ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengeringan merupakan tahapan pasca panen yang berperan penting terhadap mutu simplisia karena dapat memengaruhi kandungan senyawa aktif, khususnya senyawa antioksidan. Daun wanyi (Mangifera caesia J.) diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun wanyi berdasarkan dua metode pengeringan, yaitu secara alami (diangin-anginkan) dan buatan (oven pada suhu 50°C), menggunakan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 5, 10, 15, 20, dan 25 ppm. Sebagai pembanding digunakan vitamin C dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Penelitian dilakukan secara deskriptif dengan menentukan nilai IC₅₀ menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antioksidan. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun wanyi memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat. Nilai IC₅₀ ekstrak dengan pengeringan alami sebesar 20,83 ± 0,38 ppm, sedangkan dengan pengeringan oven sebesar 14,90 ± 1,72 ppm. Aktivitas antioksidan tertinggi diperoleh dari ekstrak yang dikeringkan menggunakan oven. Hal ini menunjukkan bahwa metode pengeringan berpengaruh terhadap efektivitas aktivitas antioksidan ekstrak daun wanyi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bawang Dayak (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) merupakan tumbuhan asli Kalimantan yang memiliki beragam manfaat sebagai obat tradisional. Umbi bawang dayak mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, glikosida, steroid, tanin dan senyawa golongan polifenol, yang memiliki potensi sebagai antioksidan serta berperan dalam menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa yang terkandung dalam fraksi air umbi bawang (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) dan mengetahui profil metabolit umbi bawang dayak menggunakan LC-HRMS. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian ekperimental. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel, determinasi sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi, pembuatan fraksi air umbi bawang dayak, uji aktivitas antioksidan, dan pengujian profil metabolit menggunakan LC-HRMS. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi bawang dayak, sedangkan uji profil metabolit sampel dianalisis dengan fase gerak air-asetonitril yang mengandung asam format menggunakan kolom Phenyl Hexyl dalam gradien elusi dengan LC-HRMS. Data yang diperoleh pada aktivitas antioksidan dilakukan dengan analisis statistik uji independent sampel t-test, sedangkan uji profil metabolit dianalisis dengan LC-HRMS secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi air Umbi bawang dayak memiliki aktivitas antioksidan dengan rata-rata nilai IC50 yaitu 152.8208 ppm yang tergolong sedang dan hasil analisis profil metabolit adanya keberadaan senyawa bioaktif Caffeic Acid Phenethyl Ester (CAPE), Hydroquinone, dan Menaquinone. Penelitian ini diperkuat oleh uji analisis statistik meliputi uji normalitas menggunakan Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi normal pada IC50 vitamin C dan IC50 fraksi air, yaitu 0.262 dan 0.153 karena uji Independent t-tes menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0.010 (p0.05).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi bakteri merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah kombucha teh hijau (Camellia sinensis) yang mengandung berbagai senyawa bioaktif hasil fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri kombucha teh hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis serta menentukan lama fermentasi optimum. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental laboratorium. Objek yang diteliti adalah kombucha teh hijau dengan variasi lama fermentasi 0, 3, 6, 9, 12, 15, dan 18 hari. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode well diffusion (sumuran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombucha teh hijau tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada seluruh variasi lama fermentasi yang digunakan. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-3, 6, 9, dan 12, dengan diameter zona hambat tertinggi pada hari fermentasi ke-6 sebesar 2,75 ± 0,25 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi lama fermentasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap diameter zona hambat bakteri Staphylococcus epidermidis (p0,05). Lama fermentasi optimum kombucha teh hijau dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-6.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jerawat (acne vulgaris) merupakan salah satu penyakit kulit yang sering dikaitkan dengan pertumbuhan bakteri Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Salah satu bahan alam yang berpotensi sebagai antibakteri adalah minyak pala (Myristica fragrans) karena mengandung berbagai senyawa aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri serta konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis pada berbagai konsentrasi. Penelitian menggunakan metode eksperimen laboratorium dengan metode difusi sumuran. Minyak pala diuji pada konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50%. Klindamisin 0,1% digunakan sebagai kontrol positif, sedangkan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Diameter zona hambat diukur menggunakan jangka sorong dan dianalisis menggunakan SPSS melalui uji normalitas, homogenitas, One-Way Analysis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut Least Significant Difference (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak pala mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri pada seluruh konsentrasi yang diuji. Konsentrasi hambat minimum (KHM) minyak pala terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis diperoleh pada konsentrasi 5%. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 2,00 mm, 5,56 mm, 8,89 mm, dan 13,22 mm, sedangkan terhadap Staphylococcus epidermidis berturut-turut sebesar 0,22 mm, 3,89 mm, 8,44 mm, dan 12,22 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan nilai signifikansi p 0,05 pada kedua bakteri, sehingga terdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok konsentrasi. Uji lanjut LSD menunjukkan seluruh kelompok perlakuan berbeda signifikan (p 0,05). Disimpulkan bahwa minyak pala memiliki aktivitas antibakteri terhadap Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis, dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) sebesar 5%, serta aktivitas penghambatannya meningkat seiring bertambahnya konsentrasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Acne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang dipicu oleh kolonisasi bakteri patogen, utamanya Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Penggunaan antibiotik konvensional secara terus-menerus berisiko memicu resistensi bakteri. Minyak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) yang mengandung senyawa aktif utama eugenol (75,27%) berpotensi sebagai agen antibakteri alami alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas dan diameter zona hambat minyak daun cengkeh terhadap pertumbuhan Cutibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Metode penelitian menggunakan eksperimental laboratorium dengan metode difusi sumuran (diameter 6 mm). Minyak daun cengkeh diuji pada seri konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50% v/v menggunakan pengencer DMSO 1%. Klindamisin 1% digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Parameter yang diukur adalah diameter zona hambat di sekeliling sumuran setelah diinkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan minyak daun cengkeh memiliki aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji pada seluruh konsentrasi. Rata-rata diameter zona hambat terhadap Cutibacterium acnes berturut-turut sebesar 3,57 mm (lemah), 6,83 mm (sedang), 10,35 mm (kuat), dan 14,15 mm (kuat). Pada Staphylococcus epidermidis, rata-rata diameter zona hambat berturut-turut sebesar 3,33 mm (lemah), 6,27 mm (sedang), 9,97 mm (sedang), dan 12,60 mm (kuat). Uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan (p 0,001). Uji lanjut Post-Hoc menggunakan Games-Howell pada Cutibacterium acnes (karena varians tidak homogen) dan Tukey HSD pada Staphylococcus epidermidis mengonfirmasi bahwa seluruh kelompok konsentrasi berbeda signifikan secara statistik (p 0,05). Disimpulkan bahwa aktivitas antibakteri minyak daun cengkeh cenderung meningkat seiring peningkatan konsentrasi, dengan Cutibacterium acnes menghasilkan diameter zona hambat yang cenderung lebih besar dibandingkan Staphylococcus epidermidis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat memicu stres oksidatif
yang berperan dalam timbulnya berbagai penyakit degeneratif. Antioksidan
dibutuhkan untuk menetralkan radikal bebas dan mencegah kerusakan sel. Produk
prototipe kapsul Haruan Oil Plus merupakan formulasi kombinasi minyak ikan
haruan 70% (Channa striata), minyak kedelai 20% (Glycine max L.), dan minyak
zaitun 10%(Olea europaea L.), yang memiliki aktivitas antioksidan karena
mengandung asam lemak omega-3, polifenol, dan vitamin E. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan produk prototipe kapsul Haruan
Oil Plus menggunakan metode ABTS (2,2-Asinobis 3-ethylbenzothiazoline 6-
sulfonic Acid). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan tahapan
determinasi produk, penyiapan sampel, pembuatan larutan ABTS, penentuan
panjang gelombang maksimum, pembuatan larutan uji, dan pembuatan larutan
pembanding vitamin C. Aktivitas antioksidan diukur secara in vitro menggunakan
spektrofotometer UV-Vis dan dinyatakan dalam persentase inhibisi (Radical
Scavenging Activity). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata persen inhibisi
sebesar 38,80 ± 2,83% dengan koefisien variasi 7,29%. Pada uji Independent
Sample T-Test menunjukkan nilai p = 0,007 (p < 0,05), sehingga terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelompok Haruan Oil Plus dan vitamin C. Pada konsentrasi
yang diuji, Haruan Oil Plus menunjukkan kemampuan menangkap radikal bebas
yang lebih tinggi dibandingkan kontrol vitamin C.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bawang dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) merupakan tanaman obat tradisional yang banyak digunakan masyarakat Kalimantan sebagai terapi berbagai penyakit infeksi. Kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan kuinon diketahui memiliki potensi sebagai antibakteri. Salah satu bakteri patogen yang sering menyebabkan infeksi saluran pencernaan adalah Escherichia coli. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun bawang dayak terhadap bakteri Eschericia coli. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi literatur dengan metode deskriptif yaitu menggunakan data yang telah dituangkan, melakukan verifikasi, dan tinjauan ulang dari data yang didapat agar penarikan kesimpulan dapat dilakukan dengan benar. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun bawang dayak memiliki potensi antibakteri terhadap bakteri Eschericia coli tergantung konsentrasi etanol yang digunakan sebagai pelarut. Ekstrak dengan pelarut etanol 70% menunjukkan daya hambat yang lebih rendah, yaitu pada konsentrasi 20% menghasilkan zona hambat 3,32 mm dengan kategori lemah, sedangkan pada konsentrasi 40% menghasilkan zona hambat 9,81 mm dengan kategori sedang. Sebaliknya dengan pelarut etanol 96% menunjukkan aktivitas antibakteri yang lebih kuat. Pada konsentrasi 20% diperoleh zona hambat 10,7 mm dan pada konsetrasi 40% sebesar 13,98 mm, yang keduanya termasuk kategori daya hambat kuat. Secara umum penggunaan etanol dengan konsentrasi lebih tinggi cenderung menghasilkan aktivitas antibakteri yang lebih baik terhadap Eschericia coli.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan tanaman yang diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti β-karoten, flavonoid, dan fenolik, yang berperan penting sebagai antioksidan. Antioksidan berfungsi menetralkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan memicu penyakit degeneratif. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak labu kuning menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Metode DPPH dipilih karena prosedurnya sederhana, cepat, sensitif, serta mampu memberikan gambaran jelas mengenai kemampuan suatu senyawa dalam meredam radikal bebas stabil. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah yang relevan dan dianalisis berdasarkan nilai IC50 serta faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas antioksidan. Tahap penelitian meliputi pengumpulan artikel ilmiah, menelaah dan menganalisis data yang kemudian diringkas sehingga diperoleh data utama, penyajian data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk tabel, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang aktivitas antioksidan ekstrak labu kuning (Cucurbita moschata Duch.). berdasarkan hasil peelitian yang diperoleh dari data artikel penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) memiliki aktivitas antioksidan dengan kategori sangat kuat. Pada ekstrak etanol labu kuning dengan konsentrasi 96% memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dengan nilai IC₅₀ sebesar 12,13 ppm karena pelarut tersebut bersifat polar, dibandingkan dengan pelarut nheksan yang bersifat non polar dengan nilai IC50 sebesar 30,75 ppm memiliki nilai IC50 yang lebih rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bunga telang (Clitoria ternatea L.) dikenal sebagai obat tradisional karena memiliki beragam senyawa fitokimia yang bermanfaat bagi kesehatan secara luas. Pengetahuan tentang senyawa bioaktif bunga telang terhadap kesehatan masih perlu dikaji lebih mendalam untuk dioptimalkan dalam bidang kesehatan. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui senyawa fitokimia yang terdapat dalam bunga telang dan merangkum aktivitas farmakologi bunga telang serta mengevaluasi aktivitas farmakologisnya berdasarkan penelitian yang ada. Penelitian ini memberikan pemahaman yang jelas tentang potensi kesehatan dari bunga telang. Studi literatur ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dan memperoleh beberapa jurnal dari lokal maupun internasional melalui pencarian di Google Scholar. Terdapat 10 jurnal terpilih dan dianalisis untuk mengidentifikasi kandungan fitokimia serta aktivitas farmakologi bunga telang. Hasil aktivitas bunga telang yang telah di review terdapat potensi bunga telang dibuktikan dengan ekstrak bunga telang konsentrasi 5% dan 10% sebagai antiaging, ekstrak bunga telang sebagai antibakteri dengan konsentrasi 20% mampu menghambat bakteri Staphylococcus yang memiliki diameter zona hambat rata-rata 6,2 mm semakin lebar zona hambat semakin kuat senyawa untuk menghambat bakteri, konsentrasi bunga telang sebagai antidiabetes 150 mg/kg selama 21 hari berhasil mencegah penurunan berat badan pada tikus yang mengalami diabetes tipe 2 dan dapat menghambat penurunan kadar gula dalam darah, uji aktivitas antikolesterol kombucha bunga telang konsentrasi gula aren sebesar 40% memberikan hasil terbaik dalam menurunkan kadar kolesterol. Bunga telang mengandung senyawa bioaktif seperti antosianin, flavonoid, fenol, terpenoid, kuersetin, saponin, dan glikosida memberikan efek farmakologi untuk pengobatan dan pencegahan berbagai kondisi kesehatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nanopartikel perak (AgNP) merupakan nanopartikel yang memiliki sifat yang stabil dan potensial serta banyak menarik perhatian karena aplikasinya yang banyak diteliti sebagai agen antibakteri. Metode sintesis nanopartikel perak umumnya menggunakan bahan kimia berbahaya dan mencemari lingkungan, sehingga banyak dikembangkan sintesis nanopartikel dari ekstrak tanaman (green synthesis). Penggunaan ekstrak tanaman sebagai bioreduktor berkaitan dengan kandungan senyawa dalam tanaman yang berperan sebagai agen pereduksi. Review ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nanopartikel perak yang dihasilkan menggunakan agen pereduksi ekstrak tanaman dan mengetahui diameter zona hambat sebagai antibakteri dari nanopartikel perak yang dihasilkan. Pengumpulan literatur dilakukan dengan pencarian pustaka secara daring menggunakan basis data Google Scholar, Science Direct, PubMed, dan Research Gate. Literatur yang dipilih berkaitan dengan topik nanopartikel perak menggunakan ekstrak tanaman sebagai bioreduktor dan aktivitas antibakterinya serta merupakan publikasi 10 tahun terakhir. Penyusunan review dilakukan dengan pembuatan kerangka atau outline untuk review yang akan ditulis. Kerangka ini mencakup pendahuluan, nanopartikel perak, ekstrak tanaman sebagai bioredeuktor, karakterisasi nanopartikel perak, aktivitas antibakteri, serta kesimpulan dan perspektif masa depan. Berdasarkan review yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa ekstrak tanaman yang digunakan sebagai bioreduktor menghasilkan karakteristik ukuran nanopartikel perak yang berbeda-beda berkisar antara 15-500 nm dan memiliki aktivitas bakteri terhadap gram negatif dan gram positif. Ukuran nanopartikel perak juga berkorelasi positif dengan diameter zona hambat pertumbuhan bakteri, di mana semakin kecil ukuran nanopartikel, semakin besar pula zona hambat yang dihasilkan. Aktivitas antibakteri optimal ditunjukkan pada AgNP ekstrak daun arum dalu (Cestrum nocturnum) dengan ukuran partikel terkecil, diameter zona hambat yang besar, serta nilai MIC dan MBC yang rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucrbita moschata D.) merupakan bahan pangan kaya vitamin A, C, mineral, dan karbohidrat. Daging buah labu kuning diketahui memiliki beberapa kandungan kimia, salah satunya adalah flavonoid sebagai antioksidan untuk menangkal radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan pada buah labu kuning. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel buah labu kuning, pembuatan ekstraksi, skrining fitokimia, uji kadar flavonoid total dan uji aktivitas antioksidan secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan metode DPPH.Variabel bebas penelitian ini adalah ekstrak etanol buah labu kuning dan variabel terikat adalah kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol buah labu kuning. Ekstraksi pada buah labu kuning dilakukan dengan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%. Uji flavonoid total menggunakan metode kolorimetri dengan AlCl3 10% sebagai reagen dan menggunakan standar kuersetin. Uji aktivitas antioksidan menggunakan DPPH dengan kuersetin sebagai pembanding. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif, data yang diperoleh dari hasil pengujian kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan dibuat dalam bentuk tabel dan kurva yang kemudian dideskripsikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah pare (Momordica charantia L.) adalah salah satu tanaman yang penyebarannya cukup luas di Indonesia dan sangat mudah ditemukan, seagian besar masyarakat juga meyakini bahwa buah pare yang pahit ini banyak manfaatnya untuk mengobati segala macam penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas antioksidan dari ekstrak daging buah pare. Kandungan dari ekstrak metanol daging buah pare mengandung flavonoid, saponin, dan terpenoid. Salah satu kandungan didalam daging buah pare yang berfungsi sebagai antioksidan adalah flavonoid Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Tahap penelitian meliputi pengumpulan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH (1,1 difenil-2-pikrilhidrazil) dan sebagai pembanding digunakan Vitamin C secara spektrofotometri UV – Vis. Aktivitas antioksidan ditentukan dengan niai IC50 yaitu konsentrasi ekstrak yang mampu menghambat aktivitas suatu radikal bebas 50 %. Hasil rendemen ekstrak daging buah pare diperoleh sebanyak 6,08%. Sedangkan hasil dari aktivitas antioksidan berdasarkan nilai IC50 ekstrak metanol daging buah pare termasuk dalam kategori sangat lemah yaitu sebesar 512,0606 ppm dan Vitamin C sebagai pembanding termasuk dalam kategori sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 17,9956 ppm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Acne vulgaris penyakit kulit karena bakteri Propionibacterium acnes. Rangkaian produk skincare salah satunya cream anti acne yang dapat digunakan sebagai alternatif pengobatan. Cream anti acne mempunyai mekanisme kerja yaitu untuk mengurangi sekresi sebum, meningkatkan regenerasi sel kulit, serta memiliki sifat anti bakteri dan inflamasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas dan efektivitas night cream anti acne dalam menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan teknik sampling purposive sampling. Penelitian ini menggunakan 3 sampel night cream anti acne berbeda yang digunakan dengan kode krim (DS, MS dan ST) yang diperoleh dari toko kosmetik dan klinik kecantikan. Uji efektivitas bakteri dengan benzoil peroksida gel (2,5%) sebagai kontrol positif dan aquades sebagai kontrol negatif. Analisa didapatkan dengan melakukan pengukuran diameter zona hambat. Dianalisa dengan analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui MS memiliki zona hambat paling besar dengan rata-rata 6,7 mm. Berdasarkan analisis data menggunakan metode Kruskall-Wallis, diketahui nilai sig 0,05 dan = 0,05 sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan bermakna peningkatan konsentrasi krim uji terhadap zona hambat terhadap bakteri Propionibacterium acnes.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi merupakan salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kasus infeksi yang paling umum terjadi di masyarakat adalah infeksi rongga mulut. Bakteri yang sering menimbulkan infeksi pada rongga mulut antara lain adalah Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Secara empiris masyarakat Dayak Kutai Barat menggunakan daun selutui puka untuk pengobatan sakit gigi dan sariawan. Tujuan penelitian mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun selutui puka sebagai antibakteri terhadap Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis dan mengetahui zona hambat ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Streptococcus mutans dan Porphyromonas gingivalis. Penelitian bersifat eksperimental. Tahap penelitian meliputi pengumpulan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode difusi kertas cakram dengan konsentrasi ekstrak ialah 15%, 30% dan 45%, kontrol negatif DMSO 1% , kontrol positif Ciprofloxacin 0,1%. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif yang disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak etanol daun selutui puka memiliki kandungan metabolit sekunder berupa alkaloid, flavanoid, saponin, tanin dan steroid. Aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol daun selutui puka mendapatkan hasil rata-rata diameter zona hambat terhadap bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi 15% sebesar 17,70 mm (kuat), 30% sebesar 19,43 mm (kuat), dan 45 % sebesar 23,60 mm (sangat kuat) dan rata–rata diameter zona hambat terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis pada kosentrasi 15% sebesar 17,43 mm (kuat), 30% sebesar 23,33 mm (sangat kuat), dan 45% sebesar 26,03 mm (sangat kuat). Nilai zona hambat pada kontrol positif Ciprofloxacin terhadap bakteri Streptococcus mutans 38,97 mm dan Porphyromonas gingivalis 44,67 mm, serta pada kontrol negatifDMSO 1% adalah 0 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol yang terdapat dalam biji, buah dan kulit buah alpukat (Persea americana Mill.) dengan metode DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl). Biji, buah dan kulit buah alpukat masing-masing mengandung senyawa metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, tanin, saponin, steroid, flavonoid, dan glikosida yang memiliki manfaat sebagai antioksidan. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan artikel ilmiah, mereduksi data dan meringkas sehingga didapatkan data yang akan disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang aktivitas antioksidan pada biji, buah dan kulit buah tanaman alpukat dengan melihat nilai Inhibitory Concentration fifty (IC50). Berdasarkan studi literatur dapat disimpulkan bahwa tanaman alpukat memiliki aktivitas antioksidan. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai IC50 dengan satuan % dan ppm. Biji buah alpukat memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 93,045%. Kulit buah alpukat memiliki aktivitas antioksidan kategori sedang dengan nilai IC50 sebesar 137, 34 ppm dan buah alpukat termasuk dalam kategori antioksidan lemah dengan nilai IC50 sebesar 934,72 ppm atau bisa dikatakan tidak memiliki aktivitas antioksidan sama sekali.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun salam dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Daun salam adalah tumbuhan Indonesia yang bermanfaat sebagai antibakteri. Studi literatur ini membahas nilai zona hambat ekstrak antibakteri daun salam terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Daun salam (Syzygium polyanthum Wight.) memiliki kandungan kimia berupa minyak atsiri (0,05 % yang terdiri dari sitral dan eugenol), tanin dan flavonoid. Studi literatur ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal ilmiah. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak daun salam (Syzygium polyanthum W.), sedangkan variabel terikatnya adalah diameter zona hambat bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Metode kerja yang digunakan adalah difusi sumuran. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa nilai zona hambat dari bakteri Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans yang diperoleh dari jurnal ilmiah. Berdasarkan hasil studi literatur, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun salam dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 2,5%, 5%, 10% dan 20% dengan kategori lemah, sedangkan konsentrasi 7,5%, 10% dan 40% termasuk kategori sedang. Aktivitas daya hambat terhadap bakteri Streptococcus mutans pada konsentrasi 10%, dan 15% dengan kategori lemah, pada konsentrasi 0,5% dan 25% kategori sedang, sedangkan pada konsentrasi 5%, 7%, dan 10% termasuk kategori kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun, buah, dan kulit batang tumbuhan kersen dengan metode DPPH. Tumbuhan kersen (Muntingia calabura L.) diketahui memiliki senyawa antioksidan alami seperti senyawa flavonoid, fenolik, tanin, saponin, dan triterpenoid. Objek penelitian adalah aktivitas antioksidan dari daun, buah, dan kulit batang tumbuhan kersen. Tahapan penelitian yaitu, mengumpulkan artikel ilmiah kemudian mereduksi data dan meringkas sehingga didapatkan data utama tulisan, penyajian secara deskriptif dalam bentuk tabel, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang perbandingan aktivitas daun, buah, dan kulit batang tumbuhan kersen dengan melihat nilai IC50. Berdasarkan studi literatur dapat disimpulkan bahwa pada tumbuhan kersen memiliki aktivitas antioksidan etanol kulit batang tumbuhan kersen memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dari bagian daun dan buah tumbuhan kersen. Ekstrak etanol kulit batang kersen memiliki nilai IC50 19,632 ppm, termasuk dalam kategori antioksidan yang sangat kuat, sedangkan ekstrak etanol daun dan buah tumbuhan kersen memiliki nilai IC50 berturut-turut sebesar 164,12 ppm dan 250 ppm, nilai tersebut termasuk kategori antioksidan yang lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan aktivitas antioksidan kulit batang selutui puka dengan kulit batang pulai. Tumbuhan yang berasal dari family apocynaceae banyak digunakan untuk pengobatan tradisional. Beberapa tumbuhan family apocynaceae dibudidayakan untuk kepentingan penelitian ilmiah dan beberapa spesiesnya seperti kulit batang selutui puka dan pulai diketahui mengandung senyawa antioksidan alami yaitu senyawa golongan fenolik flavonoid dan tanin serta golongan alkaloid, steroid, triterpenoid, dan saponin.Konsentrasi kulit batang selutui puka yang digunakan yaitu 5, 10, 25, 50 dan 100 bpj dan konsentrasi kulit batang pulai yang digunakan yaitu 400, 200, 100, 50, dan 25 µg/ml. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel diskriptif, selanyutnya dilakukan penerikan kesimpulan. Hasil telaah studi literatur didapatkan bahwa aktivitas antioksidan dari kulit batang selutui puka dan kulit batang pulai memiliki aktivitas antioksidan tergolong kuat. Ekstrak etanol kulit batang selutui puka memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 48,103 µg/ml dalam kategori sangat kuat (≤ 50 ppm). Ekstrak etanol Kulit batang pulai termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sangat lemah, karena memiliki nilai IC50 sebesar 211,54 µg/ml (≥ 200 ppm). Kesimpulanya aktivitas antioksidan terkecil dengan nilai IC50 sebesar 48,103 µg/ml pada ekstrak etanol kulit batang selutui puka sedangkan aktivitas antioksidan terbesar pada ekstrak etanol kulit batang pulai dengan nilai IC50 sebesar 211,54 µg/ml.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak metanol tumbuhan obat dari suku myrtaceae. Tumbuhan yang berasal dari suku myrtaceae banyak digunakan untuk pengobatan tradisional. Beberapa genus tumbuhan suku myrtaceae sengaja dibudidayakan untuk kepentingan ekonomi dan penelitian ilmiah dan beberapa spesiesnya seperti jambu bol, salam, jamblang, dewandaru dan karamunting diketahui mengandung senyawa antioksidan alami yaitu senyawa golongan fenolik seperti flavonoid dan tanin serta golongan alkaloid, minyak atsiri dan saponin. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Hasil telaah studi literatur, didapatkan bahwa aktivitas antioksidan dari beberapa tanaman obat suku myrtaceae memiliki aktivitas antioksidan yang tergolong kuat. Nilai IC50 Ekstrak metanol daun dewandaru (22,329 ppm), jambu bol (22,598 ppm) salam (32,549 ppm) dan karamunting (59,66 ppm) memiliki aktivitas antioksidan dalam kategori sangat kuat sampai kuat. Daun jamblang (162,197ppm) termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan putat (Barringtonia acutangula) merupakan tumbuhan alam yang berpotensi sebagai antibakteri. Secara empiris tumbuhan putat (Barringtonia acutangula) memiliki khasiat sebagai obat diare, penyakit kulit, radang, pilek. Bakteri yang menyebabkan infeksi kulit salah satunya Staphylococcus aureus. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri tumbuhan putat (Barringtonia acutangula) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Studi literatur ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, serta dokumen yang terkait seperti jurnal ilmiah. Tahapan penelitian mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama berupa hasil Uji aktivitas antibakteri tumbuhan putat (Barringtonia acutangula) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penyajian data, yaitu data dalam tabel deskriptif berupa data penelitian sebelumnya, data hasil aktivitas antibakteri. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil uji aktivitas antibakteri Rata-rata zona hambat yang terbentuk di setiap bagian tumbuhan yang di uji adalah biji dengan konsentrasi 1000 µg/ml (22.4±0.55mm) dan 125 µg/ml (21.3±0.65 mm) dan kulit batang dengan konsentrasi 30 µg/ml (12 mm) dan 50 µg/ml (12 mm). Terdapat dari hasil uji aktivitas antibakteri yang di uji kesetiap bagian tumbuhan dimana aktivitas antibakteri yang lebih baik adalah di konsentrasi 30 µg/ml 12 mm dimana dengan konsentrasi terkecil sudah masuk dalam kategori kuat.