Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

56 hasil
Penulis: DEWI
DaftarKartu
BookOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR BAHAN KIMIA OBAT PARASETAMOL DALAM JAMU PEGAL LINU MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

2026•Koleksi Perpustakaan

Bahan kimia obat (BKO) parasetamol merupakan salah satu senyawa sintetis yang sering disalahgunakan dalam pembuatan jamu tradisional untuk memberikan efek cepat dalam meredakan nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan bahan kimia obat (BKO) parasetamol dalam jamu pegal linu yang beredar di pasar tradisional Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman, serta menentukan kadarnya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi persiapan dan pengumpulan sampel, preparasi larutan sampel jamu pegal linu, analisis kualitatif parasetamol menggunakan pereaksi FeCl₃ 10%, K₂Cr₂O₇ 0,1 N, dan tollens, pembuatan larutan baku parasetamol, penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi, serta analisis kuantitatif parasetamol pada jamu menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan hasil kualitatif dan kuantitatif dalam bentuk narasi dan tabel berdasarkan hasil pengukuran laboratorium. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengawasan mutu obat tradisional serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penggunaan jamu yang mengandung bahan kimia obat.

32 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT PASIEN HIPERTENSI PADA PASIEN POLI PENYAKIT DALAM DI RSUD AJI MUHAMMAD PARIKESIT TENGGARONG

2026•Koleksi Perpustakaan

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi hipertensi seringkali disertai dengan penyakit lain sehingga pasien mendapatkan terapi lebih dari satu obat. Kombinasi obat ini berpotensi untuk terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit periode Juli-Desember 2025. Jenis penelitian ini merupakan non-eksperimental dengan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi mekanisme interaksi dan tingkat keparahan (major, moderate, minor). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 263 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 206 (78,33%) sampel yang berpotensi mengalami interaksi obat dengan total kejadian sebanyak 562 interaksi. Berdasarkan severity level dari total kejadian tersebut, interaksi tingkat moderate merupakan interaksi yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 493 (87,72%), diikuti minor sebesar 51 (9,07%), dan major sebesar 18 (3,20%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi adalah pasangan obat amlodipin dengan atorvastatin sebanyak 56 (9,96%) dengan kategori moderate.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN POTENSI INTERAKSI OBAT PASIEN HIPERTENSI DI POLI PENYAKIT DALAM RSUD AJI MUHAMMAD PARIKESIT TENGGARONG

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi hipertensi seringkali disertai dengan penyakit lain sehingga pasien mendapatkan terapi lebih dari satu obat. Kombinasi obat ini berpotensi untuk terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit periode Juli-Desember 2025. Jenis penelitian ini merupakan non-eksperimental dengan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi mekanisme interaksi dan tingkat keparahan (major, moderate, minor). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 263 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 206 (78,33%) sampel yang berpotensi mengalami interaksi obat dengan total kejadian sebanyak 562 interaksi. Berdasarkan severity level dari total kejadian tersebut, interaksi tingkat moderate merupakan interaksi yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 493 (87,72%), diikuti minor sebesar 51 (9,07%), dan major sebesar 18 (3,20%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi adalah pasangan obat amlodipin dengan atorvastatin sebanyak 56 (9,96%) dengan kategori moderate.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS BAHAN KIMIA OBAT PARASETAMOL DALAM JAMU PEGAL LINU MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bahan kimia obat (BKO) parasetamol merupakan senyawa sintetis yang dilarang ditambahkan ke dalam jamu, namun masih dapat ditemukan pada produk jamu pegal linu. Penelitian ini bertujuan menganalisis keberadaan dan menetapkan kadar parasetamol pada jamu pegal linu yang beredar di pasar tradisional Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan teknik purposive sampling terhadap 10 sampel jamu berkode A–J. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan FeCl₃ 10% dan pereaksi Tollens, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis melalui penentuan λmaks, pembuatan kurva kalibrasi, dan pengukuran absorbansi sampel. Hasil kualitatif menunjukkan sampel B, E, dan H positif mengandung parasetamol. λmaks diperoleh pada 249 nm dan kurva kalibrasi menggunakan standar 5–25 ppm memberikan persamaan y = 0,0779x − 0,0294 dengan r = 0,9999. Kadar rata-rata parasetamol pada sampel B, C, D, E, F, G, H, dan I berturut-turut sebesar 0,0564%; 0,0326%; 0,0066%; 0,5385%; 0,0280%; 0,0004%; 0,4711%; dan 0,0126%, sedangkan A dan J tidak terdeteksi. Dapat disimpulkan bahwa sebagian sampel jamu pegal linu yang diteliti mengandung BKO parasetamol dengan kadar yang bervariasi, sehingga diperlukan pengawasan mutu dan kehati-hatian masyarakat dalam memilih jamu.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RIMPANG KUNYIT HITAM (Curcuma Caesia Roxb.) DENGAN VARIASI PELARUT MENGGUNAKAN METODE DPPH (2.2-diphenyl-1-picrylhidrazyl)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) merupakan tanaman famili Zingiberaceae yang berpotensi sebagai sumber antioksidan alami. Kandungan metabolit sekunder dalam rimpang kunyit hitam sangat dipengaruhi oleh proses ekstraksi, terutama pemilihan jenis pelarut. Perbedaan tingkat polaritas pelarut diketahui dapat memengaruhi jumlah dan jenis senyawa metabolit sekunder yang terekstraksi, sehingga pada akhirnya turut menentukan aktivitas antioksidan ekstrak yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak rimpang kunyit hitam yang diperoleh melalui ekstraksi maserasi menggunakan tiga pelarut berbeda, yaitu etanol 70%, etanol 95%, dan metanol, dengan aktivitas antioksidan diukur menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan rendemen tertinggi diperoleh dari ekstrak etanol 70% (16,60%), diikuti ekstrak metanol (12,01%), sedangkan ekstrak etanol 95% memberikan rendemen terendah (8,44%). Pada pengujian kadar air, ekstrak metanol memiliki nilai paling rendah (3,05 ± 0,04%) dibandingkan ekstrak etanol 95% (9,45 ± 0,32%) dan etanol 70% (10,85 ± 0,24%). Uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% mengandung alkaloid, flavonoid, dan tanin, sedangkan ekstrak etanol 95% dan ekstrak metanol memiliki kandungan yang lebih lengkap dengan tambahan triterpenoid. Nilai IC₅₀ ketiga ekstrak berada pada rentang yang berdekatan, yaitu 205,01 ± 4,53 ppm untuk etanol 70%, 217,30 ± 2,13 ppm untuk etanol 95%, dan 210,59 ± 2,10 ppm untuk etanol 95%, yang seluruhnya tergolong dalam kategori aktivitas antioksidan sangat lemah. Sebagai pembanding, vitamin C sebagai kontrol positif menunjukkan nilai IC₅₀ jauh lebih rendah (3,23 ± 0,03 ppm), yang mengindikasikan aktivitas antioksidan sangat kuat. Hasil uji One Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p 0,05) antar kelompok. Namun, uji lanjut Post Hoc Tukey HSD menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan antar ketiga jenis ekstrak tidak berbeda secara signifikan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK KULIT TAMPOI (Baccaurea pyriformis Gage)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tumbuhan endemik di berbagai daerah masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian terkait pencarian antioksidan baru dari sumber alami, terutama dari bagian tanaman yang belum termanfaatkan, menjadi sangat relevan. Perhatian terhadap sumber antioksidan alami meningkat seiring kebutuhan untuk melawan radikal bebas penyebab penyakit degeneratif. Kulit buah tampoi (Baccaurea Pyriformis Gage), yang merupakan limbah pertanian, berpotensi tinggi mengandung senyawa bioaktif, khususnya kelompok flavonoid, yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan signifikan. Penelitian non-eksperimental ini bertujuan menetapkan kadar flavonoid total dalam ekstrak kulit tampoi secara kuantitatif. Sampel kulit tampoi matang dari Kalimantan Tengah, Palangkaraya diolah menjadi simplisia, dilanjutkan dengan ekstraksi melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Kuantifikasi kadar flavonoid total dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis yang melibatkan pereaksi AlCl₃ dan menggunakan kuersetin sebagai standar. Hasil pengukuran menunjukkan panjang gelombang maksimum pada 440 nm dengan persamaan regresi linear y = 0,0079x - 0,0063 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,9963. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar flavonoid total yang terkandung dalam ekstrak etanol kulit buah tampoi adalah sebesar 3,8409% dengan nilai Standar Deviasi (SD) sebesar 0,091. Kadar ini tergolong lebih tinggi dibandingkan kadar flavonoid pada bagian biji buah tampoi yang dilaporkan pada penelitian terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah tampoi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami dari bahan alam.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PENGGUNAAN OBAT CACING PADA ANAK DI BEBERAPA DESA WILAYAH KECAMATAN BENTIAN BESAR KABUPATEN KUTAI BARAT

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior. Penyakit cacingan masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, khususnya pada kelompok anak-anak. Infeksi cacing dapat menimbulkan dampak serius seperti kekurangan gizi, anemia, dan hambatan pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan ibu mengenai penggunaan obat cacing pada anak di Desa Dilang Puti dan Desa Suakong, Kabupaten Kutai Barat. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Responden penelitian ialah Ibu yang memiliki anak berusia 1–5 tahun dan bersedia berpartisipasi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner tertutup untuk menilai pengetahuan ibu tentang penggunaan obat cacing, kemudian dianalisis secara deskriptif guna memperoleh gambaran tingkat pengetahuan responden. Hasil penelitian di Desa Dilang Puti menunjukkan bahwa dari 75 responden, mayoritas memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik sebanyak 57 orang (76%), kurang baik sebanyak 17 orang (22,7%), dan kurang baik 1 orang (1,3%). Sementara itu, hasil penelitian di Desa Suakong menunjukkan bahwa dari 48 responden, sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 44 orang (97,7%), cukup baik sebanyak 4 orang (8,3%), dan tidak terdapat responden dengan kategori kurang baik (0%). Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan ibu tentang penggunaan obat cacing pada anak 1-5 tahun di Desa Dilang Puti dan Desa Suakong termasuk dalam kategori baik.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN WAKTU TUNGGU RESEP OBAT PASIEN KAPITASI BPJS DI APOTEK KIMIA FARMA SUTOMO SAMARINDA

2026•Koleksi Perpustakaan

Nama : Dewi oktafiana Progam Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Gambaran Waktu Tunggu Resep Obat Pasien Kapitasi BPJS di Apotek Kimia Farma Sutomo Samarinda Pembimbing 1. apt. Rusdiati Helmidanora, M.Sc 2. apt. Husnul Warnida M.Si Waktu tunggu resep merupakan waktu tunggu dihitung dari pasien menyerahkan resep ke pihak farmasi untuk disiapkan sampai obat diterima oleh pasien. Menurut Permenkes RI Nomor 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Apotek bahwa resep non racikan ≤ 15 menit dan resep racikan ≤ 30 menit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep obat pasien kapitasi BPJS di Apotek kimia farma Sutomo Samarinda dengan Permenkes RI Nomor 73 tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode prospektif terhadap resep obat pasien kapitasi BPJS yang masuk di Apotek Kimia Farma Sutomo Samarinda periode bulan Desember 2025. Data yang di peroleh berupa waktu tunggu resep kemudian di analisis menggunakan mikrosoft Excel. Diperoleh hasil penelitian jumlah sampel sebanyak 464 resep yang terdiri dari 125 resep racikan (26,9%) dan 339 resep non racikan (73.1%). Perhitungaan rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat racikan adalah 17,10 menit dan rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan adalah 8,44 menit. Rata-rata waktu tunggu pelanyanan resep obat baik racikan maupun non racikan telah memenuhi Permenkes RI No.73 waktu tunggu pelayanan resep di Apotek waktu tunggu pelayanan resep racikan ≤ 30 menit dan waktu tunggu resep non racikan adalah ≤ 15 menit.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail