ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kandidiasis merupakan infeksi jamur yang banyak disebabkan oleh Candida albicans dan masih menjadi permasalahan kesehatan, khususnya pada daerah tropis. Penggunaan antijamur sintetis dalam jangka panjang dapat menimbulkan efek samping serta resistensi. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antijamur adalah daun mangga (Mangifera indica L.) yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, tanin, dan polifenol. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji metode pengujian aktivitas antijamur ekstrak daun mangga terhadap pertumbuhan Candida albicans. Rancangan yang digunakan adalah studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dengan menganalisis beberapa jurnal ilmiah. Objek penelitian ini yaitu uji aktivitas antijamur ekstrak daun mangga (Mangifera indica L.) terhadap jamur Candida albicans dari dua artikel utama. Analisis data yang dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif, dengan menguraikan dan membandingkan hasil dari data yang terkumpul berupa zona hambat pada pengujian aktivitas antijamur secara in vitro dengan metode difusi cakram.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Acne vulgaris penyakit kulit karena bakteri Propionibacterium acnes. Rangkaian produk skincare salah satunya cream anti acne yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan. Cream anti acne mempunyai mekanisme kerja yaitu untuk mengurangi sekresi sebum, meningkatkan regenerasi sel kulit, serta memiliki sifat anti bakteri dan inflamasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas dan efektivitas night cream anti acne dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan teknik sampling purposive sampling. Penelitian ini menggunakan 3 sampel night cream anti acne berbeda yang digunakan dengan kode krim (DS, MS dan ST) yang diperoleh dari toko kosmetik dan klinik kecantikan. Uji efektivitas bakteri dengan benzoil peroksida gel (2,5%) sebagai kontrol positif dan aquades sebagai kontrol negatif. Analisa didapatkan dengan melakukan pengukuran diameter zona hambat. Dianalisa dengan analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui MS memiliki zona hambat paling besar dengan rata-rata 6,7 mm. Berdasarkan analisis data menggunakan metode Kruskall-Wallis, diketahui nilai sig 0,05 dan = 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan bermakna peningkatan konsentrasi krim uji terhadap zona hambat terhadap bakteri Propionibacterium acnes.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun sirih hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes. Daun sirih diketahui memiliki senyawa antibakteri alami seperti senyawa alkaloid, flavonoid, steroid, saponin, tannin dan minyak atsiri. Objek penelitian adalah daya hambat bakteri dari daun sirih hijau. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama tulisan, penyajian secara deskriptif. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang perbandingan aktivitas antibakteri daun sirih hujau (Piper betle L.) Berdasarkan Hasil penelitian ekstrak daun sirih hijau (Piper betle L.) terhadap bakteri Staphylococus aureus memiliki daya hambat dengan kategori kuat pada konsentrasi 15%, 25%, 50%, 75%, dan secara berurutan 10,1 mm, 12,5 mm, 15,3 mm, 20,3 mm. Sedangkan zona hambat daun sirih hijau terhadap bakteri Propionibacterium acnes dengan konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, dan 20%. Secara berurutan 7,01 mm, 8,92 mm, 13,28 mm, 21,08 mm,. memiliki daya hambat dengan kategori sangat kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN SELUTUI PUKA (Tabernaemontana macrocarpa Jack) DAN EKSTRAK DAUN GINJE (Thevetia peruviana) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus ABSTRAK Daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) dan daun ginje (Thevetia peruviana) merupakan tumbuhan berfamili Apocynaceae. Kedua tumbuhan tersebut memiliki khasiat sebagai pengobatan, khususnya pada bagian kulit. Studi literatur ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun ginje terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian studi literatur ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal-jurnal ilmiah serta dokumen yang terkait seperti KTI (Karya Tulis Ilmiah) dan skripsi. Objek penelitiannya adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun ginje terhadap bakteri Staphyloccus aureus. Data dianalisis secara deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dengan cara membandingkan literatur yang ada. Ekstrak daun ginje memiliki zona hambat yang lebih besar daripada ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak daun ginje memiliki zona hambat maksimum 6,45 mm dengan daya hambat kategori kuat. Ekstrak etanol daun selutui puka memiliki zona hambat secara berurutan 6,09 mm, 6,24 mm, dan 6,25 mm yang merupakan daya hambat dengan kategori sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Studi Literatur menjelaskan tentang Escherichia coli merupakan golongan bakteri coliform yaitu flora normal didalam usus manusia dan menimbulkan penyakit bila masuk kedalam organ atau jaringan lain, seperti pneumonia, endocarditis, infeksi pada luka, dan penyakit diare. Secara tradisional biji pepaya memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui metabolit sekunder pada ekstrak biji pepaya dan penghambatan antibakteri E.coli. Penelitian ini dilakukan dengan penelitian studi literatur. Objek yang diteliti adalah aktivitas antibakteri biji pepaya (Carica papaya L.) pada Escherichia coli. Tahapan penelitian dimulai dari data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data yaitu data dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan melakukan verifikasi dan tujuan ulang data yang didapat agar kesimpulan dilakukan dengan benar. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian studi literatur menunjukkan skrining fitokimia pada ekstrak biji pepaya mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Sedangkan aktivitas antibakteri ekstrak biji pepaya mampu menghambat pada konsentrasi 1,25%, 10%, 20%, 50% dengan pelarut etanol 96% dan pada etanol 70% mampu menghambat pada konsentrasi 1%. Kesimpulan dari penelitian studi literatur menunjukkan bahwa ekstrak biji pepaya sudah mampu menghambat pada konsentrasi 1,25% menghasilkan zona hambat 3,60 mm pada pelarut etanol 96% dan dengan konsentrasi 1% mengasilkan zona hambat 9 mm pada pelarut etanol 70%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) dan daun madle mara (Tabernaemontana heyneana Wall.) merupakan tumbuhan bergenus Tabernaemontana dan anggota familia Apocynaceae. Kedua tumbuhan tersebut memiliki khasiat sebagai pengobatan, khususnya pada bagian kulit. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun madle mara terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal-jurnal ilmiah serta dokumen yang terkait seperti KTI (Karya Tulis Ilmiah). Objek penelitiannya adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun madle mara terhadap bakteri Staphyloccus aureus. Data dianalisis secara deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dengan cara membandingkan literatur yang ada. Ekstrak metanol daun madle memiliki zona hambat yang lebih besar daripada ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak metanol daun madle mara memiliki zona hambat maksimum 12,66 ± 0,57 mm dengan daya hambat kategori kuat. Ekstrak etanol daun selutui puka memiliki zona hambat secara berurutan 6,09 mm, 6,24 mm, dan 6,25 mm yang merupakan daya hambat dengan kategori sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bakteri Streptococcus mutans merupakan salah satu flora normal yang hidup di rongga mulut, tapi pada jumlah yang berlebih merupakan agen penyebab utama karies gigi. Daun selutui puka dan daun kamboja secara empiris digunakan sebagai bahan untuk pengobatan oleh masyarakat, metabolit sekunder yang terkandung memiliki manfaat sebagai antibakteri. Studi literatur ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun kamboja terhadap bakteri Streptococcus mutans. Metode yang dilakukan adalah dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, serta dokumen yang terkait seperti skripsi, karya tulis ilmiah serta jurnal ilmiah. Objek penelitian studi literatur ini adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun kamboja terhadap bakteri Streptococcus mutans. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil Perbandingan menyatakan bahwa zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun selutui puka lebih kecil dibandingkan zona hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun kamboja. Pada konsentrasi yang sama, yaitu 25 % dan 50 % didapatkan hasil yang berbeda, diameter zona hambat yang dihasilkan ekstrak etanol daun selutui puka pada konsentrasi 25 % dan 50 % secara berurut adalah 6,5 mm dan 6,9 mm sedangkan ekstrak etanol daun kamboja menghasilkan diameter 8,36 mm pada konsentrasi 25 % dan 10,38 mm pada konsentrasi 50 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi merupakan penyakit yang memiliki tingkat keparahan yang beragam hingga pada infeksi berat yang disebabkan oleh aktivitas bakteri. Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif yang dapat menyebabkan infeksi kulit terutama pada lingkungan yang lembap, hangat atau kulit mengalami luka terbuka. Selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) merupakan tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat untuk herpes, kudis, kulit gatal dan melepuh. Tapak dara (Catharanthus roseus (L.) G. Don.) merupakan tumbuhan hias yang dapat digunakan sebagai obat untuk mempercepat penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun tapak dara terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian yang dilakukan adalah studi literatur. Objek yang diteliti adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun tapak dara terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Analisis data dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data terkumpul. Hasil penelitian menunjukan daun tapak dara memiliki aktivitas antibakteri lebih baik terhadap bakteri Staphylococcus aureus dibandingkan daun selutui puka. Zona hambat daun selutui puka menggunakan metode kertas cakram pada konsentrasi 5%,10% dan 15% adalah 6,09 mm, 6,24 mm dan 6,25 mm termasuk kategori daya hambat sedang dan daun tapak dara menggunakan metode sumuran pada konsentrasi 20%, 50% dan 75% adalah 13,3 mm, 17,33 mm dan 20,00 mm termasuk kategori kuat.