Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

31 hasil
Subjek: apotek
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Pengendalian persediaan obat dengan metode ABC, EOQ dan MMSL di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pengendalian persediaan di Apotek dilakukan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan analisis kebutuhan dan perencanaan yang telah ditetapkan, dan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu metode analisis ABC (Always, Better, Control), metode EOQ (Economic Order Quantity) dan metode MMSL (Minimum-Maximum Stock Level). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kinerja sistem metode ABC, EOQ dan MMSL terhadap pengendalian persediaan obat-obat di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda periode Januari-Juni 2024. Penelitian yang dilakukan penelitian non-eksperimental dengan analisis secara deskriptif dan menggunakan data kuantitatif yang terdiri dari angka atau bilangan. Teknik sampling yang diterapkan dalam penelitian ini purposive sampling, dengan sampel yang digunakan data persediaan obat di apotek. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kuantitatif persediaan obat di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ketiga metode tersebut dinilai efektif dalam optimalisasi pengendalian persediaan di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda. Metode ABC mengklasifikasikan prioritas pengawasan, EOQ menghitung jumlah pemesanan ekonomis, dan MMSL menetapkan batas stok, sehingga tercapai efisiensi, peningkatan mutu layanan dan menghindari terjadinya kekosongan maupun kelebihan obat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTIK KIMIA FARMA AGUS SALIM DENGAN METODE IMPORTANCE-PERFORMANCE ANALYSIS

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan kefarmasian memiliki peran penting dalam menjamin kepuasan pasien di apotek, yang melampaui harapan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kepuasan pasien terhadap Pelayanan Kefarmasian di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda selama periode April hingga Juni 2025 dengan menggunakan metode Importance-Performance Analysis (IPA). Penelitian ini adalah penelitian non eksperimental dengan analisis secara deskriptif. Dengan objek penelitian kepuasan pasien Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda yang menggunakan jasa pelayanan. Analisis data yang digunakan adalah metode (IPA) untuk mendeskripsikan atau menggambarkan tingkat harapan dan kenyataan pasien terhadap pelayanan di Apotek Kimia Farma Agus Salim Samarinda.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK RIZKY MAHAKAM FARMA 2 KOTA BANGUN ULU DENGAN METODE (IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS)

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Nama​: Rosiana Silla Wati​​​ Program Studi​: Sarjana Farmasi Judul Skrisi​: Gambaran Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Rizky Mahakam Farma 2 Kota Bangun ulu Dengan Metode Inportance Perfomence Analysis . Pembimbing​​​: 1. apt. Heri Wijaya, S.Farm.,M.Si.,Ph.D 2. apt. Siti Jubaidah, S.Farm.,M.Pd. ​​ Pelayanan kefarmasian yang berkualitas merupakan salah satu indikator penting dalam meningkatkan kepuasan pasien di apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di Apotek Rizky Mahakam Farma 2 Kota Bangun Ulu dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA). Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kepentingan dan kinerja pelayanan yang dirasakan oleh pasien, sehingga dapat diketahui area pelayanan yang perlu dipertahankan maupun ditingkatkan. Penelitian ini bersifat deskriptif, data dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa aspek pelayanan yang masuk dalam kuadran prioritas perbaikan, seperti kecepatan pelayanan, ketepatan pemberian informasi obat, dan keramahan tenaga farmasi. Sementara itu, beberapa aspek lain berada dalam kuadran kinerja tinggi dan penting bagi pasien, sehingga perlu dipertahankan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa secara umum pasien merasa cukup puas terhadap pelayanan kefarmasian di apotek tersebut, namun masih diperlukan perbaikan pada beberapa aspek layanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara keseluruhan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PERBANDINGAN PREFERENSI KONSUMEN DALAM MEMILIH OBAT TRADISIONAL DAN OBAT SINTETIK DI APOTEK KIMIA FARMA 760 BALIKPAPAN

•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Perkembangan industri farmasi di Indonesia membawa perubahan signifikan dalam perilaku konsumsi obat di masyarakat, terutama pada pemilihan antara obat tradisional dan obat sintetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan preferensi konsumen dalam memilih obat tradisional dan obat sintetik di Apotek Kimia Farma 760 Balikpapan serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya, yaitu faktor ekonomi, sosial, budaya, dan psikologs. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif komparatif dengan pendekatan survei deskriptif. Objek yang akan diteliti adalah konsumen yang melakukan pembelian obat di Apotek Kimia Farma 760 Balikpapan. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner online menggunakan google form kepada 358 responden yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan statistik deskriptif untuk menentukan adanya perbedaan signifikan antara kedua jenis obat berdasarkan faktor-faktor yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden lebih memilih obat sintetik dibandingkan obat tradisional. Faktor sosial merupakan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi preferensi konsumen.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS GAMBARAN INTERAKSI OBAT PADA RESEP DI APOTEK MEDIA FARMA SAMARINDA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Interaksi obat merupakan salah satu dari delapan kategori Drug Related Problems (DRPs) yang paling sering dilaporkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Polifarmasi menjadi faktor risiko utama terjadinya interaksi obat, dengan prevalensi global mencapai 37%. Apotek Media Farma Samarinda melayani sekitar 9.000 resep dari 12.000 kunjungan pasien setiap bulan, sehingga berpotensi meningkatkan kejadian interaksi obat yang signifikan secara klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran interaksi obat berdasarkan pasangan obat, frekuensi kejadian, dan derajat keparahan pada resep yang diterima di Apotek. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap resep periode Oktober 2025. Sampel penelitian berjumlah 620 resep yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Identifikasi interaksi obat dilakukan menggunakan Software DrugBank dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 522 resep (84,19%) berpotensi mengalami interaksi obat dengan total 522 kejadian interaksi. Berdasarkan derajat keparahan, interaksi moderat merupakan kategori yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 271 kejadian (51,92%), diikuti interaksi minor sebanyak 143 kejadian (27,39%), dan interaksi major sebanyak 108 kejadian (20,69%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi pada kategori minor adalah acetaminophen dan amoxicillin (11,19%), kategori moderat adalah acetaminophen dan dexamethasone (12,55%), dan kategori major adalah dexamethasone dan dextromethorphan (21,30%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang menerima resep di Apotek Media Farma Samarinda berada pada kelompok usia dewasa (19-59 tahun), berjenis kelamin perempuan, dan menerima terapi polifarmasi minor (2-4 obat). Sebagian besar resep berpotensi mengalami interaksi obat dengan derajat keparahan moderat sebagai kategori yang paling dominan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Kesadaran Dan Harapan Terhadap Kepercayaan Konsumen Pada Peran Apoteker Dalam Pelayanan Kefarmasian Di Apotek Wilayah Samarinda Ulu

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Apotek merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berperan penting dalam penyediaan obat dan informasi penggunaannya, sedangkan apoteker sebagai pelaku utama pelayanan kefarmasian juga berperan sebagai konsultan kesehatan yang mengedukasi masyarakat. Kepercayaan konsumen terhadap peran apoteker penting dalam mendukung pelayanan kefarmasian yang optimal, dan berkaitan dengan kesadaran serta harapan konsumen. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen serta menganalisis hubungan antara kesadaran dan harapan terhadap kepercayaan konsumen pada peran apoteker dalam pelayanan kefarmasian di apotek Wilayah Samarinda Ulu. Metode penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional, melibatkan 400 responden yang dipilih melalui purposive sampling. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mendeskripsikan karakteristik responden serta tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen, dan secara bivariat menggunakan uji Spearman Rank untuk mengetahui hubungan antarvariabel. Hasil menunjukkan tingkat kesadaran, harapan, dan kepercayaan konsumen mayoritas tinggi (6,45%; 27,7%; 27,9%). Kesadaran tidak berhubungan signifikan dengan kepercayaan (p=0,240), sedangkan harapan berhubungan signifikan dan kuat dengan kepercayaan (p=0,000; r=0,719).

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TINGKAT PENGETAHUAN APOTEKER TENTANG GOOD COMPOUNDING PRACTICE (GCP) NON-STERIL DI PUSKESMAS DAN APOTEK

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Good Compounding Practice (GCP) berupa pedoman yang bertujuan menjamin mutu, keamanan, dan konsistensi sediaan obat racikan dalam pelayanan kefarmasian. Pengetahuan apoteker terhadap GCP merupakan faktor penting karena berpengaruh langsung terhadap kualitas peracikan serta pencegahan kesalahan yang berpotensi membahayakan pasien. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP, serta apakah terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara apoteker di Puskesmas Balikpapan dan Apotek Kecamatan Tenggarong. Studi literatur ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat pengetahuan apoteker tentang GCP di Puskesmas dan Apotek pada kedua wilayah, serta membandingkan apakah tingkat pengetahuan apoteker antar puskesmas dan apotek menunjukkan perbedaan atau kesamaan. Rancangan yang digunakan pada penelitian menggunakan metode studi literatur mengumpulkan, mempelajari dan menelaah beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini adalah tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP di Puskesmas Balikpapan dan Apotek Kecamatan Tenggarong. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh gambaran mengenai pemahaman apoteker terhadap aspek-aspek GCP serta potensi perbedaan pengetahuan. Hasil kajian ini diharapkan memberikan dasar untuk evaluasi dan penguatan kompetensi apoteker dalam praktik peracikan. Hasil penelitian dari dua literatur yang dibandingkan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP pada kedua penelitian termasuk dalam kategori baik, dengan skor rata-rata sebesar 87,78% pada penelitian di puskesmas dan 85,98%, meskipun masih terdapat beberapa aspek yang belum dipahami secara optimal. Kesimpulan dari studi literatur ini adalah tingkat pengetahuan apoteker mengenai GCP secara umum sudah baik, namun tetap diperlukan peningkatan kompetensi pada beberapa aspek GCP untuk mendukung praktik peracikan yang aman dan bermutu.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Evaluasi Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Kualitas Pelayanan Kefarmasian di Apotek Wilayah Sanga-Sanga Kutai Kartanegara

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pelayanan kefarmasian yang berkualitas memegang peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya di wilayah dengan fasilitas terbatas seperti Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tingkat kepuasan pasien terhadap kualitas pelayanan kefarmasian di dua apotek wilayah Sanga-Sanga pada periode Februari–Maret 2026. Kepuasan diukur menggunakan model SERVQUAL yang meliputi lima dimensi: reliability (kehandalan), responsiveness (ketanggapan), assurance (jaminan), empathy (empati), dan tangible (bukti fisik). Metode penelitian bersifat kuantitatif deskriptif non-eksperimental dengan teknik accidental sampling, jumlah sampel sebanyak 350 pasien yang menerima layanan kefarmasian. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh dimensi menampilkan nilai GAP negatif, yang mengindikasikan adanya selisih antara harapan pasien dan kenyataan layanan di apotek. Pada Apotek A, rata-rata skor kenyataan adalah 84,55 dan harapan 98,46 sehingga GAP total −13,90. Sedangkan pada Apotek B, skor kenyataan 82,95 dan harapan 97,43 sehingga GAP total −14,48. Dimensi dengan GAP terbesar pada Apotek A adalah tangible (−15,86), menunjukkan kebutuhan peningkatan fasilitas fisik dan penampilan layanan. Pada Apotek B dimensi terbesar adalah responsiveness (−15,45), menandakan perlunya peningkatan kecepatan dan ketanggapan staf dalam melayani pasien. Berdasarkan penilaian pasien tingkat pelayanan kefarmasian kedua apotek masih dikategorikan baik. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa pelayanan kefarmasian di wilayah Sanga-Sanga belum sepenuhnya memenuhi harapan pasien sehingga diperlukan perbaikan, khususnya pada dimensi yang memiliki GAP terbesar. Penelitian diharapkan menjadi acuan evaluasi bagi apotek setempat, referensi akademik bagi mahasiswa farmasi, serta dasar rekomendasi bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam upaya peningkatan dan pemerataan layanan kesehatan di daerah terpencil.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR EVALUASI PENYIMPANAN OBAT DI APOTEK KIMIA FARMA BERDASARKAN STANDAR KEFARMASIAN PERMENKES NO. 73 TAHUN 2016

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyimpanan obat di apotek merupakan tahap mendasar dalam rantai pasok farmasi yang memengaruhi kualitas dan keselamatan pasien. Terdapat perbedaan antara standar regulasi Peraturan Kementerian Kesehatan No. 73 Tahun 2016 dan pelaksanaannya di lapangan. Studi literatur ini bertujuan melakukan sintesis komprehensif terhadap bukti ilmiah terkait evaluasi penyimpanan obat di apotek. Secara khusus, tinjauan ini akan menganalisis faktor-faktor kritis meliputi aspek teknis-fisik (pengendalian lingkungan, fasilitas), manajemen stok (sistem FEFO, indikator kinerja), dokumentasi dan SOP , kompetensi SDM, serta kepatuhan regulasi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan meninjau artikel relevan. Data dikumpulkan dan dianalisis secara deskriptif. Pencarian literatur dilakukan di PubMed, Google Scholar, dan Garuda untuk menemukan artikel penelitian relevan yang diterbitkan dalam 10 tahun terakhir (2016-2025). Hasil kajian terhadap dua artikel menunjukkan bahwa apotek yang diteliti telah menerapkan prinsip dasar penyimpanan seperti penggunaan alat pemantau suhu, sistem FIFO dan FEFO, pemisahan obat LASA, serta penyimpanan khusus narkotika dan obat yang memerlukan suhu terkendali. Ditemukan perbedaan pada aspek sarana fisik dan dokumentasi. Satu apotek menunjukkan kondisi fisik ruang penyimpanan kurang optimal serta tidak disebutkannya penggunaan pallet, kartu suhu, kartu stok, dan ruang arsip, sementara apotek lain telah memenuhi seluruh aspek observasi. Kesimpulan studi literatur ini adalah kepatuhan terhadap standar penyimpanan obat tidak hanya ditentukan oleh prosedur teknis, tetapi juga sangat bergantung pada kelengkapan fasilitas fisik dan sistem dokumentasi. Saran yang diajukan adalah perlunya perbaikan infrastruktur ruang penyimpanan serta penguatan pencatatan dan pemantauan secara konsisten untuk menjamin mutu dan keamanan obat.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG SWAMEDIKASI ANALGETIK DI APOTEK MERDEKA BENGALON

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Apotek merupakan sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukannya praktik kefarmasian oleh apoteker dan tenaga teknis kefarmasian. Tenaga kefarmasian sebagai bagian dari tenaga kesehatan memiliki kewenangan dan kewajiban untuk memberikan pelayanan kefarmasian yang optimal kepada pasien. Swamedikasi merupakan upaya seseorang untuk mengobati dan mengatasi keluhan yang dialaminya tanpa menggunakan resep dari dokter. Analgetik merupakan golongan Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit sehingga sering digunakan masyarakat untuk mengobati nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat pengetahuan pasien tentang swamedikasi analgetik di Apotek Merdeka Bengalon. Objek penelitian difokuskan pada tingkat pengetahuan pasien. Sampel dalam penelitian adalah masyarakat yang membeli obat analgetik di Apotek Merdeka Bengalon dan memenuhi kriteria inklusi yang telah ditentukan sebanyak 290 orang. Teknik sampling yang digunakan yaitu accidental sampling dengan pengambilan data diambil dari bulan November 2025 -Februari 2026. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil : Karakteristik berdasarkan jenis kelamin responden adalah laki-laki sebanyak 132 orang (45,5%), dan perempuan sebanyak 158 orang (54,5%). Kategori umur 17-25 tahun sebanyak 72 orang (24,8%), usia 26-35 tahun sebanyak 84 orang (29%), usia 36-45 tahun sebanyak 68 orang (23,4%), usia 46-55 tahun sebanyak 44 orang (15,2%), usia 56-65 tahun sebanyak 22 orang ( 7,6%). Mayoritas responden sebagai pgawai swasta sebanyak 68 orang (23,4%). Dan dari hasil penelitian ini tingkat pengetahuan pasien tentang swamedikasi analgetik di Apotek Merdeka Bengalon adalah Baik atau sebanyak 223 orang dengan persentase 76,90%.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR EVALUASI PENYIMPANAN OBAT YANG TEPAT BERDASARKAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK M MANADO DAN X PURWOKERTO

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyimpanan obat merupakan bagian penting dari pengelolaan sediaan farmasi. Obat-obatan harus disimpan sesuai standar pelayanan kefarmasian agar tetap aman, bebas dari cacat atau kerusakan fisika ataupun kimia, serta mutu obat dapat terjaga. Sistem penyimpanan obat menjadi bagian penting dalam pengelolaan stok di apotek karena berpengaruh terhadap kestabilan, keamanan, dan mutu obat hingga digunakan oleh pasien. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penyimpanan obat yang tepat berdasarkan standar pelayanan kefarmasian. Rancangan penelitian yang digunakan merupakan jenis penelitian studi literatur (literature review). Pendekatan ini dilaksanakan melalui kegiatan pengumpulan data, penelaah mendalam, dan analisis kritis terhadap berbagai sumber pustaka. Objek penelitian ini yaitu artikel yang menyajikan data evaluasi penyimpanan obat yang tepat berdasarkan standar pelayanan kefarmasian di apotek M Manado dan apotek X Purwokerto. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif komparatif. Data yang diperoleh dari berbagai gambaran mengenai evaluasi penyimpanan obat yang tepat di apotek M Manado dan apotek X Purwokerto. Berdasarkan telaah literatur didapatkan hasil yaitu pada apotek M Manado yang memenuhi yaitu sebesar 67,57% yang termasuk dalam kategori baik sedangkan yang tidak memenuhi masih kurang sebesar 30,43%. Pada apotek X Purwokerto yang memenuhi yaitu sebesar 94,44% memenuhi dalam kategori sangat baik sedangkan yang tidak memenuhi yaitu sebesar 5,56%.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR SISTEM PENYIMPANAN OBAT DI KIMIA FARM

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sistem penyimpanan obat menjadi bagian penting dari pengelolaan perbekalan farmasi karena dapat memengaruhi mutu, keamanan, dan keberlangsungan ketersediaan obat. Penyimpanan yang tidak sesuai standar berpotensi menyebabkan kerusakan obat, memperlambat distribusi, dan meningkatkan risiko medication error. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui studi literatur sistem penyimpanan obat dan kesesuaian penyimpanan obat dengan Permenkes No. 73 Tahun 2016 dan Permenkes No. 9 Tahun 2017. Kedua penelitian dalam artikel terkait menggunakan metode observasional melalui checklist dan wawancara mendalam dengan apoteker untuk menilai penerapan standar penyimpanan obat di Apotek Kimia Farma metode penelitian yang dipakai adalah metode studi literatur dengan cara mereview kedua artikel yang terkait penyimpanan obat di kimia farma. Studi literatur ini diharapkan dapat mendukung peningkatan mutu pelayanan kefarmasian dan memastikan keamanan penggunaan obat dalam pelayanan kepada pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar indikator penyimpanan obat telah memenuhi standar Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) dengan tingkat kesesuaian mencapai 100%, meliputi penyimpanan dalam wadah asli, kejelasan informasi obat, pengelompokan obat, serta penerapan sistem FIFO dan FEFO. Kondisi ruang penyimpanan, sarana prasarana, serta pengelolaan administrasi juga telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, pada indikator pemantauan suhu masih ditemukan ketidaksesuaian dengan tingkat capaian sebesar 50%, yang menunjukkan bahwa pengendalian suhu belum dilakukan secara optimal. Hal ini mengindikasikan perlunya peningkatan dalam sistem monitoring suhu untuk menjaga mutu dan stabilitas obat.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBAR PELAYANAN INFORMASI OBAT (PIO) DI PUSKESMAS UJOH BILANG KABUPATEN MAHAKAM ULU BERDASARKAN PERMENKES RI NO. 74 TAHUN 2016

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Pelayanan Informasi Obat (PIO) di Puskesmas Ujoh Bilang, Kabupaten Mahakam Ulu, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 74 Tahun 2016. Fokus utama dari pelayanan kefarmasian adalah memastikan penggunaan obat yang rasional dan efektif melalui interaksi langsung antara tenaga kefarmasian dan pasien. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan prospektif dengan pengumpulan data primer melalui lembar checklist observasi dan wawancara. Sampel penelitian terdiri dari apoteker dan tenaga kefarmasian yang memberikan informasi obat kepada pasien. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai kualitas pelayanan informasi obat di puskesmas, serta membantu meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien dalam pengobatan, sehingga tujuan terapi dapat tercapai secara optimal. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi kekurangan dalam proses pemberian informasi obat, yang dapat digunakan untuk merancang program pendidikan lebih lanjut bagi tenaga kesehatan di Puskesmas.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TENTANG TABLET DEKSAMETASON DI APOTEK

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tablet deksametason adalah obat golongan kortikosteroid yang sering digunakan oleh pasien untuk mengobati berbagai keluhan penyakit diantaranya alergi yang parah, asma kronik, masalah kulit, artritis, pembengkakan pada usus, kanker, dan penyakit autoimun. Masyarakat di sekitar Apotek sering membeli obat Deksamethason tanpa mengetahui informasi obat deksamethason secara lengkap. Tablet deksametason merupakan obat keras yang penggunaannya harus dalam pengawasan dokter dan diresepkan oleh dokter. Perilaku kesehatan seorang pasien tentang penggunaan obat sangat dipengaruhi oleh Tingkat pengetahuannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien dalam menggunakan tablet deksametason dalam mengobati penyakitnya. Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental deskriptif dengan mengambil data dari lembar kuisioner yang diajukan kepada konsumen yang datang ke apotek.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN PASIEN TERHADAP PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI APOTEK

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang umum di masyarakat. Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya melebihi 130/85 mmHg. Prevalensi hipertensi terus meningkat, sehingga pemahaman mengenai kondisi ini sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan pasien terhadap penggunaan obat antihipertensi di apotek. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber pustaka, seperti jurnal dan artikel ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan hasil dalam bentuk tabel dan persentase untuk memberikan gambaran yang lebih jelas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai tingkat pemahaman pasien terhadap penggunaan obat antihipertensi serta membantu meningkatkan edukasi terkait pengelolaan dan pencegahan hipertensi di masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai penggunaan obat antihipertensi, meskipun masih terdapat kekeliruan dalam pemahaman terkait konsumsi obat bersama makanan tertentu dan pentingnya keteraturan dalam minum obat. Perbedaan tingkat pendidikan dan usia pasien juga berkontribusi terhadap variasi pemahaman yang dimiliki. Studi ini menegaskan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada pasien guna meningkatkan kepatuhan dan efektivitas terapi antihipertensi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Literatur Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Swamedikasi Obat Batuk di Apotek

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Swamedikasi merupakan pengobatan sendiri yang dilakukan masyarakat untuk meredakan gejala penyakit ringan. Banyak masyarakat yang melakukan swamedikasi tetapi tidak sesuai dengan kondisi pasien. Prevalensi tingkat swamedikasi menurut Badan Pusat Statistik tahun 2022 ada sekitar 84,34% dan tahun 2023 sekitar 79,75%. Salah satu swamedikasi yang sering dilakukan masyarakat adalah pengobatan batuk. Batuk adalah salah satu gejala dari dalam tubuh yang diakibatkan oleh zat-zat asing seperti debu, lendir, asap, dan rokok. Batuk diklasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu batuk produktif dan batuk non produktif. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat terhadap swamedikasi obat batuk di apotek. Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi fasilitas pelayanan kesehatan serta menjadi referensi bagi penelitian. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini merupakan penelitian studi literatur yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah jurnal yang berkaitan dengan penelitian. Objek penelitian ini yaitu tingkat pengetahuan masyarakat terhadap swamedikasi obat batuk di Apotek. Analisis data yang dilakukan dengan metode analisis deskriptif yang hasilnya akan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase tingkat pengetahuan masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat di 2 wilayah berbeda, yaitu Apotek Berlian Kandat Kabupaten Kediri dengan persentase 85,56% dan Apotek Kota Bukittinggi dengan persentase 86,53% memiliki tingkat pengetahuan tinggi terhadap swamedikasi obat batuk. Responden memahami definisi batuk, jenis batuk, pemilihan obat yang sesuai serta aturan pakai. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa mayaoritas pengetahuan masyarakat terhadap swamedikasi obat batuk termasuk kategori tinggi.

8 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK KOTA BANJARMASIN DAN KOTA BENGKULU

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di apotek semakin penting dalam konteks kesehatan saat ini. Kesadaran pasien akan hak yang seharusnya didapatkan dan tuntutan untuk layanan berkualitas mendorong apotek untuk memenuhi harapan pasien secara optimal. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di apotek melalui studi literatur. Penelitian ini mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien, seperti kehandalan, ketanggapan, jaminan, empati, dan bukti fisik. Metode yang digunakan adalah analisis literatur yang komprehensif, dengan menelaah artikel akademis dan laporan penelitian yang relevan. Data dikumpulkan dari 2 jurnal yang relevan dan dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskriptif . Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pasien di Apotek Melia Banjarmasin tergolong puas, dengan skor rata-rata 3,25, sedangkan di Apotek X Kota Bengkulu tergolong sangat puas dengan skor rata-rata 85,43%. Dimensi empati, jaminan, dan ketanggapan merupakan faktor dominan yang memengaruhi kepuasan pasien pada kedua apotek. Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa meskipun keduanya menunjukkan kepuasan tinggi, peningkatan fasilitas fisik serta pelatihan komunikasi apoteker tetap diperlukan untuk menunjang mutu pelayanan secara berkelanjutan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Pengetahuan Apoteker Tentang Good Componding Practice (GCP) Non-Sterile Dan Implementasinya Di Apotek Kota Samarinda

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Compounding obat menjadi perhatian karena banyak munculnya kejadian yang tidak dikehendaki seperti masalah farmasetika dan interaksi obat. Good Compounding Practice (GCP) adalah panduan untuk meracik obat dengan baik yang berisi tentang petunjuk yang lebih mendalam tentang penerapan praktik compounding yang baik untuk menyiapkan formulasi obat racikan yang akan diberikan kepada manusia. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan Apoteker tentang GCP, implementasi GCP di apotek Kota Samarinda, dan hubungan antara pengetahuan Apoteker tentang GCP dan implementasinya di apotek Kota Samarinda. Jenis penelitian ini adalah observasional deskriptif dengan rancangan penelitian cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 120 responden, kemudian analisis data untuk mengetahui korelasi antara tingkat pengetahuan dan implementasi menggunakan analisis chi-square. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan tingkat pengetahuan Apoteker tentang GCP tergolong baik, dengan nilai rata-rata 81,91. Implementasi GCP oleh Apoteker juga tergolong baik, dengan nilai rata-rata 77,91. Tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan implementasi Good Compounding Practice (GCP) (P value = 0,896). Hasil tabulasi silang Odd Ratio (OR) sebesar 0,992 yang menunjukkan 1 maka tingkat pengetahuan mengurangi resiko rendahnya Apoteker untuk melakukan implementasi GCP.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Tingkat Pengetahuan Apoteker Tentang Good Compounding Practice (GCP) Di Apotek Kecamatan Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong Seberang

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Compounding obat menjadi perhatian karena banyak munculnya kejadian yang tidak dikehendaki seperti masalah farmasetika dan interaksi obat. Good Compounding Practice (GCP) merupakan pedoman peracikan obat yang baik. Pemahaman tentang GCP harus dikuasai oleh Apoteker untuk mengurangi risiko pada pasien dari gabungan obat yang tidak aman, tidak efektif dan berkualitas buruk, sekaligus menjaga akses terhadap obat-obatan gabungan yang dipasarkan secara sah bagi pasien yang mempunyai kebutuhan medis terhadap obat-obatan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan Apoteker tentang Good Compounding Practice (GCP) di apotek Kecamatan Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong Seberang. Metode Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik total sampling, dengan jumlah sempel sebanyak 56 responden. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dengan menggunakan microsoft excel. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan tingkat pengetahuan Apoteker tentang GCP tergolong baik dengan nilai rata-rata 85,98%.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Literatur Pola Peresepan Obat Antihipertensi Pada Pasien BPJS Kesehatan Di Apotek Kimia Farma

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah faktor risiko utama terjadinya penyakit kardiovaskular aterosklerosis, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal. Hipertensi menimbulkan risiko mortalitas dini, yang meningkat saat tekanan sistolik dan diastolik meningkat. Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan untuk ditangani di FKTP. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pola Peresepan Obat Antihipertensi Pada Pasien BPJS Kesehatan Di Apotek. Penelitian yangdilakukan merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku serta dokumen yang terkait sepertikarya tulis ilmiah, skripsi, dan jurnal ilmiah. Studi literatur ini mengacu pada 2 jurnal penelitian yaitu “Pola Peresepan Obat Antihipertensi Pada Pasien BPJS Kesehatan Diapotek Kimia Farma Ahmadyani”, dan “Gambaran Peresepan Obat Antihipertensi Dan Interaksi Obat Pada Pasien BPJS Di Apotek Kimia Farma 479 Kendari”. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif berupa data kuantitatif yaitu dengan data pengobatan antihipertensi secara monoterapi dan kombinasi.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail