ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan radiasi sinar ultraviolet (UV) yang tinggi di wilayah tropis seperti Indonesia dapat menyebabkan berbagai gangguan kulit, seperti eritema, hiperpigmentasi, penuaan dini, hingga kanker kulit. Penggunaan tabir surya merupakan salah satu upaya efektif untuk melindungi kulit dari dampak buruk sinar UV. Kulit bawang merah (Allium ascalonicum L.) diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan metabolit sekunder lainnya yang berpotensi sebagai bahan aktif tabir surya alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi formula krim tabir surya ekstrak etanol kulit bawang merah menggunakan variasi konsentrasi asam stearat dan setil alkohol serta menentukan nilai Sun Protection Factor (SPF) sediaan. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diformulasikan menjadi krim tabir surya. Optimasi formula dilakukan menggunakan metode factorial design dengan bantuan perangkat lunak Design Expert 13. Evaluasi fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat, sedangkan aktivitas tabir surya ditentukan secara in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak memiliki rendemen sebesar 7,56%, kadar air 16,9%, serta mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, steroid, dan terpenoid. Variasi konsentrasi asam stearat dan setil alkohol berpengaruh terhadap karakteristik fisik krim, dengan asam stearat memberikan pengaruh paling dominan terhadap pH, viskositas, daya sebar, dan daya lekat. Formula optimum yang direkomendasikan Design Expert mengandung 14,196% asam stearat dan 5,0995% setil alkohol, dengan karakteristik pH 7,65, viskositas 17.392 cP, daya sebar 5,70 cm, dan daya lekat 3,87 detik. Hasil pengujian menunjukkan rata-rata nilai SPF sebesar 28,60, yang termasuk kategori Ultra Protection, sehingga krim ekstrak etanol kulit bawang merah berpotensi dikembangkan sebagai sediaan tabir surya alami dengan kemampuan proteksi yang sangat baik terhadap radiasi UVB.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan endemik di berbagai daerah masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian terkait pencarian antioksidan baru dari sumber alami, terutama dari bagian tanaman yang belum termanfaatkan, menjadi sangat relevan. Perhatian terhadap sumber antioksidan alami meningkat seiring kebutuhan untuk melawan radikal bebas penyebab penyakit degeneratif. Kulit buah tampoi (Baccaurea Pyriformis Gage), yang merupakan limbah pertanian, berpotensi tinggi mengandung senyawa bioaktif, khususnya kelompok flavonoid, yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan signifikan. Penelitian non-eksperimental ini bertujuan menetapkan kadar flavonoid total dalam ekstrak kulit tampoi secara kuantitatif. Sampel kulit tampoi matang dari Kalimantan Tengah, Palangkaraya diolah menjadi simplisia, dilanjutkan dengan ekstraksi melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Kuantifikasi kadar flavonoid total dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis yang melibatkan pereaksi AlCl₃ dan menggunakan kuersetin sebagai standar. Hasil pengukuran menunjukkan panjang gelombang maksimum pada 440 nm dengan persamaan regresi linear y = 0,0079x - 0,0063 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,9963. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar flavonoid total yang terkandung dalam ekstrak etanol kulit buah tampoi adalah sebesar 3,8409% dengan nilai Standar Deviasi (SD) sebesar 0,091. Kadar ini tergolong lebih tinggi dibandingkan kadar flavonoid pada bagian biji buah tampoi yang dilaporkan pada penelitian terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah tampoi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami dari bahan alam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Alpukat (Persea americana Mill.) merupakan tanaman yang memiliki potensi sebagai sumber antioksidan alami. Selain daging buahnya, bagian kulit dan biji alpukat diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, tanin, dan senyawa fenolik lainnya yang berperan dalam menangkal radikal bebas. Radikal bebas dapat memicu stres oksidatif yang berhubungan dengan berbagai penyakit degeneratif, sehingga diperlukan sumber antioksidan yang aman dan berasal dari bahan alam. Pemanfaatan bagian kulit dan biji alpukat sebagai sumber antioksidan menjadi peluang yang perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit dan biji alpukat berdasarkan hasil penelitian terdahulu. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan menelusuri artikel ilmiah melalui mesin pencari Google Scholar pada rentang tahun 2015–2025. Seleksi artikel dilakukan berdasarkan kesesuaian judul, metode penelitian, dan hasil yang berkaitan dengan aktivitas antioksidan kulit dan biji alpukat menggunakan metode (1,1-diphenyl-2-picrylhidrazyl) DPPH. Dari hasil penelusuran dan seleksi literatur, diperoleh dua jurnal penelitian yang relevan untuk dianalisis. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan hasil aktivitas antioksidan ekstrak etanol kulit dan biji alpukat berdasarkan nilai persentase penghambatan yang dilaporkan dalam literatur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) digunakan dalam penelitian ini sebagai bahan untuk pengujian aktivitas antioksidan pada ekstrak metanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) berdasarkan nilai IC₅₀. Pengujian aktivitas antioksidan dilakukan secara in vitro menggunakan metode DPPH dengan prinsip pengukuran penurunan absorbansi radikal bebas. Pengukuran absorbansi dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan vitamin C sebagai pembanding. Aktivitas antioksidan dinyatakan dalam persentase penghambatan terhadap radikal bebas DPPH dan selanjutnya digunakan untuk menentukan nilai IC₅₀ sebagai parameter aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai IC₅₀ ekstrak metanol kulit buah tampoi yaitu 13,5849 ppm dan rata-rata nilai IC₅₀ vitamin C sebagai pembanding yaitu 8,4020 ppm. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak metanol kulit buah tampoi dan vitamin C sangat kuat. Hal ini diperkuat dengan uji analisis statistik menggunakan independent sample t-test yang menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,002 (p 0,05) yang menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara dua kelompok tersebut.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L) merupakan limbah yang banyak ditemukan sebagai sisa buangan buah pisang, yang tidak dimanfaatkan dan hanya dibiarkan saja. Kandungan senyawa aktif dalam kulit pisang kepok diantaranya adalah flavonid, saponin dan triterpenoid memiliki aktivitas farmakologi antioksidan dan antibakteri. Senyawa aktif dalam simplisia dapat dimanfaatkan setelah dilakukan proses ekstraksi. Metode ekstraksi yang digunakan dapat mempengaruhi hasil skrining fitokimia. Studi Literatur ini bertujuan untuk mengetahui hasil skrining fitokimia ekstrak etanol kulit pisang kepok dengan perbedaan metode ekstrasi. Skrining fitokimia merupakan langkah awal untuk mengetahui bahan aktif yang merupakan metabolit sekunder pada tumbuhan. Tahapan penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan; penyajian data ; penarikan simpulan, melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapatkan agar penaRIkan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data berupa analisis deskriptif berupa golongan senyawa hasil ektraksi kulit pisang kepok secara maserasi dan perkolasi. Berdasarkan hasil skrining fitokimia dari kedua literatur dapat disimpulkan bahwa perbedaan metode ekstrasi ekstrak etanol kulit pisang kepok mengandung senyawa metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, fenolik, steroid dan terpenoid.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan tumbuhan yang sudah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia secara alami sebagai tanaman kaya antioksidan, namun pemanfaatan dari kulit buah naga merah belum sepenuhnya dimaksimalkan. Kulit buah naga merah dapat digunakan sebagai alternatif dalam mengobati diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Penarikan senyawa serta aktivitas biologis dari suatu tanaman dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi yang digunakan. Metode seduhan dan maserasi dipilih karena merupakan metode yang mudah, murah serta lebih aplikatif digunakan masyarakat. Ekstrak etanol dan seduhan kulit buah naga merah memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tanin, terpenoid dan proantosianidin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kadar proantosianidin ekstrak etanol dan seduhan kulit buah naga merah dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dimulai dengan determinasi, pengumpulan kulit buah naga merah, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, pembuatan seduhan, dan penetapan kadar proantosianidin menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding katekin. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kadar pada ekstrak sebesar 7,47 mgCE/ g ± 0,18 dan pada seduhan didapatkan hasil sebesar 6,33 mgCE/g ± 0,21667. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar proantosianidin pada ekstrak lebih besar dibanding pada seduhan. Hasil analisis data secara statistik kadar proantosianidin menggunakan uji Independent Sample Test menunjukkan nilai P 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara ekstrak dan seduhan kulit buah naga merah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah labu kuning diketahui sebagai sumber fenolat yang baik, termasuk flavonoid, antosianin, dan karotenoid. Buah labu kuning memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung nutrisi dan senyawa bioaktif. Kulit buahnya memiliki tekstur yang keras dan cukup tebal hal tersebut menyebabkan buah labu kuning lebih awet dibandingkan buah lainnya. Selama ini kulit buah labu kuning dianggap sebagai limbah. Namun ternyata kulit buah labu kuning memiliki potensi sebagai antibiotik dan antioksidan. Penelitian tentang kulit labu kuning masih terbatas, sehingga perlu dilakukan eksplorasi agar pemanfaatannya lebih optimal. Sebagai langkah awal dilakukan karakterisasi simplisia dan ekstrak serta skrining fitokimia. Karakterisasi dimaksudkan untuk mengetahui mutu dari simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Tujuan penelitian untuk mengetahui karakteristik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning serta kandungan senyawa metabolit sekunder nya. Metode penelitian ini meliputi, determinasi tumbuhan, pengambilan sampel, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, karakterisasi spesifik dan non spesifik simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning.Variabel bebas pada penelitian ini adalah simplisia dan ekstrak kulit buah labu kuning. Variabel terikat meliputi hasil skrining fitokimia dan hasil pengukuran karakteristik simplisia dan ekstrak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Buah labu kuning merupakan tanaman yang sering dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetapi kulit dari buah labu kuning jarang dimanfaatkan bahkan dianggap limbah yang tidak terpakai. Di sisi lain, kulit labu kaya akan metabolit sekunder seperti kandungan flavonoid, alkaloid, saponin dan terpenoid. Bahkan kulit buah labu kuning juga memiliki aktivitas antioksidan yang termasuk kategori kuat. Kandungan senyawa aktif dalam tumbuhan dapat dipisahkan dengan cara ekstraksi. Metode ekstraksi yang digunakan akan berpengaruh terhadap senyawa aktif yang diperoleh, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas farmakologinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak kulit labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi maserasi dan refluks. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental melalui beberapa tahapan dimulai dari determinasi tanaman, pengolahan simplisia, pembuatan ekstrak dengan metode maserasi dan refluks, uji aktivitas antioksidan menggunakan spektrofotometer dengan metode DPPH (2,2 Difenil-1-Pikrihidrazil). Analisis data yang digunakan berupa data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung dan diolah dalam bentuk tabel, grafik, dan narasi agar dapat dipaparkan secara baik dan diinterpretasikan secara mudah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama :Sa’diah Muliawati Program studi :Sarjana Farmasi Judul skripsi :Penetapan Kadar Flavonoid Ekstrak Etanol Kulit Buah Limpasu (Baccaurea lanceolata) Berdasarkan Perbedaan Cara Pengeringan Menggunakan Metode Spektrofotometri Uv-Vis. Pembimbing : 1. apt. Supomo, M.Si. 2. apt. Fitri Handayani, M.Si. Flavonoid merupakan salah satu metabolit sekunder yang telah diketahui dapat memberikan efek farmakologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid pada ekstrak etanol kulit buah limpasu (Baccaurrea lanceolata) berdasarkan perbedaan cara pengeringan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Tahapan penelitian ini meliputi: pengumpulan sampel, determinasi, pembuatan simplisia menggunakan metode pengeringan sinar matahari dan oven, pembuatan ekstrak, skrining fitokimia, dan penetapan kadar flavonoid. Ekstrak etanol kulit buah limpasu menggunakan perbandingan kuersetin konsetrasi 100 ppm dengan seri konsentrasi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Nilai absorbansi diukur dengan Spektrofotometri UV- Vis. Analisis data yang digunakan adalah analisis data deskriptif yang diperoleh dari pengamatan langsung untuk menilai absorbansi dari masing-masing konsentrasi untuk diolah data dalam bentuk tabel, grafik dan narasi. Hasil penelitian pada P. oven ekstrak etanol kulit buah limpasu memiliki kadar flavonoid sebanyak 1,1075± 0,0746 dan P. matahari ekstrak etanol kulit buah limpasu memiliki kadar flavonoid sebanyak 1,4438± 0,0274. pengeringan matahari memberikan hasil kadar flavonoid yang lebih tinggi di bandingkan pengeringan oven.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk mengetahui potensi lidah buaya terhadap penyembuhan luka Insisi pada kulit kelinci. Luka insisi merupakan suatu kondisi dimana terjadi kerusakan abnormal pada kulit yang disebabkan terputusnya kontinuitas jaringan karena cedera atau pembedahan. Salah satu tanaman herbal yang berpotensi terhadap penyembuhan luka yaitu tanaman lidah buaya (Aloe vera L.). Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian dengan cara mengumpulkan, mempelajari, kemudian menelaah sumber literatur yang akan disajikan dalam bentuk tabel pengamatan penyembuhan luka insisi pada kulit kelinci. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu membuat gambaran berdasarkan data-data pengamatan terhadap penyembuhan luka insisi pada kulit kelinci yang dikumpulkan dari artikel ilmiah. Hasil studi memperlihatkan pengamatan pengukuran panjang sayatan selama 14 hari pada luka insisi kulit kelinci yang diberi ekstrak etanol 70% pada hari pertama untuk kelinci A, B dan C adalah 4 cm, di hari ke- 14 pada pada kelinci B belum menutup dengan sempurna pada kulit punggung kiri sebesar 1cm dan kanan sebesar 0,4 cm, untuk sediaan krim lidah buaya dengan konsentrasi 25%, 50% dan 75% pada hari sebelum pengamatan telah digoreskan luka sayat terlebih dahulu dengan panjang sayatan yang sama yaitu 2 cm, kemudian pada hari ke-14 ketiga konsentrasi tersebut menunjukkan hasil penutupan luka sebesar 0 cm. Kesimpulan yang dapat diambil adalah pemberian ekstrak dan sediaan krim lidah buaya memiliki potensi terhadap penyembuhan luka insisi pada kulit kelinci (Oryctolagus cuniculus).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk mengetahui hasil skrining fitokimia ekstrak etanol kulit bawang merah. Bawang merah (Allium cepa L.) merupakan herba tahunan dari famili Liliaceae yang banyak tumbuh hampir di seluruh penjuru dunia. Kulit tumbuhan bawang merah banyak digunakan sebagai obat untuk penyakit-penyakit seperti batuk, haid tidak teratur, kencing manis, dan demam pada anak-anak. Skrining fitokimia merupakan langkah awal untuk mengetahui bahan aktif yang merupakan metabolit sekunder pada tumbuhan. Data yang dipakai dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Objek penelitian adalah hasil skrining fitokimia ekstrak etanol kulit bawang merah. Tahap penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data berupa tabel deskriptif, selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan. Analisis data yang digunakan adalah analisis desktiptif, berupa hasil skrining fitokimia ekstrak etanol kulit bawang merah (Allium cepa L.). Hasil uji skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit bawang merah positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, fenolik, dan terpenoid.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu bakteri yang dapat menyebabkan infeksi pada kulit adalah Propionibacterium acnes. Propionibacterium acnes dapat menyebabkan infeksi kulit ringan seperti jerawat dengan cara memproduksi metabolit yang dapat bereaksi dengan sebum sehingga menyebabkan inflamasi. Jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang biasa dikenal dengan sebutan acne vulgaris, yaitu suatu keadaan dimana pori-pori kulit tersumbat. Sekilang merupakan salah satu tumbuhan yang ada di Kalimantan Utara dan terdapat di Hutan Ampan Ibau. Tumbuhan ini secara empiris digunakan oleh masyarakat Desa Long Temuyat sebagai racun dari bahan alami untuk menangkap ikan dan sebagai pengusir lintah. Kandungan senyawa aktif dalam ekstrak kulit batang sekilang diantaranya adalah alkaloid, tanin, saponin, flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi fraksi kulit batang sekilang (Embelia borneensis Scheff) sebagai antibakteri untuk menghambat aktivitas bakteri Propionibacterium acnes. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. Objek yang diteliti adalah aktivitas kulit batang sekilang sebagai antibakteri Propionibacterium acnes. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, pengolahan sampel, ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, skrining fitokimia, fraksinasi, uji aktivitas antibakteri ekstrak kulit batang sekilang dengan konsentrasi 10 %, 20% dan 30%. Klindamisin 0,1 % digunakan sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, berupa zona hambat antibakteri dari ekstrak kulit batang sekilang. Hasil skrining fitokimia menunjukkan ekstrak kulit batang sekilang mengandung senyawa bioaktif alkaloid, flavonoid, saponin dan tanin. Aktivitas antibakteri ekstrak kulit batang sekilang terhadap Propionibacterium acne terbesar terdapat pada fraksi etil asetat dengan konsentrasi 30% dengan kategori kuat. Aktivitas antibakteri diduga disebabkan adanya kandungan senyawa bioaktif alkaloid, flavonoid, saponin dan Fraksi n-heksan, etil asetat dan etanol air kulit batang sekilang (Embelia bornensis Scheff) dapat menghambat pertumbuhan pada bakteri Propionibacterium acnes dengan konsentrasi 10%, 20% dan 30%. %. Hasil pengukuran zona hambat tersebut dianalisis secara statistik dengan uji One-way ANOVA yang hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan dari hasil perlakuan daya hambat antibakteri masing-masing dengan nilai (p) 0,025 >0,05.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indikator asam basa alami dapat dibuat dengan mengesktrak bagian dari tanaman, seperti batang, daun, bunga, buah dan kulit buah atau kulit umbi. Antosianin merupakan sub-tipe senyawa organik dari keluarga flavonoid. Antosianin adalah pigmen larut air yang secara alami terdapat pada berbagai jenis tumbuhan. Kestabilan antosianin dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu transformasi struktur, pH, suhu, cahaya dan oksigen. Kadar antosianin akan menurun pada suhu 100oC karena terjadi degradasi pada antosianin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi suhu pengeringan pada kulit buah dan kulit umbi terhadap pembuatan indikator asam- basa. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental dengan teknik sampling yang digunakan adalah metode Purposive Sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah kulit buah naga, kulit buah manggis dan kulit ubi jalar ungu. Sampel diperoleh dari pasar tradisional Kota Samarinda. Tahapan penelitian ini dimulai dengan determinasi tumbuhan, pengumpulan bahan baku yaitu kulit buah naga, kulit buah manggis dan kulit umbi jalar ungu, persiapan sampel, mengeringkan sampel dengan variasi suhu 30oC, 40oC, 50oC, 60oC, dan 70oC selama 8 jam, pembuatan ekstrak dari kulit buah dan umbi yang kemudian akan digunakan sebagai indikator asam-basa. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variasi suhu pengeringan berpengaruh terhadap hasil kertas indikator asam basa alami. Kulit buah naga, kulit buah manggis dan kulit ubi ungu memiliki potensi untuk dijadikan indiktor asam basa alternatif dan ekstrak dari simplisia kulit ubi ungu yang dikeringkan dengan suhi 60oC dan 70oC memiliki potensi yang paling besar untuk dijadikan kertas indikator asam basa alternatif karena dapat memberikan hasil perbedaan warna ketika diujikan dengan larutan asam kuat, basa kuat, asam lemah dan basa lemah
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Perawatan kulit seyogyanya dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas. Yakni, melalui proses dan prosedur yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan umur pemiliknya. Artinya, perawatan kulit tetap menggunakan prinsip proporsional dan optimal. Dengan demikian, melalui proses dan prosedur dapat dilakukan perawatan kulit berdasarkan usia.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Perawatan kulit seyogyanya dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas. Yakni, melalui proses dan prosedur yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan umur pemiliknya. Artinya, perawatan kulit tetap menggunakan prinsip proporsional dan optimal. Dengan demikian, melalui proses dan prosedur dapat dilakukan perawatan kulit berdasarkan usia.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Perawatan kulit seyogyanya dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas. Yakni, melalui proses dan prosedur yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan umur pemiliknya. Artinya, perawatan kulit tetap menggunakan prinsip proporsional dan optimal. Dengan demikian, melalui proses dan prosedur dapat dilakukan perawatan kulit berdasarkan usia.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
"Ada suatu penelitian yang cukup unik di Inggris, menyangkut hal ini. Penelitian tersebut melibatkan 3000 wanita, dan hasilnya ditemukan bahwa 10 persen dari para wanita tersebut mengaku tidak mau keluar rumah jika tidak memakai tata rias, dan sebanyak 14 persen wanita takut dianggap tidak profesional oleh atasannya jika tidak memakai tata rias ke kantor. Berdasarkan hal itulah, buku ini ditulis secara praktis untuk membantu siapa pun yang ingin merawat dan menjaga kecantikannya. Di dalam buku ini, Anda akan mendapati ratusan tip dan kiat praktis dalam upaya menjaga dan merawat kecantikan untuk keperluan sehari-hari, mulai dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Buku ini pun dapat dijadikan panduan sehari-hari dalam berbagai macam kebutuhan perawatan rambut, wajah, mata, bibir, kulit, tangan, kaki, sampai perawatan payudara dan organ intim wanita. Selain itu, dilengkapi juga dengan setumpuk tip dan kiat seputar kosmetik, yang akan menambah wawasan dan pengetahuan Anda mengenai perawatan kesehatan dan kecantikan. Dengan membaca Buku Pintar Perawatan Kecantikan ini, Anda akan mengetahui bahwa menjadi cantik dapat dilakukan dengan cara yang mudah, murah, sekaligus bisa dimulai dari rumah."
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Sebagai cewek pasti banyak terlintas pertanyaan di benak kamu kan ya? Misalnya hal-hal yang berkaitan dengan rambut, dengan make up, dengan skincare dan perawatan wajah, tubuh, hingga segala hal yang berbau diet, pola makan, pola tidur, serta hal-hal berbau percintaan dan sebagainya. Yuk, jadi pintar tentang segala hal yang kamu punya. Karena hanya dengan cara demikian kamu dapat memunculkan selflove yang akan membuat diri kamu bahagia.Siapa lagi yang mengerti diri kamu selain kamu sendiri, bukan?
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Buku ini ditulis dalam rangka memberikan bantuan semacam itu kepada wanita yang akan segera menjadi ibu. Isi buku ini difokuskan pada pembahasan hal-hal penting dan mendasar yang secara khusus ditujukan untuk calon ibu, atau wanita yang baru pertama kali hamil. Ditulis dengan bahasa yang mudah dan praktis, buku ini membahas segala hal yang berhubungan dengan ibu hamil, sejak sebelum, selama, dan sesudah kehamilan. Isinya mencakup persiapan kehamilan, menjaga kesehatan ibu hamil dan janin, pola makan yang sehat untuk ibu hamil, mengenali dan menghindari masalah-masalah kehamilan, memahami pertumbuhan janin, persiapan persalinan, hingga hal-hal penting lain paska melahirkan. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan setumpuk tip praktis sekaligus penting yang berhubungan dengan ibu hamil dan proses kehamilan, seperti tip memilih dokter kandungan, tip mengatasi mual, nyeri pinggang dan sesak napas selama hamil, tip nyaman bekerja dan bepergian, hingga tip perawatan kebugaran dan kecantikan selama hamil. Dengan panduan buku ini, Anda akan lebih memahami kehamilan Anda, sehingga dapat menjalaninya dengan baik dan sehat, serta melahirkan calon si buah hati dengan baik dan selamat.
BookOpen AccessMetadata saja
2022•Koleksi Perpustakaan
Perawatan kulit seyogyanya dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas. Yakni, melalui proses dan prosedur yang disesuaikan dengan kondisi kulit dan umur pemiliknya. Artinya, perawatan kulit tetap menggunakan prinsip proporsional dan optimal. Dengan demikian, melalui proses dan prosedur dapat dilakukan perawatan kulit berdasarkan usia.