ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang menjadi sumber karotenoid serta berbagai senyawa bioaktif, termasuk senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder yang memiliki berbagai aktivitas biologis, salah satunya sebagai antioksidan. Besarnya kandungan senyawa aktif dalam ekstrak, dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kadar senyawa fenolik total berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi dan refluks, penetapan kadar air, skrining fitokimia dan penetapan kadar fenolik total. Hasil penelitian, diperoleh nilai rata-rata susut pengeringan sebesar 7,12.%. Rendemen ekstrak hasil maserasi 38,91% dan refluks 35,39%. Hasil rata-rata penetapan kadar air ekstrak secara maserasi 5,88% dan secara refluks 7,07%. Hasil skrining fitokimia secara maserasi dan secara refluks diperoleh senyawa fenolik, flavonoid, saponin. Kadar rata-rata fenolik total dari ekstraksi secara maserasi adalah17,69 mg GAE/g mg GAE/g dan secara refluks 30,81 mg GAE/g. Sehingga dapat disimpulkan, bahwa perbedan metode ekstraksi berpengaruh terhadap kadar rata-rata fenolik total buah labu kuning.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan bahan pangan yang kaya akan vitamin A, C, mineral serta karbohidrat. Labu kuning memiliki banyak manfaat bagi kesehatan seperti, antibakteri, antidiabetes, dan antioksidan. Ekstrak buah labu kuning (Cucurbita moschata Duch) mengandung senyawa flavonoid, saponin dan terpenoid yang bersifat antibakteri. Perbedaan konsentrasi pelarut dapat mempengaruhi aktivitas farmakologi suatu ekstrak bahan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri daging buah labu kuning dengan perbedaan pelarut terhadap bakteri Staphylococus aureus. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, penetapan susut penegeringan simplisia, ekstraksi secara maserasi dengan perbedaan konsentrasi pelarut etanol 50% dan 70%, skrining fitokimia, penetapan kadar air ekstrak dan uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukan rata-rata nilai susut pengeringan simplisia 4,26 %. Rendemen ekstrak etanol 50% sebesar 11,48% dan etanol 70% sebesar 20,97%. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol 50% menunjukkan danya senyawa saponin, dan flavonoid. Sedangkan pada ekstrak etanol 70 % diperoleh senyawa golongan alkaloid, flavonoid, saponin dan steroid. Hasil rata-rata kadar air ekstrak etanol 50% sebesar 16,47% dan ekstrak etanol 70% sebesar 23,71%. Hasil uji aktivitas antibakteri menunjukkan, bahwa perbedaan pelarut mempengaruhi aktivitas antibakteri pada ekstrak daging buah labu kuning, pada konsentrasi 10%; 12,5%; 15%; 20%; 25%, dan 30% dengan kategori sedang pada pelarut etanol 50% dan pada pelarut etanol 70% dengan kategori sedang hingga kuat. Diamater zona hambat pada kontrol positif kloramfenikol 0,1% sebesar 20 mm dan kontrol negatif DMSO 1% adalah 0 mm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang termasuk dalam keluarga cucurbitaceae. Buah labu kuning kaya akan sumber nutrisi, salah satunya adalah senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder dan memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan yang juga terdapat pada kulit buah labu kuning. Kadar senyawa aktif bahan alam dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, determinasi tanaman, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dan refluks, skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Variabel bebas pada penelitian ini adalah metode maserasi dan refluks, variabel terikat adalah kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning dan hasil skrining. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa kadar fenolik total yang dinyatakan dalam mg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit buah labu kuning mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenolik total ekstrak kulit buah labu kuning dengan perbedaan ekstraksi maserasi dan refluks, diperoleh masing-masing kadar sebesar 113,45 ±1,56 mg GAE/g dan 125,69 ±0,28 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen selanjutnya digunakan uji independent t-test dengan hasil nilai p value (0,00 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenolik total antara kedua sampel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan tanaman yang diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti β-karoten, flavonoid, dan fenolik, yang berperan penting sebagai antioksidan. Antioksidan berfungsi menetralkan radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan memicu penyakit degeneratif. Penelitian ini merupakan studi literatur yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak labu kuning menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl). Metode DPPH dipilih karena prosedurnya sederhana, cepat, sensitif, serta mampu memberikan gambaran jelas mengenai kemampuan suatu senyawa dalam meredam radikal bebas stabil. Data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah yang relevan dan dianalisis berdasarkan nilai IC50 serta faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas antioksidan. Tahap penelitian meliputi pengumpulan artikel ilmiah, menelaah dan menganalisis data yang kemudian diringkas sehingga diperoleh data utama, penyajian data dilakukan secara deskriptif dalam bentuk tabel, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan tentang aktivitas antioksidan ekstrak labu kuning (Cucurbita moschata Duch.). berdasarkan hasil peelitian yang diperoleh dari data artikel penelitian tersebut menunjukkan bahwa ekstrak labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) memiliki aktivitas antioksidan dengan kategori sangat kuat. Pada ekstrak etanol labu kuning dengan konsentrasi 96% memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dengan nilai IC₅₀ sebesar 12,13 ppm karena pelarut tersebut bersifat polar, dibandingkan dengan pelarut nheksan yang bersifat non polar dengan nilai IC50 sebesar 30,75 ppm memiliki nilai IC50 yang lebih rendah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyakit infeksi merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh penduduk di negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit infeksi disebabkan oleh mikroba patogen seperti bakteri, virus, jamur, protozoa dan parasit. Daun labu kuning dari spesies Cucurbita moschata Duch. mengandung senyawa alkaloid, tanin, flavonoid, saponin dan steroid yang diduga memiliki aktivitas antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun labu kuning terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Objek yang diteliti adalah aktivitas antibakteri dari ekstrak daun labu kuning terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimia, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode well difusion dengan konsentrasi ekstrak 5%, 10%, 15%, 20%, 25% dan 30%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan, ekstrak daun labu kuning mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin dan steroid. Hasil uji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan rata-rata zona hambat pada konsentrasi 15% (5 mm), 20% (6,1 mm), 25% (7,6 mm) dan 30% (8,7 mm) termasuk kategori sedang. Aktivitas antibakteri Escherichia coli pada konsentrasi 15% (3,3 mm), 20% (3,3 mm) masuk pada kategori lemah sedangkan pada konsentrasi 25% (5,6 mm) dan 30% (5,8 mm) termasuk kategori sedang. Kontrol negatif DMSO memberikan hasil negatif (-) dan kontrol positif kloramfenikol dengan rata-rata (10,5 mm) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan (15,2 mm) terhadap bakteri Escherichia coli.
ArticleOpen AccessMetadata saja
2025•Artikel Penelitian dan Pengabdian
Pumpkin (Cucurbita moschata Duch) is a food rich in vitamin A, vitamin C, minerals, carbohydrates, and flavonoid compounds. Flavonoids have several pharmacological activities, including as antioxidants to ward off free radicals. This study aims to determine the total flavonoid content and antioxidant activity of pumpkin fruit. The extraction of pumpkin fruit was done by the maceration method in a 70% ethanol solvent. The total flavonoid test used the colorimetric method with a 10% AlCl3 reagent and quercetin as a positive control. Antioxidant activity was tested using the DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) method. The results obtained for the total flavonoid content of the ethanol extract of pumpkin fruit amounted to 1.741 mgQE/g ± 0.2438 and an IC50 value of 379.44 ppm, including the category of weak antioxidant, compared with the positive control.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah labu kuning diketahui sebagai sumber fenolat yang baik, termasuk flavonoid, antosianin, dan karotenoid. Buah labu kuning memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung nutrisi dan senyawa bioaktif. Kulit buahnya memiliki tekstur yang keras dan cukup tebal hal tersebut menyebabkan buah labu kuning lebih awet dibandingkan buah lainnya. Selama ini kulit buah labu kuning dianggap sebagai limbah. Namun ternyata kulit buah labu kuning memiliki potensi sebagai antibiotik dan antioksidan. Penelitian tentang kulit labu kuning masih terbatas, sehingga perlu dilakukan eksplorasi agar pemanfaatannya lebih optimal. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning serta kandungan senyawa metabolit sekunder nya. Metode penelitian ini meliputi, determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, karakterisasi spesifik dan non spesifik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning.Variabel bebas pada penelitian ini adalah simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Variabel terikat meliputi hasil skrining fitokimia dan hasil pengukuran karakteristik simplisia dan ekstrak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tanaman labu kuning (Cucurbita moschata) merupakan jenis tanaman dari keluarga cucurbitacae. Tanaman ini merupakan sumber karotenoid yang kaya akan vitamin larut air, fenolat, flavonoid, polisakarida, dan garam mineral, yang bermanfaat bagi kesehatan. Konsentrasi pelarut etanol dapat mempengaruhi hasil ekstraksi suatu simplisia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar flavonoid total ekstrak etanol kulit buah labu kuning berdasarkan perbedaan konsentrasi pelarut etanol. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi secara maserasi dengan variasi konsentrasi etanol, skrining fitokimia, penetapan kadar flavonoid total secara spektrofotometri UV-Vis. Variabel bebas pada penelitian ini adalah variasi konsentrasi etanol 70% dan 95%, variabel terikat berupa kadar flavonoid total, variabel kontrol berupa metode ekstraski, tempat pengambilan sampel. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil Penelitian menyatakan kadar rendemen ekstrak etanol 70%, dan 95% adalah 13.68% dan 15.54%. Kadar flavonoid total dari ekstrak etanol 70%, dan 95% adalah 1.1931 ± 0.0810, 1.2045 ± 0.0854. Konsentrasi pelarut etanol berpengaruh terhadap kadar rendemen dan flavonoid ekstrak kulit buah labu kuning.