ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Biaya perawatan kesehatan yang terus meningkat menuntut adanya analisis efisiensi ekonomi dalam pengobatan. Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronik dengan prevalensi yang terus meningkat serta berkontribusi terhadap tingginya pembiayaan kesehatan. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas biaya penggunaan terapi insulin dan insulin kombinasi OHO pada pasien rawat jalan diabetes mellitus tipe 2 di RSUD Inche Abdoel Moeis dengan metode analisis efektivitas biaya (Cost Effective Analysis). Penelitian ini adalah penelitian non-ekperimental deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data diambil secara retrospektif dari rekam medis pasien diabetes mellitus di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. Teknik sampling menggunakan metode total sampling dengan seluruh anggota populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Efektivitas terapi dinilai berdasarkan penurunan kadar glukosa darah puasa (GDP). Biaya yang dianalisis adalah biaya medis langsung dari perspektif rumah sakit yang meliputi biaya obat, cek laboratorium, administrasi poli dan kefarmasian. Analisis statistik dilakukan untuk mengevaluasi perbedaan signifikan antar kelompok. Hasil menunjukkan rata-rata total biaya medis langsung pada kelompok terapi insulin lebih tinggi dibandingkan kelompok terapi insulin OHO. kelompok terapi insulin menunjukkan rata-rata penurunan GDP sebesar 37,541 mg/dL, sedangkan kelompok terapi insulin kombinasi OHO sebesar 32,672 mg/dL. Hasil analisis ACER menunjukkan terapi insulin kombinasi OHO menghasilkan biaya yang lebih rendah untuk setiap satuan penurunan GDP dibandingkan terapi insulin. Terapi insulin rata-rata memberikan penurunan GDP yang sedikit lebih besar, terapi insulin kombinasi OHO memiliki biaya yang lebih rendah sehingga menunjukkan efektivitas biaya yang lebih baik. Demikian terapi insulin kombinasi OHO dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terapi yang lebih cost-effective pada pasien DMT2 sesuai dengan kondisi klinis pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) salah satu penyakit kronis yang membutuhkan pengelolaan pengobatan jangka panjang. Tingkat kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antidiabetik sangat menentukan keberhasilan terapi dan pengendalian kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepatuhan penggunaan obat antidiabetik pada pasien DM di Rumah Sakit Dirgahayu. Metode penelitian menggunakan desain survey analitik crosssectional dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik non-probability sampling berupa purposive sampling terhadap pasien DM yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel minimal berjumlah 95 responden data dikumpulkan secara prospektif menggunakan kuesioner MMAS-8 yang telah tervalidasi. Analisis data mencakup analisis deskriptif untuk menggambarkan tingkat kepatuhan serta dilakukan uji chi-square untuk melihat hubungan karakteristik pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan pasien tergolong rendah, dengan persentase kepatuhan tinggi 7,22%, kepatuhan sedang 36,08%, dan kepatuhan rendah sebesar 56,70%. Pekerjaan merupakan faktor yang mempengaruhi kepatuhan, sedangkan jenis kelamin, usia, dan pendidikan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Kondisi ini ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Berdasarkan laporan profil kesehatan, jumlah penderita DM menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sehingga memerlukan perhatian serius. Pasien DM umumnya memiliki penyakit penyerta, sehingga sering menerima lebih dari satu jenis obat dalam satu resep. Penggunaan monoterapi maupun terapi kombinasi berpotensi menimbulkan interaksi obat, yaitu kondisi ketika dua atau lebih obat yang digunakan secara bersamaan saling memengaruhi efek masing-masing. Penelitian ini bertujuan menggambarkan potensi interaksi obat pada resep pasien DM. Metode yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari resep elektronik di Instalasi Farmasi Puskesmas Barong Tongkok. Analisis dilakukan menggunakan Drugs.com dan Microsoft Excel secara sistematis untuk mendukung keamanan dan efektivitas terapi pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 174 resep pasien, sebanyak 132 pasien (75,9%) memiliki potensi interaksi obat, sementara 42 pasien (24,1%) tidak menunjukkan potensi interaksi. Total kejadian interaksi obat tercatat sebanyak 228 kejadian, dengan tingkat keparahan terbanyak adalah kategori moderat sebanyak 183 kejadian (80,3%), diikuti kategori minor sebanyak 37 kejadian (16,2%), dan kategori mayor sebanyak 8 kejadian (3,5%). Pasangan obat yang paling banyak berinteraksi adalah glimepirid dengan metformin, sementara interaksi mayor ditemukan pada kombinasi amlodipin dengan simvastatin. Temuan ini mengindikasikan tingginya beban farmakoterapi dan risiko polifarmasi pada pasien DM di Puskesmas Barong Tongkok, sehingga diperlukan pemantauan klinis yang ketat serta peran aktif apoteker dalam melakukan skrining, evaluasi, dan monitoring terapi guna memastikan keamanan dan efektivitas pengobatan bagi pasien
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi maupun kerja insulin. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan penggunaan obat antidiabetes adalah persepsi pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi penyakit, tingkat kepatuhan penggunaan obat antidiabetes, serta hubungan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Segiri. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi penyakit kategori tinggi sebanyak 66 responden (78%), sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 69 responden (81%). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes (r = 0,224; p = 0,039). Nilai koefisien korelasi menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan hubungan yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi penyakit pasien, maka cenderung semakin tinggi pula kepatuhan penggunaan obat antidiabetes. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Segiri..
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang terus meningkat prevalensinya dan sering menimbulkan komplikasi yang membutuhkan terapi jangka panjang. Penggunaan banyak obat pada pasien rawat inap meningkatkan risiko terjadinya Drug Related Problems (DRPs), yang dapat mengganggu efektivitas terapi serta menurunkan keselamatan pasien. DRPs pada pasien diabetes perlu diidentifikasi sejak dini karena dapat berdampak pada kualitas perawatan, lama rawat inap, dan biaya pengobatan. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi sistematis mengenai jenis–jenis DRPs yang muncul pada pasien diabetes melitus di instalasi rawat inap rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis Drug Related Problems (DRPs) yang terjadi pada pasien diabetes melitus yang menjalani perawatan di instalasi rawat inap rumah sakit. Metode penelitian yaitu menggunakan rancangan analisis deskriptif. Analisis dari dua jurnal juga menggambarkan bahwa ketidak tepatan regimen obat, interaksi obat, serta penggunaan obat tanpa indikasi maupun indikasi tanpa terapi merupakan bentuk masalah yang paling sering terjadi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang sehingga kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengobatan dan pencegahan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien Diabetes Melitus Tipe 2 serta tingkat kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral di Puskesmas berdasarkan studi literatur. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menelaah tiga artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil sintesis menunjukkan bahwa karakteristik pasien pada ketiga penelitian didominasi oleh kelompok usia 46–65 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki tingkat pendidikan dasar hingga menengah (SD–SMA), serta sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga, meskipun pada beberapa penelitian juga ditemukan responden yang tidak bekerja dan pensiunan. Berdasarkan analisis terhadap ketiga jurnal, tingkat kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral menunjukkan variasi, yaitu 37,1% termasuk kategori kepatuhan tinggi, 47,3% kategori kepatuhan sedang, dan 46,88% kategori kepatuhan rendah. Perbedaan tingkat kepatuhan dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, lama menjalani terapi, kompleksitas regimen pengobatan, dukungan keluarga, serta peran tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa karakteristik pasien Diabetes Melitus Tipe 2 relatif serupa, sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat masih bervariasi sehingga diperlukan edukasi, konseling, dan pemantauan terapi secara berkelanjutan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus merupakan salah satu tantangan kesehatan global terbesar pada abad ke-21 dengan prevalensi yang terus meningkat secara signifikan. Penggunaan obat antidiabetes atau terapi insulin memiliki keterbatasan berupa biaya yang relatif mahal, efek samping yang tidak diinginkan, dan potensi resistensi obat pada penggunaan jangka panjang. Daun salam (Syzygium polyanthum) telah digunakan secara empiris oleh masyarakat Indonesia sebagai pengobatan tradisional untuk menurunkan kadar glukosa darah. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian air rebusan daun salam terhadap kadar glukosa darah. Hasil penelitian dari artikel yang dilakukan di Desa Kopek dengan 18 responden penderita diabetes melitus tipe 2 sebelum intervensi didapatkan hasil ratarata kadar glukosa darah sebesar 178,22 mg/dL dan setelah intervensi seduhan daun salam selama seminggu menjadi 148,39 mg/dL. Begitu pula pada penelitian yang dilakukan di Desa Paok Motong dengan total 41 responden didapatkan rata-rata kadar glukosa darah sebelum intervensi ialah 194,49 mg/dL dan setelah intervensi menjadi 179,27 mg/dL. Kesimpulan dari studi literatur ini ialah penggunaan seduhan daun salam dapat menurunkan kadar glukosa darah.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus merupakan ganguan metabolik kronis yang ditandai dengan kondisi hiperglikemia akibat ganguan sekresi insulin, kerja insulin, atau kombinasi keduanya. Hal ini menyebabkan terhambatnya penyerapan glukosa oleh sel tubuh, sehingga glukosa menumpuk di dalam darah. Hiperglikemia yang tidak terkontrol dapat memicu komplikasi kronis. Penderita diabetes melitus dapat memanfaatkan tanaman obat sebagai upaya penanganan non-farmakologis, salah satunya melalui pemanfaatan daun kelor (Moringa oleifera). Daun kelor mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, polifenol, tanin, isothiocynate, betakaroten, vitamin C, vitamin E serta selenium yang berperan sebagai antioksidan dan antidiabetik. Senyawa-senyawa tersebut mampu meningkatkan sensitivitas insulin dan melindungi sel beta pankreas dari kerusakan akibat stress oksidatif serta membantu proses penyerapan glukosa oleh sel tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas rebusan daun kelor melalui studi literatur dengan membandingkan dua artikel penelitian di Desa Balam Jaya dan di Desa Limehe Timur. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif dengan objek penelitian pasien penderita diabetes melitus tipe 2 di kedua desa tersebut yang diberi air rebusan daun kelor. Hasil studi literatur menunjukan adanya penurunan kadar glukosa darah di desa Balam jaya sebesar 71,48 mg/dl dan di Desa Limehe Timur sebesar 146,8 mg/dl. Perbedaan hasil tersebut mengindikasikan bahwa dosis dan durasi pemberian daun kelor, serta karateristik individu sangat mempengaruhi efektivitas rebusan daun kelor. Berdasarkan hasil studi tersebut pemberian rebusan daun kelor terbukti efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah penderita diabetes melitus tipe 2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat serta berisiko menimbulkan komplikasi akibat ketidakpatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Kepatuhan pengobatan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur melalui penelusuran Google scholar berdasarkan kriteria inklusi, diperoleh dua artikel yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan mengkaji karakteristik sosiodemografi, klinis dan psikososial, serta menggunakan instrumen Medication Adherence Report Scale (MARS-5) dengan uji chi square pada masing-masing artikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Faktor sosiodemografi yang berhubungan dengan kepatuhan meliputi usia, jenis kelamin dan pekerjaan meskipun tidak konsisten pada setiap penelitian. Faktor klinis yang berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan yaitu frekuensi minum obat, jenis terapi, dan kadar gulah darah. Faktor ekonomi khususnya penghasilan berhubungan dengan kepatuhan. Faktor psikososial seperti motivasi diri, dukungan keluarga dan dukungan tenaga kesehatan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Diabetes Mellitus (DM) Tipe 2 adalah penyakit kronis yang sering sulit dikontrol hanya dengan satu obat. Jika satu obat (monoterapi) saja tidak berhasil, maka pasien biasanya perlu kombinasi dua atau lebih obat hipoglikemik oral (OHO). Studi literatur ini bertujuan untuk melihat seberapa efektif berbagai kombinasi OHO dalam mengontrol gula darah pada pasien Diabetes Mellitus. Data yang digunakan dalam studi ini adalah data sekunder yang berasal dari beberapa penelitian. Analisa data dilakukan dengan metode analisa deskriptif yaitu dengan menggambarkan hasil kumpulan jurnal tentang efektivitas gabungan obat hipoglikemik oral pada pasien Diabetes Mellitus berupa data karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, hasil lab, dan lama rawat inap. Berdasarkan hasil studi literatur dari kedua jurnal menunjukkan bahwa Metformin dan Acarbose memberikan hasil klinis yang lebih efisien rata-rata rawat inap 7 hari dibandingkan kombinasi Metformin dan Glibenklamid yang memerlukan durasi perawatan lebih lama 10 hari.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daun jambu biji (Psidium guajava) merupakan salah satu dari jenis terapi herbal untuk menangani penyakit diabetes melitus (DM), bagian tanaman jambu biji yang dapat dijadikan obat DM salah satunya adalah bagian daun. Daun jambu biji Mengandung tanin dan kalsium dimana tanin menghambat enzim -glikosidase sehingga memperlambat pelepasan glukosa dalam darah. Melalui studi literatur tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas pemberian rebusan daun jambu biji untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien DM. Objek penelitian ini adalah informasi hasil penurunan kadar gula darah setelah pemberian air rebusan daun jambu biji. Analisis data yang dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif, berupa data kualitatif dan kuantitatif yang disajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Kadar glukosa sebelum diberikannya rebusan daun jambu biji kelompok maupun intervensimaupun kontrol adalah 257,09 mg/dl dan 232,79 mg/dl sedangkan setelah diberikan air rebusan daun jambu biji adalah 189,36 mg/dl dan 232,79 mg/dl. Kesimpulan dari penelitian pemberian rebusan air daun jambu biji efektif dalam menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus type 2.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes melitus (DM) tipe II merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang, salah satunya melalui terapi insulin. Insulin membantu menurunkan kadar glukosa darah, khususnya pada pasien dengan defisiensi insulin. Namun, efektifitas penggunaannya dapat dipengaruhi oleh karakteristik pasien dan jenis insulin. Studi literatur ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan insulin pada pasien DM tipe II di rumah sakit umum daerah (RSUD) Kajen dan Rumah Sakit (RS) St. Elisabeth Semarang. Rancangan penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian yaitu evaluasi penggunaan insulin pada pasien DM tipe II di RSUD Kajen dan RS St.Elisabeth Semarang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, mencakup karakteristik pasien (jenis kelamin, usia, berat badan), hasil pemeriksaan laboratorium, jenis insulin, kesesuaian insulin, dan ketepatan dosis insulin. Hasil menunjukkan sebagian besar pasien berusia ≥ 45 tahun, dengan kadar gula darah puasa (GDP) ≥ 126 mg/dL, gula darah post prandial (GDPP) ≥ 200 mg/dL, dan hemoglobin (HbA1C) ≥ 9% - 10%. Jenis insulin yang umum yaitu insulin kerja panjang (long acting), kombinasi insulin long acting-premixed, serta kombinasi rapid acting-long acting. Tingkat kesesuaian insulin tinggi (94%), namun ketepatan dosis masih rendah, khususnya di RS St. Elisabeth Semarang (19,30%).
ArticleOpen AccessMetadata saja
2025•Artikel Penelitian dan Pengabdian
The Akar kuning (Fibraurea tinctoria Lour) is a well-known plant for its potential for the treatment of liver damage and hyperglycemia. However, the main constituent responsible for the anti-diabetic effect is unknown. This study was conducted to investigate the effect of administration of Fibraurea tinctoria Lour ethanol extract on the blood sugar levels in alloxan-induced diabetic male albino rats. All animals were acclimatized with normal feed, and were subsequently divided into 5groups (3rats/ group). Group 1 (negative control group) was given 0.3% NaCMC; Groups 2, 3, and 4 (treatment groups), were given 50, 100, and 200mg/kg BW of Fibraurea tinctoria Lour ethanol extract, respectively once daily for 15 days, while Group 5(positive control group) received 0.65mg/kg BW glibenclamide. Before the treatments, the rats were induced intraperitoneally with 175mg/kg BW alloxan monohydrate. The blood glucose levels were observed every five days. The results showed that the ethanol extract at the doses of 50, 100, and 200mg/kg BW caused a significant decrease (p <0.05) in the blood glucose levels compared to the negative control group. Also, the highest decrease in the blood glucose level was observed in the 100mg/kg BW treatment group. The findings from this study indicate that the ethanol extract of Fibraurea tinctoria Lour has an antidiabetic effect and the 100mg/kg BW dose was the most effective in lowering blood glucose levels.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan permasalahan serius dalam pelayanan kefarmasian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan keluarganya. Kesalahan ini dapat terjadi dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan obat (dispensing) dan pemberian obat (administration). Tujuan penelitan untuk mengetahui profil medication error pada fase prescribing resep pasien diabetes melitus di Puskesmas Segiri Samarinda. Penelitian ini bersifat non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan medication error fase prescribing yang paling banyak terjadi pada resep pasien diabetes melitus adalah tidak ada nomor SIP dokter (100%), tidak ada bentuk sediaan (100%), tidak ada cara penggunaan obat (100%), tidak ada rute pemberian (100%), tidak ada tanda tangan dokter (100%), tidak ada tinggi badan pasien (99,4%) dan tidak ada berat badan pasien (99,1%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) merupakan kondisi metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia kronis yang diakibatkan karena kerusakan atau kekurangan sekresi insulin. Pada tahun 2021 jumlah penderita diabetes melitus mencapai 19,47 juta jiwa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil karaktertistik dan pola penggunaan obat antidiabetes pada pasien diabetes melitus tipe II di instalasi rawat jalan Rumah Sakit. Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi fasilitas pelayanan kesehatan serta menjadi referensi bagi penelitian terkait pola penggunaan obat pada pasien diabetes melitus tipe II. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, dengan melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini yaitu profil karakteristik dan pola penggunaan obat pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Rumah Sakit Kabupaten Bogor, Rumah Sakit Provinsi Anwar Medika dan Rumah Sakit NTB. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, diagnosa pasien dan data pola penggunaan obat antidiabetes serta obat penyerta lain berdasarkan golongannya. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar penderita diabetes adalah perempuan, dengan usia mayoritas 46 – 65 tahun. Obat yang paling sering digunakan oleh para penderita adalah sulfonilurea (Glimepirid) dan Biguanid (Metformin). Kata kunci: Diabetes Melitus tipe 2, Profil Karakteristik Pasien, Pola Penggunaan Obat
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia (kadar glukosa darah tinggi) dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang dihubungkan dengan gangguan pada sekresi insulin. Kadar glukosa darah puasa seseorang >126 mg/dl dan tes glukosa darah sewaktu >200 mg/dl. Salah satu tindakan preventif dari penyakit diabetes mellitus adalah dengan melakukan diet. Dukungan keluarga sangat berpengaruh untuk penderita diabetes mellitus untuk mengontrol jadwal, jumlah dan jenis makanan yang dianjurkan untuk menjalankan dietnya. Studi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe II di Puskesmas Semerap Kabupaten Kerinci dan Puskesmas Bahu Manado. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu dilakukan pengumpulan data, menelaah, dan mempelajari data-data pada jurnal yang berkaitan dengan objek penelitian. Adapun objek penelitian ini adalah hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe II di puskesmas. Analisis data dilakukan secara deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan uji statistic Chi-square. Kesimpulan studi literatur ini semakin tinggi dukungan keluarga maka semakin tinggi kepatuhan dalam melaksanakan diet diabetes melitus tipe II sebaliknya semakin rendah dukungan keluarga maka akan semakin rendah Tingkat kepatuhan dalam menjalankan diet.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Prevalensi penderita diabetes mellitus di indonesia meningkat dari 13,7 pada 2019 menjadi 16,6 juta jiwa pada tahun 2045 berdasarkan data IDF. Diabetes mellitus tipe II memiliki angka kejadian 9 kali lebih banyak dari tipe diabetes mellitus yang lain. Pemberian obat hipoglikemik oral sebagai salah satu pilihan terapi untuk mengatur kadar gula dalam darah. Pada pasien diabetes mellitus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat hipoglikemik oral pada pasien diabetes melitus tipe II rawat jalan di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian dengan metode studi literatur pada penggunaan obat hipoglikemik oral pada pasien rawat jalan di rumah sakit. Objek yang diteliti adalah pola penggunaan obat hipoglikemik oral pada pasien diabetes mellitus tipe II rawat jalan di rumah sakit. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian studi literatur dari ketiga jurnal menunjukkan bahwa penderita diabetes mellitus tipe 2 terbanyak adalah perempuan sebesar (65.8%) dengan rentan usia penderita terbanyak adalah ≥ 45 tahun (68,4%). Terapi oral tunggal dari ketiga rumah sakit yang paling banyak digunakan adalah metformin (30,33%) yang merupakan golongan biguanid dan pola penggunaan obat kombinasi yang sering digunakan adalah golongan sulfonilurea ditambah biguanid.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan membandingkan karakteristik dan hubungan pengetahuan pasien diabetes melitus tipe 2 terhadap kepatuhan minum obat. Diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia sehingga gula menumpuk dalam darah sehingga gagal masuk ke dalam sel. Pengetahuan merupakan faktor penting untuk terbentuknya perilaku kesehatan yang baik termasuk dalam kepatuhan minum obat. Objek penelitian yaitu hubungan pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Mandau Kebupaten Bengkalis dan Sibabangun Kabupaten Tapanuli Tengah. Tahapan penelitian meliputi mengumpulkan jurnal, memilah jurnal, mereduksi data penyajian data, menganalisis data dari penelitian di Puskesmas Mandau Kebupaten Bengkalis dan Puskesmas Sibabangun Kabupaten Tapanuli Tengah. Data yang dianalisis berupa data demografi, pengetahuan dan kepatuhan minum obat. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif. Hasil studi literatur menunjukan karakteristik dari usia, jenis kelamin, pendidikan, dan status pekerjaan, usia kurang dari 60 tahun atau sama dengan 60 tahun mendominasi pasien diabetes melitus 2. Jenis kelamin perempuan menunjukan adanya kecendrungan menjadi pengidap penyakit diabetes melitus tipe 2. Tingkat pendidikan dapat berpengaruh terhadap kejadian penyakit diabetes melitus. Pengidap diabetes melitus tipe 2 banyak didominasi oleh ibu rumah tangga dan tidak bekerja, cenderung tidak mempunyai penghasilan tetap, sehingga memilih berobat di Puskesmas karena dapat berobat gratis. Hubungan pengetahuan dan kepatuhan minum obat pasien diabetes melitus tipe 2 dapat disimpulkan semakin tinggi tingkat pengetahuan maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus telah menjadi masalah kesehatan utama dunia dengan angka kejadian dan kematian yang masih sangat tinggi. Kasus pada tahun 2013,
prevalensi DM di dunia adalah sebesar 8,4% dari populasi penduduk dunia. Kejadian penyakit DM yang paling sering terjadi di masyarakat adalah DM tipe
dua. Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia, terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat
pada pasien diabetes mellitus tipe 2 di Puskesmas Muara Wis. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang juga merupakan penelitian non eksperimental yang menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional Sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 responden dari jumlah populasi 1.108 pasien diabetes mellitus tipe 2 yang berobat di puskesmas Muara Wis. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan purposive sampling. Alat yang digunakan adalah lembar kuesioner dukungsn keluarga dan kepatuhan. Prosedur penelitian meliputi izin permohonan penelitian, Uji Validitas dan Uji Reliabilitas, pengumpulan data lokasi yang diambil adalah di Puskesmas Muara Wis. Analisis data menggunakan SPSS untuk mengetahui apakah ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien diabetes mellitus tipe 2 di puskesmas Muara Wis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi ini bertujuan untuk menganalisis faktor tingkat kepatuhan minum obat pada pasien diabetes melitus di puskesmas. Diabetes melitus terjadi akibat kerusakan insulin. Kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus penting untuk mencapai tujuan pengobatan dan efektif dalam mencegah beberapa komplikasi diabetes melitus, sehingga perlu dilakukan penelitian tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada pasien Diabetes Melitus di Puskesmas. Tahap penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul.