ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kefarmasian memiliki peran penting dalam menjamin kepuasan pasien di apotek, yang melampaui harapan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kepuasan pasien terhadap Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda selama periode April hingga Juni 2025 dengan menggunakan metode Importance-Performance Analysis (IPA). Penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan analisis secara deskriptif. Dengan objek penelitian kepuasan pasien Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda yang menggunakan jasa pelayanan. Analisis data yang digunakan adalah metode (IPA) untuk mendeskripsikan atau menggambarkan tingkat harapan dan kenyataan pasien terhadap pelayanan di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama: Rosiana Silla Wati Program Studi: Sarjana Farmasi Judul Skrisi: Gambaran Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Rizky Mahakam Farma 2 Kota Bangun ulu Dengan Metode Inportance Perfomence Analysis . Pembimbing: 1. apt. Heri Wijaya, S.Farm.,M.Si.,Ph.D 2. apt. Siti Jubaidah, S.Farm.,M.Pd. Pelayanan kefarmasian yang berkualitas merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatkan kepuasan pasien di apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Apotek Rizky Mahakam Farma 2 Kota Bangun Ulu dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kepentingan dan kinerja pelayanan yang dirasakan oleh pasien, sehingga dapat diketahui area pelayanan yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan. Penelitian ini bersifat deskriptif, data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa aspek pelayanan yang masuk dalam kuadran prioritas perbaikan, seperti kecepatan pelayanan, ketepatan pemberian informasi obat, dan keramahan tenaga farmasi. Sementara itu, beberapa aspek lain berada dalam kuadran kinerja tinggi dan penting bagi pasien, sehingga perlu dipertahankan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa secara umum pasien merasa cukup puas terhadap pelayanan kefarmasian di apotek tersebut, namun masih diperlukan perbaikan pada beberapa aspek layanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara keseluruhan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat di rumah sakit merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pasien dan bertujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien melalui obat yang aman, efektif dan rasional. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pelaksanaan pelayanan kefarmasian dan pengelolaan obat berdasarkan STARKES 2024 di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan evaluatif dengan informan kunci berjumlah 9 orang yang dipilih melalui purposive sampling. Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu pelaksanaan PKPO, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, telaah dokumen, dan simulasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk memberikan Gambaran yang sistematis dan terukur mengenai Tingkat keterlaksanaan PKPO berdasarkan 7 elemen penilaian STARKES 2024.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kefarmasian merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit karena berperan dalam menjamin penggunaan obat yang aman, efektif, dan bermutu serta berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien. Evaluasi kepuasan pasien diperlukan sebagai dasar dalam mengidentifikasi aspek pelayanan yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kepuasan pasien rawat jalan terhadap pelayanan tenaga kefarmasian di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor menggunakan metode SERVQUAL, Importance Performance Analysis (IPA), dan Zone of Tolerance (ZoT). Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan rancangan deskriptif kuantitatif menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dan diperoleh sebanyak 378 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang terdiri atas 20 unsur pelayanan berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu Reliability, Responsiveness, Assurance, Empathy, dan Tangible. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) pelayanan kefarmasian termasuk dalam kategori Baik. Analisis IPA menunjukkan bahwa atribut yang menjadi prioritas utama perbaikan adalah ketersediaan obat dan penyerahan obat sesuai nomor urut antrean, sedangkan aspek keramahan, perhatian, kesabaran, dan penampilan tenaga kefarmasian telah memenuhi harapan pasien sehingga perlu dipertahankan. Analisis ZoT menunjukkan bahwa seluruh dimensi pelayanan masih berada dalam batas toleransi pasien, yang menunjukkan bahwa pelayanan yang diberikan masih dapat diterima oleh pasien meskipun masih terdapat beberapa atribut yang perlu ditingkatkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelayanan kefarmasian di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor secara umum telah memberikan kepuasan kepada pasien, tetapi peningkatan mutu pelayanan masih perlu difokuskan pada aspek kehandalan, terutama ketersediaan obat dan ketertiban proses penyerahan obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kefarmasian yang berkualitas di rumah sakit berperan penting dalam meningkatkan kepuasan dan keamanan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif non-eksperimental. Responden dipilih menggunakan metode accidental sampling dan data dikumpulkan melalui kuesioner berdasarkan lima dimensi SERVQUAL, yaitu kehandalan (reliability), daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance), empati (empathy), dan bukti langsung (tangible). Hasil penelitian mengenai pelayanan kefarmasian di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor menunjukkan bahwa dimensi pelayanan berada dalam kategori baik, yaitu kehandalan 77,5, daya tanggap 77,5, jaminan 78,125, dan empati 78,75, dan bukti langsung 77,5. Secara keseluruhan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Tanjung Selor diperoleh nilai SKM sebesar 77,8 dengan mutu pelayanan baik (B).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Apotek merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berperan penting dalam penyediaan obat dan informasi penggunaannya, sedangkan apoteker sebagai pelaku utama pelayanan kefarmasian juga berperan sebagai konsultan kesehatan yang mengedukasi masyarakat. Kepercayaan konsumen terhadap peran apoteker penting dalam mendukung pelayanan kefarmasian yang optimal, dan berkaitan dengan kesadaran serta harapan konsumen. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen serta menganalisis hubungan antara kesadaran dan harapan terhadap kepercayaan konsumen pada peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek Wilayah Samarinda Ulu. Metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional, melibatkan 400 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden serta tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen, dan secara bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil menunjukkan tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen mayoritas tinggi (6,45%; 27,7%; 27,9%). Kesadaran tidak berhubungan signifikan dengan kepercayaan (p=0,240), sedangkan harapan berhubungan signifikan dan kuat dengan kepercayaan (p=0,000; r=0,719).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat di puskesmas merupakan aspek penting dalam pengelolaan sediaan farmasi karena sangat menentukan mutu, keamanan, stabilitas, dan ketersediaan obat dalam pelayanan kesehatan. Apabila penyimpanan tidak dilakukan sesuai standar, maka dapat timbul berbagai masalah seperti penurunan kualitas obat, kerusakan fisik maupun kimia, obat kedaluwarsa, pemborosan anggaran, serta terganggunya kelancaran pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesesuaian penyimpanan obat di Puskesmas Kecamatan Tenggarong Seberang dan Kecamatan Loa Kulu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional cross-sectional yang dilakukan pada bulan Juni 2026 di empat puskesmas, yaitu Puskesmas Teluk Dalam, Puskesmas Separi III, Puskesmas Loa Kulu, dan Puskesmas Jonggon. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling terhadap seluruh sistem dan fasilitas penyimpanan obat yang diamati. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan tenaga kefarmasian, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara univariat dengan menghitung persentase kesesuaian berdasarkan skala Guttman, kemudian disajikan dalam bentuk tabel, persentase, dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan obat di keempat puskesmas berada pada kategori sangat baik, dengan nilai kesesuaian Puskesmas Teluk Dalam 88,57%, Puskesmas Separi III 88,57%, Puskesmas Loa Kulu 85,71%, dan Puskesmas Jonggon 82,86%. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian, seperti belum optimalnya ventilasi ruang penyimpanan, belum tersedianya safety stock, adanya kebocoran pada atap atau plafon, serta belum adanya prosedur rotasi antibiotik yang spesifik. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum penyimpanan obat telah sesuai standar, namun masih diperlukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan agar pengelolaan obat lebih efektif, efisien, dan mampu mendukung mutu pelayanan kefarmasian secara optimal.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan kejadian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan masih menjadi permasalahan dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit, khususnya pada pasien rawat jalan. Salah satu tahap krusial dalam pencegahan medication error adalah skrining resep, yang bertujuan untuk memastikan ketepatan dan keamanan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi penyebab terjadinya medication error pada proses skrining resep pasien rawat jalan di rumah sakit serta mengkaji upaya pencegahannya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji buku, peraturan perundang-undangan, dan jurnal ilmiah yang relevan dalam 10 tahun terakhir (2015-2025). Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi medication error pada tahap skrining resep masih banyak ditemukan, terutama terkait ketidaklengkapan administrasi resep, kesalahan farmasetik, dan pertimbangan klinis. Oleh karena itu, pelaksanaan skrining resep sesuai standar pelayanan kefarmasian oleh tenaga kefarmasian, khususnya apoteker, sangat penting untuk meminimalkan terjadinya medication error dan meningkatkan keselamatan pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kefarmasian yang berkualitas memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah dengan fasilitas terbatas seperti Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di dua apotek wilayah Sanga-Sanga pada periode Februari–Maret 2026. Kepuasan diukur menggunakan model SERVQUAL yang meliputi lima dimensi: reliability (kehandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (jaminan), empathy (empati), dan tangible (bukti fisik). Metode penelitian bersifat kuantitatif deskriptif non-eksperimental dengan teknik accidental sampling, jumlah sampel sebanyak 350 pasien yang menerima layanan kefarmasian. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi menampilkan nilai GAP negatif, yang mengindikasikan adanya selisih antara harapan pasien dan kenyataan layanan di apotek. Pada Apotek A, rata-rata skor kenyataan adalah 84,55 dan harapan 98,46 sehingga GAP total −13,90. Sedangkan pada Apotek B, skor kenyataan 82,95 dan harapan 97,43 sehingga GAP total −14,48. Dimensi dengan GAP terbesar pada Apotek A adalah tangible (−15,86), menunjukkan kebutuhan peningkatan fasilitas fisik dan penampilan layanan. Pada Apotek B dimensi terbesar adalah responsiveness (−15,45), menandakan perlunya peningkatan kecepatan dan ketanggapan staf dalam melayani pasien. Berdasarkan penilaian pasien tingkat pelayanan kefarmasian kedua apotek masih dikategorikan baik. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pelayanan kefarmasian di wilayah Sanga-Sanga belum sepenuhnya memenuhi harapan pasien sehingga diperlukan perbaikan, khususnya pada dimensi yang memiliki GAP terbesar. Penelitian diharapkan menjadi acuan evaluasi bagi apotek setempat, referensi akademik bagi mahasiswa farmasi, serta dasar rekomendasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam upaya peningkatan dan pemerataan layanan kesehatan di daerah terpencil.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit merupakan bagian penting dalam menjamin mutu penggunaan obat, keselamatan pasien, dan keberhasilan terapi. Evaluasi kepuasan pasien diperlukan sebagai salah satu indikator mutu pelayanan kefarmasian sesuai Standar Pelayanan Kefarmasian berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda menggunakan metode Importance- Performance Analysis (IPA). Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian berjumlah 404 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan metode IPA untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara harapan dan kenyataan pelayanan yang diterima pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian keseluruhan pelayanan kefarmasian sebesar 89,12% dan termasuk kategori memuaskan. Dimensi assurance memperoleh tingkat kesesuaian tertinggi, sedangkan dimensi tangible memperoleh tingkat kesesuaian terendah. Hasil analisis IPA menunjukkan bahwa kecepatan waktu tunggu pelayanan obat dan sistem antrean masih menjadi prioritas utama perbaikan. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda secara umum telah berjalan baik dan memuaskan, namun optimalisasi kecepatan pelayanan dan pengelolaan antrean masih diperlukan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat merupakan bagian penting dari pengelolaan sediaan farmasi. Obat-obatan harus disimpan sesuai standar pelayanan kefarmasian agar tetap aman, bebas dari cacat atau kerusakan fisika ataupun kimia, serta mutu obat dapat terjaga. Sistem penyimpanan obat menjadi bagian penting dalam pengelolaan stok di apotek karena berpengaruh terhadap kestabilan, keamanan, dan mutu obat hingga digunakan oleh pasien. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penyimpanan obat yang tepat berdasarkan standar pelayanan kefarmasian. Rancangan penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian studi literatur (literature review). Pendekatan ini dilaksanakan melalui kegiatan pengumpulan data, penelaah mendalam, dan analisis kritis terhadap berbagai sumber pustaka. Objek penelitian ini yaitu artikel yang menyajikan data evaluasi penyimpanan obat yang tepat berdasarkan standar pelayanan kefarmasian di apotek M Manado dan apotek X Purwokerto. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif komparatif. Data yang diperoleh dari berbagai gambaran mengenai evaluasi penyimpanan obat yang tepat di apotek M Manado dan apotek X Purwokerto. Berdasarkan telaah literatur didapatkan hasil yaitu pada apotek M Manado yang memenuhi yaitu sebesar 67,57% yang termasuk dalam kategori baik sedangkan yang tidak memenuhi masih kurang sebesar 30,43%. Pada apotek X Purwokerto yang memenuhi yaitu sebesar 94,44% memenuhi dalam kategori sangat baik sedangkan yang tidak memenuhi yaitu sebesar 5,56%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sistem penyimpanan obat menjadi bagian penting dari pengelolaan perbekalan farmasi karena dapat memengaruhi mutu, keamanan, dan keberlangsungan ketersediaan obat. Penyimpanan yang tidak sesuai standar berpotensi menyebabkan kerusakan obat, memperlambat distribusi, dan meningkatkan risiko medication error. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui studi literatur sistem penyimpanan obat dan kesesuaian penyimpanan obat dengan Permenkes No. 73 Tahun 2016 dan Permenkes No. 9 Tahun 2017. Kedua penelitian dalam artikel terkait menggunakan metode observasional melalui checklist dan wawancara mendalam dengan apoteker untuk menilai penerapan standar penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma metode penelitian yang dipakai adalah metode studi literatur dengan cara mereview kedua artikel yang terkait penyimpanan obat di kimia farma. Studi literatur ini diharapkan dapat mendukung peningkatan mutu pelayanan kefarmasian dan memastikan keamanan penggunaan obat dalam pelayanan kepada pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar indikator penyimpanan obat telah memenuhi standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dengan tingkat kesesuaian mencapai 100%, meliputi penyimpanan dalam wadah asli, kejelasan informasi obat, pengelompokan obat, serta penerapan sistem FIFO dan FEFO. Kondisi ruang penyimpanan, sarana prasarana, serta pengelolaan administrasi juga telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, pada indikator pemantauan suhu masih ditemukan ketidaksesuaian dengan tingkat capaian sebesar 50%, yang menunjukkan bahwa pengendalian suhu belum dilakukan secara optimal. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan dalam sistem monitoring suhu untuk menjaga mutu dan stabilitas obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat dan perorangan, termasuk pelayanan kefarmasian. Standar pelayanan kefarmasian di puskesmas bertujuan untuk menjamin mutu pelayanan serta meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Evaluasi terhadap penerapan standar ini penting dilakukan guna mengetahui sejauh mana pelaksanaannya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas Pagesangan dan Puskesmas Tanjung Karang berdasarkan Permenkes No. 74 Tahun 2016. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Sumber data diperoleh dari dua artikel ilmiah yang masing-masing mengevaluasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di dua puskesmas berbeda. Analisis dilakukan berdasarkan tiga indikator, yaitu pengelolaan sediaan farmasi dan BMHP, peralatan dan fasilitas pendukung, serta sumber daya manusia. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Puskesmas Pagesangan memperoleh nilai rata-rata 97,92% dengan capaian maksimal pada indikator pengelolaan sediaan farmasi dan sumber daya manusia, sedangkan Puskesmas Tanjung Karang memperoleh nilai rata-rata 92,5% dengan capaian tertinggi pada indikator sumber daya manusia. Keduanya belum memenuhi indikator ruang konseling pada fasilitas pendukung. Kesimpulan dari evaluasi dalam studi literatur ini menunjukkan bahwa kedua puskesmas telah melaksanakan sebagian besar indikator pelayanan kefarmasian sesuai dengan standar yang berlaku dengan tingkat pencapaian yang termasuk dalam kategori baik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di apotek semakin penting dalam konteks kesehatan saat ini. Kesadaran pasien akan hak yang seharusnya didapatkan dan tuntutan untuk layanan berkualitas mendorong apotek untuk memenuhi harapan pasien secara optimal. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di apotek melalui studi literatur. Penelitian ini mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien, seperti kehandalan, ketanggapan, jaminan, empati, dan bukti fisik. Metode yang digunakan adalah analisis literatur yang komprehensif, dengan menelaah artikel akademis dan laporan penelitian yang relevan. Data dikumpulkan dari 2 jurnal yang relevan dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pasien di Apotek Melia Banjarmasin tergolong puas, dengan skor rata-rata 3,25, sedangkan di Apotek X Kota Bengkulu tergolong sangat puas dengan skor rata-rata 85,43%. Dimensi empati, jaminan, dan ketanggapan merupakan faktor dominan yang memengaruhi kepuasan pasien pada kedua apotek. Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa meskipun keduanya menunjukkan kepuasan tinggi, peningkatan fasilitas fisik serta pelatihan komunikasi apoteker tetap diperlukan untuk menunjang mutu pelayanan secara berkelanjutan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berfungsi untuk menyelenggarakan, meningkatkan, mencegah, mengobati, dan memulihkan kesehatan masyarakat, yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, serta masyarakat, dalam memberikan pelayanan instalasi farmasi yang berkualitas dan memuaskan pasien, pihak puskesmas perlu memperhatikan berbagai aspek pelayanan yang ditawarkan untuk menciptakan sekaligus meningkatkan mutu layanan farmasi. Kepuasan pelanggan adalah tanggapan perilaku yang muncul sebagai hasil dari perbandingan antara harapan dengan pengalaman nyata yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di dua puskesmas, yaitu Puskesmas Bromo di Medan dan Puskesmas Pracimantoro di Wonogiri. Pendekatan kuantitatif dengan menggunakan kuesioner SERVQUAL diterapkan untuk menilai lima dimensi utama pelayanan, meliputi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, tingkat kepuasan pasien di kedua puskesmas berada dalam kategori tinggi, dengan dimensi responsivitas, assurance, dan empati mendapatkan nilai tertinggi. Meskipun demikian, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, seperti fasilitas ruang tunggu dan penjelasan tentang efek samping obat. Disarankan untuk melakukan pelatihan komunikasi secara berkala dan evaluasi kualitas layanan guna mempertahankan dan meningkatkan kepuasan pasien serta kualitas pelayanan kefarmasian di puskesmas.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian. Pelayanan kefarmasian adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelanggarakan pelayanan kefarmasian. Tujuan studi literatur ini adalah untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di beberapa Apotek. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, skripsi, serta jurnal terkait. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif. Hasil dari studi literatur ini menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kefarmasian di beberapa Apotek di Apotek Satkes Pusdokkes Mabes Polri, Apotek di Kota Parepare dan Apotek di Selakau Farma yang ditinjau dari dimensi Tangible (Bukti fisik), Realibility (Kehandalan), Responsivennes (Ketanggapan), Assurance (kepastian), Emphaty (Empati) termasuk kategori puas dengan persentase masing-masing >70%, >70% dan >90%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan farmasi khususnya konseling merupakan faktor yang penting untuk peningkatan kepatuhan pasien dalam terapi pengobatan. Pengobatan penderita hipertensi merupakan hal penting karena hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, harus selalu dikontrol atau dikendalikan agar tidak terjadi komplikasi yang dapat berujung pada kematian. Pengobatan hipertensi dipengaruhi oleh kepatuhan penderita mengonsumsi obat darah tinggi dan melakukan modifikasi gaya hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan KIE dengan tingkat kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Kaliorang. Objek pada penelitian ini adalah pasien hipertensi pada Puskesmas Kaliorang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pelayanan KIE pasien di Puskesmas Kaliorang dan variabel terkait dalam penelitian ini adalah tingkat kepatuhan pasien hipertensi dalam penggunaan obat antihipertensi. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, yaitu sampel diambil berdasarkan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 96 responden. Alat penelitian yang digunakan adalah penilai kuesioner KIE dan kuesioner kepatuhan pasien hipertensi. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif dan data dianalisis menggunakan SPSS.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di puskesmas Kalimantan Timur. Pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi kehidupan pasien. Pelayanan kefarmasian di puskesmas merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan upaya kesehatan, yang berperan penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah jurnal penelitian yang sama dan sudah dilakukan. Analisis data yang digunakan dengan metode deskriptif. Objek pada penelitian ini adalah tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di puskesmas. Berdasarkan hasil penelitian studi literatur perbandingan tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di tiga puskesmas, didapatkan hasil rata-rata kepuasan tertinggi adalah Puskesmas Baqa Samarinda dengan rata-rata 86,27% pada dimensi jaminan, responden merasa sangat puas. Tingkat kepuasan pasien di Puskesmas Sempaja Samarinda rata-rata 81,4% responden merasa puas. Ketidakpuasan pasien tertinggi terdapat pada Puskesmas Loa Ipuh sebesar 23,5% responden tidak puas dalam dimensi jaminan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Standar pelayanan kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian dan pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. Untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas, maka ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas Loa Ipuh Tenggarong.Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2021. Rancangan penelitian ini merupakan rancangan penelitian observasional dengan menggunakan desain penelitian cohort.Data diperoleh dari pengisian lembar wawancara, lembar kuesioner oleh pasien dan lembar daftar tilik berdasarkan pengamatan langsung di ruang farmasi Puskesmas Loa Ipuh.Data yang diperoleh dibandingkan dengan standar yang ada pada kepustakaan dan dianalisis menggunakan uji ChiSquare dan Spearman’s.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan pasien rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit. Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap, dan rawat darurat. Salah satu indikator untuk mengevaluasi kualitas pelayanan farmasi adalah dengan mengukur tingkat kepuasan/pelanggang. Jenis penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan metode analisis deskriptif yaitu menggunakan data sekunder yang telah ditelaah dari beberapa literatur dan dituangkan dalam bentuk tabel. Adapun tahapan penelitian yaitu : melakukan kompilasi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data dituangkan dalam tabel deskriptif, penarikan kesimpulan dan melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Hasil penelitian studi literatur tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit didapatkan hasil rata-rata kepuasaan tertinggi adalah di RSUP Prof Dr. R. D. Kandou Manado dengan persentase 80,96% dengan kriteria sangat puas, selanjutnya tingkat kepuasan di Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon dengan persentase 68,66% dengan kriteria puas dan tingkat kepuasan terendah adalah di Rumah Sakit Umum Daerah Datu Beru Takengon dengan persentase 66,12% dengan kriteria puas. Dalam 5 dimensi yang digunakan, hasil rata-rata tingkat kepuasan tertinggi adalah pada Rumah Sakit Umum Daerah Datu Beru Takengon pada dimensi realibility dengan persentase 91,8% dengan kriteria sangat puas dan rata-rata tingkat kepuasan terendah adalah di Rumah Sakit Umum Daerah Datu Beru Takengon pada dimensi empathy dengan persentase 53,1% dengan kriteria puas.