ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun wanyi (Mangifera caesia Jack.) Secara tradisional telah dimanfaatkan dalam berbagai pengobatan herbal karena kandungan zat aktifnya. Daun wanyi diketahui kaya akan senyawa flavonoid. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tujuan penelitian untuk mengetahui kadar flavonoid total daun wanyi (Mangifera caesia Jack.) berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Serbuk simplisia daun wanyi diekstraksi secara maserasi menggunakan etanol 95% selama 24 jam dan diekstraksi secara refluks menggunakan etanol 95% dengan suhu 60°C selama 1 jam. Penentuan kadar flavonoid total ekstrak daun wanyi dengan spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Hasil yang diperoleh dari data spektrofotometri UV-Vis adalah kadar flavonoid total ekstrak etanol daun wanyi dengan metode maserasi sebesar 7,5766 ± 0,2163 mgQE/g dan secara refluks sebesar 4,4324 ± 0,2576 mgQE/g. Analisis data statistik kadar flavonoid total menggunakan uji Mann-Whitney menghasilkan nilai signifikansi 0,046 (p 0,05), menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara kedua metode ekstraksi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Metode ekstraksi dapat mempengaruhi kandungan dan kadar senyawa aktif suatu simplisia. Daun wanyi (Mangifera caesia Jack) memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun wanyi dengan membandingkan dua metode ekstraksi maserasi dan refluks menggunakan metode uji DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Penelitian ini mencakup tahapan utama yaitu determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol daun wanyi dengan metode ekstraksi maserasi dan refluks, penetapan kadar air, skrining fitokimia, uji aktivitas antioksidan dan analisis data. Aktivitas antioksidan diuji dengan mengukur kemampuan ekstrak dalam menghambat radikal bebas DPPH yang dinyatakan sebagai nilai IC50. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak maserasi dan refluks daun wanyi mengandung senyawa metabolit sekunder berupa flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Pengujian antioksidan ekstrak maserasi daun wanyi diperoleh nilai rata-rata IC50 sebesar 11,65 ppm dan ekstrak refluks daun wanyi sebesar 10,36 ppm. Berdasarkan hasil uji statistik dengan Independen T-Test diperoleh nilai signifikan (0,262) > p-value (0,05) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara hasil pengujian antioksidan daun wanyi dengan metode maserasi dan refluks. Hasil uji antioksidan menunjukkan bahwa ekstrak daun wanyi dengan metode maserasi maupun refluks termasuk dalam kategori sangat kuat sehingga dapat menjadi acuan dalam pengembangan produk antioksidan alami.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang menjadi sumber karotenoid serta berbagai senyawa bioaktif, termasuk senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder yang memiliki berbagai aktivitas biologis, salah satunya sebagai antioksidan. Besarnya kandungan senyawa aktif dalam ekstrak, dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar senyawa fenolik total berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi dan refluks, penetapan kadar air, skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik total. Hasil penelitian, diperoleh nilai rata-rata susut pengeringan sebesar 7,12.%. Rendemen ekstrak hasil maserasi 38,91% dan refluks 35,39%. Hasil rata-rata penetapan kadar air ekstrak secara maserasi 5,88% dan secara refluks 7,07%. Hasil skrining fitokimia secara maserasi dan secara refluks diperoleh senyawa fenolik, flavonoid, saponin. Kadar rata-rata fenolik total dari ekstraksi secara maserasi adalah17,69 mg GAE/g mg GAE/g dan secara refluks 30,81 mg GAE/g. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa perbedan metode ekstraksi berpengaruh terhadap kadar rata-rata fenolik total buah labu kuning.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang termasuk dalam keluarga cucurbitaceae. Buah labu kuning kaya akan sumber nutrisi, salah satunya adalah senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder dan memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan yang juga terdapat pada kulit buah labu kuning. Kadar senyawa aktif bahan alam dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, determinasi tanaman, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dan refluks, skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Variabel bebas pada penelitian ini adalah metode maserasi dan refluks, variabel terikat adalah kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning dan hasil skrining. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa kadar fenolik total yang dinyatakan dalam mg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit buah labu kuning mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenolik total ekstrak kulit buah labu kuning dengan perbedaan ekstraksi maserasi dan refluks, diperoleh masing-masing kadar sebesar 113,45 ±1,56 mg GAE/g dan 125,69 ±0,28 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen selanjutnya digunakan uji independent t-test dengan hasil nilai p value (0,00 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenolik total antara kedua sampel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun sirih hutan (Piper aduncum L.) merupakan tanaman yang diketahui memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan steroid. Perbedaan metode ekstraksi dapat memengaruhi jumlah rendemen, kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antibakteri ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode ekstraksi maserasi dan digesti serta variasi konsentrasi terhadap rendemen, kandungan metabolit sekunder, dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap Staphylococcus aureus. Penelitian ini bersifat eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi dan digesti, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 1%, 5%, 10%, dan 15%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode digesti menghasilkan rendemen ekstrak lebih tinggi dibandingkan metode maserasi, yaitu sebesar 34,90% dan 18,02%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa kedua metode ekstraksi mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan bahwa seluruh konsentrasi ekstrak mampu menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dengan kategori daya hambat lemah pada konsentrasi 1% dan sedang pada konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan konsentrasi berpengaruh signifikan (p0,05) terhadap diameter zona hambat, sedangkan antara metode ekstraksi dan konsentrasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi memengaruhi rendemen dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun sirih hutan terhadap Staphylococcus aureus, dengan metode digesti memberikan hasil yang lebih baik pada rendemen ekstrak dibandingkan metode maserasi. Namun, metode digesti memiliki aktivitas antibakteri yang lebih rendah dibandingkan metode maserasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang potensial secara farmakologis, namun kandungannya dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan membandingkan pengaruh metode maserasi dan perkolasi terhadap rendemen dan hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun pepaya. Data diperoleh dari dua jurnal ilmiah periode 2015–2025 dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa metode maserasi menghasilkan rendemen lebih tinggi (25,97%) dibandingkan perkolasi (6,6%). Skrining fitokimia pada kedua metode menunjukkan hasil positif terhadap alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, sedangkan perbedaan ditemukan pada senyawa steroid, yang teridentifikasi pada metode maserasi namun tidak pada metode perkolasi. Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan lamanya kontak antara pelarut dan simplisia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L) merupakan limbah yang banyak ditemukan sebagai sisa buangan buah pisang, yang tidak dimanfaatkan dan hanya dibiarkan saja. Kandungan senyawa aktif dalam kulit pisang kepok diantaranya adalah flavonid, saponin dan triterpenoid memiliki aktivitas farmakologi antioksidan dan antibakteri. Senyawa aktif dalam simplisia dapat dimanfaatkan setelah dilakukan proses ekstraksi. Metode ekstraksi yang digunakan dapat mempengaruhi hasil skrining fitokimia. Studi Literatur ini bertujuan untuk mengetahui hasil skrining fitokimia ekstrak etanol kulit pisang kepok dengan perbedaan metode ekstrasi. Skrining fitokimia merupakan langkah awal untuk mengetahui bahan aktif yang merupakan metabolit sekunder pada tumbuhan. Tahapan penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan; penyajian data ; penarikan simpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapatkan agar penaRIkan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data berupa analisis deskriptif berupa golongan senyawa hasil ektraksi kulit pisang kepok secara maserasi dan perkolasi. Berdasarkan hasil skrining fitokimia dari kedua literatur dapat disimpulkan bahwa perbedaan metode ekstrasi ekstrak etanol kulit pisang kepok mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, fenolik, steroid dan terpenoid.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah labu kuning merupakan tanaman yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi kulit dari buah labu kuning jarang dimanfaatkan bahkan dianggap limbah yang tidak terpakai. Di sisi lain, kulit labu kaya akan metabolit sekunder seperti kandungan flavonoid, alkaloid, saponin dan terpenoid. Bahkan kulit buah labu kuning juga memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat. Kandungan senyawa aktif dalam tumbuhan dapat dipisahkan dengan cara ekstraksi. Metode ekstraksi yang digunakan akan berpengaruh terhadap senyawa aktif yang diperoleh, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas farmakologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kulit labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental melalui beberapa tahapan dimulai dari determinasi tanaman, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi dan refluks, uji aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer dengan metode DPPH (2,2 Difenil-1-Pikrihidrazil). Analisis data yang digunakan berupa data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung dan diolah dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi agar dapat dipaparkan secara baik dan diinterpretasikan secara mudah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sekilang (Embelia borneensis Scheff.) merupakan tumbuhan yang secara empiris digunakan sebagai penangkap ikan, pengusir lintah dan perawatan rambut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis dan kadar saponin ekstrak metanol kulit batang sekilang berdasarkan perbedaan metode ekstraksi secara gravimetri. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pembuatan simplisia kulit batang sekilang, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi, refluks dan sokhlet, penetapan kadar saponin dengan metode gravimetri. Analisis kandungan saponin meliputi: identifikasi saponin, identifikasi jenis saponin, penetapan kadar saponin dan analisis data. Objek penelitian adalah jenis dan kadar saponin berdasarkan perbedaan metode ekstraksi terhadap ekstrak metanol kulit batang sekilang. Variabel bebas pada penelitian ini adalah metanol, maserasi, refluks dan sokhlet; Variabel terikat pada penelitian ini adalah jenis dan kadar dari ekstrak metanol kulit batang sekilang; dan variabel kontrol pada penelitian ini adalah metode gravimetri. Sampel yang digunakan adalah kulit batang Sekilang yang diperoleh dari Desa Long Temuyat. Teknik sampling yang digunakan purposive sampling. Data yang diperoleh adalah kadar saponin kulit batang sekilang berdasarkan hasil dari tiga metode ekstraksi yang digunakan berbeda. Data dianalisis dengan uji statistik one way anova untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan jumlah kadar saponin berdasarkan perbedaan metode. Hasil identifikasi jenis saponin dari ekstrak metanol kulit batang sekilang adalah jenis saponin triterpenoid. Hasil dari analisis data dengan uji statistik one way anova diperoleh bahwa terdapat perbedaan signifikan antar metode ekstraksi terhadap kadar saponin kulit batang sekilang yaitu dengan sig = 0,009 dengan taraf signifikan 0,05 (5%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu tahapan pengembangan obat adalah pengolahan bahan baku yang dapat menjamin bahan bermutu secara fisika dan kimia. Agar meningkatkan mutu sediaan obat dari bahan alam, maka ekstrak harus mempunyai kualitas yang baik secara fisik dan kandungan kimianya. Salah satu faktor yang mempengaruhi rendemen adalah metode ekstraksi. Metode ekstraksi yang biasa digunakan antara lain maserasi, refluks dan sokletasi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk membandingkan hasil rendemen ekstraksi daun kersen dengan menggunakan berbagai metode ekstraksi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan objek penelitian berupa metode ekstraksi menggunakan metode maserasi, refluks dan sokletasi. Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian nilai rendemen pada perbedaan metode dari ekstraksi daun pepaya menghasilkan nilai rendemen yang berbeda-beda disetiap metode, pada metode maserasi mendapatkan hasil rendemen sebesar 23,9%, metode refluks mendapatkan hasil 27,3% sedangkan pada metode sokletasi mendapatkan hasil rendemen sebesar 28,92%. Hal ini disebabkan oleh pelarut apa yang digunakan, ukuran partikel, jumlah sampel, metode ekstraksi yang digunakan, dan lama waktu ekstraksi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak tongkol jagung berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Tongkol jagung merupakan simpanan makanan untuk pertumbuhan biji jagung selama melekat pada tongkol, maka dari itu tongkol jagung disinyalir memiliki senyawa-senyawa aktif yang dapat berpotensi sebagai antioksidan. Objek penelitian adalah aktivitas antioksidan tongkol jagung yang diekstraksi secara maserasi dan refluks. Tahapan penelitian yaitu mengumpulkan artikel ilmiah kemudian mereduksi data dan data yang dikumpulkan diringkas sehingga didapatkan data utama tulisan, penyajian secara deskriptif dalam bentuk tabel, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang perbandingan aktivitas antioksidan ekstrak etanol tongkol jagung dari metode ekstraksi maserasi dan refluks. Berdasarkan telaah literatur, dapat disimpulkan bahwa ekstrak tongkol jagung yang diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 60% memiliki aktivitas penangkal radikal bebas yang paling tinggi yaitu 75,9%. Sedangkan ekstrak tongkol jagung yang diekstraksi secara refluks dengan pelarut etanol 80% memiliki aktivitas penangkal radikal bebas yang paling tinggi yaitu 66,9%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil rendemen ekstrak etanol tumbuhan suku Zingiberaceae menggunakan metode maserasi. Zingiberaceae merupakan jenis tumbuhan temu-temuan, yang memiliki rimpang berbau khas dan memiliki potensi sebagai obat radang telinga tengah, dermatitis, hepatitis, katarak, batu ginjal, radang ginjal, radang vagina, kelenjar prostat, kemandulan, dan ejakulasi dini. Beberapa macam tumbuhan Zingiberaceae yang dapat digunakan sebagai obat-obatan diantaranya yaitu kunyit, kencur, jahe.Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan yaitu nilai rendemen, penyajian data dalam bentuk deskriptif berupa tabel dan grafik, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Berdasarkan studi literatur diperoleh hasil nilai rendemen ekstrak etanol dari rimpang kunyit sebesar 22%, rimpang kencur 20,54%, dan rimpang jahe sebesar 17,43%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui nilai rendemen ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L) yang diekstraksi menggunakan berbagai pelarut. Daun kelor (Moringa oleifera L) tanaman ini telah dikenal selama berabad-abad sebagai salah satu tanaman sayuran yang multiguna padat nutrisi, hampir semua bagian dari tanaman kelor ini dapat dijadikan sumber makanan karena mengandung senyawa aktif dan gizi lengkap. Daun kelor mengandung metabolit primer seperti protein, lemak karbohidrat, berbagai mineral, vitamin dan asam amino sehingga dapat dimanfaatkan sebagai makanan alternatif pada kasus malnutrisi, selain itu daun kelor juga mengandung, metabolit sekunder. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehungga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil dari studi literatur ini, didapatkan bahwa nilai rendemen terbesar pada ekstrak etanol 70% sebesar 12,69% dengan kandungan senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan, saponin. Bahwa ternyata daun kelor banyak tersari pada pelarut yang polar, maka bisa disimpulkan senyawa metabolit sekunder yang ada dalam daun kelor lebih banyak bersifat polar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk membandingkan metode maserasi dan refluks dengan menggunakan konsentrasi pelarut etanol 70% dan 75% terhadap kadar fenolik total ekstrak etanol tongkol jagung. Perbandingan metode ekstraksi dan konsentrasi pelarut dapat menggambarkan tinggi atau rendahnya kadar fenolik total dalam suatu tanaman. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil nilai rendemen tongkol jagung yang didapatkan untuk ekstraksi menggunakan maserasi dan refluks etanol 70% adalah 6,68% dan 7,86%. Nilai rendemen untuk ekstraksi menggunakan maserasi dan refluks etanol 75% adalah 7,83% dan 13,17%. Hasil kadar fenolik total yang dihasilkan dari ekstrak tongkol jagung menggunakan metode ekstraksi maserasi dan refluks sebesar 0,312 mg/g dan 0,397 mg/g (etanol 75%). Kesimpulan yang dapat diambil adalah metode ekstraksi refluks dengan pelarut etanol 75% memiliki nilai rendemen lebih besar dibandingkan dengan metode ekstraki maserasi yang akan berpengaruh terhadap kadar fenolik total ekstrak etanol tongkol jagung.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jatropha dan Euphorbia termasuk famili Euphorbiaceae yang telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat salah satunya dalam bidang kesehatan. Daun jarak pagar (Jatropha curcas) dan daun jarak merah (Jatropha gossypifolia) digunakan untuk mengatasi sakit perut dan demam. Daun patikan kebo (Euphorbia hirta) digunakan untuk mengatasi sesak napas dan radang tenggorokan. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan hasil rendemen dengan etanol 70% dan etanol 96% ekstrak etanol daun jarak pagar (Jatropha curcas), daun jarak merah (Jatropha gossypifolia) dan daun patikan kebo (Euphorbia hirta). Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil rendemen etanol 70% pada tumbuhan (Jatropha curcas), daun jarak merah (Jatropha gossypifolia) dan daun patikan kebo (Euphorbia hirta) masing-masing sebesar 21,5%, 21,23% dan 30%. Selain itu, pada etanol 96% masing-masing sebesar 11,28%, 4,38% dan 11,261%. Kesimpulan yang dapat diambil adalah nilai rendemen pada etanol 70% lebih besar dibandingkan dengan etanol 96%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Tumbuhan salam (Syzygium polyanthum (wight.) Walp) Dan Daun Jambu Bol (Syzygium malaccense L.) termasuk ke dalam famili Myrtaceae. Daun dari kedua tumbuhan tersebut memilki zat aktif yang berkhasiat obat. Zat aktif dalam tumbuhan dapat di piashkan dari campuran dengan ekstraksi, sehingga nilai rendemen dapat diketahui. Tujuan penelitian untuk mengetahui nilai rendemen ekstrak daun salam dan daun jambu bol yang di ekstraksi secara maserasi dan sokletasi. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur dengan tahapan penelitian yaitu : reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan Analisa data pada penelitian ini adalah analisa deskriptif, yaitu berupa nilai rendemen daun salam dan jambu bol berdasarkan metode maserasi dan soklet Hasil yang diperoleh dari perbandingan metode ekstraksi didapatkan nilai maserasi pada daun jambu bol 10,92% dan sokletasi 11,56% dan pada daun salam maserasi 22% dan sokletasi 44%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan Ficus merupakan tumbuhan yang termasuk dalam famili Moraceae dan telah tersebar luas diberbagai wilayah. Masyarakat memanfaatkan potensi yang dimiliki tumbuhan sebagai alternatif pengobatan tradisional. Secara empiris tumbuhan ficus memiliki khasiat sebagai antidiare, antikanker, antimikroba, analgesik, antiinflamasi, antioksidan, penawar racun, dan antibakteri. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui nilai rendemen ekstrak tumbuhan Ficus dengan menggunakan metode maserasi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi literatur. Tahapan penelitian yang dilakukan dimulai dari pengumpulan data-data seperti jurnal-jurnal ilmiah, meringkas data, lalu kemudian mengolah data penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dari jurnal ilmiah. Berbagai literatur yang diperoleh memiliki bagian-bagian tumbuhan berbeda dengan proses ekstraksi maserasi dan penggunaan pelarut yang berbeda sehingga hasil filtrat ekstrak yang diperoleh bervariasi, hal tersebut juga dapat berasal dari tempat tumbuh tumbuhan Ficus yang berbeda-beda. Ekstraksi dengan metode maserasi terhadap tumbuhan Ficus pada spesies berbeda menghasilkan nilai rendemen ekstrak yang bervariasi diantaranya Ficus racemosa L. memperoleh ekstrak etanol pada buah sebanyak 9,2%, dan akar 1,3125%. Ekstrak n-heksan pada kulit batang sebanyak 2,28% dan ekstrak petroleum eter pada daun sebanyak 4,79%. Kemudian ekstrak etanol pada daun Ficus carica L. sebanyak 13,56%. Ekstrak etanol pada buah Ficus benjamina L. sebanyak 1,004%. Ekstrak etanol pada buah Ficus variegata Blume. sebanyak 4,5%. Tumbuhan Ficus memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan.