ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder yang potensial secara farmakologis, namun kandungannya dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan membandingkan pengaruh metode maserasi dan perkolasi terhadap rendemen dan hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun pepaya. Data diperoleh dari dua jurnal ilmiah periode 2015–2025 dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa metode maserasi menghasilkan rendemen lebih tinggi (25,97%) dibandingkan perkolasi (6,6%). Skrining fitokimia pada kedua metode menunjukkan hasil positif terhadap alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin, sedangkan perbedaan ditemukan pada senyawa steroid, yang teridentifikasi pada metode maserasi namun tidak pada metode perkolasi. Perbedaan tersebut diduga dipengaruhi oleh metode ekstraksi dan lamanya kontak antara pelarut dan simplisia.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Meningkatnya minat masyarakat terhadap pengobatan alami mendorong pemanfaatan tanaman obat sebagai sumber antioksidan. Salah satu tanaman yang berpotensi adalah daun pepaya (Carica papaya L.) yang diketahui mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan saponin yang berperan dalam menetralisasi radikal bebas. Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat memicu stress oksidatif dan menyebabkan kerusakan sel. Antioksidan bekerja dengan mendonorkan atom hidrogen untuk menetralkan radikal bebas tersebut. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun pepaya menggunakan metode DPPH (2,2-Diphenyl-1-Picrylhydrazyl). Metode DPPH dipilih karena sederhana, cepat, sensitif, serta mampu memberikan gambaran jelas mengenai kemampuan suatu senyawa dalam meredam radikal bebas. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah yang relevan dan dianalisis berdasarkan nilai IC50 serta faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas antioksidan. Tahap penelitian yaitu mengumpulkan artikel ilmiah, menelaah dan menganalisis data yang kemudian diringkas sehingga diperoleh data utama, penyajian data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk tabel, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang aktivitas antioksidan ekstrak daun pepaya. Berdasarkan analisis data dari artikel utama yang digunakan menunjukkan bahwa ekstrak daun pepaya dengan pelarut etanol 80% memiliki aktivitas antioksidan lebih kuat (IC₅₀ 21,35 ppm) dibandingkan etanol 96% (IC₅₀ 22,24 ppm).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengukuran zona hambat ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Daun pepaya (Carica papaya L.) merupakan tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil pengukuran zona hambat dengan konsentrasi tertinggi EEDP (Ekstrak Etanol Daun Pepaya) 96% konsentrasi 30%, EEDP 96% konsentrasi 100%, EEDP 96% konsentrasi 8%, EEDP 70% konsentrasi 100% dan EEDP 70% konsentrasi 2,5% berurutan adalah 16,3 mm, 13,2 mm, 8,51 mm, 4 mm dan 3 mm. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pengukuran zona hambat bervariasi tergantung pada varietas tumbuhan pepaya dan pelarut yang digunakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengukuran zona hambat ekstrak etanol daun pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Escherichia coli. Pepaya (Carica papaya L.) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki berbagai khasiat. Daun pepaya sendiri dapat digunakan sebagai antibakteri. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Pengukuran zona hambat yang ditimbulkan oleh EEDP 96% dengan konsentrasi tertinggi yaitu 30% 100%, dan 100% menghasilkan daya hambat berturut-turut sebesar 15,3mm, 9,1mm, dan 18,67mm. dan pada EEDP 70% dengan konsentrasi ekstrak 20% dan 100% menghasilkan zona hambat sebesar 14mm, dan 16mm. Kesimpulan dari studi litertaur bahwa zona hambat yang terbentuk bervariasi tergantung pada konsentrasi ekstrak, umur daun pepaya, perbedaan konsentrasi pelarut, dan kandungan metabolit sekunder pada ekstrak etanol daun pepaya (EEDP).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Biji Pangi (Pangium edule Reinw.) dan Biji Pepaya (Carica papaya L.) merupakan tanaman yang mengandung senyawa flavonoid dan terpenoid. Senyawa metabolit tersebut memiliki potensi sebagai antibakteri. Stapylococcus aureus merupakan bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri ekstak biji pangi dan ekstrak biji pepaya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku serta dokumen yang terkait seperti skripsi dan jurnal ilmiah. Objek penelitian ini adalah aktivitas antibakteri ekstrak biji pangi (Pangium edule Reinw.) dengan biji pepaya (Carica papaya L.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa nilai zona hambat yang terbentuk terhadap zat antibakteri yaitu ekstrak dari biji pangi (Pangium edule Reinw.) dan ekstrak biji pepaya (Carica papaya L.). Uji antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak biji pangi memiliki potensi yang lebih besar dibandingkan dengan ekstrak biji pepaya dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococccus aureus dengan zona hambat terbesar yang terbentuk 20,3 mm pada konsentrasi 8%.