ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertiroid merupakan gangguan endokrin akibat peningkatan produksi hormon tiroid yang berlebihan dan dapat menimbulkan berbagai manifestasi klinis serta komplikasi apabila tidak ditangani dengan tepat. Terapi farmakologis hipertiroid salah satunya menggunakan obat antitiroid, yaitu metimazol dan propiltiourasil. Penggunaan obat antitiroid dapat berbeda berdasarkan jenis obat, dosis, dan frekuensi pemberian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antitiroid pada pasien hipertiroid di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda tahun 2025, meliputi karakteristik pasien, jenis obat, dosis, dan frekuensi pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien hipertiroid rawat jalan periode tahun 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh 39 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertiroid didominasi oleh perempuan sebanyak 32 pasien (82%), dengan kelompok usia terbanyak 31–40 tahun sebanyak 12 pasien (31%). Hasil pemeriksaan fungsi tiroid menunjukkan bahwa pada pemeriksaan tunggal, sebagian besar pasien dengan pemeriksaan TSH memiliki kadar rendah (4 dari 5 pasien), sedangkan pada pemeriksaan fT4 terdapat 7 pasien dengan kadar tinggi dan 6 pasien dengan kadar normal. Pada pemeriksaan T4, 7 pasien memiliki kadar normal dan 6 pasien memiliki kadar tinggi. Pemeriksaan dua parameter juga menunjukkan variasi hasil kadar hormon tiroid pada pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas didunia. Penggunaan obat antihipertensi yang tepat berperan penting dalam mengendalikan tekanan darah dan mencegah terjainya komplikasi. Oleh karena itu, diperlukan gambaran mengenai penggunaan obat antihipertensi sebagai bahan evaluasi pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Puskesmas Ujoh Bilang Kabupaten Mahakam Ulu. Metode penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan pengambilan sampel dengan purposive sampling diperoleh 178 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Data analisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pasien paling banyak berusia 49-59 tahun (50,0%), jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan 122 pasien sebesar (68,5%), hipertensi tahap I sebanyak 86 pasien (48,3%), dan penyakit penyerta paling banyak adalah diabetes melitus sebanyak 26 (59,1%). Gambaran penggunaan obat antihipertensi menunjukkan bahwa obat paling banyak digunakan adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipin 10 mg sebanyak 112 resep (58,6%). Pola penggunaan obat tunggal didominasi oleh amlodipin 10 mg sebanyak 164 pasien (99,4%), sedangkan pola penggunaan kombinasi yang paling banyak amlodipin 10 mg dan catopril 25 mg sebanyak 8 pasien (61,5%). Frekuensi pemberian obat paling banyak adalah 1 kali sehari sebanyak 112 (62,9%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Dian Novita Sayuti Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Usulan Skripsi : Profil Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Preeklampsia Di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan Pembimbing : apt. Siti Jubaidah, S. Far., M.Pd. apt. Yullia Sukawaty, S. Far., M Sc. Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah setelah usia kehamilan 20 minggu yang disertai proteinuria atau gangguan organ lainnya. Kondisi ini menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat, termasuk penggunaan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain observasional retrospektif dan analisis deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis pasien preeklampsia rawat inap periode Januari–Agustus 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Dari 160 rekam medis yang diperoleh, sebanyak 61 rekam medis memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan meliputi usia pasien, usia kehamilan, riwayat hipertensi, proteinuria, diagnosis, lama rawat inap, serta penggunaan obat antihipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien preeklampsia paling banyak berada pada kelompok usia 20–35 tahun sebanyak 46 pasien (75%), usia kehamilan trimester III sebanyak 60 pasien (98%), memiliki riwayat hipertensi keluarga sebanyak 28 pasien (46%), proteinuria +3 sebanyak 27 pasien (45%), dan diagnosis preeklampsia berat sebanyak 40 pasien (66%). Pola penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi nifedipin, magnesium sulfat (MgSO₄), dan methyldopa sebanyak 24 pasien (39%), diikuti kombinasi nifedipin dan methyldopa sebanyak 19 pasien (30%). Penggunaan terapi kombinasi lebih dominan dibandingkan terapi tunggal karena sebagian besar pasien mengalami preeklampsia berat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan didominasi oleh terapi kombinasi nifedipin, MgSO₄, dan methyldopa. Terapi kombinasi digunakan untuk mengendalikan tekanan darah sekaligus mencegah komplikasi kejang pada pasien preeklampsia. Kata kunci: Preeklampsia, Antihipertensi, Nifedipin, Methyldopa, Magnesium Sulfat, Profil Penggunaan Obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang bersifat reaktif dan dapat menyebabkan stres oksidatif yang berkontribusi terhadap berbagai penyakit degeneratif. Salah satu upaya untuk menanggulangi dampak radikal bebas adalah dengan penggunaan antioksidan, terutama yang berasal dari bahan alam. Batang jarak pagar diketahui mengandung metabolit sekunder yaitu flavonoid yang berpotensi sebagai antioksidan alami. Efektivitas senyawa ini sangat dipengaruhi oleh proses ekstraksi, terutama pemilihan konsentrasi pelarut, yang menentukan jumlah dan jenis senyawa aktif yang terekstraksi. Oleh karena itu, variasi konsentrasi etanol perlu dikaji untuk memperoleh aktivitas antioksidan yang optimal. Penelitian ini bertujuan menentukan aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% dan 95% batang jarak pagar berdasarkan nilai IC50. Penelitian eksperimental ini meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut pengeringan, ekstraksi maserasi, penetapan rendemen dan kadar air ekstrak, skrining fitokimia, serta uji aktivitas antioksidan secara in vitro menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl). Hasil penelitian menunjukkan susut pengeringan simplisia 9,47 ± 0,01%, rendemen ekstrak etanol 70% dan 95% masing-masing 9,53% dan 7,18%, dan kadar air 16,00 ± 0,00% dan 14,33 ± 0,58%. Skrining fitokimia menunjukkan kandungan alkaloid, flavonoid, fenolik, dan terpenoid/steroid pada kedua ekstrak, namun negatif saponin. IC50 vitamin C sebagai kontrol positif tergolong sangat kuat (14,24 ppm ± 5,85), sedangkan kedua ekstrak etanol tergolong sangat lemah (517,18 ppm ± 29,36 dan 500,40 ppm ± 8,49), tanpa perbedaan signifikan (p=0,661). Data yang diperoleh terdiri atas data kualitatif dari skrining fitokimia dan kuantitatif berupa nilai IC50 aktivitas antioksidan, yang dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi, tabel, dan grafik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal. Keberhasilan terapi hipertensi sangat dipengaruhi oleh rasionalitas penggunaan obat antihipertensi, Sehingga diperlukan evaluasi terhadap ketepatan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien hipertensi, pola penggunaan obat antihipertensi, serta mengevaluasi rasionalitas penggunaan obat berdasarkan ketepatan pasien, ketepatan indikasi, ketepatan obat, dan ketepatan dosis pada pasien hipertensi di Puskesmas Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien hipertensi periode Januari–Desember 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling sehingga diperoleh 376 data resep yang memenuhi kriteria inklusi. Evaluasi rasionalitas penggunaan obat diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, mengoptimalkan keberhasilan terapi, serta mencegah terjadinya komplikasi akibat hipertensi melalui penggunaan obat yang tepat dan sesuai pedoman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi didominasi oleh perempuan sebanyak 239 pasien (63,56%) dan kelompok usia 61–70 tahun sebanyak 130 pasien (34,57%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan adalah diabetes melitus sebanyak 104 pasien (71,72%). Sebagian besar pasien telah mencapai target tekanan darah sistolik, yaitu sebanyak 304 pasien (80,85%), sedangkan 72 pasien (19,15%) belum mencapai target pengendalian tekanan darah. Pola penggunaan antihipertensi didominasi oleh terapi monoterapi golongan Calcium Channel Blocker menggunakan amlodipin sebanyak 311 pasien (82,71%), sedangkan terapi kombinasi amlodipin–kaptopril diberikan pada 65 pasien (17,29%). Hasil evaluasi rasionalitas menunjukkan bahwa penggunaan obat antihipertensi telah memenuhi kriteria tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis sesuai pedoman terapi yang digunakan.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Barong Tongkok telah memenuhi prinsip penggunaan obat secara rasional sesuai pedoman terapi, meskipun masih terdapat pasien yang belum mencapai target tekanan darah sehingga diperlukan pemantauan terapi, peningkatan kepatuhan minum obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan resistensi bakteri, meningkatkan biaya pengobatan, serta menurunkan efektivitas terapi. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi penggunaan antibiotik adalah tingkat pengetahuan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, gambaran penggunaan antibiotik, serta menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan antibiotik pada masyarakat di Kampung Lirung Ubing. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan accidental sampling dengan jumlah responden sebanyak 72 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara univariat untuk mengetahui distribusi frekuensi setiap variabel dan secara bivariat menggunakan uji Korelasi Pearson dengan tingkat kemaknaan 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik sebanyak 30 responden (41,7%), sedangkan penggunaan antibiotik sebagian besar berada pada kategori cukup sebanyak 41 responden (56,9%). Hasil uji Korelasi Pearson menunjukkan nilai koefisien korelasi (r = 0,323) dengan nilai signifikansi (p = 0,006). Nilai signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan penggunaan antibiotik pada masyarakat di Kampung Lirung Ubing. Hubungan tersebut bersifat positif dengan kekuatan hubungan rendah, yang berarti semakin baik tingkat pengetahuan masyarakat maka semakin baik pula penggunaan antibiotiknya.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Antibiotik merupakan senyawa kimia yang dihasilkan dari mikroorganisme seperti jamur dan bakteri, maupun diproduksi secara sintetis yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri serta organisme lainnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahuai evaluasi penggunaan antibiotik di Ruang ICCU Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda berdasarkan jenis dan kuantitas penggunaan metode ATC/DDD. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan rancangan cross-sectional, dan pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Teknik sampling yang diterapkan dalam penelitian ini purposive sampling, dengan sampel yang digunakan adalah pasien ICCU dengan kriteria inklusi rawat inap yang menerima terapi antibiotik serta mempunyai data rekam medik yang lengkap selama periode Juli - Desember 2024. Analisis data dilakukan berdasarkan pada demografi pasien, karakteristik pasien (jenis kelamin, usia, lama rawat inap), dan profil penggunaan antibiotik (jenis dan rute pemberian).Kemudian Analisis kuantitatif penggunaan antibiotik menggunakan metode ATC/DDD, dengan menghitung nilai DDD/100 pasien-hari untuk setiap jenis antibiotik, dan total nilai DDD/100 pasien-hari penggunaan antibiotik. Hasil penelitian menunjukkan total konsumsi antibiotik mencapai 393,8 DDD dengan nilai sebesar 124,23 DDD/100 hari rawat. Antibiotik yang paling dominan digunakan adalah Ceftriaxone dengan nilai 57,10 DDD/100 hari rawat, diikuti oleh Ampicillin Sulbactam sebesar 28,80 DDD/100 hari rawat. Berdasarkan analisis metode DU 90%, penggunaan antibiotik terkonsentrasi pada empat jenis utama, yaitu Ceftriaxone, Ampicillin Sulbactam, Metronidazol (PO), dan Metronidazol (IV) dengan persentase kumulatif 89,23%. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas pada pasien kritis di ruang ICCU. Meskipun pola penggunaan antibiotik relatif terfokus, evaluasi lebih lanjut secara berkala serta penerapan program pengawasan penggunaan antibiotik (antimicrobial stewardship) tetap diperlukan guna memastikan rasionalitas terapi dan mencegah terjadinya resistensi antimikroba.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter merupakan tantangan serius karena risiko resistensi antibiotik. Studi literatur ini bertujuan mensintesis bukti ilmiah tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap tindakan penggunaan antibiotik tanpa resep. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan tinjauan artikel dari Google Scholar dan Garuda periode 2015– 2025. Hasil kajian terhadap dua artikel menunjukkan bahwa sikap masyarakat memiliki hubungan lebih dominan dibandingkan pengetahuan. Tingkat pengetahuan masyarakat masih tergolong rendah (47,7%), sikap cenderung negatif (54,2%), dan tindakan penggunaan antibiotik tidak tepat (57,3%). Secara bersama, pengetahuan dan sikap memiliki hubungan signifikan terhadap tindakan (p=0,000). Faktor pendidikan dan pekerjaan juga turut mempengaruhi ketiga aspek tersebut. Kesimpulannya, kepatuhan terhadap penggunaan antibiotik rasional tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan, tetapi juga sangat bergantung pada sikap positif serta faktor sosiodemografi. Saran yang diajukan adalah perlunya edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus membentuk sikap positif, serta penguatan peran tenaga kesehatan dalam mengawasi penggunaan antibiotik di masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pandemi coronavirus disease 19 (COVID-19) yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) telah menimbulkan tantangan besar bagi sistem kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Favipiravir merupakan antivirus spektrum luas yang digunakan sebagai salah satu terapi untuk pasien COVID-19 ringan hingga sedang. Namun, rasionalitas penggunaannya masih menimbulkan perdebatan, khususnya terkait variasi dosis, indikasi, serta kesesuaian dengan pedoman nasional. Studi literatur ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan rasionalitas penggunaan favipiravir pada pasien COVID-19 di Rumah Sakit Kalimantan Timur berdasarkan studi literatur. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini adalah membandingkan rasionalitas penggunaan favipiravir di dua rumah sakit di Kalimantan Timur, yaitu RS Dirgahayu Samarinda dan RSUD Harapan Insan Sendawar Kabupaten Kutai Barat. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu memberikan gambaran tentang data-data hasil penelitian yang telah terkumpul berupa gambaran rasionalitas penggunaan favipiravir di rumah sakit. Hasil penelitian dari dua literatur yang dibandingkan yaitu penggunaan favipiravir pada kedua rumah sakit telah memenuhi kriteria tepat pasien, tepat diagnosis, dan tepat obat dengan persentase 100%. Namun demikian, masih ditemukan ketidaksesuaian pada aspek tepat dosis, tepat interval waktu pemberian, dan tepat lama pemberian, khususnya di RSUD Harapan Insan Sendawar dengan ketepatan dosis sebesar 50,84% dan ketepatan lama pemberian sebesar 61,01%. Luaran klinis pasien menunjukkan hasil yang cukup baik, ditandai dengan konversi hasil pemeriksaan PCR, TCM, dan antigen menjadi negatif pada sebagian besar pasien. Kesimpulan dari studi literatur ini ialah penggunaan favipiravir pada pasien COVID-19 di dua rumah sakit tersebut secara umum telah rasional, namun masih diperlukan peningkatan kepatuhan terhadap pedoman terutama pada aspek dosis, interval, dan lama pemberian untuk mengoptimalkan efektivitas terapi COVID-19.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan obstruksi jalan napas yang bersifat reversibel. Gejala utama asma meliputi sesak napas, batuk, dan mengi, yang dapat dipicu oleh berbagai faktor seperti alergen, infeksi, atau aktivitas fisik. Pengobatan asma bertujuan untuk mengendalikan gejala, mencegah eksaserbasi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien. Terapi farmakologis terdiri dari obat pereda gejala (reliever) seperti agonis β2 adrenergik kerja pendek dan obat pengendali (controller) seperti kortikosteroid inhalasi serta antagonis reseptor leukotrien. Selain itu, beberapa obat non-asma, seperti antibiotik dan antihistamin, juga sering digunakan untuk menangani kondisi komorbid yang memperburuk gejala. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola penggunaan obat asma pada pasien rawat jalan berdasarkan kajian literatur. Hasil studi menunjukkan adanya variasi dalam pemilihan terapi yang dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit, akses terhadap fasilitas kesehatan, serta kepatuhan pasien dalam menjalani terapi. Dengan memahami pola penggunaan obat ini, diharapkan terapi asma dapat lebih dioptimalkan sehingga memberikan manfaat yang lebih efektif dalam pengendalian penyakit serta meningkatkan standar pengobatan di layanan kesehatan rawat jalan. Hasil menunjukkan bahwa budesonide (15,23%) dan fluticasone (13,12%) merupakan kortikosteroid inhalasi yang paling dominan digunakan sebagai obat pengendali asma. Salbutamol, obat pereda gejala (reliever), digunakan lebih sering di BKPM Magelang. Penggunaan obat non-asma juga menunjukkan variasi, di antaranya amoxicillin lebih tinggi di BKPM Magelang (39,47%), loratadine lebih tinggi di RSUD Dr. Pirngadi Medan (32,78%), dan pseudoefedrin relatif seimbang. Secara keseluruhan, pemilihan terapi ini telah sesuai dengan tata laksana farmakologis asma menurut Koesnoe (2020), namun perlu dilakukan evaluasi berkala untuk menilai kesesuaian dan efektivitas terapi terhadap kondisi pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi perhatian di dunia karena berisiko tinggi terhadap kesakitan dan kematian. Prevalensi ISPA di Indonesia mencapai 25% dengan insidensi berada pada rentang 17,5%- 41,4%. Salah satu tatalaksana untuk mengobati penyakit ISPA yaitu dengan memberikan antibiotik. Pada saat pemberian obat antibiotik diperlukan perhatian dalam penggunaannya, namun saat ini masih banyak ditemukan permasalahan dalam pemberian antibiotik, salah satunya penggunaan antibiotik yang tidak rasional. Per tahun 2019, terdapat sekitar 17,1-19,8% pemberian antibiotik yang tidak rasional. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penggunaan antibiotik yang tepat pada pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Klinik Kimia Farma Sutomo Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian restrospektif dengan pengumpulan data yang dilakukan secara sekunder. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang didiagnosis ISPA dan diberikan pengobatan antibiotik di Klinik Kimia Farma Sutomo Samarinda periode Oktober – Desember 2023. Teknik pengambilan sampel adalah non-probability sampling. Analisis data akan dilakukan secara deskriptif. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien ISPA terdiri dari Amoxicillin 500 mg sebanyak 124 (67,8%), diikuti oleh Cefadroxil 500 mg sebanyak 28 (15,3%), Cefixime 100 mg dan Clindamycin masing-masing sebanyak 11 (6%), Ciprofloxacin 500 mg sebanyak 6 (3,3%). Cotrimoxazole 480 mg, Chloramphenicol 1% ear drop, dan Ofloxacin ear drop masing-masing diberikan pada 1 pasien (0,6%). Analisa mengenai evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISPA terdiri atas tepat indikasi yaitu sebanyak 86,6%, tepat obat sebanyak 100%, tepat pasien sebanyak 100%, dan tepat dosis sebanyak 80,3%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) merupakan kondisi metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia kronis yang diakibatkan karena kerusakan atau kekurangan sekresi insulin. Pada tahun 2021 jumlah penderita diabetes melitus mencapai 19,47 juta jiwa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil karaktertistik dan pola penggunaan obat antidiabetes pada pasien diabetes melitus tipe II di instalasi rawat jalan Rumah Sakit. Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan bagi fasilitas pelayanan kesehatan serta menjadi referensi bagi penelitian terkait pola penggunaan obat pada pasien diabetes melitus tipe II. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, dengan melakukan pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini yaitu profil karakteristik dan pola penggunaan obat pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Rumah Sakit Kabupaten Bogor, Rumah Sakit Provinsi Anwar Medika dan Rumah Sakit NTB. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, diagnosa pasien dan data pola penggunaan obat antidiabetes serta obat penyerta lain berdasarkan golongannya. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa sebagian besar penderita diabetes adalah perempuan, dengan usia mayoritas 46 – 65 tahun. Obat yang paling sering digunakan oleh para penderita adalah sulfonilurea (Glimepirid) dan Biguanid (Metformin). Kata kunci: Diabetes Melitus tipe 2, Profil Karakteristik Pasien, Pola Penggunaan Obat
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pofil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Penggunaan obat antihipertensi yang tidak tepat dapat menyebabkan spektrum toksisitas, kegagalan terapi pengobatan, biaya pengobatan yang tinggi, komplikasi hingga kematian pasien, serta menghambat mutu pelayanan kesehatan itu sendiri. Penelitian studi literatur ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi instansi pelayanan kesehatan serta menjadi referensi bagi penelitian terkait penggunaan obat antihipertensi. Objek penelitian nya adalah profil penggunaan obat hipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit. Tahapan penelitian meliputi reduksi data berupa penyuntingan dan meringkas sehingga didapatkan data utama inti tulisan, penyajian data, yaitu data dalam tabel deskriptif. Data yang dianalisis berupa data karakteristik pasien dan data penggunaan obat antihipertensi pada pasien rawat inap di rumah sakit RSUD Mardi Waluyo Blitar, RSUD Penambahan Senopati dan RSUD Sultan Imanuddin. Selanjutnya dilakukan penarikan kesimpulan melakukan verifikasi dan tinjauan ulang data yang didapat agar penarikan simpulan dilakukan dengan benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien terkait jenis kelamin, usia dan derajat hipertensi, data penggunaan obat hipertensi. Berdasarkan hasil studi literatur menunjukkan bahwa karakteristik pasien hipertensi yang dirawat di rumah sakit paling banyak pada usia 40-60 tahun, sedangkan karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin yang paling banyak menderita penyakit hipertensi didominasi oleh wanita dengan derajat hipertensi paling banyak pada stadium dua. Berdasarkan data penggunaan obat menunjukkan bahwa sebagian besar pasien rawat inap diberikan obat antihipertensi dalam bentuk bentuk tunggal dengan pilihan obat yang cukup bervariasi antar rumah sakit. Sedangkan kombinasi dua dan tiga jenis obat memiliki persentase yang sama besar dan yang paling sedikit dengan empat kombinasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pada masa pandemi COVID-19, banyak penyakit menular selain penyakit COVID-19 sering terabaikan penyebarannya. Salah satu penyakit infeksi yang cukup banyak terjadi adalah Infeksi Menular Seksual (IMS). IMS merupakan infeksi pada saluran reproduksi yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus dan parasit yang sebagian besar ditularkan melalui hubungan seksual. Tingginya angka kejadian IMS merupakan bukti bahwa masih rendahnya pengetahuan masyarakat akan IMS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan obat dan karakteristik pasien IMS selama pandemi COVID-19 pada tahun 2020-2021 di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Penelitian ini merupakan penelitian noneksperimental. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif yang dilakukan secara retrospektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 48 pasien IMS, yang terdiri dari 17 pasien pada tahun 2020 dan meningkat menjadi 31 pasien pada tahun 2021. Pada tahun 2020, karakteristik pasien IMS terbanyak berjenis kelamin laki-laki (64,7%), usia pasien penderita IMS terbanyak berasal dari kelompok usia 17-25 tahun (41,2%), pasien penderita IMS terbanyak bekerja sebagai karyawan swasta (47,1%), tingkat pendidikan SLTA (76,5%), status pernikahan belum menikah (52,9%) dan jumlah kunjungan terbanyak sebanyak 2x (41,2%). Karakteristik pasien selama periode 2021 memiliki mayoritas pasien berjenis kelamin laki-laki (64,5%), usia pasien penderita IMS terbanyak berasal dari kelompok usia 17-25 tahun (48,4%), penderita IMS terbanyak bekerja sebagai karyawan swasta (54,8%), tingkat pendidikan SLTA (67,7%), status pernikahan belum menikah (61,3%) dan jumlah kunjungan terbanyak sebanyak 3x (51,6%). Jenis IMS dengan kasus terbanyak pada tahun 2020 adalah gonore (35,3%) dan pada tahun 2021 adalah sifilis (51,6%). Pengobatan yang paling sering digunakan selama periode 2020-2021 adalah injeksi benzatin penisilin untuk sifilis (76,2%), azitromisin untuk gonore (42,9%), cefiksim ciprofloksasin untuk kondiloma akuminata (33,3%), dan asiklovir untuk herpes genital (100%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Prevalensi penderita diabetes mellitus di indonesia meningkat dari 13,7 pada 2019 menjadi 16,6 juta jiwa pada tahun 2045 berdasarkan data IDF. Diabetes mellitus tipe II memiliki angka kejadian 9 kali lebih banyak dari tipe diabetes mellitus yang lain. Pemberian obat hipoglikemik oral sebagai salah satu pilihan terapi untuk mengatur kadar gula dalam darah. Pada pasien diabetes mellitus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat hipoglikemik oral pada pasien diabetes melitus tipe II rawat jalan di rumah sakit. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian dengan metode studi literatur pada penggunaan obat hipoglikemik oral pada pasien rawat jalan di rumah sakit. Objek yang diteliti adalah pola penggunaan obat hipoglikemik oral pada pasien diabetes mellitus tipe II rawat jalan di rumah sakit. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian studi literatur dari ketiga jurnal menunjukkan bahwa penderita diabetes mellitus tipe 2 terbanyak adalah perempuan sebesar (65.8%) dengan rentan usia penderita terbanyak adalah ≥ 45 tahun (68,4%). Terapi oral tunggal dari ketiga rumah sakit yang paling banyak digunakan adalah metformin (30,33%) yang merupakan golongan biguanid dan pola penggunaan obat kombinasi yang sering digunakan adalah golongan sulfonilurea ditambah biguanid.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui pola penggunaan obat anti diabetik pada pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 rawat jalan di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur. Tahapan penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menyimpulkan berbagai literatur yang digunakan dan meninjau kembali data-data yang didapat agar dapat disimpulkan. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa gambaran penggunaan obat anti diabetik pada pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 pasien rawat jalan di rumah sakit
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi Literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat pada pasien hipertensi di PUSKESMAS. Hipertensi adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan tekanan darah lebih besar dari 140/90 mmHg. Berdasarkan data hasil RISKESDAS tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi hasil pengukuran pada penduduk dengan usia lebih dari 18 tahun yaitu 34,1%, jumlahnya mengalami kenaikan dibandingkan dengan prevalensi hipertensi pada tahun 2013 yaitu 25,8%. Objek dari penelitian ini adalah gambaran penggunaan obat pada pasien hipertensi di puskesmas. Tahapan dari penelitian ini adalah dengan cara mengumpulkan, meringkas, dan menarik kesimpulan dari data yang didapat dilakukan secara benar. Analisis data yang digunakan adalah menggunakan metode deskriptif dengan membuat gambaran dari data yang telah di dapat dari jurnal yang akan diteliti. Berdasarkan pada hasil penelitian dari kedua jurnal tersebut telah disimpulkan bahwa obat yang paling banyak digunakan adalah amlodipin dengan persentase 56,51% dan 89,66% dari golongan Calcium Channel Blocker (CCB), dan pada penggunaan obat kombinasi dua jenis diketahui bahwa yang paling banyak digunakan yaitu kombinasi ACEi dan CCB dengan persentase 35% dan 73,33%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) adalah salah satu penyakit degeneratif yang ditandai dengan terjadinya hiperglikemia karena terganggunya metabolisme glukosa didalam tubuh. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penggunaan obat anti diabetik pada pengobatan diabetes melitus tipe 2 pasien rawat jalan di Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur dengan metode deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasilnya adalah pasien diabetes melitus tipe 2 di RSUD Abdul Wahab Sjahranie dan RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo sebagian besar adalah perempuan dibandingkan laki-laki dengan usia ≥ 60 tahun, pasien dengan komplikasi sebesar 70%, Obat yang banyak digunakan di RSUD Abdul Wahab Sjahranie adalah kombinasi Glimepiride dan Metformin sebesar 28% dan paling sedikit digunakan adalah Acarbose sebesar 2%, sedangkan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo adalah mono terapi Metformin sebesar 43,8% dan paling jarang digunakan adalah Pioglitazone sebesar 0,7%. RSU dr. H.Koesnadi Bondowoso paling banyak digunakan kombinasi sulfonilurea dan biguanid yaitu sebanyak 35,6% dan yang paling sedikit adalah mono terapi insulin sebanyak 0,5%. Obat yang paling banyak digunakan sebagai terapi DM tipe 2 di ketiga rumah sakit tersebuat adalah sama yaitu Metformin, ini sesuai menurut United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) bahwa metformin dapat menurunkan resiko kematian.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Swamedikasi (Self–medication) adalah Pengobatan yang paling banyak dilakukan masyarakat untuk mengatasi keluhan atau gejala penyakit, sebelum mereka memutuskan mencari pertolongan dari tenaga kesehatan. Studi ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pengaruh faktor usia, jenis kelamin, dan pengetahuan terhadap swamedikasi obat. Jenis penelitian ini merupakan penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara menghimpun data dari berbagai sumber. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriftif dengan membuat gambaran dari data yang terkumpul berdasarkan beberapa jurnal ilmiah gambaran pengaruh faktor usia, jenis kelamin, dan pengetahuan terhadap swamedikasi obat. Diperoleh hasil bahwa responden yang melakukan swamedikasi dominan perempuan dengan rentang umur yang bervariasi dan tingkat pengetahuan masyarakat tentang obat lebih dominan tergolong cukup atau sedang sedangkan tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh pendidikan terakhir dan pekerjaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor usia, jenis kelamin dan pengetahuan masyarakat memiliki pengaruh terhadap swamedikasi obat
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan gambaran penggunaan obat antibiotik pada beberapa Puskesmas. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah buku-buku, majalah ilmiah serta dokumen yang terkait seperti skripsi serta jurnal ilmiah. Objek dalam penelitian ini adalah gambaran penggunaan antibiotik pada beberapa Puskesmas yaitu pada Puskesmas Kendal, Puskesmas Bengkuring, Puskesmas Tarakan, dan Puskesmas Pamanukan. Analisa data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian menunjukan bahwa walaupun dengan pengambilan sampel yang berbeda terdapat persamaan yaitu pada penggunaan jenis obat antibiotik generik yang paling sering digunakan yaitu amoxicillin dengan persentase sebagai berikut: Puskesmas Kendal berjumlah 76,04%, Puskesmas Bengkuring berjumlah 64%, Puskesmas Tarakan berjumlah 73%, Puskesmas Pamanukan berjumlah 29,91%. Bentuk sediaan obat yang paling sering digunakan yaitu tablet/kaplet dengan persentase sebagai berikut: Puskesmas Kendal berjumlah 81,07%, Puskesmas Bengkuring berjumlah 97,29%, Puskesmas Tarakan berjumlah 94,18%, Puskesmas Pamanukan berjumlah 52,55%. Pada Studi ini ditemukan persamaan di Puskesmas Kendal, Puskesmas Bengkuring, dan Puskesmas Tarakan pada pasien yang paling sering berobat adalah pasien dengan umur 26-55 tahun. Pada Puskesmas Kendal dari 3222 lembar resep, pasien yang berumur 26-55 tahun berjumlah 37,71%, Puskesmas Bengkuring dari 964 lembar resep, pasien berumur 26-45 tahun berjumlah 49%, dan Puskesmas Tarakan dari 786 lembar resep, pasien yang berumur 26-55 tahun berjumlah 32%. Pada Puskesmas Pamanukan dari 1277 lembar resep, pasien yang paling sering berobat berumur 1-5 tahun berjumlah 40,02%.