Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

14 hasil
Subjek: Karakterisasi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi dan Skrining Fitokimia Simplisa dan Ekstrak Etanol Daun Kratom (Mitrgyna Speciosa (Korth.) Havil)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth) memiliki aktivitas sebagai analgesik, antidiare, antidepresan, antibakteri, antinosiseptif, anti-inflamasi, serta antioksidan. Karakterisasi dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui mutu dari suatu bahan baku obat tradisional. Daun kratom diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dan didapatkan rendemen sebesar 23,46%. Hasil uji karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik pada simplisia berupa serbuk berwarna hijau kecoklatan, rasa pahit, dengan aroma khas dan pada ekstrak etanol berupa ekstrak kental, berwarna coklat kehitaman, rasa pahit, dan aroma yang khas. Hasil pengamatan makroskopik daun kratom yaitu berbentuk elips, tepi daunnya bergigi, tulang daun dengan berwarna coklat kemerahan menyirip berjumlah 12-17 pasang, pangkal daun sub cordate dan ujung meruncing. Kadar senyawa terlarut dalam air pada simplisia sebesar 23% dan pada ekstrak sebesar 69%, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol pada simplisia sebesar 17,7% dan pada ekstrak sebesar 20,3%. Hasil uji karakterisasi non spesifik meliputi susut pengeringan pada simplisia sebesar 13,75% dan pada ekstrak sebesar 24,3%. Kadar abu total dalam simplisia sebesar 4,12% dan dalam ekstrak sebesar 10,35%, kadar abu tidak larut asam dalam simplisia sebesar 0,85% dan dalam ekstrak sebesar 0,58%. Bobot jenis ekstrak sebesar 1,02 g/ml. Total cemaran mikroba angka lempeng total simplisia sebanyak 7,9  10³ koloni/g dan ekstrak 4,5  10³ koloni/g, sedangkan angka kapang khamir pada simplisia 6,4  10³ koloni/g dan pada ekstrak 4,4  10³ koloni/g. Hasil uji skrining fitokimia simplisia dan ekstrak daun kratom positif mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, tanin,saponin, dan steroid.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi Madu Kelulut (Heterotrigona itama) Hasil Budidaya Kecamatan Loa Janan Kota Samarinda

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang mendukung produksi madu, termasuk madu kelulut (Heterotrigona itama) yang dihasilkan oleh lebah tanpa sengat. Madu kelulut memiliki ciri khas rasa manis dan asam serta kandungan senyawa bioaktif yang bermanfaat sebagai antioksidan, antibakteri, dan bahan penyembuh luka. Kecamatan Loa Janan merupakan salah satu tempat budidaya madu kelulut yang ada di Kota Samarinda . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi madu kelulut hasil budidaya Kecamatan Loa Janan, Kota Samarinda. Karakterisasi meliputi parameter spesifik dan non-spesifik. Madu kelulut diekstraksi secara maserasi dengan pelarut etanol 95% dan diperoleh rendemen ekstrak sebesar 58,25%. Hasil karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik berupa simplisia agak cair berwarna coklat gelap, berbau khas, dan rasa agak asam. Organoleptik ekstrak berupa ekstrak kental berwarna coklat muda, berbau khas, dan rasa pahit. Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam air pada simplisia sebesar 66,69% dan ekstrak sebesar 68,99%. Kadar rata-rata senyawa yang terlarut dalam etanol pada simplisia sebesar 79,65% dan ekstrak sebesar 67,88%. Simplisia dan ekstrak madu kelulut menunjukkan hasil positif metabolit sekunder pada senyawa alkaloid, polifenol, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil karakterisasi non-spesifik meliputi bobot jenis pada simplisia sebesar 1,33 g/mL dan ekstrak rata-rata sebesar 1,32 g/mL. Kadar air rata-rata pada simplisia sebesar 26,09% dan ekstrak sebesar 24,67%. Kadar abu total rata-rata pada simplisia sebesar 0,52% dan ekstrak sebesar 0,43%. Kadar abu tidak larut asam rata-rata pada simplisia sebesar 0,27% dan ekstrak sebesar 0,25%. Total keasaman rata-rata pada madu kelulut sebesar 188,86 mL NaOH/kg.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR KARAKTERISASI DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK BUNGA TELANG ( clitoria ternatea L).

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman herbal yang memiliki potensi farmakologis tinggi dan banyak dimanfaatkan masyarakat Indonesia sebagai pengobatan alternatif karena kandungan antioksidan alaminya. Meskipun demikian, variasi metode ekstraksi dan sumber simplisia dalam berbagai penelitian seringkali menghasilkan data mutu dan kandungan kimia yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan hasil pengujian parameter spesifik, non-spesifik, serta profil fitokimia ekstrak bunga telang melalui penelusuran pustaka. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan mengumpulkan data sekunder dari berbagai jurnal ilmiah yang relevan. Analisis data difokuskan pada parameter non-spesifik yang meliputi kadar air, kadar abu total, dan susut pengeringan, serta parameter spesifik seperti organoleptik dan kadar sari larut pelarut tertentu. hasil penelitian menunjukaan ekstrak bunga telang pada penelitian (Rismayuti, Supriningrum dan Supomo, 2024) Menghasilkan rendemen ekstrak sebesar 43,8% dengan karakteristik organoleptik kental, berwarna biru kehitaman, dan berasa pahit. Hasil uji parameter spesifik menunjukkan kadar sari larut air 58%, larut etanol 17,67%, sementara parameter non-spesifik mencatat kadar air 21,93%, kadar abu total 5%, serta bobot jenis 1,015 g/ml dengan angka cemaran mikroba yang memenuhi syarat keamanan BPOM. Skrining fitokimia ekstrak mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan terpenoid, dan hasil negatif pada pengujian tanin, sedangkan pada penelitinan (Ramdhini, 2023) Menghasilkan rendemen ekstrak yaitu 10% dengan karakteristik berwarna cokelat tua dan tidak berasa. Parameter spesifik menunjukkan kadar sari larut air sebesar 8,5% dan larut etanol 1,1%. Parameter non-spesifik mencatat nilai susut pengeringan yaitu 0,8% dan bobot jenis 1,38 g/ml, sedangkan hasil skrining fitokimianya menunjukkan senyawa flavonoid, saponin, tanin, steroid, terpenoid, dan alkaloid.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISASI SIMPLISIA EKSTRAK ETANOL BIJI BUAH PEPAYA (Carica Papaya L)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun Senggani (Melastoma malabathricum L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa kimia seperti golongan fenol, alkaloid, dan saponin. Daun Senggani dapat dimanfaatkan berbagai penyakit, seperti diare, disentri, luka infeksi, sakit gigi, sakit perut, perut kembung, dan sariawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak daun Senggani serta kandungan metabolit sekundernya. Penelitian ini bersifat non eksperimental. Penelitian dimulai dari pengambilan sampel, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dengan etanol 96%. Karakteristik spesifik dari simplisia dan ekstrak etanol daun senggani didapatkan identitas dengan pengamatan organoleptik pada simplisia berupa potongan tipis, bau khas, hijau, dan rasa pahit serta hasil pengamatan pada ekstrak berupa ekstrak kental, berbau khas, berwarna hijau tua, dan rasa pahit. Kadar senyawa terlarut dalam air untuk ekstrak sebesar 3,3% dan simplisia sebesar 1%, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol untuk ekstrak sebesar 98% dan simplisia sebesar 5%. Karakterisasi non spesifik dari simplisia dan ektrak etanol buah labu kuning didapatkan kadar abu total ekstrak sebesar 2,40% dan simplisia sebesar 3,5%, kadar abu tidak larut asam ekstrak sebesar 0,68% dan simplisia sebesar 0,38%. Kadar air esktrak sebesar 17,55% dan simplisia sebesar 4,33%. Bobot jenis ekstrak 0,98 g/mL dan hasil dari total cemaran mikroba pada ekstrak sebanyak 9,840 koloni/g dan simplisia sebesar 3,093,3 koloni/g serta angka kapang khamir pada ekstrak sebesar 20,820 koloni/g dan simplisia sebesar 1,243,3 koloni/g. Pada pengujian skrining fitokimia dari simplisia dan ekstrak etanol daun senggani didapatkan hasil bahwa simplisia dan ekstrak etanol daun senggani mengandung metabolit sekunder diantaranya alkaloid, flavonoid, saponin, dan terpenoid.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi Simplisia dan Ekstrak Metanol Biji Markisa Ungu (Passiflora edulis Sims var edulis)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Biji markisa ungu kaya akan senyawa antioksidan seperti flavonoid, alkaloid, triterpenoid, fenolik, dan vitamin C. Biji buah makisa ungu mengandung flavonoid dan alkaloid yang merupakan salah satu antioksidan kuat yang dapat menangkal radikal bebas. Karakterisasi merupakan suatu proses awalan yang dilakukan untuk mengetahui mutu dari suatu simplisia dan ekstrak. Simplisia maupun ekstrak yang digunakan sebagai bahan baku dan bahan produk langsung harus memenuhi persyaratan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak metanol biji buah markisa ungu (Passiflora edulis Sims var.edulis). Hasil karakterisasi spesifik menunjukkan pada uji makroskopik secara organoleptik simplisia berwarna hitam, rasa sedikit sepat dan berbau khas serta ekstrak berwarna hitam, rasa pahit dan berbau khas. Nilai kadar sari larut dalam air pada simplisia sebesar 14,3% dan ekstrak sebesar 4,3%, larut dalam etanol pada simplisia sebesar 19% dan ekstrak sebesar 32%. Hasil skrining simplisia dan ekstrak menunjukkan hasil positif pada senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid. Hasil karakterisasi nonspesifik menunjukkan susut pengeringan pada simplisia sebesar 8,3%, kadar air ekstrak sebesar 7,1%, kadar abu total simplisia sebesar 5,89% dan ekstrak sebesar 8,5%, kadar abu tidak larut asam simplisia sebesar 0,38% dan ekstrak sebesar 0,43% dan bobot jenis ekstrak sebesar 0,977g/mL. Hasil uji cemaran mikroba simplisia sebesar 153,4 x 10-3 koloni/g dan ekstrak sebesar 486,7 x 10-3 koloni/g, cemaran kapang/khamir simplisia sebesar 140,1 x 10-3 koloni/g dan ekstrak sebesar 100,9 x 10-3 koloni/g

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi dan Skrining Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Buah Bakau Hitam (Rhizopora mucronata Poir)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bakau hitam (Rhizopora mucronata Poir) merupakan salah satu spesies tumbuhan bakau yang hidup di hutan manggrove yang memiliki kandungan metabolit sekunder serta mengandug antioksidan alami dan antibakteri yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir pantai dikonsumsi sebagai bahan pangan dan obat. Manfaat yang dimiliki suatu bahan alam berkhasiat obat perlu dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak buah bakau hitam serta kandungan senyawa metabolit sekundernya. Karakterisasi meliputi parameter spesifik dan non spesifik Tahap pertama buah bakau hitam diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan didapatkan rendeman sebesar 23,77 %. Hasil uji karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik dengan hasil pengamatan secara langsung pada simplisia berupa serbuk. warna coklat tua, rasa sedikit sepat, dengan aroma khas dan pada uji organoleptik ekstrak etanol berupa ekstrak kental, berwarna coklat kehitaman, rasa pahit dengan aroma yang khas. Kadar rata-rata senyawa terlarut dalam air simplisia sebesar 7,3 % dan ekstrak sebesar 11,33 %, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol simplisia rata-rata sebesar 24 % dan ekstrak sebesar 88,33 %. Hasil uji karakterisasi non spesifik meliputi penetapan kadar air rata-rata pada simplisia 15 % dan ekstrak 18 %. Uji kadar abu total rata-rata pada simplisia 8,3397 % dan ekstrak 10,4976 %, sedangkan uji kadar abu tidak larut asam rata-rata pada simplisia 0,2329 % dan ekstrak 0,8144 %. Bobot jenis ekstrak rata-rata 1,04 g/mL dan hasil dari uji cemaran mikroba angka lempeng total simplisia sebanyak 4,6 x 10-3 koloni/g dan ekstrak 4,3 x 10-3 koloni/g, sedangkan angka kapang khamir pada simplisia 2,1 x 10-2 koloni/g dan pada ekstrak sebanyak 1,3 x 10-2 koloni/g. Pada hasil uji skrining fitokimia simplisia dan ekstrak buah bakau hitam positif mengandung senyawa metabolit yaitu sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi dan skrining fitokimia simplisia dan ekstrak kulit buah bakau minyak (Rhizophora apiculata)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bakau hitam (Rhizopora mucronata Poir) merupakan salah satu spesies tumbuhan bakau yang hidup di hutan manggrove yang memiliki kandungan metabolit sekunder serta mengandug antioksidan alami dan antibakteri yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir pantai dikonsumsi sebagai bahan pangan dan obat. Manfaat yang dimiliki suatu bahan alam berkhasiat obat perlu dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak buah bakau hitam serta kandungan senyawa metabolit sekundernya. Karakterisasi meliputi parameter spesifik dan non spesifik Tahap pertama buah bakau hitam diekstraksi dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan didapatkan rendeman sebesar 23,77 %. Hasil uji karakterisasi spesifik meliputi uji organoleptik dengan hasil pengamatan secara langsung pada simplisia berupa serbuk. warna coklat tua, rasa sedikit sepat, dengan aroma khas dan pada uji organoleptik ekstrak etanol berupa ekstrak kental, berwarna coklat kehitaman, rasa pahit dengan aroma yang khas. Kadar rata-rata senyawa terlarut dalam air simplisia sebesar 7,3 % dan ekstrak sebesar 11,33 %, sedangkan kadar senyawa terlarut dalam etanol simplisia rata-rata sebesar 24 % dan ekstrak sebesar 88,33 %. Hasil uji karakterisasi non spesifik meliputi penetapan kadar air rata-rata pada simplisia 15 % dan ekstrak 18 %. Uji kadar abu total rata-rata pada simplisia 8,3397 % dan ekstrak 10,4976 %, sedangkan uji kadar abu tidak larut asam rata-rata pada simplisia 0,2329 % dan ekstrak 0,8144 %. Bobot jenis ekstrak rata-rata 1,04 g/mL dan hasil dari uji cemaran mikroba angka lempeng total simplisia sebanyak 4,6 x 10-3 koloni/g dan ekstrak 4,3 x 10-3 koloni/g, sedangkan angka kapang khamir pada simplisia 2,1 x 10-2 koloni/g dan pada ekstrak sebanyak 1,3 x 10-2 koloni/g. Pada hasil uji skrining fitokimia simplisia dan ekstrak buah bakau hitam positif mengandung senyawa metabolit yaitu sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, steroid dan terpenoid.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN ESKTRAK METANOL KULIT BUAH MARKISA UNGU (Passiflora edulis f.Sims)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan obat banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan jamu karena memiliki khasiat beragam salah satunya adalah buah markisa ungu (Passiflora edulis f. Sims), sehingga perlu dilakukan karakterisasi untuk mengetahui kualitas mutu dan keamanan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Karakterisasi memiliki beberapa aspek diantaranya parameter spesifik dan parameter non spesifik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakterisasi simplisia dan ekstrak metanol kulit buah markisa ungu serta kandungan senyawa metabolit sekunder didalamnya. Penelitian yang dilakukan bersifat non eksperimental dengan objek yang diteliti adalah karakterisasi spesifik dan non spesifik kulit buah markisa ungu dan analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil penelitian organoleptis simplisia serta ekstrak kulit markisa ungu meliputi ekstrak kental, bau khas, warna coklat tua kehitaman, serta rasa pahit dan kelat. Hasil makroskopik kulit markisa ungu yaitu memiliki tekstur lunak serta rasa pahit dan kelat, memiliki warna ungu gelap serta tidak berbau. Hasil mikroskopik fragmen pengenal pada kulit markisa ungu yaitu rambut penutup, parenkim sekresi, berkas pembuluh. Hasil uji parameter spesifik kadar sari larut air dan sari larut etanol yaitu pada simplisia 35%; 39%, dan ekstrak 33%; 42%. Hasil uji skrining fitokimia pada simplisia dan ekstrak mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Hasil uji parameter non spesifik kadar air, kadar abu, abu tidak larut asam pada simplisia dan ekstrak kulit markisa ungu yaitu 10,16%; 13,16%, 7%; 9,5%, 3,5%; 0,83%. Hasil uji bobot jenis ekstrak kulit markisa ungu 1,013 g/mL. Hasil uji cemaran mikroba dengan metode angka lempeng total (ALT, dinyatakan dalam koloni/g) dan angka kapang/khamir (AKK, dinyatakan dalam koloni/g) pada simplisia 44,2 x 103 koloni/g; 3,3 x 102 koloni/g, pada ekstrak 8,11 x 103 koloni/g; 1 x 102 koloni/g.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

REVIEW LITERATUR AKTIVITAS ANTIBAKTERI NANOPARTIKEL PERAK MENGGUNAKAN EKSTRAK TANAMAN SEBAGAI BIOREDUKTOR

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nanopartikel perak (AgNP) merupakan nanopartikel yang memiliki sifat yang stabil dan potensial serta banyak menarik perhatian karena aplikasinya yang banyak diteliti sebagai agen antibakteri. Metode sintesis nanopartikel perak umumnya menggunakan bahan kimia berbahaya dan mencemari lingkungan, sehingga banyak dikembangkan sintesis nanopartikel dari ekstrak tanaman (green synthesis). Penggunaan ekstrak tanaman sebagai bioreduktor berkaitan dengan kandungan senyawa dalam tanaman yang berperan sebagai agen pereduksi. Review ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik nanopartikel perak yang dihasilkan menggunakan agen pereduksi ekstrak tanaman dan mengetahui diameter zona hambat sebagai antibakteri dari nanopartikel perak yang dihasilkan. Pengumpulan literatur dilakukan dengan pencarian pustaka secara daring menggunakan basis data Google Scholar, Science Direct, PubMed, dan Research Gate. Literatur yang dipilih berkaitan dengan topik nanopartikel perak menggunakan ekstrak tanaman sebagai bioreduktor dan aktivitas antibakterinya serta merupakan publikasi 10 tahun terakhir. Penyusunan review dilakukan dengan pembuatan kerangka atau outline untuk review yang akan ditulis. Kerangka ini mencakup pendahuluan, nanopartikel perak, ekstrak tanaman sebagai bioredeuktor, karakterisasi nanopartikel perak, aktivitas antibakteri, serta kesimpulan dan perspektif masa depan. Berdasarkan review yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa ekstrak tanaman yang digunakan sebagai bioreduktor menghasilkan karakteristik ukuran nanopartikel perak yang berbeda-beda berkisar antara 15-500 nm dan memiliki aktivitas bakteri terhadap gram negatif dan gram positif. Ukuran nanopartikel perak juga berkorelasi positif dengan diameter zona hambat pertumbuhan bakteri, di mana semakin kecil ukuran nanopartikel, semakin besar pula zona hambat yang dihasilkan. Aktivitas antibakteri optimal ditunjukkan pada AgNP ekstrak daun arum dalu (Cestrum nocturnum) dengan ukuran partikel terkecil, diameter zona hambat yang besar, serta nilai MIC dan MBC yang rendah.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi Dan Skrining Fitokimia Kulit Buah Labu Kuning (Cucurbita moschata Dutch)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Buah labu kuning diketahui sebagai sumber fenolat yang baik, termasuk flavonoid, antosianin, dan karotenoid. Buah labu kuning memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung nutrisi dan senyawa bioaktif. Kulit buahnya memiliki tekstur yang keras dan cukup tebal hal tersebut menyebabkan buah labu kuning lebih awet dibandingkan buah lainnya. Selama ini kulit buah labu kuning dianggap sebagai limbah. Namun ternyata kulit buah labu kuning memiliki potensi sebagai antibiotik dan antioksidan. Penelitian tentang kulit labu kuning masih terbatas, sehingga perlu dilakukan eksplorasi agar pemanfaatannya lebih optimal. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning serta kandungan senyawa metabolit sekunder nya. Metode penelitian ini meliputi, determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, karakterisasi spesifik dan non spesifik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning.Variabel bebas pada penelitian ini adalah simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Variabel terikat meliputi hasil skrining fitokimia dan hasil pengukuran karakteristik simplisia dan ekstrak.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Karakterisasi simplisia serta ekstrak etanol daun dan buah limpasu (baccaurea lanceolata)

2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Baccaurea lanceolata merupakan tumbuhan obat yang berada di hutan lindung Samboja yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan limpasu. Secara empiris limpasu (Baccaurea lanceolata) digunakan oleh masyarakat suku Dayak Bakumpai sebagai obat diabetes dan buah limpasu dimanfaatkan sebagai bahan pencampur bedak dingin yang dipercaya dapat menghaluskan kulit wajah. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakterisasi simplisia serta ekstrak etanol pada daun dan buah limpasu (Baccaurea lanceolata). Penelitian tentang karakterisasi (Baccaurea lanceolata) baik parameter spesifik dan parameter non spesifik belum pernah dilaporkan. Hasil penelitian organolpetis simplisia serta ekstrak daun dan buah limpasu meliputi ekstrak kental, berbau khas, berwana hijau tua kehitaman pada ekstrak daun, berwarna coklat merah bata pada ekstrak buah, dan rasa pahit. Hasil makroskopik daun limpasu yaitu daunnya tunggal, berseling, tersusun secara spiral, pangkal tepi daunnya biasanya mengandung kelenjar, daun berbentuk bulat telur hingga bulat sungsang, daging daun tipis, panjang daun 27 cm, lebar daun 9 cm. Hasil mikroskopik fragmen pengenal pada daun yaitu epidermis, berkas pembuluh, parenkim, rambut pembuluh dan stomata. Hasil uji parameter spesifik simplisia daun, simplisia buah, ekstrak daun, ekstrak buah kadar sari larut air yaitu 3,27 %, 7,77 %, 9,18 %, 25 %, kadar sari larut etanol 3,07 %, 24 %, 14,2 % dan 45 %. Hasil uji skrining fitokimia pada simplisia dan ekstrak daun limpasu mengandung alkaloid, flavonoid dan steroid, sedangkan simplisia dan ekstrak buah limpasu mengandung alkaloid, flavonoid, tanin dan steroid. Hasil uji parameter non spesifik simplisia daun, simplisia buah, ekstrak daun dan ekstrak buah kadar air yaitu 15 %, 18 %, 0 %, 5,67 %. Kadar abu 0,26 %, 0,16 %, 0,14 %, 0,16 %, kadar abu tidak larut asam 0,20 %, 0,14 %, 0,18 %, 0,17 %. Bobot jenis simplisia serta ekstrak daun dan buah limpasu 0,90 g/ml, 0,98 g/ml pada daun, 0,98 g/ml, 0,99 g/ml pada buah. Hasil dari total cemaran mikroba pada simplisia serta ekstrak daun dan buah limpasu sebanyak 1,6 × 10-2 koloni/g, 10 × 10-3 koloni/g, 6,1 × 10-2 koloni/g dan 6,9 × 10-2 koloni/g serta angka kapang/khamir 5,5 × 10-2 koloni/g, 3 × 10-3 koloni/g, 2,8 × 10-2 koloni/g dan 0 koloni/g.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISASI EKSTRAK ETANOL DAUN SELUTUI PUKA (Tabernaemontana macrocarpa Jack)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Selutui Puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) merupakan salah satu tumbuhan berkhasiat obat yang secara empiris digunakan oleh suku Dayak Desa Karangan Kecamatan Mook Manar Bulant dengan memanfaatkan air rebusan daun selutui puka sebagai obat sakit gigi dan sariawan, getahnya dapat diminum sebagai obat tumor dan dioles untuk mengobati penyakit kudis dan kulit melepuh. Adanya beberapa manfaat dari tumbuhan selutui puka yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi obat tradisional, sehingga perlu dilakukan karakterisasi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik spesifik dan non spesifik ekstrak daun selutui puka. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian non eksperimen. Objek penetian adalah karakteristik ekstrak etanol daun selutui puka meliputi parameter spesifik : organoleptik ekstrak, kandungan senyawa metabolit sekunder, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol dan parameter non spesifik : kadar abu, kadar air, kadar abu tidak larut asam, total kapang, cemaran mikroba, bobot jenis. Tahapan penelitian meliputi identifikasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, ekstraksi dan karakterisasi ekstrak. Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif dari objek yang akan diteliti

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

KARAKTERISASI DAN UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL DAUN RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) DENGAN METODE Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan Rambutan yang akan digunakan sebagai bahan obat harus diuji kualitas mutu dengan dengan melalui serangkaian uji agar keamanannya dapat terjamin dengan melakukan uji karakterisasi dan uji toksisitas akut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menjamin mutu ekstrak melalui karakteristik parametrik spesifik dan non spesifik lalu dilanjutkan dengan mengetahui Lethal Concentration 50 (LC50) ekstrak etanol daun rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan tingkat toksisitas dari ekstrak terhadap larva Artemia salina L. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan non eksperimental, dengan tahapan penelitian antara lain: pembuatan simplisia, determinasi, ekstraksi maserasi, skrining fitokimia, karakterisasi spesifik dan non spesifik ekstrak, pembuatan larutan seri dengan konsentrasi 0 ppm sebagai kontrol (negatif), 50 ppm, 100 ppm, 200 ppm dan 300 ppm. Pengujian dilakukan dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) menggunakan larva Artemia salina Leach yang berumur 18-36 jam dan dibagi dalam 5 kelompok pengujian. Tiap kelompok pengujian terdiri dari 10 ekor larva dengan 3 kali pengulangan. Analisis data untuk menghitung LC50 dihitung menggunakan metode analisis probit.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR KARAKTERISTIK BAGIAN TUMBUHAN Ficus racemosa Linn

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Secara empiris bagian tumbuhan Ficus racemosa L. dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit seperti khasiat pada daun digunakan untuk disentri dan diare. Khasiat pada buah digunakan untuk batuk kering, luka bakar, cacingan, kusta, keputihan, kanker dan kudis. Khasiat pada kulit kayu sebagai obat penyakit kulit, pencahar, diabetes, maag, keputihan, gangguan saraf, diare dan penyakit vagina. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakteristik daun, buah dan kulit kayu dari tumbuhan Ficus racemosa L. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian studi literatur. Objek yang diteliti adalah karakteristik bagian tumbuhan Ficus racemosa L. Tahapan penelitian dimulai dari reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data yaitu data dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Hasil karakterisasi spesifik tumbuhan Ficus racemosa L., pada kadar sari larut air rata-rata ekstrak daun 10,89%, ekstrak buah 9%, ekstrak kulit kayu 11,27%, dan kadar sari larut etanol rata-rata ekstrak daun 1,78%, ekstrak buah 7%, ekstrak kulit kayu 8,48%. Hasil skrining fitokimia pada ekstrak daun (flavonoid, steroid dan terpenoid), pada ekstrak buah (alkaloid, flavonoid, tanin dan steroid), pada ekstrak kulit kayu (flavonoid, tanin, saponin, steroid dan terpenoid). Hasil karakterisasi non spesifik pada kadar abu total rata-rata ekstrak daun 11,56%, ekstrak buah 3,96%, ekstrak kulit kayu 16,31%. Kadar abu tidak larut asam rata-rata ekstrak daun 3,52%, ekstrak buah 9,29%, ekstrak kulit kayu 1,35%, sedangkan kadar abu larut air ekstrak buah rata-rata 7,45%.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail