Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

14 hasil
Subjek: Fraksi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Uji Aktivitas Tabir Surya Ekstrak Etanol dan Fraksi Daun Senduduk (Melastoma malabathricum L.) Dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Melastoma malabathricum L. (senduduk) dikenal memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antiseptik, antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan. Kandungan metabolit sekundernya, seperti flavonoid, tanin, dan triterpenoid, berpotensi sebagai agen tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak etanol serta fraksi n-heksan, etil asetat, dan etanol-air daun senduduk. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan tanin; sedangkan komposisi senyawa bervariasi pada masing-masing fraksi. Pada konsentrasi 800 ppm, nilai SPF tertinggi diperoleh dari fraksi etil asetat (30,91 ± 0,43) dan ekstrak etanol (30,06 ± 1,70), dikategorikan sebagai aktivitas tinggi. Fraksi n-heksan dan fraksi air masing-masing menunjukkan nilai SPF sebesar 22,37 ± 0,06 dan 19,00 ± 0,31 (kategori sedang). Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p = 0.000), namun tidak terdapat perbedaan signifikan antara ekstrak etanol dan fraksi etil asetat (p = 0.281). Dengan demikian, fraksi etil asetat dan ekstrak etanol memiliki potensi setara sebagai agen pelindung terhadap sinar UV.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa (Korth.) Havil) DENGAN METODE ABTS (2,2-azinobis-3-etilbenzatiazolin-6-sulfonat)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Radikal bebas adalah atom atau molekul dengan elektron tidak berpasangan yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif, sehingga dapat merusak sel-sel tubuh dengan menyerang makromolekul seperti lipid, asam nukleat, dan protein. Kerusakan ini dapat dicegah oleh senyawa antioksidan, yang mampu menghambat atau mencegah proses oksidasi. Antioksidan alami dapat ditemukan dalam berbagai tanaman, salah satunya adalah daun kratom yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan metode ABTS (2,2-azinobis-3-etilbenzoatiazolin-6-sulfonat). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kratom, serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Daun kratom diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Dilakukan fraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan etanol air terhadap ekstrak etanol daun kratom, setelah itu dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS terhadap ekstrak dan fraksi daun kratom. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% daun kratom diperoleh nilai IC50 2,7101 ppm, fraksi n-heksan nilai IC50 16,4710 ppm, fraksi etil asetat IC50 4,4733 ppm, dan fraksi etanol air nilai IC50 6,1873 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi di antara sampel lainnya karena nilai IC50 ekstrak etanol yang paling rendah dibanding fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, fraksi etanol air.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN PETAI BELALANG (Archidendron clypearia) (Jack) Nielsen DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Archidendron clypearia (Jack) Nielsen, dikenal sebagai petai belalang, merupakan tumbuhan yang mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti flavonoid (robenetin, fisetin, kuersetin), asam galat, alkaloid, tanin, serta antioksidan yang berpotensi sebagai agen tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol daun petai belalang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi airnya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan variabel bebas berupa jenis ekstrak dan fraksi, serta variabel terikat berupa nilai Sun Protection Factor (SPF). Variabel kontrol adalah daun petai belalang, etanol 70%, metode ekstraksi, dan metode spektrofotometri. Hasil uji menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki nilai SPF tertinggi pada konsentrasi 400 ppm yaitu 38,44 ± 0,05 (kategori tinggi), diikuti oleh ekstrak etanol sebesar 33,40 ± 2,28 (kategori tinggi), fraksi air sebesar 21,75 ± 0,23 (kategori sedang), dan fraksi n-heksan sebesar 8,54 ± 0,07 (kategori rendah). Uji statistik menunjukkan nilai signifikansi untuk semua kelompok menunjukan p = 0,001 0,05 yang berarti adanya perbedaan rata-rata yang signifikan antar kelompok. Hasil ini menunjukan bukti variabel yang diuji berpengaruh atau berbeda secara nyata antar kelompok adanya perbedaan tersebut menujukan bahwa setiap kelompok mempunyai kemampuan sebagai tabir surya yang berbeda mengikuti tingkat kelarutan pelarut masing-masing.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL MADU KELULUT (Heterotrigona itama) DAN FRAKSINYA DARI KECAMATAN LOA JANAN ILIR KOTA SAMARINDA DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Madu kelulut (Heterotrigona itama) adalah madu alami yang dihasilkan oleh lebah tanpa sengat seperti yang banyak dibudidayakan di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa jenis madu tanpa sengat memiliki senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kesehatan, salah satunya yaitu flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar flavonoid total madu kelulut budidaya dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda Kalimantan Timur dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimental dengan objek atau sampel yang diteliti adalah madu hasil lebah kelulut (Heterotrigona itama). Prosedur penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, ekstraksi menggunakan pelarut etanol 95% dengan metode maserasi, fraksinasi ekstrak kental menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol, skrinning fitokimia dan uji kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding kuersetin. Kadar flavonoid total dinyatakan dalam satuan mgQE/gram ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid ekstrak etanol 95% adalah 0,0607±0,0064 mgQE/g, fraksi n-heksana 0,0571±0,0012 mgQE/g, fraksi etil asetat 0,2031±0,0017 mgQE/g, dan fraksi air 0,0198±0,0008 mgQE/g. Uji normalitas menunjukkan distribusi nilai kadar flavonoid total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar flavonoid total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,025 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar flavonoid dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) berbeda secara signifikan.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona Itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Nama : Mei Lika Syaroh NIM : 21482011255 Judul Skripsi : Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Pembimbing : 1. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. 2. apt. Siti Jubaidah, S.Far., M.Pd. Madu kelulut merupakan madu yang berasal dari lebah tanpa sengat (Heterotrigona itama) yang memiliki manfaat aktivitas bioligis sebagai antibakteri, antiinflamasi dan penyembuh luka, serta memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya yaitu fenolik. Senyawa fenolik merupakan senyawa kimia yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan gugus kromofor. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol pada madu kelulut dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Data kualitatif diperoleh melalui skrinning fitokimia madu kelulut, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari penetapan kadar senyawa fenolik pada madu kelulut. Tahapan penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia madu kelulut, ekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, fraksinasi bertingkat, skrining fitokimia, dan uji kadar fenolik total ekstrak etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding asam galat. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenolik ekstrak etanol 95% adalah 1,2958±0,1362 mgGAE/g, fraksi n-heksana 1,2535±0,0254 mgGAE/g, fraksi etil asetat 2,9765±0,0733 mgGAE/g, dan fraksi etanol-air 1,1712±0,0175 mgGAE/g. Uji normalitas menunjukkan kadar fenolik total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar fenolik total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,055 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar fenolik dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) tidak ada perbedaan yang signifikan.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK DAN FRAKSI DAUN KOKANG (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia terletak di garis khatulistiwa sehingga memungkinkan terpapar sinar matahari dengan intensitas tinggi yang dapat merusak kulit akibat radiasi UV A dan UV B. Daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) berpotensi sebagai tabir surya alami dan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Variabel terikatnya adalah aktivitas tabir surya ekstrak dan fraksi daun kokang. Hasil penelitian pada serbuk simplisia daun kokang didapatkan nilai susut pengeringan 10,73% dan hasil rendemen ekstrak 15,4% dengan nilai kadar air ekstrak 6,39%. Hasil yang didapatkan dari rendemen fraksi n-heksan 10,04%, fraksi etil asetat 22,92%, dan fraksi etanol air 36,96%. Hasil penelitian terhadap nilai SPF (Sun Protection Factor) menunjukkan konsentrasi 2500 ppm berturut-turut yaitu pada fraksi n-heksan memiliki nilai SPF 34,46 ± 0,13 (high protection), fraksi etanol air 29,73 ± 0,03 (medium protection), ekstrak etanol 28,94 ± 0,35 (medium protection) dan nilai SPF paling rendah pada fraksi etil asetat 15,91 ± 0,07 (medium protection). Hasil analisis data menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi memiliki nilai signifikansi (sig.) > 0,05 yang artinya berdistribusi normal, serta nilai homogenitas varians sebesar 0,206 (> 0,05) yang menunjukkan varians homogen. Uji One-Way Analysis of Variance (ANOVA) dinyatakan adanya perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai keempat sampel (p 0,05). Analisis data lanjutan menggunakan Uji Post Hoc Test (PHT) didapatkan bahwa keempat sampel memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda sehingga tidak dapat dianggap identik.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN BAKAU HITAM (Rhizophora mucronata Poir.) MENGGUNAKAN METODE DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil)

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Bakau hitam (Rhizophora mucronata Poir.) termasuk famili Rhizoporaceae, merupakan tumbuhan yang tumbuh di sepanjang pesisir pantai Indonesia yang memiliki potensi sebagai sumber senyawa bioaktif termasuk antioksidan. Daun bakau hitam diketahui memiliki beberapa kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, fenol, polifenol, dan saponin yang berpotensi sebagai antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai IC50 sebagai parameter aktivitas antioksidan dari ekstrak serta fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air daun bakau hitam. Daun bakau hitam diekstraksi dengan metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Dilakukan fraksinasi dengan pelarut a-heksana, etil asetat, dan air terhadap ekstrak etanol yang diperoleh setelah itu dilakukan pengujian kadar antioksidan menggunakan metode DPPH terhadap ekstrak dan fraksi yang dihasilkan. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 95% daun bakau hitam diperoleh nilai IC50 38,8254 ppm, fraksi air nilai IC50 sebesar 41,4876 ppm, fraksi etil asetat sebesar 90,6051 ppm, dan fraksi n-heksan sebesar 117,7765 ppm. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 95% memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi di antara fraksi yang lain karena nilai IC50 ekstrak etanol 95% yang paling rendah diantara fraksi lainnya.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS TABIR SURYA EKSTRAK ETANOL DAN FRAKSI DAUN BAKAU (Rhizophora mucronata Poir.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun bakau hitam (Rhizophora mucronata Poir.) merupakan tumbuhan yang memiliki khasiat pada daunnya yaitu sebagai antivirus, antibakteri, dan antidiabetes. Daun bakau hitam memiliki kandungan alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi sebagai tabir surya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun bakau hitam. Penelitian yang dilakukan penelitian secara eksperimental. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak etanol, fraksi n- Heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air daun bakau hitam.Variabel terikatnya adalah nilai SPF pada ekstrak dan fraksi daun bakau hitam. Variabel kontrolnya adalah daun bakau hitam, etanol 95%, metode ekstraksi dan metode spektrofotometri. Hasil penelitian pada serbuk simplisia didapatkan nilai susut pengeringan 11,85% dan nilai kadar air ekstrak 12,48%. Hasil penelitian menunjukkan daun bakau hitam mengandung metabolit sekunder berupa flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, dan steroid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil nilai SPF dari konsentrasi tertinggi dan nilai SPF tertinggi yaitu pada 2500 ppm ekstrak etanol memproleh nilsi SPF sebesar 30,37 (tinggi), fraksi air 21,58 (sedang), fraksi etil asetat 39,54 (tinggi), fraksi n-heksan 39,65 (tinggi).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Pengaruh metode pengeringan pada fraksi etil asetat dan n-heksan terhadap kadar fenolik total ekstrak biji buah alpukat (Persea americana Mill.)

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki aneka tanaman hortikultura seperti sayuran dan buah – buahan salah satunya adalah buah alpukat yang permintaanya meningkat setiap tahunnya. Buah alpukat merupakan buah yang termasuk paling sering dikonsumsi. Masyarakat memanfaatkan pada buahnya saja sedangkan bagian lainnya seperti bijinya kurang dimanfaatkan. Pengeringan menggunakan oven dapat menghasilkan berat kering konstan lebih cepat, yang dipengaruhi oleh suhu yang digunakan sehingga dapat meningkatkan biaya produksi sedangkan pengeringan dengan sinar matahari dapat memberikan keuntungan dari segi biaya produksi yang murah dengan waktu yang singkat namun sinar matahari dapat mendegradasi senyawa fitokimia yang terkandung dalam simplisia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan perlakuan pengeringan matahari langsung dan pengeringan oven serta menguji kadar fenolik total dengan fraksi etil asetat dan n-heksan biji buah alpukat (Persea americana Mill.). Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi determinasi sampel, pengambilan sampel, pembuatan simplisia dengan cara pengeringan alami secara matahari langsung dan pengeringan buatan dengan oven pada suhu 60oC, ekstraksi secara maserasi, fraksinasi dengan etil asetat dan n-heksan, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL dan Fraksi DAUN SEMBUNG (Blumea balsamifera L.) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus epidermidis

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sembung (Blumea balsamifera L.) merupakan tumbuhan yang memiliki banyak khasiat salah satunya yaitu sebagai antibakteri. Daun sembung diketahui memiliki beberapa kandungan kimia seperti tanin, saponin dan flavonoid yang berfungsi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi daun sembung sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dengan tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan, pengumpulan sampel, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak etanol, pembuatan fraksi, dan uji aktivitas antibakteri menggunakan metode kertas cakram. Variabel bebas yang digunakan adalah konsentrasi ekstrak etanol dan fraksi daun sembung. Variabel Terikat pada penelitian ini adalah diameter zona hambat bakteri yang terbentuk disekitar kertas cakram dan KHM (konsentrasi hambat minimal) serta KBM (konsentrasi bunuh minimal) dari ekstrak dan fraksi daun sembung (Blumea balsamifera L.). Variabel kontrol yaitu perlakuan pada bakteri staphylococcus epidermidis mulai dari peremajaan bakteri hingga pengujian antibakteri dengan metode kertas cakram. Ekstrak etanol dan fraksi daun sembung yang telah didapat diencerkan dengan konsentrasi 10%, 25% dan 50%. Kontrol positif yang digunakan yaitu klindamisin 1% dan DMSO sebagai kontrol negatif. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif, berupa zona hambat yang terbentuk pada uji aktivitas antibakteri dan KHM (konsentrasi hambat minimal) serta KBM (konsentrasi bunuh minimal) serta pengolahan data dengan menggunakan program SPSS.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PENETAPAN KADAR ANTIOKSIDAN FRAKSI n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR UMBI BAWANG DAYAK (Eleutherine sp.) MENGGUNAKAN METODE ABTS

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antioksidan berfungsi menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif yang dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit. Untuk mendapatkan kandungan zat aktif yang bermutu maka perlu optimasi pembuatan ekstrak salah satunya adalah pelarut karena jenis pelarut akan menentukan jenis zat yang terlarut sesuai polaritasnya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian terhadap pengaruh polaritas pelarut terhadap kadar antioksidan pada fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi air ekstrak etanol umbi bawang dayak secara spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar antioksidan dari ekstrak dan fraksi ekstrak etanol umbi bawang dayak. Umbi bawang dayak diekstraksi dengan metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Dilakukan fraksinasi dengan pelarut n-heksana, etil asetat, dan air terhadap ekstrak etanol yang diperoleh setelah itu dilakukan pengujian kadar antioksidan menggunakan metode ABTS terhadap ekstrak dan fraksi yang dihasilkan. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 95% umbi bawang dayak diperoleh nilai IC50 4,7430 ppm, fraksi air nilai IC50 sebesar 4,6168 ppm, fraksi etil asetat sebesar 2,3900 ppm, dan fraksi n-heksan sebesar 13,0344 ppm. Aktivitas antioksidan fraksi etil asetat memiliki aktivitas antioksidan yang paling tinggi di antara ekstrak dan fraksi yang lain karena nilai IC50 fraksi etil asetat yang paling rendah diantara ekstrak dan fraksi lainnya.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI N HEKSAN DAN ETIL ASETAT DAUN SELUTUI PUKA (Tabernaemontana macrocarpa Jack) TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus MENGGUNAKAN METODE DIFUSI CAKRAM

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Jerawat dapat menimbulkan lesi tanpa radang, lesi pada radang atau kombinasi keduanya, yang sebagian besar menyerang wajah dan mikroba pembentuk nanah yang bertanggung jawab dalam pengembangan berbagai bentuk akne vulgaris salah satunya adalah Staphylococcus aureus. Masyarakat suku Dayak menggunakan air rebusan dari daun selutui puka untuk mencuci wajah/dikompres pada daerah wajah yang berjerawat. Metabolit sekunder yang terkandung pada bagian daun tumbuhan selutui puka adalah alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan steroid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi etil asetat, kloroform dan n-heksan daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi cakram. Penelitian ini bersifat eksperimental. Obyek yang diteliti adalah zona hambat fraksi etil asetat, kloroform dan n-heksan daun selutui puka terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini menggunakan sampel daun selutui puka yang didapatkan dari Desa Karangan, Kabupaten Kutai Barat. Tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengumpulan bahan baku, determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak, fraksinasi, uji skrining fitokimia fraksi etil asetat, kloroform dan n-heksan, uji aktivitas antibakteri fraksi etil asetat, kloroform dan n-heksan daun selutui puka (Tabernaemontana macrocarpa Jack.) terhadap bakteri Staphylococcus aureus dengan metode difusi kertas cakram pada konsentrasi 5%, 10% dan 15% dan 0,1% klindamisin sebagai kontrol positif.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ArticleOpen AccessMetadata saja

Aktivitas Anti Jamur Fraksi Aktif Ekstrak Etanol Umbi Bawang Rambut (Allium Chinense G.Don) terhadap Jamur Candida Albicans

2021•Artikel Penelitian dan Pengabdian

Tumbuhan umbi bawang rambut (Allium chinense G.Don) memiliki efek sebagai antijamur karena mengandung metabolit sekunder seperti flavanoid, alkaloid dan saponin. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antijamur ekstrak umbi bawang rambut melalui proses fraksinasi menggunakan pelarut N-heksan, etil asetat, kloroform dan etanol-air. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental. Sampel yang digunakan adalah umbi bawang rambut yang diperoleh di kampung Kelasan kecamatann Sungai Payang Kutai Kartanegara. Penelitian ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 70%, metode uji aktivitas antijamur berdasarkan metode difusi cakram terhadap jamur Candida albicans dengan konsentrasi 5%, 10%, 25%, dan 50%, dengan kontrol negatif DMSO 50%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua fraksi dari ekstrak etanol umbi bawang rambut memiliki aktivitas antijamur. Aktivitas antijamur fraksi etil asetat memberikan daya hambat yang paling besar terhadap Candida albicans diantara fraksi lainnya.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR AKTIVITAS ANTINOSISEPTIF DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa Korth.)

2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) merupakan salah satu tanaman herbal. Tumbuhan kratom dapat digunakan sebagai obat demam, meringankan nyeri otot dan mengurangi nafsu makan. Daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) memiliki efek analgesik opioid (antinosiseptif). Kandungan utama daun kratom adalah mitraginin yang memiliki afinitas kuat pada reseptor opioid. Studi ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas antinosiseptif ekstrak dan fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Fraksi n-heksan daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi diklorometana daun kratom dosis I (70mg/kgBB), dosis II (140mg/kgBB), dosis III (280 mg/kgBB), fraksi air daun kratom dosis I (140mg/kgBB), dosis II (280mg/kgBB) dan dosis III (560 mg/kgBB) memiliki efek antinosiseptif. Kesimpulan dari studi ini adalah terdapat perbedaan aktivitas antinosiseptif fraksi daun kratom (Mitragyna speciosa Korth.) dari pelarut yang berbeda. Fraksi air daun kratom dosis 560 mg/kgBB memiliki aktivitas antinosiseptif lebih lemah dibandingkan dosis 280 mg/kgBB yang dihasilkan oleh fraksi n-heksan dan fraksi diklorometana.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail