ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Rubiyanti Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Uji Aktivitas Inhibisi Tirosinase Ekstrak Metanol Rimpang Kunyit (Curcuma longa) Secara In Vitro Pembimbing : 1. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. 2. apt. Reksi Sundu, M.Sc. Kunyit (Curcuma longa) merupakan salah satu tanaman berjenis rimpang yang banyak digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia dengan kandungan metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid dan triterpenoid. Metabolit sekunder tanaman seperti flavonoid, triterpen, dan alkaloid dapat menghasilkan inhibisi tirosinase. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas inhibisi tirosinase ekstrak metanol kunyit (Curcuma longa) yang dinyatakan dengan nilai IC50. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Objek penelitian ini adalah aktivitas inhibisi tirosinase ekstrak metanol kunyit. Proses penelitian ini diawali dengan determinasi dan pengumpulan sampel kunyit dengan kriteria tertentu, pengolahan simplisia kunyit, penetapan susut pengeringan, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penentuan aktivitas inhibisi tirosinase ekstrak metanol kunyit dengan menggunakan asam kojat sebagai pembanding. Aktivitas inhibisi tirosinase diukur dengan analisis enzimatik menggunakan microplate reader secara in vitro. Data yang dihasilkan dari penelitian ini yaitu nilai IC50 yang merupakan data kuantitatif yang kemudian dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil pengujian, susut pengeringan simplisia kunyit sebesar 7,52% ± 0,50, sedangkan kadar air ekstrak metanol mencapai 10,2% ± 1,90. Uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol kunyit mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid. Pengujian aktivitas inhibisi enzim tirosinase secara in vitro menunjukkan bahwa asam kojat sebagai kontrol positif memiliki nilai IC50 sebesar 13,01 ± 0,441 ppm dan termasuk dalam kategori inhibisi kuat. Adapun nilai IC50 dari ekstrak metanol kunyit sebesar 50,90 ± 13,40 ppm, dengan kategori inhibisi tirosinase yang kuat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hiperpigmentasi merupakan permasalahan kulit yang diakibatkan oleh peningkatan sintesis melanin akibat paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan senyawa yang mampu menghambat produksi melanin, salah satunya melalui penghambat aktivitas enzim tirosinase. Temu putih (Curcuma zedoaria Roxb.), khususnya pada bagian rimpangnya, diketahui mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai agen penghambat enzim tirosin dan mampu menghambat sintesis melanin pada kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas penghambat enzim tirosinase terhadap ekstrak metanol rimpang temu putih dengan variasi konsentrasi ekstrak sebesar 1000, 500, 250 dan 125 ppm yang ditentukan berdasarkan nilai Inhibitory Concentration (IC50) yang diperoleh dari pengukuran absorbansi ekstrak menggunakan alat microplate reader pada panjang gelombang 475 nm, sebagai pembanding digunakan asam kojat dengan konsentrasi 125, 62,5, 31,25, dan 15,627 ppm. Penelitian ini dilakukan secara in vitro menggunakan metode enzymatic analysis dengan L-DOPA sebagai substrat. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan simplisia (10,67% ± 0,45%), pembuatan ekstrak dengan hasil rendemen yaitu 9,92%, penetapan kadar air ekstrak (12,93% ± 3,13%), dan skrining fitokimia (menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik/tanin dan saponin), serta penentuan aktivitas penghambat enzim tirosinase terhadap ekstrak ekstrak metanol rimpang temu putih berdasarkan nilai IC50. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol rimpang temu putih memiliki aktivitas penghambatan enzim tirosine dengan nilai IC50 sebesar 296,076 ± 24,27 ppm, yang termasuk dalam kategori sedang, sementara itu hasil penelitian terhadap asam kojat sebagai kontrol positif menunjukkan aktivitas penghambatan enzim tirosin yang sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 12,495 ± 1,65 ppm.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Melanin merupakan pigmen utama yang membentuk warna kulit, akan tetapi pigmen melanin yang diproduksi secara berlebihan dapat menyebabkan permasalahan pada kulit seperti hiperpigmentasi. Salah satu cara untuk mengatasi hiperpigmentasi yaitu dengan adanya penghambatan terhadap aktivitas enzim tirosinase yang berperan dalam pembentukan melanin pada kulit yang menyebabkan hiperpigmentasi. Jahe merah merupakan tanaman yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder flavonoid dan fenol yang berpotensi sebagai antioksidan dan inhibitor enzim tirosinase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi ekstrak rimpang jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum Theilade) sebagai inhibitor enzim tirosinase yang digunakan sebagai bahan aktif pencerah kulit. Data yang didapatkan berupa data kualitatif dan kuantitatif yang dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pengumpulan sampel, pembuatan simplisa, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penentuan aktivitas inhibitor enzim tirosinase dinyatakan dengan nilai IC50 menggunakan metode enzimatik secara in-vitro. Pengujian dilakukan dengan menggunakan asam kojat sebagai kontrol positif dan untuk mengukur absorbansi digunakan microplate reader. Berdasarkan hasil penelitian, uji penetapan susut pengeringan menunjukkan nilai sebesar 11,27 ± 0,12, sementara rendemen ekstrak metanol rimpang jahe merah yang diperoleh adalah 5,99%. Penetapan kadar air didapatkan nilai 9,03 ± 2,48. Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa rimpang jahe merah mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik, dan triterpenoid. Selain itu, panjang gelombang yang diperoleh pada penelitian ini sebesar 475 nm. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak metanol rimpang jahe merah memiliki aktivitas inhibitor tirosinase yang tergolong sedang dengan nilai IC50 sebesar 247,9048 ± 55,6930.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Terong susu (Solanum mammosum L.) mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan. Antioksidan berfungsi mencegah kerusakan oksidatif dalam sistem biologis, sehingga berperan dalam mengurangi risiko penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung dan kanker. Secara tradisional, tanaman ini digunakan dalam pengobatan infeksi jamur, batuk, asma, serta kanker payudara melalui perebusan buahnya. Variasi konsentrasi pelarut akan memengaruhi kualitas ekstrak yang diperoleh. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak buah terong susu dengan variasi konsentrasi etanol 70% dan 95% serta vitamin C sebagai pembanding menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Penelitian bersifat eksperimental dengan tahapan meliputi determinasi tanaman, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, penetapan susut pengeringan, ekstraksi maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan microplate reader. Aktivitas antioksidan dinyatakan sebagai nilai IC₅₀. Hasil penelitian menunjukkan rendemen ekstrak etanol 70% sebesar 54,76% dan etanol 95% sebesar 13,66%. Kadar air ekstrak etanol 70% sebesar 19,86 ± 0,12% dan etanol 95% sebesar 13,05 ± 0,65%. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan triterpenoid. Nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70% sebesar 242,04 ± 59,85 ppm (kategori sedang), sedangkan etanol 95% sebesar 83,05 ± 9,71 ppm (kategori kuat). Vitamin C sebagai kontrol positif memiliki IC₅₀ 4,84 ± 1,21 ppm (sangat kuat). Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan (p 0,05). Hasil uji lanjut Tukey HSD menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 95% dan vitamin C, sedangkan ekstrak etanol 95% tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan vitamin C.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, salah satunya flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Kandungan flavonoid yang terekstraksi dari bahan alam dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, terutama berdasarkan tingkat kepolarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam dengan variasi pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95%, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penetapan kadar flavonoid total menggunakan microplate reader dengan kuersetin sebagai pembanding. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kunyit hitam positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, fenolik, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil penetapan kadar flavonoid total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar flavonoid total tertinggi sebesar 21,1633 ± 1,1145 mgQE/g, diikuti ekstrak metanol sebesar 19,6867 ± 0,8927 mgQE/g, dan ekstrak etanol 95% sebesar 18,0467 ± 1,3300 mgQE/g. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p-value 0,040 ( 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam pada variasi pelarut yang digunakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat reaksi oksidasi dengan menetralisir radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan sel dan jaringan dalam tubuh. Rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Variasi jenis dan konsentrasi pelarut dapat memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak. Penggunaan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% dilakukan karena masing-masing memiliki tingkat polaritas yang berbeda, sehingga kemampuan dalam mengekstraksi senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan juga berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% terhadap aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) menggunakan metode ABTS yang diukur dengan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan variasi pelarut, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro menggunakan metode ABTS. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan microplate reader pada panjang gelombang maksimum 728 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70%, metanol, dan etanol 95% berturut-turut sebesar 259,4 ± 2,99 ppm, 261,6 ± 9,27 ppm, dan 317,19 ± 6,26 ppm, sedangkan Vitamin C memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,22 ± 0,25 ppm. Analisis data menggunakan Uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p0,05). Ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan tertinggi karena menghasilkan nilai IC₅₀ terendah. Disimpulkan bahwa variasi pelarut memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam, dengan etanol 70% sebagai pelarut paling efektif meskipun seluruh ekstrak tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman herbal yang mengandung senyawa bioaktif, khususnya senyawa fenolik, yang diketahui memiliki aktivitas antioksidan tinggi. Kandungan senyawa fenolik yang terekstraksi dari bahan alam dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, terutama berdasarkan tingkat polaritasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak rimpang kunyit hitam dengan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95%, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penetapan kadar fenolik total menggunakan reagen Folin-Ciocalteu dengan pembanding asam galat. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kunyit hitam positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, fenolik, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil penetapan kadar fenolik total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar fenolik total tertinggi sebesar 85,8743 ± 0,8622 mg GAE/g, diikuti ekstrak metanol sebesar 53,9945 ± 0,4897 mg GAE/g dan ekstrak etanol 95% sebesar 49,9234 ± 0,9029 mg GAE/g. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p-value 0,000 (0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar fenolik total ekstrak kunyit hitam pada variasi pelarut yang digunakan.