Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

57 hasil
Subjek: Puskesma
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Kepatuhan Penggunaan Antibiotik Amoxicillin di Puskesmas

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK AMOXICILLIN DI PUSKESMAS ABSTRAK Antibiotik adalah obat yang berasal dari seluruh atau bagian tertentu mikroorganisme dan digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mengakibatkan resistansi bakteri atau konsumen dapat kebal terhadap bakteri yang menginfeksi. Resistansi antibiotik dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain yaitu peresepan antibiotik yang berlebihan oleh tenaga kesehatan, adanya anggapan di masyarakat bahwa antibiotik merupakan obat dari segala penyakit, dan lalai dalam menghabiskan atau menyelesaikan terapi antibiotik. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan antibiotik amoxicillin di puskesmas. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur yaitu melakukan pengumpulan data, menelaah, dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini berfokus pada hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan antibiotik amoxicillin di Puskesmas II Mendoyo dan Puskesmas X Kabupaten Cirebon. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, yaitu memberikan gambaran tentang data-data hasil penelitian yang telah terkumpul berupa data karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia,, dan tingkat pendidikan. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah diperolehnya gambaran mengenai hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan penggunaan antibiotik amoxicillin di puskesmas. Kata kunci : Hubungan, Kepatuhan, Antibiotik, Amoxicillin, Puskesmas.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KEMBANG JANGGUT KUTAI KARTANEGARA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg berdasarkan pengukuran berulang. Dalam praktik klinis, pasien hipertensi sering memperoleh terapi kombinasi antihipertensi serta obat untuk penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien hipertensi periode Oktober–Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 100 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik total sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, diagnosis, dan terapi obat. Potensi interaksi obat diidentifikasi menggunakan aplikasi Drugs.com dan diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan menjadi minor, moderate, dan mayor, kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 144 potensi interaksi obat. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi kategori minor sebanyak 28 kasus (19,44%) moderate merupakan yang terbanyak yaitu 69 kasus (47,92%), kategori mayor sebanyak 25 kasus (17,36%), serta 22 kasus (15,28%) yang tidak menunjukkan adanya potensi interaksi obat. Berdasarkan mekanisme interaksinya, potensi interaksi lebih banyak terjadi melalui mekanisme farmakodinamik dibandingkan farmakokinetik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pasien hipertensi di Puskesmas Kembang Janggut memiliki potensi interaksi obat yang didominasi oleh kategori moderate dengan mekanisme interaksi farmakodinamik, sehingga identifikasi potensi interaksi obat diperlukan untuk mendukung keamanan dan rasionalitas terapi pasien.

9 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN DI PUSKESMAS UJOH BILANG KABUPATEN MAHAKAM ULU

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas didunia. Penggunaan obat antihipertensi yang tepat berperan penting dalam mengendalikan tekanan darah dan mencegah terjainya komplikasi. Oleh karena itu, diperlukan gambaran mengenai penggunaan obat antihipertensi sebagai bahan evaluasi pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Puskesmas Ujoh Bilang Kabupaten Mahakam Ulu. Metode penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan pengambilan sampel dengan purposive sampling diperoleh 178 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Data analisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pasien paling banyak berusia 49-59 tahun (50,0%), jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan 122 pasien sebesar (68,5%), hipertensi tahap I sebanyak 86 pasien (48,3%), dan penyakit penyerta paling banyak adalah diabetes melitus sebanyak 26 (59,1%). Gambaran penggunaan obat antihipertensi menunjukkan bahwa obat paling banyak digunakan adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipin 10 mg sebanyak 112 resep (58,6%). Pola penggunaan obat tunggal didominasi oleh amlodipin 10 mg sebanyak 164 pasien (99,4%), sedangkan pola penggunaan kombinasi yang paling banyak amlodipin 10 mg dan catopril 25 mg sebanyak 8 pasien (61,5%). Frekuensi pemberian obat paling banyak adalah 1 kali sehari sebanyak 112 (62,9%).

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KAMPUNG BAQA SAMARINDA SEBERANG

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan lebih dari 1,28 miliar penderita dewasa di seluruh dunia. Di Kalimantan Timur, prevalensi hipertensi menempati peringkat ketiga tertinggi di Indonesia pada usia >18 tahun sebesar 29,6%, sedangkan di Kota Samarinda pada tahun 2023–2024 mencapai 39,46% pada usia >15 tahun. Kepatuhan minum obat antihipertensi merupakan faktor penting dalam pengendalian tekanan darah jangka panjang untuk mencegah komplikasi serius pada jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kepatuhan dengan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi) di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional cross-sectional. Sampel sebanyak 385 pasien hipertensi dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi diagnosis hipertensi ICD-10:I10;I11, kesediaan menjadi responden, dengan kriteria eksklusi komplikasi jantung atau ginjal disertai edema/asites dan kehamilan. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Pengumpulan data dilakukan melalui data pasien di aplikasi e-Pus dan kuesioner di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang pada periode 25 Maret–25 Mei 2026. Analisis data menggunakan SPSS, meliputi analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden terbanyak adalah pasien berjenis kelamin perempuan (74,8%), kelompok usia pralansia 45–59 tahun (47,5%), berpendidikan SD (34,3%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (56,1%), dan menderita hipertensi ≥5 tahun (53,5%). Tingkat kepatuhan minum obat menunjukkan kategori tinggi sebanyak 178 orang (46,2%), kategori rendah sebanyak 140 orang (36,4%), dan kategori sedang sebanyak 67 orang (17,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi, yaitu jenis kelamin (p=0,895), usia (p=0,363), tingkat pendidikan (Fisher-Freeman-Halton, p=0,508), pekerjaan (p=0,629), dan lama menderita hipertensi (p=0,552). Disimpulkan bahwa karakteristik pasien bukan merupakan faktor penentu kepatuhan minum obat antihipertensi pada populasi penelitian ini.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN INTERAKSI OBAT DALAM RESEP DAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK PASIEN DIABETES MELITUS DI PUSKESMAS BARONG TONGKOK

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Kondisi ini ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Berdasarkan laporan profil kesehatan, jumlah penderita DM menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sehingga memerlukan perhatian serius. Pasien DM umumnya memiliki penyakit penyerta, sehingga sering menerima lebih dari satu jenis obat dalam satu resep. Penggunaan monoterapi maupun terapi kombinasi berpotensi menimbulkan interaksi obat, yaitu kondisi ketika dua atau lebih obat yang digunakan secara bersamaan saling memengaruhi efek masing-masing. Penelitian ini bertujuan menggambarkan potensi interaksi obat pada resep pasien DM. Metode yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari resep elektronik di Instalasi Farmasi Puskesmas Barong Tongkok. Analisis dilakukan menggunakan Drugs.com dan Microsoft Excel secara sistematis untuk mendukung keamanan dan efektivitas terapi pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 174 resep pasien, sebanyak 132 pasien (75,9%) memiliki potensi interaksi obat, sementara 42 pasien (24,1%) tidak menunjukkan potensi interaksi. Total kejadian interaksi obat tercatat sebanyak 228 kejadian, dengan tingkat keparahan terbanyak adalah kategori moderat sebanyak 183 kejadian (80,3%), diikuti kategori minor sebanyak 37 kejadian (16,2%), dan kategori mayor sebanyak 8 kejadian (3,5%). Pasangan obat yang paling banyak berinteraksi adalah glimepirid dengan metformin, sementara interaksi mayor ditemukan pada kombinasi amlodipin dengan simvastatin. Temuan ini mengindikasikan tingginya beban farmakoterapi dan risiko polifarmasi pada pasien DM di Puskesmas Barong Tongkok, sehingga diperlukan pemantauan klinis yang ketat serta peran aktif apoteker dalam melakukan skrining, evaluasi, dan monitoring terapi guna memastikan keamanan dan efektivitas pengobatan bagi pasien

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

HUBUNGAN PERSEPSI PENYAKIT DENGAN KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIDIABETES PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS SEGIRI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi maupun kerja insulin. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan penggunaan obat antidiabetes adalah persepsi pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi penyakit, tingkat kepatuhan penggunaan obat antidiabetes, serta hubungan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Segiri. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi penyakit kategori tinggi sebanyak 66 responden (78%), sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 69 responden (81%). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes (r = 0,224; p = 0,039). Nilai koefisien korelasi menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan hubungan yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi penyakit pasien, maka cenderung semakin tinggi pula kepatuhan penggunaan obat antidiabetes. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Segiri..

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BARONG TONGKOK KUTAI BARAT

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal. Keberhasilan terapi hipertensi sangat dipengaruhi oleh rasionalitas penggunaan obat antihipertensi, Sehingga diperlukan evaluasi terhadap ketepatan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien hipertensi, pola penggunaan obat antihipertensi, serta mengevaluasi rasionalitas penggunaan obat berdasarkan ketepatan pasien, ketepatan indikasi, ketepatan obat, dan ketepatan dosis pada pasien hipertensi di Puskesmas Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien hipertensi periode Januari–Desember 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling sehingga diperoleh 376 data resep yang memenuhi kriteria inklusi. Evaluasi rasionalitas penggunaan obat diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, mengoptimalkan keberhasilan terapi, serta mencegah terjadinya komplikasi akibat hipertensi melalui penggunaan obat yang tepat dan sesuai pedoman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi didominasi oleh perempuan sebanyak 239 pasien (63,56%) dan kelompok usia 61–70 tahun sebanyak 130 pasien (34,57%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan adalah diabetes melitus sebanyak 104 pasien (71,72%). Sebagian besar pasien telah mencapai target tekanan darah sistolik, yaitu sebanyak 304 pasien (80,85%), sedangkan 72 pasien (19,15%) belum mencapai target pengendalian tekanan darah. Pola penggunaan antihipertensi didominasi oleh terapi monoterapi golongan Calcium Channel Blocker menggunakan amlodipin sebanyak 311 pasien (82,71%), sedangkan terapi kombinasi amlodipin–kaptopril diberikan pada 65 pasien (17,29%). Hasil evaluasi rasionalitas menunjukkan bahwa penggunaan obat antihipertensi telah memenuhi kriteria tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis sesuai pedoman terapi yang digunakan.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Barong Tongkok telah memenuhi prinsip penggunaan obat secara rasional sesuai pedoman terapi, meskipun masih terdapat pasien yang belum mencapai target tekanan darah sehingga diperlukan pemantauan terapi, peningkatan kepatuhan minum obat.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

GAMBARAN KESESUAIAN PENYIMPANAN OBAT DI PUSKESMAS KECAMATAN TENGGARONG SEBERANG DAN LOA KULU

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyimpanan obat di puskesmas merupakan aspek penting dalam pengelolaan sediaan farmasi karena sangat menentukan mutu, keamanan, stabilitas, dan ketersediaan obat dalam pelayanan kesehatan. Apabila penyimpanan tidak dilakukan sesuai standar, maka dapat timbul berbagai masalah seperti penurunan kualitas obat, kerusakan fisik maupun kimia, obat kedaluwarsa, pemborosan anggaran, serta terganggunya kelancaran pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesesuaian penyimpanan obat di Puskesmas Kecamatan Tenggarong Seberang dan Kecamatan Loa Kulu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional cross-sectional yang dilakukan pada bulan Juni 2026 di empat puskesmas, yaitu Puskesmas Teluk Dalam, Puskesmas Separi III, Puskesmas Loa Kulu, dan Puskesmas Jonggon. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling terhadap seluruh sistem dan fasilitas penyimpanan obat yang diamati. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan tenaga kefarmasian, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara univariat dengan menghitung persentase kesesuaian berdasarkan skala Guttman, kemudian disajikan dalam bentuk tabel, persentase, dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan obat di keempat puskesmas berada pada kategori sangat baik, dengan nilai kesesuaian Puskesmas Teluk Dalam 88,57%, Puskesmas Separi III 88,57%, Puskesmas Loa Kulu 85,71%, dan Puskesmas Jonggon 82,86%. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian, seperti belum optimalnya ventilasi ruang penyimpanan, belum tersedianya safety stock, adanya kebocoran pada atap atau plafon, serta belum adanya prosedur rotasi antibiotik yang spesifik. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum penyimpanan obat telah sesuai standar, namun masih diperlukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan agar pengelolaan obat lebih efektif, efisien, dan mampu mendukung mutu pelayanan kefarmasian secara optimal.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANALISIS WAKTU TUNGGU RESEP OBAT RACIK DAN NON RACIK DI INSTALASI FARMASI PUSKESMAS JUANDA

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu tunggu pelayanan resep obat racik dan non racik, menilai kesesuaiannya dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), serta mengidentifikasi tahapan pelayanan yang paling berkontribusi terhadap waktu tunggu di Instalasi Farmasi Puskesmas Juanda. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan observasional. Sampel penelitian sebanyak 288 resep yang terdiri atas 36 resep racik dan 252 resep non racik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan dianalisis secara deskriptif menggunakan nilai rata-rata, standar deviasi, dan persentase kontribusi setiap tahapan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu resep racik adalah 13,62 ± 2,93 menit, sedangkan resep non racik 3,06 ± 1,04 menit. Seluruh pelayanan resep (100%) telah memenuhi SPM, yaitu 60 menit untuk resep racik dan 30 menit untuk resep non racik. Tahapan yang paling berkontribusi terhadap waktu tunggu adalah penyiapan obat, yaitu sebesar 83,70% pada resep racik dan 43,70% pada resep non racik. Waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Puskesmas Juanda telah memenuhi standar yang ditetapkan, dengan penyiapan obat sebagai tahapan yang paling memengaruhi lamanya pelayanan.

12 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR TINGKAT KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kepatuhan pasien dalam menggunakan obat antihipertensi sangat berpengaruh terhadap keberhasilan terapi, namun masih banyak pasien yang tidak patuh, sehingga tekanan darah tetap tidak terkontrol dan beresiko menyebabkan komplikasi serius. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran tingkat kepatuhan dalam menggunakan obat antihipertensi di puskesmas. Metodologi penelitian ini menggunakan studi literatur dengan meninjuau artikel dan jurnal tingkat kepatuhan pasien hipertensi yang di ukur menggunakan kuisioner MMAS-8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan rendah pada pasien hipertensi di puskesmas lempake samarinda dengan persentase (41,5%), sedangkan di puskesmas kema minahasa utara kepatuhan rendah dengan persentase (57,7%). Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan termasuk usia, pendidikan, pekerjaan, lama menderita hipertensi, pengetahuan pasien, serta jenis kelamin. Pasien dengan tingkat pendidikan rendah, pekerjaan yang padat, dan yang telah lama menderita hipertensi cenderung memiliki kepatuhan yang rendah.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR TINGKAT KEPATUHAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP PENGGUNAAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL DI PUSKESMAS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan terapi jangka panjang sehingga kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengobatan dan pencegahan komplikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien Diabetes Melitus Tipe 2 serta tingkat kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral di Puskesmas berdasarkan studi literatur. Metode penelitian menggunakan studi literatur dengan menelaah tiga artikel ilmiah yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara deskriptif. Hasil sintesis menunjukkan bahwa karakteristik pasien pada ketiga penelitian didominasi oleh kelompok usia 46–65 tahun, berjenis kelamin perempuan, memiliki tingkat pendidikan dasar hingga menengah (SD–SMA), serta sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga, meskipun pada beberapa penelitian juga ditemukan responden yang tidak bekerja dan pensiunan. Berdasarkan analisis terhadap ketiga jurnal, tingkat kepatuhan penggunaan obat hipoglikemik oral menunjukkan variasi, yaitu 37,1% termasuk kategori kepatuhan tinggi, 47,3% kategori kepatuhan sedang, dan 46,88% kategori kepatuhan rendah. Perbedaan tingkat kepatuhan dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, pengetahuan, lama menjalani terapi, kompleksitas regimen pengobatan, dukungan keluarga, serta peran tenaga kesehatan. Berdasarkan hasil studi literatur dapat disimpulkan bahwa karakteristik pasien Diabetes Melitus Tipe 2 relatif serupa, sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat masih bervariasi sehingga diperlukan edukasi, konseling, dan pemantauan terapi secara berkelanjutan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

EVALUASI PENYIMPANAN OBAT DI INSTALASI FARMASI UPTD PUSKESMAS KARANG JATI BALIKPAPAN TAHUN 2025

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyimpanan obat merupakan tahapan krusial dari sistem pengelolaan sediaan farmasi yang berisiko tinggi, dan berpengaruh langsung terhadap ketersediaan, keterjangkauan, stabilitas, serta mutu obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sistem penyimpanan obat di UPTD Puskesmas Karang Jati Balikpapan berdasarkan Permenkes RI No.74 Tahun 2016. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan analisis retrospektif dan prospektif terhadap data periode Januari hingga Desember 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator kualitatif meliputi stabilitas, keamanan, sanitasi, pencahayaan, kelembaban, dan ventilasi telah sesuai standar. Indikator kuantitatif memperlihatkan kesesuaian jumlah item obat dengan kartu stok sebesar 100%, nilai Inventory Turn Over Ratio (ITOR) sebesar 9 kali per tahun (sesuai standar 8–12 kali), serta persentase obat kedaluwarsa hanya 0,23% (memenuhi standar 1%). Namun, persentase stok mati sebesar 24,7% belum sesuai dengan standar ideal (0%).

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR GAMBARAN PENYIMPANAN OBAT DI PUSKESMAS

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap Sediaan Farmasi yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Permasalahan yang biasanya terjadi adalah stok obat yang berlebih atau kurang serta adanya obat rusak atau kadaluarsa yang masih ditemukan di gudang penyimpanan obat. Masalah ini muncul biasanya dipengaruhi oleh sistem pengelolaan obat di puskesmas yang kurang diperhatikan. Penelitian studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di Puskesmas sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah jurnal nasional tentang gambaran penyimpanan obat di puskesmas. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan mengidentifikasi, membandingkan, mengelompokkan temuan penelitian berdasarkan studi literatur tentang penyimpanan obat di puskesmas tentang bagaimana penyimpanan obat di puskesmas berdasarkan bentuk dan jenis sediaan, suhu penyimpanan, cahaya dan kelembaban, bahan yang mudah terbakar/ meledak serta penyimpanan narkotika dan psikotropika sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016. Hasil kajian studi literatur diperoleh bahwa perbedaan utama terdapat pada aspek ventilasi. Puskesmas Galesong Utara sudah memiliki ventilasi, sedangkan Puskesmas Piyungan belum memiliki ventilasi. Namun gambaran penyimpanan obat di kedua puskesmas secara umum telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di puskesmas.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

PROFIL PENYIMPANAN OBAT DI PUSKESMAS BONTANG LESTARI

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Puskesmas adalah sarana pelayanan kesehatan yang memiliki fungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan, peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit serta pemulihan kesehatan tingkat pertama di wilayah tertentu. Puskesmas perlu memperhatikan pengelolaan farmasi dengan seksama karena hal ini dapat mempengaruhi keberhasilan terapi pasien. Penyimpanan obat merupakan salah satu tahapan krusial yang bertujuan untuk menjaga stabilitas dan mutu obat selama masa simpan. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil penyimpanan obat di Puskesmas dengan mengkaji kesesuaian praktik di lapangan terhadap ketentuan dalam Permenkes No. 72 Tahun 2016 dan pedoman teknis lainnya yang relevan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif observasi dengan menyajikan data primer dan sekunder untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap fasilitas penyimpanan obat, wawancara terstruktur dengan petugas farmasi atau penanggung jawab obat. Sampel pada penelitian ini yaitu seluruh item obat yang ada di Instalasi Farmasi dan teknik sampling yang di gunakan yaitu total dari sampel tersebut. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan pedoman Permenkes dan standar penyimpanan obat, serta analisis deskriptif dengan menyusun frekuensi dan distribusi data yang diperoleh dari observasi dan kuesioner. Data kemudian disajikan dalam bentuk naratif dan tabulasi untuk memudahkan interpretasi terhadap sejauh mana tingkat kesesuaian praktik penyimpanan obat di Puskesmas dengan standar yang berlaku. Dari hasil penelitian didapatkan pengelolaan penyimpanan obat di apotek dan gudang farmasi di Puskesmas Bontang Lestar dengan aspek umum 70% dengan predikat baik dan aspek khusus 83,33 % dengan predikat sangat baik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi penguatan sistem pengelolaan obat di Puskesmas serta menjadi masukan bagi pengambil kebijakan dalam penyusunan program peningkatan kapasitas sumber daya farmasi di tingkat layanan primer.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR EVALUASI PENERAPAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN (Pharmaceutical Service Standards) DI PUSKESMAS

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat dan perorangan, termasuk pelayanan kefarmasian. Standar pelayanan kefarmasian di puskesmas bertujuan untuk menjamin mutu pelayanan serta meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Evaluasi terhadap penerapan standar ini penting dilakukan guna mengetahui sejauh mana pelaksanaannya telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas Pagesangan dan Puskesmas Tanjung Karang berdasarkan Permenkes No. 74 Tahun 2016. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Sumber data diperoleh dari dua artikel ilmiah yang masing-masing mengevaluasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di dua puskesmas berbeda. Analisis dilakukan berdasarkan tiga indikator, yaitu pengelolaan sediaan farmasi dan BMHP, peralatan dan fasilitas pendukung, serta sumber daya manusia. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa Puskesmas Pagesangan memperoleh nilai rata-rata 97,92% dengan capaian maksimal pada indikator pengelolaan sediaan farmasi dan sumber daya manusia, sedangkan Puskesmas Tanjung Karang memperoleh nilai rata-rata 92,5% dengan capaian tertinggi pada indikator sumber daya manusia. Keduanya belum memenuhi indikator ruang konseling pada fasilitas pendukung. Kesimpulan dari evaluasi dalam studi literatur ini menunjukkan bahwa kedua puskesmas telah melaksanakan sebagian besar indikator pelayanan kefarmasian sesuai dengan standar yang berlaku dengan tingkat pencapaian yang termasuk dalam kategori baik.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR KEPATUHAN PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI DI PUSKESMAS

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan yang serius saat ini adalah hipertensi. Akibat terburuk dari penyakit ini adalah kematian karena hampir 90% kasus hipertensi tidak diketahui penyebab sebenarnya bahkan pada sebagian besar kasus hipertensi tidak memberikan gejala. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dengan tekanan darah di puskesmas. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan mengenai pentingnya kepatuhan dalam penggunaan obat antihipertensi kepada masyarakat. Rancangan yang digunakan pada penelitian merupakan jenis penelitian studi literatur, yaitu mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah berbagai sumber terkait seperti skripsi, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian terdahulu. Objek penelitian ini yaitu hubungan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dengan tekanan darah di puskesmas. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran hubungan antara kepatuhan penggunaan obat dengan usia, tingkat pendidikan, jenis kelamin, dan obat hipertensi yang digunakan.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

STUDI LITERATUR GAMBARAN KUALITAS PELAYANAN KEFARMASIAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN DI PUSKESMAS

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan yang berfungsi untuk menyelenggarakan, meningkatkan, mencegah, mengobati, dan memulihkan kesehatan masyarakat, yang dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, serta masyarakat, dalam memberikan pelayanan instalasi farmasi yang berkualitas dan memuaskan pasien, pihak puskesmas perlu memperhatikan berbagai aspek pelayanan yang ditawarkan untuk menciptakan sekaligus meningkatkan mutu layanan farmasi. Kepuasan pelanggan adalah tanggapan perilaku yang muncul sebagai hasil dari perbandingan antara harapan dengan pengalaman nyata yang dirasakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan kefarmasian di dua puskesmas, yaitu Puskesmas Bromo di Medan dan Puskesmas Pracimantoro di Wonogiri. Pendekatan kuantitatif dengan menggunakan kuesioner SERVQUAL diterapkan untuk menilai lima dimensi utama pelayanan, meliputi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, tingkat kepuasan pasien di kedua puskesmas berada dalam kategori tinggi, dengan dimensi responsivitas, assurance, dan empati mendapatkan nilai tertinggi. Meskipun demikian, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan, seperti fasilitas ruang tunggu dan penjelasan tentang efek samping obat. Disarankan untuk melakukan pelatihan komunikasi secara berkala dan evaluasi kualitas layanan guna mempertahankan dan meningkatkan kepuasan pasien serta kualitas pelayanan kefarmasian di puskesmas.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Profil Medication Error Pada Resep Pasien Diabetes Melitus Ditinjau Dari Fase Prescribing Di Puskesmas Segiri Samarinda Periode Juli-Desember 2023"

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Medication error merupakan permasalahan serius dalam pelayanan kefarmasian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan keluarganya. Kesalahan ini dapat terjadi dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan obat (dispensing) dan pemberian obat (administration). Tujuan penelitan untuk mengetahui profil medication error pada fase prescribing resep pasien diabetes melitus di Puskesmas Segiri Samarinda. Penelitian ini bersifat non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan medication error fase prescribing yang paling banyak terjadi pada resep pasien diabetes melitus adalah tidak ada nomor SIP dokter (100%), tidak ada bentuk sediaan (100%), tidak ada cara penggunaan obat (100%), tidak ada rute pemberian (100%), tidak ada tanda tangan dokter (100%), tidak ada tinggi badan pasien (99,4%) dan tidak ada berat badan pasien (99,1%).

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi di Puskesmas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Hipertensi adalah gejala gangguan keseimbangan hemodinamik dalam sistem kardiovaskular. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui data demografi pasien hipertensi serta mengetahui kepatuhan pasien terhadap penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, dengan tahapan meliputi pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini berfokus pada Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi di Puskesmas Sumowono, Puskesmas Banyumas (Jawa Tengah) dan Puskesmas Bantul II (Daerah Istimewa Yogyakarta). Analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu memberikan gambaran tentang data demografi pasien hipertensi serta tingkat kepatuhan pasien dalam minum obat antihipertensi. Puskemas Sumowono dengan rentang usia 46-65 tahun 81.8%, jenis kelamin perempuan 90.9%, sebagai petani 45.5%, dan riwayat pendidikan Sekolah Dasar 90.9% dengan tingkat kepatuhan tinggi 40.9%. Puskesmas Banyumas dengan usia 56-65 tahun 37%, jenis kelamin perempuan sebanyak 66%, status bekerja 51% dan riwayat pendidikan Sekolah Dasar 48% dengan tingkat kepatuhan rendah 40% dengan tingkat kepatuhan sedang. Puskesmas Bantul II dengan usia 19 tahun 83.1%, jenis kelamin perempuan 69.2%, status bekerja 61,5% dan riwayat pendidikan SMA-Magister 60% dengan tingkat kepatuhan tinggi 50.7%.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi literatur tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan antibiotik amoksisilin di puskesmas

2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Antibiotik bisa bersifat bakterisid atau bakteriostatik. Antibiotik banyak di resepkan di puskesmas, namun penggunaanya sering kali tidak tepat, akibatnya terjadi peningkatan resistensi terhadap antibiotik. Antibiotik yang sering di konsumsi dan di pasarkan secara bebas adalah amoksisilin. Ketidakpatuhan dalam penggunaan antibiotik dikarenakan kurangnya pengetahuan di masyarakat. Kepatuhan dalam penggunaan antibiotik bertujuan untuk memperkecil resiko terjadinya efek samping dan resistensi. Puskesmas merupakan fasilitas kesehatan yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendapat terapi antibiotik yang sesuai. Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan amoksisilin di Puskesmas. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif, yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, dan tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan antibiotik. Hasil studi literatur Tingkat kepatuhan pasien terhadap penggunaan antibiotik amoksisilin Puskesmas Campurejo sebanyak 24 responden (48%) patuh minum obat antibiotik amoksisilin dan Puskesmas Masbagik sebanyak 89 responden (97,8%).

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail