ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar ultraviolet (UV) dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, seperti penuaan dini hingga peningkatan risiko kanker kulit. Salah satu bentuk perlindungan terhadap sinar UV adalah penggunaan tabir surya. Kandungan senyawa antioksidan, seperti fenolik dan flavonoid, diketahui berperan dalam meningkatkan efektivitas tabir surya melalui kemampuan menyerap sinar UV. Daun tampoi (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Mull.Arg.) diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid, serta berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam formulasi tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenolik, flavonoid, dan nilai SPF dari ekstrak etanol daun tampoi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tahapan ekstraksi menggunakan metode maserasi etanol 70%, dilanjutkan dengan pengujian kadar fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu, pengujian flavonoid dengan metode AlCl₃, serta penentuan nilai SPF secara in vitro dengan cara menganalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol daun tampoi yaitu alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, steroid dan triterpenoid. Kadar fenolik sebesar 27,8021 ± 0,9553mg GAE/g dan kadar flavonoid sebesar 2,1548 ± 0,1586%. Nilai SPF ekstrak etanol daun tampoi pada konsentrasi 125 ppm sebesar 3,2005 dan 250 ppm sebesar 6,7021 termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan nilai SPF pada konsentrasi 500 ppm sebesar 13,3355 dan 1000 ppm sebesar 27,0735 termasuk dalam kategori sedang. Korelasi menunjukkan bahwa kadar flavonoid memiliki hubungan sangat kuat terhadap nilai SPF sebesar 0,9007, sedangkan kadar fenolik menunjukkan hubungan rendah sebesar 0,362.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia terletak di garis khatulistiwa sehingga memungkinkan terpapar sinar matahari dengan intensitas tinggi yang dapat merusak kulit akibat radiasi UV A dan UV B. Daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) berpotensi sebagai tabir surya alami dan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Variabel terikatnya adalah aktivitas tabir surya ekstrak dan fraksi daun kokang. Hasil penelitian pada serbuk simplisia daun kokang didapatkan nilai susut pengeringan 10,73% dan hasil rendemen ekstrak 15,4% dengan nilai kadar air ekstrak 6,39%. Hasil yang didapatkan dari rendemen fraksi n-heksan 10,04%, fraksi etil asetat 22,92%, dan fraksi etanol air 36,96%. Hasil penelitian terhadap nilai SPF (Sun Protection Factor) menunjukkan konsentrasi 2500 ppm berturut-turut yaitu pada fraksi n-heksan memiliki nilai SPF 34,46 ± 0,13 (high protection), fraksi etanol air 29,73 ± 0,03 (medium protection), ekstrak etanol 28,94 ± 0,35 (medium protection) dan nilai SPF paling rendah pada fraksi etil asetat 15,91 ± 0,07 (medium protection). Hasil analisis data menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi memiliki nilai signifikansi (sig.) > 0,05 yang artinya berdistribusi normal, serta nilai homogenitas varians sebesar 0,206 (> 0,05) yang menunjukkan varians homogen. Uji One-Way Analysis of Variance (ANOVA) dinyatakan adanya perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai keempat sampel (p 0,05). Analisis data lanjutan menggunakan Uji Post Hoc Test (PHT) didapatkan bahwa keempat sampel memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda sehingga tidak dapat dianggap identik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang berfungsi melindungi kulit dari efek buruk paparan sinar matahari. Namun, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa penggunaan tabir surya tidak sepenuhnya aman, sehingga mendorong pencarian alternatif dari bahan alami. Salah satu tanaman yang berpotensisebagai bahan tabir surya alami adalah kratom (Mitragyna speciosa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak etanol dan fraksi daun kratom yang berasal dari Desa Bayur, Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan metode in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70%, fraksinasi, skrining fitokimia, serta penentuan nilai SPF secara kuantitatif. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptifserta diuji menggunakan Shapiro-Wilk dan Analisis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut Post Hoc Test (PHT) dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar matahari berlebihan tanpa perlindungan yang tepat dapat menyebabkan gangguan kesehatan kulit, seperti penuaan dini, hiperpigmentasi, hingga peningkatan risiko kanker kulit. Penggunaan tabir surya (Sunscreen) merupakan salah satu langkah pencegahan untuk melindungi kulit dari dampak radiasi UV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan, perilaku penggunaan tabir surya (Sunscreen), serta hubungan antara keduanya pada mahasiswa STIKSAM. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 612 mahasiswa aktif Program Sarjana Farmasi, Diploma III Farmasi, dan Sarjana Gizi Tahun Akademik 2025/2026. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan terhadap variabel tingkat pengetahuan, perilaku penggunaan Sunscreen, serta karakteristik responden. Analisis bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penggunaan Sunscreen pada mahasiswa STIKSAM. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik (68,8%) dan perilaku penggunaan Sunscreen kategori baik (60,3%). Uji Spearman Rank menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penggunaan Sunscreen (p=0,000; r=0,419).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan radiasi sinar ultraviolet (UV) yang tinggi di wilayah tropis seperti Indonesia dapat menyebabkan berbagai gangguan kulit, seperti eritema, hiperpigmentasi, penuaan dini, hingga kanker kulit. Penggunaan tabir surya merupakan salah satu upaya efektif untuk melindungi kulit dari dampak buruk sinar UV. Kulit bawang merah (Allium ascalonicum L.) diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan metabolit sekunder lainnya yang berpotensi sebagai bahan aktif tabir surya alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi formula krim tabir surya ekstrak etanol kulit bawang merah menggunakan variasi konsentrasi asam stearat dan setil alkohol serta menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) sediaan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan menjadi krim tabir surya. Optimasi formula dilakukan menggunakan metode factorial design dengan bantuan perangkat lunak Design Expert 13. Evaluasi fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat, sedangkan aktivitas tabir surya ditentukan secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak memiliki rendemen sebesar 7,56%, kadar air 16,9%, serta mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid. Variasi konsentrasi asam stearat dan setil alkohol berpengaruh terhadap karakteristik fisik krim, dengan asam stearat memberikan pengaruh paling dominan terhadap pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Formula optimum yang direkomendasikan Design Expert mengandung 14,196% asam stearat dan 5,0995% setil alkohol, dengan karakteristik pH 7,65, viskositas 17.392 cP, daya sebar 5,70 cm, dan daya lekat 3,87 detik. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata nilai SPF sebesar 28,60, yang termasuk kategori Ultra Protection, sehingga krim ekstrak etanol kulit bawang merah berpotensi dikembangkan sebagai sediaan tabir surya alami dengan kemampuan proteksi yang sangat baik terhadap radiasi UVB.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bibir rentan mengalami kekeringan dan kerusakan akibat paparan sinar ultraviolet (UV). Daun kratom (Mitragyna speciosa (Korth.)) mengandung metabolit sekunder dengan sifat antioksidan dan fotoprotektif, sehingga berpotensi menjadi bahan aktif dalam lip balm. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula optimal lip balm ekstrak daun kratom dengan menggunakan kombinasi Cera alba dan Vaseline album, serta untuk menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) dari formula optimal tersebut. Penelitian dilakukan secara eksperimental. Ekstrak daun kratom diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 70%, kemudian dikarakterisasi melalui pengujian susut pengeringan, kadar air, dan skrining fitokimia. Selanjutnya, ekstrak diformulasikan ke dalam sediaan lip balm dengan variasi konsentrasi Cera alba dan Vaseline album. Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, serta penentuan nilai SPF secara in vitro menggunakan metode Mansur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air ekstrak sebesar 14,86% dan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, serta steroid. Seluruh formula menghasilkan sediaan lip balm yang homogen dengan karakteristik fisik yang memenuhi persyaratan. Variasi konsentrasi Cera alba dan Vaseline album memberikan pengaruh terhadap karakteristik fisik sediaan, sedangkan formula dengan komposisi 90% Vaseline album dan 3% Cera alba menghasilkan karakteristik yang paling baik. Formula tersebut memiliki nilai SPF rata-rata sebesar 26,30 ± 2,04, yang termasuk dalam kategori proteksi ultra.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Antioksidan merupakan senyawa yang dapat menetralisir radikal bebas sehingga dapat terlindung dari berbagai macam penyakit dan dapat melindungi kulit yang sensitif terhadap peradangan, penuaan dini, dan kanker yang disebabkan oleh radikal bebas. Salah satu radikal bebas yang dapat ditangkal oleh antioksidan yaitu sinar matahari. Salah satu bahan alam yang mengandung antioksidan yaitu alpukat. Alpukat mengandung antioksidan tinggi yang terdapat pada bijinya. Salah satu cara agar terhindar dari paparan radikal bebas dapat diperoleh dari suatu produk dengan nilai aktivitas antioksidan dan tabir surya dengan proses pengeringan yang baik. Mengingat pentingnya proses pengeringan simplisia guna mendapatkan simplisia yang bermutu, maka dilakukan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pengeringan simplisia dengan dua metode pengeringan yaitu sinar matahari dengan ditutup kain hitam yang dilakukan pada siang hari selama 3 hari dan pengeringan oven pada suhu 60oC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pengeringan terhadap Inhibitory Concentration 50 (IC50) dan Sun Protection Factor (SPF) ekstrak biji alpukat. Objek yang diteliti adalah aktivitas antioksidan dan tabir surya ekstrak etanol biji alpukat (Persea americana Mill.). Aktivitas antioksidan dan tabir surya ditentukan secara in vitro dengan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl) dan Spektrofotometri UV-Vis berdasarkan panjang gelombang yaitu 290 nm – 320 nm. Berdasarkan hasil penelitian pada ekstrak etanol biji alpukat pengeringan oven diperoleh nilai IC50 sebesar 29,45 ppm termasuk kategori sangat kuat dan pada pengeringan sinar matahari sebesar 6,81 ppm termasuk kategori sangat kuat. Pada uji aktivitas tabir surya pengeringan oven pada konsentrasi 1000 ppm memiliki nilai SPF 7 ppm kategori rendah dan pengeringan sinar matahari pada konsentrasi 1000 ppm memiliki nilai SPF 9,3 kategori rendah
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Efek buruk akibat sinar matahari sekarang lebih berbahaya dikarenakan berkurangnya lapisan ozon pada atmosfir bumi dan dapat menyebabkan eritema (kemerahan) pada kulit, pigmentasi yang berlebihan penebalan sel tanduk dan aging (penuaan dini). Kulit area bibir memiliki tekstur yang tipis dan cenderung lebih halus membuat area ini rentan terhadap sinar UV, cara mengatasinya dengan menggunakan sediaan tabir surya. Bahan dari alam memiliki potensi untuk melindungi kulit dari sinar matahari salah satu yang memiliki potensi tabir surya ialah lemak tengkawang dan lignin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah lemak tengkawang-lignin dapat diformulasikan ke dalam sediaan lip cream dan mengetahui nilai SPF dari lip cream lemak tengkawang-lingnin. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah formulasi sediaan lip cream lemak tengkawang-lignin terhadap nilai SPF. Variabel bebas pada penelitian ini adalah konsentrasi lemak tengkawang-lignin dalam formulasi lip cream, variabel terikat adalah nilai SPF dari lip cream lemak tengkawang-lignin dan variabel kontrol adalah evaluasi fisik dan tempat pengambilan sampel. Lip cream dibuat dalam 4 formulasi dengan konsetrasi lemak tengkawang –lignin yang sudah dicampur yaitu 5%, 10% dan 15% dan evaluasi lip cream meliputi uji organoleptis, homogenitas, daya oles, daya sebar, daya lekat, pH dan SPF.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tabir surya dapat menyerap, menghamburkan atau memantulkan sinar UV (ultraviolet) yang mengenai kulit, sehingga dapat digunakan untuk melindungi struktur kulit manusia dari bahayanya sinar UV. Salah satu kandungan bahan yang dapat berfungsi sebagai tabir surya adalah senyawa flavonoid. Salah satu bahan alam yang mengandung flavonoid adalah lemak tengkawang. Lemak tengkawang adalah lemak nabati hasil ekstraksi biji tanaman tengkawang yang termasuk dalam famili Dipterocarpaceae yang mengandung senyawa terpenoid, flavonoid, arilpropanoid dan turunan asam galat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi lemak tengkawang sebagai sediaan krim tabir surya dan berapakah nilai SPF dari sediaan krim lemak tengkawang. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Konsentrasi lemak tengkawang pada penelitian ini 5%, 10%, dan 15%. Evaluasi yang dilakukan pada penelitian sediaan krim ini meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe krim, dan nilai SPF. Hasil dianalisis secara deskriptif yaitu upaya menampilkan data dalam bentuk tampilan yang mudah terbaca secara lengkap. Kata kunci: lemak tengkawang (Shorea mecystopteryx), krim, tabir surya, SPF
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit merupakan bagian tubuh manusia yang berguna untuk melindungi dari paparan sinar matahari. Sinar matahari berlebih dapat menyebabkan kulit terbakar, perubahan warna kulit menjadi lebih hitam, bahkan dapat menyebabkan kanker kulit. Menghindari masalah yang terjadi akibat paparan sinar matahari berlebih, diperlukan perlindungan berupa tabir surya yang tepat. Sediaan tabir surya memiliki fungsi untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari yang dapat mengakibatkan kerusakan pada kulit. Ekstrak daun afrika diketahui mengandung senyawa fenolik. Senyawa tersebut memiliki ikatan terkonjugasi yang dapat beresonansi ketika terkena sinar ultraviolet (UV) sehingga bersifat photoprotective. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan ekstrak metanol daun afrika menjadi gel tabir surya. Aktivitas tabir surya ditentukan secara in vitro menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis berdasarkan serapan pada panjang gelombang yaitu 290 nm – 320 nm. Masing masing konsentrasi 0,02%, 0,04%, dan 0,06% dilakukan evaluasi meliputi pengujian aktivitas tabir surya dan karakteristik fisik gel. Analisis data dilakukan secara statistik. Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh data Ekstrak metanol daun afrika dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan gel, tetapi formula gel yang digunakan tidak menghasilkan sediaan gel yang memenuhi persyaratan fisik, Sediaan gel ekstrak metanol daun afrika dengan konsentrasi 0,02% memiliki nilai SPF 6,3702 tergolong dalam ketegori proteksi minimal, konsentrasi 0,04% memiliki nilai SPF 10,8347 tergolong dalam kategori proteksi maksimal dan konsentrasi 0,06% memiliki nilai SPF 11,7705 tergolong dalam kategori maksimal. Sehingga dapat disimpulkan pada F3 dengan konsentrasi 0,06% menghasilkan nilai SPF tertinggi
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar ultra violet dapat menyebabkan beberapa gangguan kulit seperti eritema, pigmentasi, dan penuaan dini. Mencegah gangguan kulit yang disebabkan oleh sinar UV diperlukan perlindungan berupa tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui formulasi krim yang optimum dari ekstrak metanol daun afrika yang berpotensi sebagai tabir surya dengan variasi asam stearat dan setil alkohol yang dapat memberikan sifat fisik sediaan krim yang baik. Krim dibuat dalam empat formula dengan variasi asam stearat dan setil alkohol yang dirancang sesuai dengan desain faktorial. Sediaan krim yang dihasilkan diuji sifat fisiknya meliputi pengamatan organoleptik (bentuk, warna, bau), homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat dan viskositas. Formula optimum berdasarkan parameter sifat fisik krim yaitu: viskositas, daya sebar, daya lekat yang diperoleh menggunakan software Design Expert versi 11. Pada penelitian ini didapatkan area komposisi optimum krim yaitu asam stearat sebesar 4,83407 % dan 6,53315 % setil alkohol. Berdasarkan parameter uji pH, daya sebar, daya lekat dan viskositas, formula yang baik adalah formula 2 karena nilai hasil uji masih masuk dalam range persyaratan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bibir tidak memiliki melanin sebagai pelindung dari sinar UV sehingga memerlukan tabir surya. Salah satu kosmetik bibir yang memiliki aktivitas tabir surya adalah lip gloss. Bahan alam yang dapat digunakan sebagai tabir surya pada lip gloss adalah bawang tiwai. Bawang tiwai (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) mengandung flavonoid yang dapat mengurangi melanogenesis dan hiperpigmentasi kulit karena gugus kromofor senyawa tersebut dapat menyerap sinar UV sehingga mengurangi intensitas pembentukan melanin pada kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai SPF dan mutu fisik sediaan lip gloss dari ekstrak etanol bawang tiwai. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Obyek yang diteliti adalah mutu fisik dan aktivitas tabir surya sediaan lip gloss dari ekstrak etanol bawang tiwai. Variabel bebas dari penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak etanol bawang tiwai. Variabel terikat dari penelitian ini adalah aktivitas tabir surya dan hasil uji stabilitas fisik dari sediaan lip gloss ekstrak etanol bawang tiwai. Variabel terkontrol dari penelitian ini adalah tempat pengambilan sampel, metode pembuatan, metode evaluasi serta jenis dari bawang tiwai. Evaluasi sediaan lip gloss meliputi pengamatan organoleptis, homogenitas, pengukuran pH, uji daya sebar, uji viskositas, uji daya oles, serta uji penentuan nilai SPF dari sediaan menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa sediaan lip gloss ekstrak etanol bawang tiwai memiliki mutu fisik yang baik dan telah memenuhi persyaratan organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji daya oles, uji daya sebar, dan uji viskositas sediaan lip gloss. Nilai SPF lip gloss ekstrak etanol bawang tiwai tertinggi ada pada formula IV, yaitu 0,6417 dan nilai SPF lip gloss ekstrak etanol bawang tiwai terendah ada pada formula I, yaitu 0,3381.