ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kombucha teh hijau (Camellia sinensis) diketahui mengandung senyawa
bioaktif seperti polifenol, katekin, dan asam organik yang menghambat
pertumbuhan bakteri, termasuk Staphylococcus aureus yang merupakan salah satu
penyebab infeksi kulit. Pemanfaatan kombucha dalam bentuk sediaan topikal
seperti gel masih terbatas, sehingga diperlukan pengembangan formulasi yang
optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula optimum dengan
mengevaluasi karakteristik fisik sediaan gel yang mengandung kombucha teh hijau
dengan basis HPMC dan Karbopol 940. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode eksperimental. Formula gel dibuat dengan kombinasi HPMC dan Karbopol
940, lalu diuji secara fisik yang meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya
sebar, daya lekat, dan viskositas. Data hasil uji fisik dianalisis menggunakan
perangkat lunak software Design Expert versi 13 dengan menggunakan metode
Simplex Lattice Design untuk menentukan formula optimum. Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan didapatkan komposisi optimum HPMC dengan
konsentrasi 2,5% dan Karbopol 940 dengan konsentrasi 0,5% keduanya mampu
mempengaruhi karakteristik pada sediaan gel kombucha teh hijau. Hasil verifikasi
formula optimum menunjukkan nilai pH 5,73 ± 0,06, daya sebar 5,26 ± 0,15 cm ,
daya lekat 5,59 ± 0,22 detik, dan viskositas 17866,6 ± 305,51 cPs, dengan nilai
desirability 0,961. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa
kombinasi HPMC (2,5%) dan Karbopol 940 (0,5%) mampu menghasilkan sediaan
gel dengan karakteristik fisik yang baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi bakteri merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah kombucha teh hijau (Camellia sinensis) yang mengandung berbagai senyawa bioaktif hasil fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri kombucha teh hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis serta menentukan lama fermentasi optimum. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental laboratorium. Objek yang diteliti adalah kombucha teh hijau dengan variasi lama fermentasi 0, 3, 6, 9, 12, 15, dan 18 hari. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode well diffusion (sumuran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombucha teh hijau tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada seluruh variasi lama fermentasi yang digunakan. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-3, 6, 9, dan 12, dengan diameter zona hambat tertinggi pada hari fermentasi ke-6 sebesar 2,75 ± 0,25 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi lama fermentasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap diameter zona hambat bakteri Staphylococcus epidermidis (p0,05). Lama fermentasi optimum kombucha teh hijau dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-6.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi dengan penambahan bakteri SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast). Penambahan SCOBY dapat menambah aktivitas antioksidan dalam suatu teh. Kombucha dapat dibuat dari berbagai bagian tanaman seperti akar, umbi, kulit, bunga, batang, dan daun dari tumbuhan yang mengandung senyawa fenolik memiliki aktivitas antioksidan. Salah satu daun yang dapat digunakan sebagai bahan membuat teh kombucha adalah daun alpukat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antioksidan teh kombucha daun alpukat (Persea americana Mill.) dengan variasi lama fermetasi. Uji antioksidan kombucha daun alpukat (Persea americana Mill.) dilakukan pada fermentasi hari ke 1, 3, 5, 7, 9, dan 11. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi pengambilan sampel, determinasi sampel, pengolahan sampel, sterilisasi alat, pembuatan teh kombucha daun alpukat, dan pengujian aktivitas antioksidan menggunakan intrumen Spektofotometer UV-Vis dengan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) pada panjang gelombang maksimum 450-600 nm dan menggunakan kuersetin sebagai pembanding. Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif, data kualitatif diperoleh dari skrining fitokimia teh kombucha dan uji hedonik. Data kuantitatif nilai IC50 kombucha daun alpukat dan pH disajikan dalam bentuk narasi dan tabel, data dianalisis menggunakan aplikasi IBM SPSS 25.0 Version dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teh kombucha daun alpukat dengan variasi lama fermentasi (1, 3, 5, 7, 9, dan 11 hari) memiliki nilai IC50 3486,26; 4997,22; 3877,72; 2796,64; 2499,12; 2717,01 ppm. aktivitas antioksidan yang optimal diperoleh setelah fermentasi hari ke 7 dengan nilai pH yang masih aman untuk dikonsumsi. Uji One Way Anova pada nilai pH teh kombucha daun alpukat dengan variasi lama fermentasi diperoleh nilai signifikan 0,000 (p0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara lama fermentasi teh kombucha daun alpukat terhadap nilai pH. Hasil dari uji Kruskal wallis memiliki nilai 0,043 (p0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara lama fermentasi teh kombucha daun alpukat terhadap aktivitas antioksidan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tanaman herbal di Indonesia yang dapat dibuat dalam produk kombucha. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku serta dokumen berupa jurnal ilmiah terkait. Hasil dari telaah berbagai literatur ini akan digunakan sebagai tambahan literatur tentang teh kombucha yang berasal dari tanaman herbal daun jati (Tectona grandis Linn. F.), daun permot (Passiflora foetida L.), dan bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.). Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2020. Hasil penelitian tentang fermentasi teh kombucha dari tanaman herbal menunjukkan bahwa kadar total asam semakin meningkat setelah ditambahkan bahan dari tanaman herbal seiring bertambahnya waktu fermentasi, kadar total asam kombucha berbanding lurus dengan asam organik yang terkandung semakin lama waktu fermentasi juga mengakibatkan semakin tingginya total asam kombucha.