Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

14 hasil
Subjek: pelarut
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nama : Dita Julidia Gustia Nisyah Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Pembimbing : 1. Risa Supriningrum, S.Si., M.M. 2. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. Konsentrasi pelarut yang digunankan pada proses ekstraksi dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif suatu ekstrak. Daun matoa (Pometia pinnata) mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas antioksidan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun matoa berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi tanaman, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi daun matoa secara maserasi dengan variasi konsentrasi pelarut etanol (50%, 70%, dan 95%), penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Data dianalisis dengan uji normalitas dan uji homogenitas, dilanjutkan sengan uji ANOVA dan LSD (Least Significant Difference). Hasil penetapan susut pengeringan simplisia daun matoa sebesar 9,6333%. Hasil rendemen ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa adalah sebesar 27,2245%; 29,8055%; 21,9760% dan kadar air sebesar 25,4866%; 19,11%; 19,83%. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol daun matoa menunjukkan adanya kandungan flavonoid, saponin, tanin dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol 50%, 70% dan 95% daun matoa memperoleh nilai IC50 berturut-turut sebesar 10,1600; 8,8992 dan 17,1354 ppm serta vitamin C sebagai pembanding sebesar 5,6866 ppm, sehinga ketiga ekstrak etanol daun matoa termasuk ke dalam kategori antioksidan yang sangat kuat. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% daun matoa memiliki aktivitas antioksidan paling kuat dibandingkan dengan ekstrak etanol 50% dna 95% daun matoa. Hasil uji normalitas dan homogenitas terdistribusi normal dan homogen. Hasil uji ANOVA dan LSD menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antar ekstrak etanol daun matoa.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Labu Kuning (Cucubita moschata Duch.) Berdasarkan Perbedaan Konsesntrasi Pelarut Terhadap Bakteri Staphhylococcus aureus

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan bahan pangan yang kaya akan vitamin A, C, mineral serta karbohidrat. Labu kuning memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seperti, antibakteri, antidiabetes, dan antioksidan. Ekstrak buah labu kuning (Cucurbita moschata Duch) mengandung senyawa flavonoid, saponin dan terpenoid yang bersifat antibakteri. Perbedaan konsentrasi pelarut dapat mempengaruhi aktivitas farmakologi suatu ekstrak bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri daging buah labu kuning dengan perbedaan pelarut terhadap bakteri Staphylococus aureus. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, penetapan susut penegeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi dengan perbedaan konsentrasi pelarut etanol 50% dan 70%, skrining fitokimia, penetapan kadar air ekstrak dan uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukan rata-rata nilai susut pengeringan simplisia 4,26 %. Rendemen ekstrak etanol 50% sebesar 11,48% dan etanol 70% sebesar 20,97%. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol 50% menunjukkan danya senyawa saponin, dan flavonoid. Sedangkan pada ekstrak etanol 70 % diperoleh senyawa golongan alkaloid, flavonoid, saponin dan steroid. Hasil rata-rata kadar air ekstrak etanol 50% sebesar 16,47% dan ekstrak etanol 70% sebesar 23,71%. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan, bahwa perbedaan pelarut mempengaruhi aktivitas antibakteri pada ekstrak daging buah labu kuning, pada konsentrasi 10%; 12,5%; 15%; 20%; 25%, dan 30% dengan kategori sedang pada pelarut etanol 50% dan pada pelarut etanol 70% dengan kategori sedang hingga kuat. Diamater zona hambat pada kontrol positif kloramfenikol 0,1% sebesar 20 mm dan kontrol negatif DMSO 1% adalah 0 mm.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FENOLIK TOTAL EKSTRAK ETANOL DAN METANOL DAUN JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) Dengan Metode Spektrofotometri UV-VIS DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia dan dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan pengobatan. Daun tanaman ini mengandung berbagai metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan. Kandungan senyawa fenolik dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan selama proses ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak daun jarak pagar menggunakan variasi pelarut etanol 70%, etanol 95%, dan metanol. Penelitian menggunakan rancangan eksperimental dengan teknik purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi, skrining fitokimia, serta penetapan kadar fenolik total menggunakan metode Folin-Ciocalteu yang diukur secara spektrofotometri UV-Vis dengan asam galat sebagai standar. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji homogenitas, One Way ANOVA, dan dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total ekstrak etanol 70%, etanol 95%, dan metanol berturut-turut sebesar 22,8289 ± 1,53 mg GAE/g, 36,0400 ± 0,66 mg GAE/g, dan 20,6133 ± 2,62 mg GAE/g. Uji One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar ketiga kelompok pelarut (p<0,05). Hasil uji lanjut Bonferroni menunjukkan bahwa ekstrak etanol 95% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 70% dan metanol, sedangkan antara ekstrak etanol 70% dan metanol tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 95% menghasilkan kadar fenolik total tertinggi, sehingga lebih efektif dibandingkan etanol 70% dan metanol dalam mengekstraksi senyawa fenolik daun jarak pagar.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK DAUN MATOA (Pometia pinnata) BERDASARKAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT ETANOL TERHADAP BAKTERI Escherichia coli

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Konsentrasi pelarut dapat berpengaruh terhadap kandungan senyawa aktif dan aktivitas farmakologi suatu ekstrak. Daun matoa mengandung golongan senyawa metabolit sekunder flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Kandungan senyawa tersebut berpotensi sebagai antibakteri terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa (Pometia pinnata) terhadap bakteri E.coli berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Daun matoa diekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol dengan konsentrasi 50%, 70%, dan 95%. Ekstrak diuji pada konsentrasi 20%, 25%, dan 30% dengan kloramfenikol 0,1% sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk kemudian uji nonparametrik Kruskal-Wallis serta uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh ekstrak daun matoa memiliki aktivitas antibakteri terhadap E.coli yang ditandai dengan terbentuknya zona hambat pada semua kelompok perlakuan. Aktivitas antibakteri tertinggi diperoleh pada ekstrak daun matoa dengan pelarut etanol 95% pada konsentrasi 30%, yaitu sebesar 10,5 mm dengan kategori kuat, sedangkan aktivitas terendah diperoleh pada ekstrak dengan pelarut etanol 50% pada konsentrasi 20%, yaitu sebesar 8,6 mm dengan kategori sedang. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan dengan nilai signifikansi 0,033 (p0,05). Hasil uji lanjut Pairwise comparison dengan koreksi Bonferroni menunjukkan bahwa perbedaan signifikan terdapat antara kelompok ekstrak etanol 50% dengan konsentrasi 20% dan kelompok ekstrak etanol 95% dengan konsentrasi 30% dengan nilai Adjusted Significance sebesar 0,048 (p0,05). Sehingga variasi konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap aktivitas antibakteri ekstrak daun matoa terhadap bakteri E.coli dan ekstrak yang diperoleh menggunakan pelarut etanol 95% menunjukkan aktivitas antibakteri tertinggi terhadap E.coli.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma caesia Roxb.) DENGAN VARIASI PELARUT EKSTRAKSI MENGGUNAKAN MICROPLATE READER

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, salah satunya flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Kandungan flavonoid yang terekstraksi dari bahan alam dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, terutama berdasarkan tingkat kepolarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam dengan variasi pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95%, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penetapan kadar flavonoid total menggunakan microplate reader dengan kuersetin sebagai pembanding. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kunyit hitam positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, fenolik, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil penetapan kadar flavonoid total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar flavonoid total tertinggi sebesar 21,1633 ± 1,1145 mgQE/g, diikuti ekstrak metanol sebesar 19,6867 ± 0,8927 mgQE/g, dan ekstrak etanol 95% sebesar 18,0467 ± 1,3300 mgQE/g. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p-value 0,040 ( 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam pada variasi pelarut yang digunakan.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma caesia Roxb.) MENGGUNAKAN METODE ABTS (2,2-azinobis-(3-ethylbenzothiazoline-6-sulfonic acid) DENGAN VARIASI PELARUT

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat reaksi oksidasi dengan menetralisir radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan sel dan jaringan dalam tubuh. Rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Variasi jenis dan konsentrasi pelarut dapat memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak. Penggunaan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% dilakukan karena masing-masing memiliki tingkat polaritas yang berbeda, sehingga kemampuan dalam mengekstraksi senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan juga berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% terhadap aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) menggunakan metode ABTS yang diukur dengan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan variasi pelarut, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro menggunakan metode ABTS. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan microplate reader pada panjang gelombang maksimum 728 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70%, metanol, dan etanol 95% berturut-turut sebesar 259,4 ± 2,99 ppm, 261,6 ± 9,27 ppm, dan 317,19 ± 6,26 ppm, sedangkan Vitamin C memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,22 ± 0,25 ppm. Analisis data menggunakan Uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p0,05). Ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan tertinggi karena menghasilkan nilai IC₅₀ terendah. Disimpulkan bahwa variasi pelarut memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam, dengan etanol 70% sebagai pelarut paling efektif meskipun seluruh ekstrak tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP RENDEMEN EKSTRAK JAHE MERAH (Zingiber officinale var. rubrum)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) merupakan tanaman obat yang banyak dimanfaatkan karena kandungan senyawa aktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Senyawa tersebut dapat diperoleh melalui proses ekstraksi, dengan rendemen sebagai salah satu indikator penting yang menentukan keberhasilan proses tersebut. Nilai rendemen dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama jenis pelarut yang digunakan karena perbedaan tingkat kepolaran pelarut akan mempengaruhi kemampuan melarutkan senyawa metabolit sekunder. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis pelarut terhadap rendemen ekstrak jahe merah. Metode ekstraksi yang dipilih adalah metode maserasi karena prosedurnya sederhana, dan mudah dilakukan tanpa memerlukan pemanasan yang tinggi. Kajian dilakukan terhadap dua jurnal ilmiah yang membahas ekstraksi jahe merah menggunakan pelarut polar (etanol 96%), semi-polar (etil asetat), dan non-polar (n-heksana). Data yang dikaji meliputi tahapan pembuatan simplisia, metode ekstraksi, dan nilai rendemen. Hasil kajian menunjukkan bahwa etanol 96% secara konsisten menghasilkan rendemen tertinggi dibandingkan pelarut lainnya, sementara perbedaan nilai rendemen juga dipengaruhi oleh perlakuan awal bahan dan cara ekstraksi yang digunakan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi literatur skrining fitokimia dan nilai rendemen ekstrak daun sungkai (Peronema canescens Jack.) berdasarkan perbedaan jenis pelarut

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia memiliki kekayaan hayati yang melimpah, salah satunya adalah tumbuhan sungkai (Peronema canescens Jack.), yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan tradisional. Daun sungkai memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang dapat memberikan aktivitas farmakologi sebagai antioksidan, antimikroba, dan antiinflamasi. Kandungan senyawa aktif dan rendemen ekstrak daun sungkai dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan untuk ekstraksi. Penelitian studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa kimia dan rendemen ekstrak daun sungkai berdasarkan variasi jenis pelarut. Penelitian dilakukan dengan membandingkan dua jurnal utama yang menggunakan pelarut etanol 96% dan metanol. Hasil menunjukkan bahwa ekstrak dengan pelarut etanol 96% mengandung golongan senyawa alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan steroid dengan rendemen 7,28%. Ekstrak dengan pelarut metanol mengandung golongan senyawa flavonoid, fenol, saponin, tanin, dan steroid dengan rendemen 8,85%. Hasil ini menunjukkan bahwa jenis pelarut mempengaruhi efektivitas ekstraksi senyawa aktif dan nilai rendemen. Pelarut metanol cenderung menghasilkan rendemen lebih tinggi, meskipun tidak mampu mengekstraksi alkaloid secara optimal seperti etanol. Pemilihan pelarut sangat berpengaruh terhadap hasil skrining fitokimia dan nilai rendemen ekstrak daun sungkai, sehingga penting untuk mempertimbangkan karakteristik senyawa target dan kepolaran pelarut.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KADAR FLAVONOID EKSTRAK KULIT BUAH KAPUL (Baccaraurea macrocarpa) BERDASARKAN VARIASI JENIS PELARUT SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tingkat kepolaran pelarut dapat mempengaruhi kandungan senyawa yang di ekstrak berdasarkan prinsip like dissolve like, yaitu senyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut polar dan senyawa yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut non polar. Kulit buah kapul (Baccaurea macrocarpa ) mengandung senyawa flavonoid dan memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian adalah mengetahui kadar flavonoid ekstrak kulit buah kapul berdasarkan variasi jenis pelarut dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Objek penelitian adalah kadar flavonoid total ekstrak kulit buah kapul menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, ekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 95%, etil asetat, n-heksan, dilanjutkan skrining fitokimia dan penetapan kadar flavonoid . Hasil penelitian menunjukan bahwa kulit buah kapul mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, saponin dan flavonoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar flavonoid total ekstrak kulit buah kapul berdasarkan variasi jenis pelarut etanol 95%, etil asetat, dan n-heksan diperoleh masing-masing kadar sebesar 4,7238±0,5807 mgQE/g, 2,9699±0,1539 mgQE/g dan 2,0417±0,4236 mgQE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen sehingga digunakan uji one way anova dengan hasil nilai p value (0,00) (0,05) dan dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar flavonoid total dari ketiga sampel.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FLAVONOID EKSTRAK ETANOL BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) BERDASARKAN VARIASI KONSENTRASI PELARUT ETANOL

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) saat ini semakin populer di Indonesia karena dikenal mempunyai berbagai manfaat kesehatan, bunga telang menjadi sebagai sumber flavonoid. Konsentrasi pelarut yang digunakan sebagai cairan penyari dapat berpengaruh terhadap kadar senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak bahan alam. Flavonoid adalah salah satu kandungan senyawa yang dimiliki ekstrak bunga telang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid ekstrak bunga telang berdasarkan variasi konsentrasi pelarut etanol yaitu 50, 70 dan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai susut pengeringan simplisia bunga telang sebesar 7,12 ± 1,89%. Hasil skrining semua ekstrak menunjukkan terdapat senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Data lain yang diperoleh meliputi rendemen, kadar air, dan kadar flavonoid pada tiga variasi konsentrasi pelarut etanol yaitu 50%, 70% dan 95%. Data rendemen yang diperoleh berturut-turut sebesar 57,14%, 54,08%, dan 40,72%. Sedangkan pada penetapan kadar air berturut-turut sebesar 9,44 ± 2,17%, 8,99 ± 2,12%, dan 7,75 ± 1,97%. Hasil penetapan kadar flavonoid ekstrak etanol bunga telang berdasarkan variasi konsentrasi pelarut etanol, diperoleh kadar tertinggi pada etanol 95% (1,2939 ± 0,0880 %), etanol 70% (0,6958 ± 0,0573%), dan etanol 50% (0,5811% ± 0,0142%). Hasil analisis statistika pada uji ANOVA menunjukan bahwa ada perbedaan rata-rata yang signifikan pada tiga kelompok data.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Kadar Flavonoid Total Ekstrak Etanol Kulit Buah Labu Kuning (Cucurbita moschata) Berdasarkan Perbedaan Konsentrasi Pelarut Secara Spektrofotometri UV-Vis

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tanaman labu kuning (Cucurbita moschata) merupakan jenis tanaman dari keluarga cucurbitacae. Tanaman ini merupakan sumber karotenoid yang kaya akan vitamin larut air, fenolat, flavonoid, polisakarida, dan garam mineral, yang bermanfaat bagi kesehatan. Konsentrasi pelarut etanol dapat mempengaruhi hasil ekstraksi suatu simplisia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar flavonoid total ekstrak etanol kulit buah labu kuning berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut etanol. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi secara maserasi dengan variasi konsentrasi etanol, skrining fitokimia, penetapan kadar flavonoid total secara spektrofotometri UV-Vis. Variabel bebas pada penelitian ini adalah variasi konsentrasi etanol 70% dan 95%, variabel terikat berupa kadar flavonoid total, variabel kontrol berupa metode ekstraski, tempat pengambilan sampel. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil Penelitian menyatakan kadar rendemen ekstrak etanol 70%, dan 95% adalah 13.68% dan 15.54%. Kadar flavonoid total dari ekstrak etanol 70%, dan 95% adalah 1.1931 ± 0.0810, 1.2045 ± 0.0854. Konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap kadar rendemen dan flavonoid ekstrak kulit buah labu kuning.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN SIRSAK (Annona muricata L.) DENGAN METODE DPPH BERDASARKAN PERBEDAAN PELARUT

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) dengan metode DPPH berdasarkan perbedaan pelarut. Sirsak merupakan tanaman dengan berbagai macam manfaat bagi kesehatan baik daging buah, daun maupun bijinya memiliki kandungan kimia yang bermanfaat untuk pengobatan, antara lain sebagai antibakteri, antivirus dan antioksidan. Antioksidan merupakan suatu zat yang memiliki kemampuan untuk memperlambat proses oksidasi yang berdampak negatif di dalam tubuh. Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Tahapan penelitian yaitu mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas, penyajian data dalam bentuk tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nilai IC50 ekstrak daun sirsak pada setiap pelarut . Hasil IC50 dengan kategori sangat kuat terdapat pada ekstrak metanol daun sirsak (23,6 ppm) namun di penelitian lainnya ekstrak metanol daun sirsak menunjukkan nilai IC50 dengan kategori lemah (292,727 ppm) tetapi masih berpotensi sebagai antioksidan. Kategori kuat terdapat pada ekstrak etanol daun sirsak (79,320 ppm).

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

POTENSI ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SELUTUI PUKA (Tabernaemontana macrocarpa Jack) TERHADAP BAKTERI staphylococcus aureus dan streptococcus mutans

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack) dan daun madle mara (Tabernaemontana heyneana Wall.) merupakan tumbuhan bergenus Tabernaemontana dan anggota familia Apocynaceae. Kedua tumbuhan tersebut memiliki khasiat sebagai pengobatan, khususnya pada bagian kulit. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun madle mara terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal-jurnal ilmiah serta dokumen yang terkait seperti KTI (Karya Tulis Ilmiah). Objek penelitiannya adalah aktivitas antibakteri daun selutui puka dan daun madle mara terhadap bakteri Staphyloccus aureus. Data dianalisis secara deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul dengan cara membandingkan literatur yang ada. Ekstrak metanol daun madle memiliki zona hambat yang lebih besar daripada ekstrak etanol daun selutui puka terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Ekstrak metanol daun madle mara memiliki zona hambat maksimum 12,66 ± 0,57 mm dengan daya hambat kategori kuat. Ekstrak etanol daun selutui puka memiliki zona hambat secara berurutan 6,09 mm, 6,24 mm, dan 6,25 mm yang merupakan daya hambat dengan kategori sedang.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR RENDEMEN EKSTRAK DAUN PEPAYA (Carica papaya L.) METODE MASERASI DENGAN BERBAGAI PELARUT

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi ini bertujuan untuk membandingkan hasil rendemen ekstraksi daun pepaya dengan menggunakan berbagai pelarut yang berbeda. Daun pepaya merupakan tumbuhan yang berasal dari daerah tropis, masyarakat pada umumnya menggunakan daun pepaya sebagai pelunak daging, pengobatan malaria, demam berdarah, pereda nyeri haid dan juga anti jerawat. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, majalah ilmiah serta dokumen yang terkait seperti skripsi dan jurnal ilmiah. Data yang diambil dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil penelitian nilai rendemen pada perbedaan pelarut dari ekstraksi maserasi daun pepaya menghasilkan nilai rendemen yang berbeda-beda disetiap pelarutnya hal ini disebabkan oleh pelarut apa yang digunakan, ukuran partikel, jumlah sampel, metode ekstraksi yang digunakan, lama waktu ekstraksi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail