Profil penulis
ME
168 karya publik ditemukan.
PROFIL PENGELOLAAN LIMBAH FARMASI DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDUL WAHAB SYAHRANIE SAMARINDA TAHUN 2018
PERBANDINGAN RENDEMEN EKSTRAK ETANOL DAUN KELAKAI (Stenochlaena palustris (Burm. F.) Bedd.) DENGAN METODE MASERASI DAN REFLUKS
IDENTIFIKASI PRESCRIBING ERROR RESEP RAWAT JALAN PADA PASIEN UMUM DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA PERIODE JANUARI 2019
Formula Optimum Sediaan Nanoemulsi Ekstrak Etanol umbi Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill) Urb) Dengan Variasi Sunflower oil- Tween 60- PEG 400
UJI AKTIVITAS FRAKSI ETIL ASETAT UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine bulbosa Urb.) TERHADAP PENINGKATAN JUMLAH SEL TROMBOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus)
UJI AKTIVITAS ANALGETIK EKSTRAK ETANOL DAUN SUKUN (Artocarpus altilis Park.) PADA MENCIT PUTIH JANTAN (Mus musculus) YANG DIINDUKSI ASAM ASETAT
Identifikasi Dan Penetapan Kadar Pemanis Siklamat Pada Minuman Sirup Merah Yang Beredar Di Kelurahan Sidodadi Samarinda Degan Metode Gravimetri
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAUN BIAK-BIAK (Mitragyna speciosa) DENGAN METODE ABTS (2.2-azinobis-(3-etilbenzotiazolin)-6-asam sulfonat)
IDENTIFIKASI KESALAHAN PENGOBATAN (MEDICATION ERROR) PADA TAHAP PERESEPAN (PRESCRIBING) DI DEPO FARMASI RAWAT JALAN RSUD TAMAN HUSADA BONTANG PERIODE 1 MARET - 16 APRIL 2019
KARAKTERISASI SPESIFIK DAN NON SPESIFIK SERBUK SIMPLISIA DAUN LAHINAI (Alphotonia excelsa (Fenzl) Benth)
Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona Itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis
ABSTRAK Nama : Mei Lika Syaroh NIM : 21482011255 Judul Skripsi : Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Pembimbing : 1. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. 2. apt. Siti Jubaidah, S.Far., M.Pd. Madu kelulut merupakan madu yang berasal dari lebah tanpa sengat (Heterotrigona itama) yang memiliki manfaat aktivitas bioligis sebagai antibakteri, antiinflamasi dan penyembuh luka, serta memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya yaitu fenolik. Senyawa fenolik merupakan senyawa kimia yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan gugus kromofor. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol pada madu kelulut dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Data kualitatif diperoleh melalui skrinning fitokimia madu kelulut, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari penetapan kadar senyawa fenolik pada madu kelulut. Tahapan penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia madu kelulut, ekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, fraksinasi bertingkat, skrining fitokimia, dan uji kadar fenolik total ekstrak etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding asam galat. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenolik ekstrak etanol 95% adalah 1,2958±0,1362 mgGAE/g, fraksi n-heksana 1,2535±0,0254 mgGAE/g, fraksi etil asetat 2,9765±0,0733 mgGAE/g, dan fraksi etanol-air 1,1712±0,0175 mgGAE/g. Uji normalitas menunjukkan kadar fenolik total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar fenolik total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,055 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar fenolik dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) tidak ada perbedaan yang signifikan.
Profil Peresepan Obat Antihipertensi Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Bontang Utara I peridoe Juli-Desember 2018
Gambaran Pengelolaan Emergency Trolley di Ruang Rawat Inap Seruni Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahranie Samarinda Periode Januari - Desember 2018
Penentuan Nilai SPF (Sun Protection Factor) Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau (piper betle L..) Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis.
Analisis Kadar Vitamin C Pada Kosmetik Serum Wajah Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Metanol Kulit Buah Tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) Terhadap Bakteri Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa
Infeksi kulit merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum terjadi pada manusia dan dapat disebabkan oleh bakteri, antara lain Cutibacterium acnes dan Pseudomonas aeruginosa, yang merupakan flora normal kulit. Penggunaan antibiotik secara berulang dan jangka panjang dalam penanganan infeksi kulit berpotensi menyebabkan terjadinya resistensi bakteri. Oleh karena itu, diperlukan alternatif terapi antibakteri, salah satunya melalui pemanfaatan bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak metanol kulit buah tampoi sebagai antibakteri terhadap C. acnes dan P. aeruginosa menggunakan metode difusi sumuran. Aktivitas antibakteri ditentukan berdasarkan pengukuran diameter zona hambat pertumbuhan bakteri pada media agar. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengumpulan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak metanol, perhitungan rendemen ekstrak, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antibakteri. Data hasil pengujian antibakteri dianalisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan zona hambat antar kelompok perlakuan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit buah tampoi pada konsentrasi 50%, 75%, dan 100% terhadap bakteri C. acnes menghasilkan rata-rata zona hambat masing-masing sebesar 3,95 mm, 4,28 mm, dan 4,70 mm, yang termasuk dalam kategori lemah. Sementara itu, pada bakteri P. aeruginosa, konsentrasi yang sama menghasilkan zona hambat sebesar 4,35 mm, 5,30 mm, dan 6,40 mm, yang tergolong dalam kategori lemah hingga sedang. Berdasarkan analisis statistik, terdapat perbedaan yang signifikan antara konsentrasi 50% dan 100% terhadap aktivitas antibakteri pada P. aeruginosa
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PRODUK PROTOTIPE HARUAN SOYBEAN® MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis 3-ethylbenzothiazoline)-6-Sulfonic Acid)
ANALISIS VITAMIN C PADA KOSMETIK SERUM WAJAH MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Serum pencerah wajah merupakan sediaan kosmetik yang banyak digunakan karena mengandung bahan aktif berkonsentrasi tinggi, salah satunya vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan dan penghambat pembentukan melanin. Namun, tidak semua produk serum wajah yang beredar mencantumkan kandungan vitamin C sesuai dengan klaim pada label kemasannya, sehingga perlu dilakukan analisis kadar vitamin C untuk mengetahui kandungan vitamin C pada produk. Penelitian ini bertujuan menganalisis kadar vitamin C pada produk serum wajah yang beredar di Kelurahan Air Hitam, Samarinda menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif menggunakan teknik purposive sampling. Tahapan pengujian meliputi pembuatan larutan KMnO₄ 1% dan larutan kontrol positif vitamin C untuk uji kualitatif, pembuatan larutan induk vitamin C 1000 ppm, pembuatan larutan seri, penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi, serta penetapan kadar vitamin C menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil uji kualitatif menunjukkan bahwa sampel A, B, dan C mengalami perubahan warna dari ungu menjadi coklat yang kemudian memudar setelah penambahan KMnO₄ 1%, sehingga dinyatakan positif mengandung vitamin C. Sebaliknya, sampel D tidak menunjukkan perubahan warna dan tetap berwarna ungu sehingga dinyatakan negatif mengandung vitamin C. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan kadar vitamin C pada sampel A, B, dan C berturut-turut sebesar 4,2903 ± 0,0894%; 4,7105 ± 0,3194%; dan 2,2076 ± 0,2241%, sedangkan pada sampel D vitamin C tidak terdeteksi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tiga dari empat sampel serum wajah yang beredar di toko kosmetik Kelurahan Air Hitam, Samarinda mengandung vitamin C dengan kadar yang bervariasi, sedangkan satu sampel yang mencantumkan vitamin C pada label kemasan tidak terdeteksi mengandung vitamin C. Kata kunci : Vitamin C, kosmetik, serum wajah, spektrofotometri UV-Vis
UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN PRODUK PROTOTIPE HARUAN SOYBEAN MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis 3-ethylbenzothiazoline)-6-Sulfonic Acid)
Produk prototipe Haruan Soybean merupakan sediaan kapsul lunak yang dikembangkan dari kombinasi minyak ikan haruan (Channa striata) dan minyak kedelai (Glycine max L.) yang memiliki potensi kandungan senyawa bioaktif. Potensi komponen bioaktif dari kedua bahan tersebut menjadi dasar untuk dilakukan pengujian aktivitas antioksidan pada produk prototipe Haruan Soybean. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan produk prototipe Haruan Soybean berdasarkan nilai persen inhibisi menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid)). Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode ABTS dengan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 733 nm. Vitamin C 100 ppm digunakan sebagai kontrol positif. Data dianalisis secara deskriptif dan dilanjutkan dengan uji normalitas Shapiro-Wilk serta Independent Sample T-Test menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk prototipe Haruan Soybean memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 32,61% ± 0,68, sedangkan vitamin C memiliki nilai persen inhibisi rata-rata sebesar 7,40 % ± 0,30. Hasil uji Independent Sample T-Test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (p0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan antara persen inhibisi produk prototipe Haruan Soybean dan vitamin C. Berdasarkan hasil tersebut, produk prototipe Haruan Soybean menunjukkan adanya aktivitas antioksidan berdasarkan kemampuannya meredam radikal ABTS. Pada kondisi dan konsentrasi pengujian yang digunakan, Haruan Soybean menunjukkan nilai persen inhibisi lebih tinggi dibandingkan vitamin C. Namun, hasil tersebut tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa aktivitas antioksidan Haruan Soybean secara umum lebih kuat daripada vitamin C karena aktivitas antioksidan dapat dipengaruhi oleh konsentrasi, komposisi senyawa, metode, dan kondisi pengujian. Penelitian selanjutnya disarankan melakukan identifikasi dan kuantifikasi senyawa bioaktif menggunakan GC-MS atau LC-MS serta menentukan nilai IC50 untuk memperoleh gambaran aktivitas antioksidan yang lebih komprehensif.