi etil asetat dan n-heksan biji buah alpukat (Persea americana Mill.). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi sampel, pengambilan sampel, pembuatan simplisia dengan cara pengeringan alami secara matahari langsung dan pengeringan buatan dengan oven pada suhu 60oC, ekstraksi secara maserasi, fraksinasi dengan etil asetat dan n-heksan, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Senyawa fenolik merupakan senyawa kimia yang memiliki aktivitas sebagai antioksidan, sehingga dapat berperan aktif sebagai tabir surya dan dapat mencegah efek merugikan dari paparan radiasi sinar UV terhadap kulit. Antioksidan yang terdapat pada senyawa fenolik bersifat sebagai oksidator dan berperan dalam menetralisasikan radikal bebas. Jambu bol (Syzygium malaccense) termasuk kedalam family Myrtaceae. Jambu bol merupakan tanaman yang memiliki kadar fenolik tinggi dan memiliki aktivitas farmakologi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar fenolik total dan nilai SPF ekstrak etanol daun jambu bol berdasarkan variasi bentuk simplisia dan konsentrasi pelarut. Penelitian yang dilakukan ini bersifat eksperimental. Objek yang diteliti adalah kadar fenolik total dan nilai SPF ekstrak etanol daun jambu bol berdasarkan variasi bentuk simplisia (serbuk dan rajangan) dan konsentrasi pelarut. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak etanol daun jambu bol dengan variasi bentuk simplisia (serbuk dan rajangan) dengan konsentrasi pelarut yang digunakan yaitu etanol 70%, 95% dan 100%. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kadar fenolik total dan nilai SPF ekstrak etanol daun jambu bol. Tahapan dalam penelitian ini dimulai dari determinasi sampel, pengambilan sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi, penetapan kadar air ekstrak, skrining fitokimia, penentuan kadar fenolik total dan uji aktivitas tabir surya dengan spektrofotometri UV-Vis. Ekstrak kental yang diperoleh dihitung kadar air, skrinning fitokimia dan dilanjutkan dengan uji kadar fenolik total dengan menggunakan pembanding asam galat dan dihitung nilai SPF menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penetapan kadar fenolik total dinyatakan dalam mg/GAE dan dihitung menggunakan rumus TPC (Total Phenolic Content) dan nilai SPF dihitung menggunakan persamaan Mansur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kadar senyawa fenolik total dari rosella (Hibiscus sabdariffa)merah dan ungu.Rosellamerah danungu merupakan tanaman berkhasiat yang digunakan masyarakat sebagai obat tradisional.Salah satu kandungan utamanya adalah antosianin yang merupakan bagian dari senyawa fenolik dan berkhasiat sebagai antioksidan.Kadar fenolik total ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi Folin-Ciocalteu dan menggunakan asam galat sebagai senyawa pembanding.Prinsip dari metode ini adalahterbentuknya senyawa kompleks berwarna biru dari fosfomolibdat-fosfotungstat yang direduksisenyawa fenolik dalam suasana basa, yang dapat diukur secara spektrofotometri. Penelitian ini diilakukan dengan mengumpulkan,mempelajaridan menelaah literatur ilmiah yang berhubungan dengan penelitian.
Analisis data dilakukan secara deskriptif, berdasarkan jurnal pebandingan diperoleh hasil kadar senyawa fenolik total ekstrak etanol rosella (Hibiscus sabdariffa) merah sebanyak 1,8537 mg GAE/g ekstrak dengan persentase kadar fenol total (b/b) sebesar 0,1853 % dan ekstrak etanol rosella (Hibiscus sabdariffa) ungu sebanyak 16,7265 mg GAE/g ekstrak dengan persentase kadar fenol total (b/b) sebesar 1,6726 % yang artinya kadar fenolik total rosella ungu lebih tinggi dibandingkan rosella merah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
STUDI LITERATUR PERBANDINGAN KADAR FENOLIK TOTAL PADA FAMILI ASTERACEAE DAN LAMIACEAE DENGAN METODE SPEKTOFOTOMETRI ABSTRAK Senyawa fenolik merupakan produk alami yang memiliki sifat sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Beberapa famili tumbuhan yang mempunyai senyawa fenolik adalah Asteraceae dan Lamiaceae. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk membandingkan kadar fenolik total pada famili Asteraceae dan Lamiaceae. Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi literatur dengan tahapan ngumpulkan, jurnal-jurnal, artikel dan data yang terkait tentang perbandingan kadar fenolik yang diperoleh secara Spektrofotometri UV-Vis. Hasil dari kajian beberapa literatur diperoleh kadar fenolik yang paling tinggi pada famili Lamiaceae ekstrak etanol 96% daun nilam sebesar 327,84mg GAE/gram, ekstrak etanol 70% daun selasih 167,4512mg GAE/gram, diikuti famili Asteraceae ekstrak metanol daun beluntas 84,11mg GAE/gram, ekstrak etanol 96% daun insulin 67,41mg GAE/gram, ekstrak etanol 70% daun tapak liman 20,5392mg GAE/gram dan terendah pada ekstrak etanol 96% daun kenikir 7,2mg GAE/gram, dengan metode maserasi dan spektrofotometri UV-Vis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk membandingkan metode maserasi dan refluks dengan menggunakan konsentrasi pelarut etanol 70% dan 75% terhadap kadar fenolik total ekstrak etanol tongkol jagung. Perbandingan metode ekstraksi dan konsentrasi pelarut dapat menggambarkan tinggi atau rendahnya kadar fenolik total dalam suatu tanaman. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil nilai rendemen tongkol jagung yang didapatkan untuk ekstraksi menggunakan maserasi dan refluks etanol 70% adalah 6,68% dan 7,86%. Nilai rendemen untuk ekstraksi menggunakan maserasi dan refluks etanol 75% adalah 7,83% dan 13,17%. Hasil kadar fenolik total yang dihasilkan dari ekstrak tongkol jagung menggunakan metode ekstraksi maserasi dan refluks sebesar 0,312 mg/g dan 0,397 mg/g (etanol 75%). Kesimpulan yang dapat diambil adalah metode ekstraksi refluks dengan pelarut etanol 75% memiliki nilai rendemen lebih besar dibandingkan dengan metode ekstraki maserasi yang akan berpengaruh terhadap kadar fenolik total ekstrak etanol tongkol jagung.