· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengendalian persediaan di Apotek dilakukan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan analisis kebutuhan dan perencanaan yang telah ditetapkan, dan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu metode analisis ABC (Always, Better, Control), metode EOQ (Economic Order Quantity) dan metode MMSL (Minimum-Maximum Stock Level). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kinerja sistem metode ABC, EOQ dan MMSL terhadap pengendalian persediaan obat-obat di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda periode Januari-Juni 2024. Penelitian yang dilakukan penelitian non-eksperimental dengan analisis secara deskriptif dan menggunakan data kuantitatif yang terdiri dari angka atau bilangan. Teknik sampling yang diterapkan dalam penelitian ini purposive sampling, dengan sampel yang digunakan data persediaan obat di apotek. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kuantitatif persediaan obat di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ketiga metode tersebut dinilai efektif dalam optimalisasi pengendalian persediaan di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda. Metode ABC mengklasifikasikan prioritas pengawasan, EOQ menghitung jumlah pemesanan ekonomis, dan MMSL menetapkan batas stok, sehingga tercapai efisiensi, peningkatan mutu layanan dan menghindari terjadinya kekosongan maupun kelebihan obat.
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter merupakan tantangan serius karena risiko resistensi antibiotik. Studi literatur ini bertujuan mensintesis bukti ilmiah tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap tindakan penggunaan antibiotik tanpa resep. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan tinjauan artikel dari Google Scholar dan Garuda periode 2015– 2025. Hasil kajian terhadap dua artikel menunjukkan bahwa sikap masyarakat memiliki hubungan lebih dominan dibandingkan pengetahuan. Tingkat pengetahuan masyarakat masih tergolong rendah (47,7%), sikap cenderung negatif (54,2%), dan tindakan penggunaan antibiotik tidak tepat (57,3%). Secara bersama, pengetahuan dan sikap memiliki hubungan signifikan terhadap tindakan (p=0,000). Faktor pendidikan dan pekerjaan juga turut mempengaruhi ketiga aspek tersebut. Kesimpulannya, kepatuhan terhadap penggunaan antibiotik rasional tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan, tetapi juga sangat bergantung pada sikap positif serta faktor sosiodemografi. Saran yang diajukan adalah perlunya edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus membentuk sikap positif, serta penguatan peran tenaga kesehatan dalam mengawasi penggunaan antibiotik di masyarakat.
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi hipertensi seringkali disertai dengan penyakit lain sehingga pasien mendapatkan terapi lebih dari satu obat. Kombinasi obat ini berpotensi untuk terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit periode Juli-Desember 2025. Jenis penelitian ini merupakan non-eksperimental dengan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi mekanisme interaksi dan tingkat keparahan (major, moderate, minor). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 263 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 206 (78,33%) sampel yang berpotensi mengalami interaksi obat dengan total kejadian sebanyak 562 interaksi. Berdasarkan severity level dari total kejadian tersebut, interaksi tingkat moderate merupakan interaksi yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 493 (87,72%), diikuti minor sebesar 51 (9,07%), dan major sebesar 18 (3,20%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi adalah pasangan obat amlodipin dengan atorvastatin sebanyak 56 (9,96%) dengan kategori moderate.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi hipertensi seringkali disertai dengan penyakit lain sehingga pasien mendapatkan terapi lebih dari satu obat. Kombinasi obat ini berpotensi untuk terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit periode Juli-Desember 2025. Jenis penelitian ini merupakan non-eksperimental dengan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi mekanisme interaksi dan tingkat keparahan (major, moderate, minor). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 263 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 206 (78,33%) sampel yang berpotensi mengalami interaksi obat dengan total kejadian sebanyak 562 interaksi. Berdasarkan severity level dari total kejadian tersebut, interaksi tingkat moderate merupakan interaksi yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 493 (87,72%), diikuti minor sebesar 51 (9,07%), dan major sebesar 18 (3,20%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi adalah pasangan obat amlodipin dengan atorvastatin sebanyak 56 (9,96%) dengan kategori moderate.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa sekitar 19,85% penduduk Indonesia atau sekitar 64 juta jiwa belum memiliki fasilitas cuci tangan di rumah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya inovasi produk pembersih yang praktis, higienis, dan mudah dibawa, seperti sabun kertas (paper soap). Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi mutu fisik sabun kertas berbahan aktif ekstrak daun kemangi (Ocimum basilicum L.) berdasarkan parameter Standar Nasional Indonesia (SNI) 3532:2021 tentang sabun padat. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Ekstrak daun kemangi diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96% dengan rendemen sebesar 21,97%, kemudian diformulasikan ke dalam sediaan sabun kertas dengan konsentrasi ekstrak 3% (F1), 6% (F2), dan 9% (F3), serta formula kontrol tanpa penambahan ekstrak (F0). Evaluasi mutu fisik meliputi uji organoleptik, kadar air, alkali bebas, pH, dan tinggi busa. Data hasil pengujian disajikan dalam bentuk nilai rata-rata dan standar deviasi, kemudian dibandingkan dengan persyaratan mutu berdasarkan SNI 3532:2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memiliki karakteristik organoleptik yang berbeda sesuai dengan peningkatan konsentrasi ekstrak. Nilai kadar air Formula F0, F1, F2, dan F3 berturut-turut sebesar 12,77% ± 0,47; 14,97% ± 5,00; 15,69% ± 0,49; dan 16,49% ± 0,05. Nilai alkali bebas berturut-turut sebesar 0,088% ± 0,0040; 0,072% ± 0,0040; 0,061% ± 0,0046; dan 0,050% ± 0,0046. Nilai pH berturut-turut sebesar 11,10 ± 0,05; 10,10 ± 0,05; 10,03 ± 0,04; dan 10,00 ± 0,05. Tinggi busa yang dihasilkan berturut-turut sebesar 26,00 ± 5,29 mm; 40,00 ± 6,24 mm; 55,33 ± 4,16 mm; dan 78,33 ± 11,59 mm. Berdasarkan hasil evaluasi dan perbandingan dengan persyaratan mutu SNI 3532:2021, Formula F1, F2, dan F3 memenuhi persyaratan pada seluruh parameter yang diuji, sedangkan Formula F0 tidak memenuhi persyaratan pada parameter pH karena memiliki nilai pH sebesar 11,10 yang melebihi batas maksimum yang dipersyaratkan. Dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun kemangi dapat diformulasikan menjadi sabun kertas yang memenuhi persyaratan mutu fisik SNI 3532:2021. Penambahan ekstrak menghasilkan perbedaan karakteristik fisik antarformula di mana konsentrasi yang lebih tinggi menurunkan pH, serta meningkatkan kadar air dan tinggi busa.
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Shifa Nuraeni Anshar Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Optimasi Formula Sediaan Krim Tabir Surya dan Uji SPF Pembimbing Ekstrak Daun Kratom (Mitragyna speciosa) Menggunakan Asam Stearat dan Trietanolamin Sebagai Emulgator : apt. Hayatus Sa'adah, M.Sc. Paparan radiasi ultraviolet (UV) dari sinar matahari secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit, sehingga diperlukan sediaan tabir surya berbahan alam seperti daun kratom (Mitragyna speciosa) yang kaya akan senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi proporsi emulgator asam stearat dan trietanolamin (TEA) pada sediaan krim tabir surya ekstrak etanol daun kratom (Mitragyna speciosa) serta menguji nilai Sun Protection Factor (SPF) formula optimum secara in vitro. Sampel daun kratom tua diperoleh secara purposive sampling dari Desa Bayur, Samarinda Utara, kemudian diekstraksi dengan metode maserasi dan remaserasi menggunakan pelarut etanol 70% (1:10). Simplisia memiliki rerata susut pengeringan sebesar 7,81 ± 0,37%, sedangkan ekstrak kental yang diperoleh memiliki rendemen sebesar 12,18% dengan kadar air 7,63 ± 0,45%. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid/triterpenoid. Formulasi sediaan krim dirancang menggunakan Desain Faktorial 22 melalui software Design Expert versi 13 dengan variasi konsentrasi asam stearat (15–17%) dan TEA (2–4%). Evaluasi sifat fisik sediaan meliputi uji organoleptis, homogenitas, tipe emulsi, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Seluruh formula (F1–F4) menghasilkan sediaan berwarna putih kehijauan, berbau khas basis, homogen, dan bertipe emulsi minyak dalam air (M/A). Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa variasi emulgator tidak memberikan pengaruh yang signifikan secara statistik (p > 0,05) terhadap respon viskositas, pH, daya sebar, maupun daya lekat, namun optimasi sistem menghasilkan formula optimum pada kombinasi asam stearat 15% dan TEA 2% dengan nilai desirability sebesar 0,989. Verifikasi statistik menggunakan One Sample T-Test (p > 0,05) membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara nilai prediksi dan nilai aktual percobaan. Evaluasi fisik formula optimum memenuhi persyaratan sediaan topikal dengan nilai pH berkisar 5,24–5,58 yang aman dan sesuai pH fisiologis kulit. Pengujian nilai SPF secara in vitro mengaplikasikan spektrofotometri UV-Vis berdasarkan persamaan Mansur pada formula optimum dan menghasilkan nilai rerata SPF sebesar 1,05, yang tergolong dalam kategori proteksi sangat rendah (minimal). Nilai SPF yang rendah ini disebabkan oleh konsentrasi ekstrak yang digunakan relatif kecil (0,5% b/b) serta adanya efek pengenceran oleh basis krim. Kesimpulannya, kombinasi emulgator asam stearat 15% dan TEA 2% mampu menghasilkan sediaan krim yang memenuh persyaratan fisik, namun belum efektif sebagai sediaan tabir surya. Disarankan untuk meningkatkan konsentrasi ekstrak daun kratom pada penelitian selanjutnya guna mengoptimalkan efektivitas perlindungan radiasi UV. Kata kunci: krim tabir surya, daun kratom, desain faktorial, SPF
2026 · Book · Koleksi Perpustakaan
2026 · Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit infeksi akibat bakteri patogen seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus masih menjadi masalah kesehatan, terutama karena peningkatan resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol dan fraksi daun sirih hutan (Piper aduncum L.) terhadap pertumbuhan E. coli dan S. aureus. Sampel diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%, kemudian difraksinasi melalui ekstraksi cair-cair menggunakan n-heksan, etil asetat, dan air. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram pada konsentrasi 1%, 3%, dan 5%. Kadar Hambat Minimum (KHM) dan Kadar Bunuh Minimum (KBM) ditentukan menggunakan metode dilusi padat. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak etanol sebesar 27,72%, sedangkan rendemen fraksi n-heksan, etil asetat, dan air berturut-turut sebesar 11,17%, 30,23%, dan 69,66%. Fraksi n-heksan konsentrasi 5% menghasilkan zona hambat terbesar, yaitu 8,4 mm terhadap E. coli dan 7,8 mm terhadap S. aureus. Berdasarkan kategori zona hambat, aktivitas antibakteri ekstrak dan fraksi daun sirih hutan tergolong sedang. Hasil uji statistik menunjukkan adanya perbedaan bermakna antar-perlakuan terhadap diameter zona hambat pertumbuhan E. coli dan S. aureus (p 0,05). Nilai KHM dan KBM ekstrak etanol serta fraksi n-heksan terhadap E. coli dan S. aureus sebesar 1%, sedangkan nilai KHM dan KBM fraksi etil asetat terhadap kedua bakteri uji sebesar 3%. Seluruh konsentrasi ekstrak dan fraksi menunjukkan perbedaan nyata dibandingkan kontrol positif kloramfenikol 0,1% (p 0,05).