ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nephrolepis biserrata (Sw.) Schott merupakan salah satu jenis tumbuhan paku yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, dan steroid yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan dari ekstrak metanol daun Nephrolepis biserrata. Penelitian ini dilakukan secara non eksperimental, sampel daun paku diekstraksi menggunakan pelarut metanol. Pengujian aktivitas antioksidan ekstrak metanol daun paku menggunakan DPPH (1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl) sebagai radikal bebas yang diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 516 nm. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak metanol daun paku diperoleh ekstrak kental dengan persentase rendemen 21,12% dan persentase kadar air dengan nilai rata-rata 17,34%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa flavonoid, tanin dan steroid. Hasil uji aktivitas antioksidan diperoleh nilai IC₅₀ sebesar 121,48 ± 18,77 ppm yang termasuk dalam kategori antioksidan sedang, sedangkan vitamin C sebagai kontrol positif memiliki nilai IC₅₀ sebesar 5,91 ± 0,058 ppm dan tergolong sangat kuat. Uji statistik menggunakan uji Independent Sample T-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara aktivitas antioksidan ekstrak daun paku dan vitamin C p = 0,049 (0,05). Berdasarkan hasil tersebut membuktikan bahwa ekstrak metanol daun paku Nephrolepis biserrata memiliki potensi sebagai antioksidan alami, meskipun aktivitasnya lebih rendah dibandingkan vitamin C.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bajakah merupakan tumbuhan yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan tanin yang berpotensi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan yang ada pada batang bajakah dengan ekstrak etanol dan menggunakan metode uji DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) sebagai radikal bebas. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental, sampel batang bajakah diekstraksi menggunakan pelarut etanol 70%. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, pembuatan ekstrak etanol batang bajakah dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrinning fitokimia, pengujian aktivitas antioksidan melalui spektrofotometer UV-Vis dan analisis data. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah batang bajakah (Spatholobus littoralis Hassk). Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung flavonoid, fenolik, saponin, dan terpenoid. Uji kuantitatif menghasilkan nilai IC₅₀ ekstrak sebesar 206,81 ppm (kategori sangat lemah), sedangkan kontrol positif vitamin C memiliki nilai IC₅₀ 7,62 ppm (kategori sangat kuat). Analisis statistik dengan uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi normal (p=0,061 > 0,05). Uji independent sample T-Test dengan Levene test sig 0,018 (p<0,05) menghasilkan nilai p=0,015 (p<0,05), yang menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kelompok ekstrak batang bajakah dan vitamin C. Hasil uji ekstrak etanol batang bajakah memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami, namun efektivitasnya masih jauh lebih rendah dibandingkan vitamin C sehingga perlu proses penyesuaian metode ekstraksi atau kombinasi dengan senyawa lain.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif, seperti kanker dan penyakit jantung. Senyawa antioksidan alami dibutuhkan untuk menangkal kerusakan sel akibat stres oksidatif. Daun kelor (Moringa oleifera L.) mengandung flavonoid dan polifenol yang memiliki potensi sebagai antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antioksidan ekstrak daun kelor yang diperoleh melalui metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi literatur deskriptif-komparatif terhadap beberapa jurnal ilmiah, dengan fokus pada dua jurnal utama: Verawati et al. (2020) dan Nurulita et al. (2019). Uji aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH dengan parameter nilai IC₅₀. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai IC₅₀ dari ekstrak daun kelor masing-masing sebesar 87,45 µg/mL dan 97,48 µg/mL, yang termasuk dalam kategori aktivitas antioksidan sedang. Variasi nilai dipengaruhi oleh durasi maserasi (2-3 hari) dan metode evaporasi pelarut (rotary evaporator vs oven). Kesimpulannya, metode maserasi dengan pelarut etanol 70% cukup efektif dalam menghasilkan ekstrak daun kelor dengan potensi antioksidan yang signifikan. Temuan ini memperkuat peluang pemanfaatan daun kelor sebagai bahan alami dalam pengembangan produk kesehatan preventif berbasis antioksidan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah jeruk mengandung vitamin C yang bermanfaat sebagai antioksidan yang berfungsi untuk membentuk sistem imun bagi tubuh sehingga mampu membantu terlindung dari berbagai penyakit. Vitamin C merupakan salah satu dari berbagai macam vitamin yang berperan penting pada proses metabolisme dan pertumbuhan. Vitamin C bersifat tidak stabil, rusak dalam pemanasan, mudah teroksidasi oleh udara, dan mudah rusak oleh basa Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada jenis buah jeruk (Citrus sp) dengan metode iodimetri. Rancangan penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal. Objek penelitian ini yaitu kadar vitamin C dalam buah jeruk limau, jeruk nipis, jeruk lemon dan jeruk sunkist. Analisis data dilakukan dengan I metode deskriptif. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data rata-rata kadar vitamin C pada buah jeruk diperoleh dari jurnal ilmiah. Hasil penelitian yang diperoleh dari data jurnal tersebut menunjukan bahwa kadar rata-rata vitamin C jeruk limau sebesar 0,113%, jeruk lemon sebesar 0,060%, jeruk sunkist sebesar 0,034%, dan jeruk nipis sebesar 0,02790.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar vitamin C yang terkandung di dalam buah dan keripik nanas. Vitamin C merupakan senyawa antioksidan yang efektif untuk mengusir bakteri serta menghilangkan radikal bebas dan berbahaya yang dapat merusak sel atau jaringan. Sebagai antioksidan, vitamin C harus dipertahankan dalam tubuh pada tingkat yang relatif tinggi sebab jika tubuh dalam kondisi kekurangan vitamin C gejala scurvy akan sangat mudah terjadi. Vitamin C biasanya terdapat pada buah maupun sayuran, dan salah satu buah yang mengandung vitamin C adalah Nanas. Nanas merupakan salah satu buah yang sering kali dijumpai karena banyak dibudidayakan oleh masyarakat dan juga dapat diolah menjadi berbagai macam produk olahan lain seperti keripik nanas. Ada beberapa metode yang dapat digunakan dalam menentukan kadar vitamin C salah satunya yaitu Spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian ini yaitu dengan mereduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Analisis data yang digunakan yaitu dengan metode deskriptif berupa data kuantitatif yang dipaparkan dengan sebaik mungkin sehingga dapat diinterprestasikan secara mudah. Hasil penelitian didapatkan kadar vitamin C pada nanas segar berkisar antara 48,33– 440,988 mg/100 g dan dalam keripik nanas berkisar antara 96,84–290,68 mg/100 g.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui kadar vitamin C pada beberapa jenis cabai. Vitamin C atau asam askorbat adalah salah satu vitamin yang larut dalam air, mudah teroksidasi, dan peka terhadap rangsangan cahaya. Vitamin C banyak terdapat di buah dan sayuran, salah satunya pada cabai. Vitamin C pada cabai memiliki fungsi sebagai antioksidan yang baik untuk tubuh mampu meningkatkan daya tahan tubuh yang diserap oleh kalsium dalam tubuh, membantu proses metabolisme tubuh. Vitamin C berperan dalam pembentukan kolagen interseluler. Pengukuran kadar vitamin C penting dilakukan, salah satunya dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian studi literatur. Tahap penelitian yaitu, reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas, sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data yaitu data dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data yang digunakan adalah dengan metode deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif yang dipaparkan secara baik sehingga dapat diinterpretasikan secara mudah. Hasil perbandingan kadar vitamin C pada beberapa jenis cabai mulai dari yang tertinggi berturut-turut adalah cabai keriting (571,4 mg/100 g), cabai rawit (431 mg/100 g), cabai katokkon (211,4 mg/100g), cabai paprika merah (29,961 mg/100 g), cabai paprika kuning (19,155 mg/100 g), dan cabai paprika hijau (11,967 mg/100 g).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis kandungan vitamin C pada daun kelor segar, simplisia, ekstrak, dan yang telah mengalami proses perebusan, dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Tanaman kelor (Moringa oleifera Lam.) merupakan tanaman yang mengandung banyak vitamin C. Dalam 100 gram daun kelor mengandung vitamin C yang setara dengan 7 kali kandungan yang ada pada buah jeruk. Vitamin C memiliki banyak manfaat bagi tubuh, diantaranya untuk pencegahan dan pengobatan skorbut serta sebagai antioksidan kuat. Kandungan vitamin C dapat ditentukan dengan beberapa metode, salah satu metode yang digunakan untuk menentukan kandungan vitamin C yaitu metode spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan literatur, reduksi data, penyajian data dalam tabel deskriptif, dan pengambilan kesimpulan. Analisis data yang digunakan berupa analisis secara deskriptif. Hasil penelitian dari ketiga literatur yang digunakan menunjukkan kandungan vitamin C paling tinggi terdapat pada ekstrak air natrium daun kelor pada ketinggian 296 mdpl sebanyak 413,71 ppm, ketinggian 20 mdpl sebanyak 296,4 ppm, ketinggian 50 mdpl sebanyak 267,12 ppm, kemudian kandungan vitamin C daun kelor segar 37,92 ppm, daun kelor rebus 15 menit 33,90 ppm, daun kelor rebus 30 menit 12,19 ppm, daun kelor kering 8,17 ppm, dan kandungan vitamin C paling rendah yaitu ekstrak etanol daun kelor sebanyak 3,22 ppm.