ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan bahan alami sebagai fixative agent pada sediaan pengharum ruangan dan linen spray semakin berkembang karena dinilai lebih aman dan ramah lingkungan. Minyak atsiri cendana (Santalum album L.) diketahui memiliki aroma yang lembut, stabil, serta mampu memperlambat penguapan komponen volatil sehingga berpotensi meningkatkan daya tahan aroma sediaan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi terbaik minyak atsiri cendana sebagai fixative agent alami berdasarkan karakteristik fisik dan daya tahan aroma serta mengetahui tingkat kesukaan panelis terhadap aroma sediaan pengharum ruangan dan linen spray. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan empat formula yang mengandung minyak atsiri cendana pada konsentrasi 0% (F1), 0,3% (F2), 0,5% (F3), dan 0,8% (F4). Seluruh formula dievaluasi melalui uji organoleptik, pH, homogenitas, stabilitas, stain test, uji penguapan zat cair, Longevity test, dan uji hedonik. Data hasil pengujian dianalisis secara deskriptif, sedangkan data uji hedonik dianalisis menggunakan uji Friedman Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik fisik yang baik, meliputi warna putih kekuningan, kejernihan agak keruh, homogen, nilai pH 5, stabil selama penyimpanan, serta tidak meninggalkan noda pada kain. Peningkatan konsentrasi minyak atsiri cendana mampu memperlambat laju penguapan sehingga meningkatkan daya tahan aroma sediaan. Hasil uji hedonik menunjukkan bahwa seluruh formula dapat diterima oleh panelis, dengan formula F4 memperoleh tingkat kesukaan tertinggi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsentrasi minyak atsiri cendana sebesar 0,8% merupakan konsentrasi terbaik sebagai fixative agent alami pada sediaan pengharum ruangan dan linen spray.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk) Lennah) merupakan salah satu tumbuhan yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti fenolik, alkaloid, flavonid, tanin. dan aktivitas antioksidan yang sangat kuat serta SPF 50 termasuk katagori very higt protection. Daun kokang secara empiris digunakan sebagai bedak dingin, merawat jerawat, bekas luka cacar, dan memudarkan noda hitam pada wajah. Selain kemampuanya dalam meredam radikal bebas, senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak berperan sebagai bioreduktor untuk pembuatan naopartikel yang akan mereduksi ion Ag+ menjadi Ag0 . Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak daun kokang sebagai agen pereduksi dalam biosintesis AgNP dan mengetahui stabilitas AgNP yang dihasilkan dari daun kokang. Metode penelitian ini mulai dari pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, pembuatan larutan induk AgNO3 5mM dalam 100 ml, larutan induk ekstrak 5% dalam 10 ml, selanjutnya dilakukan optimasi pH dengan variasi 8, 9, dan 10 lalu mendapatkan ph terbaik, dimana optimasi pH tersebut yang nantinya akan digunakan pada proses optimasi AgNO3 dengan variasi 1mM, 2mM, dan 4mM setelah mendapatkan optimasi Ag terbaik, tahap berikutnya dilakukan optimasi ekstrak degan variasi 0,5%, 1% dan 2% yang hasilnya akan dilihat berdasarkan puncak SPR 400-500 nm yang menandakan terbentuknya AgNP. Setelah mendapatkan optimasi dan konsentrasi yang bagus sampel di sentri fugasi lalu dikeringkan di cawan petri, lalu di karakterisasi dengan alat Scanning Elktron Microscopy (SEM). Hasil dari penelitian bahwa AgNP ekstrak etanol daun kokang mampu mereduksi pada pH 8 dengan suhu 60oc, dimana variasi konsentrasi yang optimal pada AgNO3 yaitu pada konsentrasi 2mM dan 4mM, selanjutya dari optimasi ekstrak yang tebaik pada konsentrasi 0,5% karena intensi absorbansi pada panjang gelombang yang membentuk AgNP pada puncak SPR 400-500. Berdasarkan hasil dari karakterisasi SEM, morfologi dari kosentrasi 2mM dengan permukaan yang tidak begitu halus dan ukuran tidak begitu seragam, namun pada konsentrasi 4mM permukaan halus dan partikel yang tidak seragam. Dengan ukuran partikel yang berada pada kisaran 50-80 nm yang ditentukan dengan hasil SPR menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Biosintesis Nanopartikel perak (AgNP) merupakan proses reduksi ion Ag+
menjadi Ag0 menggunakan senyawa bioaktif tanaman. Proses sintesis ini dinilai
lebih aman, ramah lingkungan, dan ekonomis, sedangkan proses sintesis kimia
diikuti oleh hasil samping yang menyebabkan toksisitas dan pencemaran
lingkungan. Pada sintetis hijau perlu diketahui faktor terbentuknya nanopartikel
dipengaruhi oleh konsentrasi preduksi dan prekursor, pH, dan waktu . Waktu
kontak erat kaitannya dengan kestabilan AgNP, dimana stabilitas AgNP
dinyatakan dalam konteks agrerasi, agregasi adalah fenomena aglomer atau
perkumpulan kembali partikel membentuk ukuran menjadi lebih besar. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui waktu kontak optimal dalam proses biosintesis
dengan menggunakan ekstrak etanol daun kokang. Adapun metode dalam
penelitian ini adalah dengan melakukan preparasi terhadap kondisi ekstrak yang
dapat membentuk AgNP segera ketika sintesis berjalan, optimalisasi konsentrasi
AgNO3, dan waktu kontak yang dievaluasi melalui monitoring puncak SPR
(Surface Plasmon Resonance) UV-Vis. Hasil penelitian menunjukan bahwa
formula ekstrak daun kokang dengan pelarut etanol memiliki kemampuan
membentuk nanopartikel dalam keadaan stabil terkonfirmasi pada menit ke 45.
Nanopartikel sudah mulai terbentuk pada menit ke 15, serta intensi panjang
gelombang menunjukan ciri khas pembentukan AgNP pada daerah puncak SPR
400-500 nm
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Terdapat banyak jenis nyamuk yang menyebabkan penyakit pada manusia salah satunya nyamuk Anopheles penyebab penyakit malaria. Tanaman bandotan dimanfaatkan untuk mengobati kolik, flu, demam, antidisetri, diare. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui konsentrasi ekstrak daun bandotan (Ageratum conyzoides.L) yang memberikan sifat fisik dan aktifitas anti nyamuk terbaik dalam sediaan spray gel. Metode penelitian yang dilakukan bersifat eksperimental. Objek yang diteliti adalah formulasi sediaan daun bandotan sebagai anti nyamuk. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, identifikasi senyawa metabolit sekunder, pembuatan formula spray gel, dan evaluasi sediaan. Ekstrak daun bandotan diformulasikan menjadi sediaan spray gel anti nyamuk dengan varian konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan menggunakan kontrol positif spray antinyamuk merek X sebagai pembandingnya. Pengujian sediaan meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, dan uji daya tolak nyamuk. Hasil pengambilan data dianalisis secara statistik. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun bandotan dapat diformulasikan menjadi sediaan spray gel dan stabil secara uji fisik. Berdasarkan daya tolak nyamuk pada formula I, II, III memiliki rata-rata aktivitas antinyamuk masing-masing 22,83%, 57,83%, 66,33% dan kontrol positif dengan merek X 99,30%.