ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang banyak
ditemukan di Indonesia dan dimanfaatkan secara tradisional sebagai bahan
pengobatan. Daun tanaman ini mengandung berbagai metabolit sekunder seperti
flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan senyawa fenolik yang berperan sebagai
antioksidan. Kandungan senyawa fenolik dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut
yang digunakan selama proses ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kadar fenolik total ekstrak daun jarak pagar menggunakan variasi
pelarut etanol 70%, etanol 95%, dan metanol. Penelitian menggunakan rancangan
eksperimental dengan teknik purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi
determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode
maserasi, skrining fitokimia, serta penetapan kadar fenolik total menggunakan
metode Folin-Ciocalteu yang diukur secara spektrofotometri UV-Vis dengan
asam galat sebagai standar. Data dianalisis menggunakan uji normalitas, uji
homogenitas, One Way ANOVA, dan dilanjutkan dengan uji post hoc Bonferroni.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total ekstrak etanol 70%,
etanol 95%, dan metanol berturut-turut sebesar 22,8289 ± 1,53 mg GAE/g,
36,0400 ± 0,66 mg GAE/g, dan 20,6133 ± 2,62 mg GAE/g. Uji One Way ANOVA
menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar ketiga kelompok pelarut
(p<0,05). Hasil uji lanjut Bonferroni menunjukkan bahwa ekstrak etanol 95%
berbeda signifikan dengan ekstrak etanol 70% dan metanol, sedangkan antara
ekstrak etanol 70% dan metanol tidak terdapat perbedaan yang signifikan
(p>0,05). Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 95%
menghasilkan kadar fenolik total tertinggi, sehingga lebih efektif dibandingkan
etanol 70% dan metanol dalam mengekstraksi senyawa fenolik daun jarak pagar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman herbal yang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, salah satunya flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan. Kandungan flavonoid yang terekstraksi dari bahan alam dapat dipengaruhi oleh jenis pelarut yang digunakan, terutama berdasarkan tingkat kepolarannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam dengan variasi pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol teknis, etanol 70%, dan etanol 95%, penetapan susut pengeringan, penetapan kadar air, skrining fitokimia, serta penetapan kadar flavonoid total menggunakan microplate reader dengan kuersetin sebagai pembanding. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak rimpang kunyit hitam positif mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, fenolik, flavonoid, dan triterpenoid. Hasil penetapan kadar flavonoid total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% memiliki kadar flavonoid total tertinggi sebesar 21,1633 ± 1,1145 mgQE/g, diikuti ekstrak metanol sebesar 19,6867 ± 0,8927 mgQE/g, dan ekstrak etanol 95% sebesar 18,0467 ± 1,3300 mgQE/g. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p-value 0,040 ( 0,05), sehingga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar flavonoid total ekstrak rimpang kunyit hitam pada variasi pelarut yang digunakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Antioksidan merupakan senyawa yang mampu menghambat reaksi oksidasi dengan menetralisir radikal bebas sehingga dapat mencegah kerusakan sel dan jaringan dalam tubuh. Rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Variasi jenis dan konsentrasi pelarut dapat memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak. Penggunaan pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% dilakukan karena masing-masing memiliki tingkat polaritas yang berbeda, sehingga kemampuan dalam mengekstraksi senyawa bioaktif yang berperan sebagai antioksidan juga berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan variasi pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% terhadap aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) menggunakan metode ABTS yang diukur dengan microplate reader. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang meliputi pembuatan simplisia, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan variasi pelarut, skrining fitokimia, dan pengujian aktivitas antioksidan secara in vitro menggunakan metode ABTS. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan microplate reader pada panjang gelombang maksimum 728 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ ekstrak etanol 70%, metanol, dan etanol 95% berturut-turut sebesar 259,4 ± 2,99 ppm, 261,6 ± 9,27 ppm, dan 317,19 ± 6,26 ppm, sedangkan Vitamin C memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,22 ± 0,25 ppm. Analisis data menggunakan Uji Anova menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar perlakuan (p0,05). Ekstrak etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan tertinggi karena menghasilkan nilai IC₅₀ terendah. Disimpulkan bahwa variasi pelarut memengaruhi aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam, dengan etanol 70% sebagai pelarut paling efektif meskipun seluruh ekstrak tergolong memiliki aktivitas antioksidan sangat lemah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bunga telang (Clitoria ternatea L.) saat ini semakin populer di Indonesia karena dikenal mempunyai berbagai manfaat kesehatan, bunga telang menjadi sebagai sumber flavonoid. Konsentrasi pelarut yang digunakan sebagai cairan penyari dapat berpengaruh terhadap kadar senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak bahan alam. Flavonoid adalah salah satu kandungan senyawa yang dimiliki ekstrak bunga telang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar flavonoid ekstrak bunga telang berdasarkan variasi konsentrasi pelarut etanol yaitu 50, 70 dan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai susut pengeringan simplisia bunga telang sebesar 7,12 ± 1,89%. Hasil skrining semua ekstrak menunjukkan terdapat senyawa metabolit sekunder golongan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid. Data lain yang diperoleh meliputi rendemen, kadar air, dan kadar flavonoid pada tiga variasi konsentrasi pelarut etanol yaitu 50%, 70% dan 95%. Data rendemen yang diperoleh berturut-turut sebesar 57,14%, 54,08%, dan 40,72%. Sedangkan pada penetapan kadar air berturut-turut sebesar 9,44 ± 2,17%, 8,99 ± 2,12%, dan 7,75 ± 1,97%. Hasil penetapan kadar flavonoid ekstrak etanol bunga telang berdasarkan variasi konsentrasi pelarut etanol, diperoleh kadar tertinggi pada etanol 95% (1,2939 ± 0,0880 %), etanol 70% (0,6958 ± 0,0573%), dan etanol 50% (0,5811% ± 0,0142%). Hasil analisis statistika pada uji ANOVA menunjukan bahwa ada perbedaan rata-rata yang signifikan pada tiga kelompok data.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk membandingkan hasil rendemen ekstraksi daun pepaya dengan menggunakan berbagai pelarut yang berbeda. Daun pepaya merupakan tumbuhan yang berasal dari daerah tropis, masyarakat pada umumnya menggunakan daun pepaya sebagai pelunak daging, pengobatan malaria, demam berdarah, pereda nyeri haid dan juga anti jerawat. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, majalah ilmiah serta dokumen yang terkait seperti skripsi dan jurnal ilmiah. Data yang diambil dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Hasil penelitian nilai rendemen pada perbedaan pelarut dari ekstraksi maserasi daun pepaya menghasilkan nilai rendemen yang berbeda-beda disetiap pelarutnya hal ini disebabkan oleh pelarut apa yang digunakan, ukuran partikel, jumlah sampel, metode ekstraksi yang digunakan, lama waktu ekstraksi.