Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

7 hasil
Subjek: Rawat inap
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP LAMA PENGOBATAN DI RAWAT INAP PADA PASIEN ANAK DENGAN BRONKOPNEUMONIA DI RUMAH SAKIT DIRGAHAYU SAMARINDA TAHUN 2025

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bronkopneumonia merupakan salah satu bentuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang paling sering menyerang kelompok usia rentan, terutama bayi, balita, dan anak-anak. Kondisi ini dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara tepat. Salah satu pilar utama dalam terapi bronkopneumonia adalah penggunaan antibiotik. Pemilihan antibiotik yang sesuai, baik dari segi jenis, dosis, rute, maupun durasi pemberian, sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Efektivitas terapi antibiotik dapat diukur melalui berbagai parameter klinis, salah satunya adalah lama rawat inap pasien. Lama rawat inap tidak hanya menggambarkan keberhasilan klinis dari pengobatan, tetapi juga berkaitan dengan efisiensi pelayanan rumah sakit serta beban ekonomi pasien dan keluarganya. Meskipun antibiotik golongan sefalosporin seperti Cefotaxime dan Ceftriaxone sering digunakan dalam pengobatan bronkopneumonia anak, belum banyak penelitian yang mengkaji secara spesifik hubungan antara jenis antibiotik yang diberikan dengan durasi rawat inap pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antibiotik berdasarkan lama rawat inap pada pasien bayi, balita, dan anak-anak dengan bronkopneumonia di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda pada periode Januari hingga Juni tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik dan desain penelitian cross-sectional. Sampel berjumlah 100 pasien anak berusia 0 hingga 9 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan data rekam medis. Data yang dikumpulkan mencakup identitas pasien, diagnosis, jenis antibiotik yang diberikan, dan lama rawat inap. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara jenis antibiotik dengan efektivitas lama rawat inap, yang dikategorikan ke dalam empat kelompok: sangat efektif (≤3 hari), cukup efektif (4–5 hari), efektif rata-rata (6–7 hari), dan kurang efektif (≥8 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan dalam terapi bronkopneumonia pada anak di rumah sakit tersebut adalah Cefotaxime dan Ceftriaxone. Mayoritas pasien yang mendapatkan Cefotaxime mengalami masa rawat inap ≤5 hari, yang termasuk dalam kategori sangat efektif dan cukup efektif. Sebaliknya, pasien yang menerima Ceftriaxone cenderung mengalami masa rawat inap yang lebih lama, yakni ≥6 hari, yang dikategorikan sebagai kurang efektif. Uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jenis antibiotik yang digunakan dengan lama rawat inap (nilai p = 0,000), yang berarti bahwa jenis antibiotik memiliki pengaruh nyata terhadap efektivitas pengobatan. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemilihan antibiotik sangat berpengaruh terhadap durasi rawat inap pasien anak dengan bronkopneumonia. Penggunaan Cefotaxime terbukti lebih efektif dalam memperpendek masa perawatan dibandingkan Ceftriaxone. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam upaya perbaikan praktik klinis terkait terapi antibiotik di rumah sakit, serta diharapkan dapat menjadi dasar pertimbangan dalam penyusunan pedoman pemilihan antibiotik lini pertama yang lebih rasional dan berbasis bukti ilmiah, khususnya dalam pengelolaan kasus bronkopneumonia pada anak-anak.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Perbedaan Pembiayaan Berbasis Tarif INA-CBG’S dengan Tarif Riil Rumah Sakit Pada Pasien BPJS Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Inap Kelas 2 Di RSUD Kudungga Kutai Timur

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Diabetes Mellitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis tidak menular dengan angka rawat inap tinggi di RSUD Kudungga Kutai Timur, tercatat sebanyak 182 pasien berkode E10 pada tahun 2024, yang berpotensi menimbulkan ketidaksesuaian antara tarif INA-CBG's dan biaya riil rumah sakit, terutama pada pasien BPJS Kesehatan yang merupakan jenis jaminan dengan jumlah kunjungan terbanyak di rumah sakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara tarif INA-CBG's dengan tarif riil rumah sakit pada pasien BPJS Diabetes Mellitus Tipe 2 rawat inap kelas 2 di RSUD Kudungga Kutai Timur. Metode yang digunakan adalah kuantitatif observasional analitik cross sectional dengan total sampling pada seluruh berkas klaim periode Januari–Juni 2025, dianalisis menggunakan uji Shapiro-Wilk dilanjutkan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian dari 9 pasien menunjukkan total tarif riil sebesar Rp94.807.397 dengan rata-rata Rp10.534.155 per pasien, sedangkan total tarif INA-CBG's hanya Rp50.495.500, sehingga terdapat selisih kumulatif negatif sebesar Rp44.311.897 (46,74%). Sebanyak 8 dari 9 pasien (88,9%) memiliki tarif riil yang melebihi tarif INA-CBG's dengan komponen biaya terbesar yang menyebabkan selisih tersebut adalah obat dan BMHP (30,19%), diikuti tindakan medis (16,87%), dan pemeriksaan laboratorium (15,39%). Tingginya komponen biaya obat dan BMHP mencerminkan kompleksitas penanganan klinis pasien DM Tipe 2 yang membutuhkan terapi jangka panjang serta pemantauan intensif selama masa perawatan di rumah sakit. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z = -2,192 dan p = 0,028 (p 0,05). Tarif riil rumah sakit secara konsisten melebihi tarif INA-CBG's di semua kelompok pasien, yang berarti tarif paket INA-CBG's belum mampu menutup seluruh biaya pelayanan aktual rumah sakit untuk pasien DM Tipe 2 rawat inap kelas 2 di RSUD Kudungga Kutai Timur, sehingga biaya riil pelayanan tidak sepenuhnya sejalan dengan tarif klaim INA-CBG's yang diterima.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR IDENTIFIKASI DRUG RELATED PROBLEMS (DRPS) PADA PASIEN DIABETES MELITUS DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang terus meningkat prevalensinya dan sering menimbulkan komplikasi yang membutuhkan terapi jangka panjang. Penggunaan banyak obat pada pasien rawat inap meningkatkan risiko terjadinya Drug Related Problems (DRPs), yang dapat mengganggu efektivitas terapi serta menurunkan keselamatan pasien. DRPs pada pasien diabetes perlu diidentifikasi sejak dini karena dapat berdampak pada kualitas perawatan, lama rawat inap, dan biaya pengobatan. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi sistematis mengenai jenis–jenis DRPs yang muncul pada pasien diabetes melitus di instalasi rawat inap rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi pada pasien diabetes melitus yang menjalani perawatan di instalasi rawat inap rumah sakit. Metode penelitian yaitu menggunakan rancangan analisis deskriptif. Analisis dari dua jurnal juga menggambarkan bahwa ketidak tepatan regimen obat, interaksi obat, serta penggunaan obat tanpa indikasi maupun indikasi tanpa terapi merupakan bentuk masalah yang paling sering terjadi.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi literatur profil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pofil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak tepat dapat menyebabkan spektrum toksisitas, kegagalan terapi pengobatan, biaya pengobatan yang tinggi, komplikasi hingga kematian pasien, serta menghambat mutu pelayanan kesehatan itu sendiri. Penelitian studi literatur ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi instansi pelayanan kesehatan serta menjadi referensi bagi penelitian terkait penggunaan obat antihipertensi. Objek penelitian nya adalah profil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Tahapan penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data, yaitu data dalam tabel deskriptif. Data yang dianalisis berupa data karakteristik pasien dan data penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit RSUD Mardi Waluyo Blitar, RSUD Penambahan Senopati dan RSUD Sultan Imanuddin. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien terkait jenis kelamin, usia dan derajat hipertensi, data penggunaan obat hipertensi. Berdasarkan hasil studi literatur menunjukkan bahwa karakteristik pasien hipertensi yang dirawat di rumah sakit paling banyak pada usia 40-60 tahun, sedangkan karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak menderita penyakit hipertensi didominasi oleh wanita dengan derajat hipertensi paling banyak pada stadium dua. Berdasarkan data penggunaan obat menunjukkan bahwa sebagian besar pasien rawat inap diberikan obat antihipertensi dalam bentuk bentuk tunggal dengan pilihan obat yang cukup bervariasi antar rumah sakit. Sedangkan kombinasi dua dan tiga jenis obat memiliki persentase yang sama besar dan yang paling sedikit dengan empat kombinasi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PROFIL GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIBIOTIK PADA PENYAKIT ISPA UNTUK PASIEN ANAK RAWAT INAP DI BEBERAPA RUMAH SAKIT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) termasuk salah satu penyebabutama morbiditas dan mortalitas penyakit menular didunia. ISPA merupakan infeksi saluran pernapasan akut yangmenyerang bagian saluran atas dan bawah secara stimulun atau berurutan. Antibiotik merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan untuk mengatasi infeksi ini. Dalam kenyataannya antibiotik banyak diresepkan untuk infeksi ini. Penggunaan yang salah terhadap penggunaan antibiotik menyebabkan pasien tidak sembuh. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran penggunaan antibiotik dan permasalahan terkait obat kategori ketidaktepatan pemilihan obat, dosis rendah dan dosis tinggi. Penelitian ini dilakukan dengan metode non eksperimental dengan pengambilan data tertrospektif dan data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari penelitian yaitu kelompok usia yang menerima terapi antibiotik pada usia 1-4 tahun sebesar 37,89% dan penggunaan antibiotik terbesar pada pasien anak adalah ceftriaxone sebesar 38,59 %.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PROFIL PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN DISPEPSIA DI RUMAH SAKIT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian literatur ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan obat pada pasien dispepsia di rumah sakit. Analisa data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisa dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berdasarkan beberapa jurnal ilmiah tentang penggunaan obat dispepsia. Hasil penelitian menyatakan bahwa penggunaan obat dispepsia terbanyak dikonsumsi oleh pasien berjenis kelamin wanita. Urutan golongan obat dispepsia terbanyak yang digunakan adalah Antagonis Reseptor H2, antasida, Proton Pump Inhibitor (PPI), antikolinergik dan sitoprotektif.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN PROFIL PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP PADA RUMAH SAKIT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Infeksi saluran kemih (ISK) memiliki keterlibatan bakteri tersering di komunitas dan hampir 10% orang pernah terkena ISK selama hidupnya. Sekitar 150 juta penduduk di seluruh dunia tiap tahunnya terdiagnosis menderita infeksi saluran kemih. Antibiotik termasuk kelompok obat yang paling sering digunakan dalam infeksi. Banyaknya jenis antibiotik menjadikan hal tersebut perlu dikaji untuk mengetahui profil penggunaan antibiotik yang digunakan untuk infeksi saluran kemih. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan profil penggunaan antibiotik pada pasien infeksi saluran kemih di instalasi rawat inap pada rumah sakit di Sulawesi dan Jawa. Penelitian ini adalah jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan mengumpulkan gambaran dari data-data rekam medik pada pasien ISK di instalasi rawat inap yang didapat dari jurnal ilmiah dan skripsi meliputi penggunaan antibiotik di rumah sakit yang dipilih. Hasil penelitian menunjukan penggunaan antibiotik di Rumah Sakit Sulawesi menggunakan Ciprofloxacin, sedangkan pada Rumah Sakit di Jawa menggunakan antibiotik Ceftriaxon. Untuk ketepatan dosis antibiotik didapati Rumah Sakit di Sulawesi dan Jawa memiliki persentase tepat yang tinggi. kecuali untuk RSUP X Klaten yang memiliki persentase tepat yang rendah. Untuk durasi ketepatan dalam pemberian antibiotik didapati Rumah Sakit di Sulawesi menunjukan tidak tepat yang tinggi, sedangkan pada Rumah Sakit di Jawa menunjukan tepat yang tinggi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail