ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesalahan pengobatan merupakan kegagalan dalam proses pengobatan yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan kerugian dan membahayakan pasien, mulai dari bahaya ringan hingga risiko yang mengancam nyawa. Kesalahan pengobatan dapat disebabkan oleh kesalahan dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan hingga penyerahan obat (dispensing), dan proses penggunaan obat (administration). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesalahan pengobatan yang terjadi pada resep obat pasien hipertensi. Metode yang digunakan penelitian non eksperimental. Pengambilan data dilakukan secara prospektif bulan maret 2025 terhadap 735 resep dan 354 memenuhi kriteri inklusi resep pasien hipertensi di poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Inche Abdoel Moeis Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan kesalahan pengobatan pada fase prescribing yaitu tidak ada nomor SIP dokter 100% karena resep elektronik dan nomor SIP dokter sudah terverifikasi dalam sistem rumah sakit sehingga dinyatakan tidak terjadi kesalahan pengobatan pada prescribing dan fase dispensing yaitu salah pengambilan obat sebanyak 4 resep (1%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit telah bergeser dari product-oriented menjadi patient-oriented demi menjamin mutu pelayanan kesehatan, penggunaan obat yang rasional, meminimalkan risiko terapi, dan mengoptimalkan biaya pengobatan. Salah satu instrumen utama untuk mencapai tujuan ini adalah Formularium Nasional (Fornas), yang menjadi pedoman peresepan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan menilai kepatuhan peresepan obat terhadap Fornas di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti (ABADI) Samboja pada tahun 2024 berdasarkan standar minimal indikator mutu pelayanan kefarmasian nasional yaitu sebesar ≥80%. Penelitian deskriptif observasional retrospektif ini mengevaluasi data e-resep (Januari–Desember 2024). Dari total populasi 111.984 resep, diperoleh sampel minimal 9.180 resep berdasarkan rumus Slovin (margin of error 1%). Pengambilan sampel dilakukan secara proportional stratified systematic random sampling agar seluruh depo pelayanan farmasi terwakili. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan kumulatif sebesar 75,07%, sehingga belum mencapai standar mutu nasional. Target berhasil dicapai oleh Depo Instalasi Bedah Sentral (IBS) (100%) dan Depo Instalasi Gawat Darurat (IGD) (82,62%), namun belum optimal di Depo Rawat Inap (72,16%) dan Depo Rawat Jalan (70,40%). Faktor klinis dan sistemis memicu peresepan obat non-Fornas seperti piracetam, Tremenza, L-Bio, dan albumin oral. Komite Farmasi dan Terapi (KFT) direkomendasikan memperketat pengawasan serta mengintegrasikan fitur pengingat otomatis pembatasan non-Fornas pada Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator mutu pelayanan kefarmasian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu tunggu pelayanan resep obat racik dan non racik, menilai kesesuaiannya dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM), serta mengidentifikasi tahapan pelayanan yang paling berkontribusi terhadap waktu tunggu di Instalasi Farmasi Puskesmas Juanda. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pendekatan observasional. Sampel penelitian sebanyak 288 resep yang terdiri atas 36 resep racik dan 252 resep non racik yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan dianalisis secara deskriptif menggunakan nilai rata-rata, standar deviasi, dan persentase kontribusi setiap tahapan pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata waktu tunggu resep racik adalah 13,62 ± 2,93 menit, sedangkan resep non racik 3,06 ± 1,04 menit. Seluruh pelayanan resep (100%) telah memenuhi SPM, yaitu 60 menit untuk resep racik dan 30 menit untuk resep non racik. Tahapan yang paling berkontribusi terhadap waktu tunggu adalah penyiapan obat, yaitu sebesar 83,70% pada resep racik dan 43,70% pada resep non racik. Waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Puskesmas Juanda telah memenuhi standar yang ditetapkan, dengan penyiapan obat sebagai tahapan yang paling memengaruhi lamanya pelayanan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Waktu pelayanan resep adalah hal dalam mengembangkan kualitas layanan kesehatan untuk pasien. Waktu tunggu pelayanan kefarmasian yang lama akan muncul dampak yang buruk pada sebuah proses produksi, kualitas pelayanan, terutama pada kepuasan pasien. Kepuasan pasien dapat mengukur kualitas pelayanan terhadap pelayanan rumah sakit. Waktu tunggu pelayanan resep merupakan salah satu indikator penting dalam menilai tingkat kepuasan pasien. Adanya hubungan antara waktu tunggu pelayanan resep dengan tingkat kepuasaan pasien menunjukkan perlunya peninjauan lebih lanjut terhadap waktu tunggu pelayanan resep. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk mengetahui kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep racikan dan non racikan pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi dan RSI Sultan Agung Banjarbaru. Studi literatur ini menggunakan metode studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah, jurnal, dan dokumen relevan yang membahas pelayanan resep racikan dan non racikan pada pasien rawat jalan di instalasi farmasi rumah sakit. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk memperoleh gambaran waktu tunggu layanan resep racikan dan resep non racikan di Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit. Hasil kajian ini diharapkan memberikan dasar untuk evaluasi pelayanan resep di instalasi rawat jalan rumah sakit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan permasalahan penting dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang dapat terjadi pada setiap tahapan penggunaan obat dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Kesalahan ini sering ditemukan pada pelayanan obat, mulai dari penulisan resep, penerjemahan, penyiapan, hingga pemberian obat kepada pasien, khususnya di poli interna yang umumnya memiliki penyakit dengan terapi obat yang kompleks, sehingga berisiko lebih tinggi mengalami medication error. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk mengidentifikasi medication error pada resep pasien poli interna di instalasi farmasi rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis medication error yang terjadi dalam proses pelayanan resep pada pasien poli interna di instalasi farmasi rumah sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah artikel ilmiah yang relevan dan dipublikasikan dalam 10 tahun terakhir (2015-2025). Penelusuran literatur dilakukan melalui database Google Scholar dan Publish or Perish. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan merangkum dan menyajikan temuan dalam bentuk tabel dan narasi untuk menarik kesimpulan mengenai kejadian medication error.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan kejadian yang dapat membahayakan keselamatan pasien dan masih menjadi permasalahan dalam pelayanan kefarmasian di rumah sakit, khususnya pada pasien rawat jalan. Salah satu tahap krusial dalam pencegahan medication error adalah skrining resep, yang bertujuan untuk memastikan ketepatan dan keamanan penggunaan obat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi penyebab terjadinya medication error pada proses skrining resep pasien rawat jalan di rumah sakit serta mengkaji upaya pencegahannya. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan mengkaji buku, peraturan perundang-undangan, dan jurnal ilmiah yang relevan dalam 10 tahun terakhir (2015-2025). Hasil kajian menunjukkan bahwa potensi medication error pada tahap skrining resep masih banyak ditemukan, terutama terkait ketidaklengkapan administrasi resep, kesalahan farmasetik, dan pertimbangan klinis. Oleh karena itu, pelaksanaan skrining resep sesuai standar pelayanan kefarmasian oleh tenaga kefarmasian, khususnya apoteker, sangat penting untuk meminimalkan terjadinya medication error dan meningkatkan keselamatan pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter merupakan tantangan serius karena risiko resistensi antibiotik. Studi literatur ini bertujuan mensintesis bukti ilmiah tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap tindakan penggunaan antibiotik tanpa resep. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan tinjauan artikel dari Google Scholar dan Garuda periode 2015– 2025. Hasil kajian terhadap dua artikel menunjukkan bahwa sikap masyarakat memiliki hubungan lebih dominan dibandingkan pengetahuan. Tingkat pengetahuan masyarakat masih tergolong rendah (47,7%), sikap cenderung negatif (54,2%), dan tindakan penggunaan antibiotik tidak tepat (57,3%). Secara bersama, pengetahuan dan sikap memiliki hubungan signifikan terhadap tindakan (p=0,000). Faktor pendidikan dan pekerjaan juga turut mempengaruhi ketiga aspek tersebut. Kesimpulannya, kepatuhan terhadap penggunaan antibiotik rasional tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan, tetapi juga sangat bergantung pada sikap positif serta faktor sosiodemografi. Saran yang diajukan adalah perlunya edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus membentuk sikap positif, serta penguatan peran tenaga kesehatan dalam mengawasi penggunaan antibiotik di masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Nama : Dewi oktafiana Progam Studi : Sarjana Farmasi Judul Skripsi : Gambaran Waktu Tunggu Resep Obat Pasien Kapitasi BPJS di Apotek Kimia Farma Sutomo Samarinda Pembimbing 1. apt. Rusdiati Helmidanora, M.Sc 2. apt. Husnul Warnida M.Si Waktu tunggu resep merupakan waktu tunggu dihitung dari pasien menyerahkan resep ke pihak farmasi untuk disiapkan sampai obat diterima oleh pasien. Menurut Permenkes RI Nomor 73 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal Apotek bahwa resep non racikan ≤ 15 menit dan resep racikan ≤ 30 menit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kesesuaian waktu tunggu pelayanan resep obat pasien kapitasi BPJS di Apotek kimia farma Sutomo Samarinda dengan Permenkes RI Nomor 73 tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan metode prospektif terhadap resep obat pasien kapitasi BPJS yang masuk di Apotek Kimia Farma Sutomo Samarinda periode bulan Desember 2025. Data yang di peroleh berupa waktu tunggu resep kemudian di analisis menggunakan mikrosoft Excel. Diperoleh hasil penelitian jumlah sampel sebanyak 464 resep yang terdiri dari 125 resep racikan (26,9%) dan 339 resep non racikan (73.1%). Perhitungaan rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat racikan adalah 17,10 menit dan rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat non racikan adalah 8,44 menit. Rata-rata waktu tunggu pelanyanan resep obat baik racikan maupun non racikan telah memenuhi Permenkes RI No.73 waktu tunggu pelayanan resep di Apotek waktu tunggu pelayanan resep racikan ≤ 30 menit dan waktu tunggu resep non racikan adalah ≤ 15 menit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan isu kritis dalam pelayanan kesehatan yang berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Tahap prescribing (peresepan) diidentifikasi sebagai salah satu fase yang paling rentan terhadap kesalahan, terutama pada penggunaan resep manual yang sering terkendala masalah keterbacaan tulisan tangan dan ketidaklengkapan administratif seperti identitas pasien, usia, berat badan, dan kejelasan dosis. Implementasi resep elektronik (e- prescribing) diharapkan menjadi solusi untuk meminimalisir risiko tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengobatan medication error pada fase prescribing pada pengunaan resep elektronik dan resep manual di rumah sakit. Jenis penelitian ini adalah studi literatur dengan metode deskriptif- komparatif, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah dokumen relevan seperti karya tulis ilmiah dan jurnal penelitian. Objek yang digunakan adalah kesalahan pengobatan medication error pada tahap peresepan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menyusun gambaran dari data yang terkumpul untuk kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Berdasarkan telaah literatur didapatkan hasil yaitu pada RSU PKU Muhammadiyah Banjarnegara prescribing error pada resep manual sebesar 23,44% lebih tinggi dibanding resep elektronik sebesar 7,13% . Pada RSUD Sidoarjo pada prescribing error resep manual sebesar 25% dan resep elektronik 17%, meskipun perbedaan antara resep manual dan resep elektronik tidak ada perbedaan yang signifikan terdapat penurunan kesalahan pada penggunaan sistem resep elektronik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Medication error merupakan permasalahan serius dalam dunia kesehatan yang dapat membahayakan keselamatan pasien. Salah satu bentuknya adalah prescribing error, yaitu kesalahan yang terjadi pada tahap peresepan obat. Diberbagai rumah sakit di Indonesia, tingkat kejadian prescribing error pada resep manual masih tergolong tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat kejadian prescribing error pada resep manual dan resep elektronik di Instalasi Farmasi Rumah Sakit. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari, dan menelaah jurnal ilmiah tentang prescribing errror pada resep manual dan elektronik yang dilakukan di beberapa Rumah Sakit. Hasil Kejadian medication error yang ditemukan di Rumah Sakit Diponegoro pada fase prescribing 45% resep manual, 14% e-resep sedangkan pada Rumah Sakit Umum Madyang Palopo esep manual 58,78% dan tingkat prescribing error pada resep elektronik 8,4%. Kesimpulan menunjukkan bahwa tingkat prescribing error pada resep manual lebih tinggi dari pada tingkat prescribing error pada resep elektronik
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Swamedikasi merupakan upaya seseorang untuk mengatasi suatu keluhan atau penyakit ringan berdasarkan gejala yang didiagnosis sendiri. Obat – obatan yang dapat digunakan secara bebas tanpa resep dokter merupakan obat golongan over-the-counter (OTC). Meskipun obat OTC telah terbukti aman dan efektif, namun efek samping dan interaksi obatnya berdampak serius terhadap kesehatan. Alasan yang melandasi banyaknya masyarakat melakukan swamedikasi antara lain faktor sosial ekonomi, mudahnya akses untuk mendapatkan obat, pelayanan kesehatan yang kurang memadai, merasa sakit yang diderita ringan, dan pengalaman sebelumnya dalam menggunakan obat. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian studi literatur. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, menelaah dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian yaitu gambaran pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap penggunaan obat tanpa resep. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu dengan membuat gambaran dari data-data yang terkumpul berupa data karakteristik, pengetahuan dan sikap responden.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi atau penyakit tekanan darah tinggi adalah faktor risiko utama terjadinya
penyakit kardiovaskular aterosklerosis, gagal jantung, stroke, dan gagal ginjal.
Hipertensi menimbulkan risiko mortalitas dini, yang meningkat saat tekanan
sistolik dan diastolik meningkat. Hipertensi merupakan salah satu penyakit yang
ditanggung oleh BPJS Kesehatan untuk ditangani di FKTP. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui Pola Peresepan Obat Antihipertensi Pada Pasien BPJS
Kesehatan Di Apotek. Penelitian yangdilakukan merupakan jenis penelitian studi
literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah
buku-buku serta dokumen yang terkait sepertikarya tulis ilmiah, skripsi, dan jurnal
ilmiah. Studi literatur ini mengacu pada 2 jurnal penelitian yaitu “Pola Peresepan
Obat Antihipertensi Pada Pasien BPJS Kesehatan Diapotek Kimia Farma Ahmadyani”, dan
“Gambaran Peresepan Obat Antihipertensi Dan Interaksi Obat Pada Pasien BPJS Di
Apotek Kimia Farma 479 Kendari”. Analisis data dilakukan dengan metode analisis
deskriptif berupa data kuantitatif yaitu dengan data pengobatan antihipertensi
secara monoterapi dan kombinasi.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggara kan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayan an rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat. Salah satu standar minimal pelayanan farmasi Rumah Sakit adalah waktu tunggu resep. Salah satu standar minimal pelayanan farmasi Rumah Sakit adalah waktu tunggu resep. lama waktu tunggu pelayanan obat non racik merupakan tenggang waktu mulai pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat jadi dengn standar minimal yang telah ditetapkan oleh kementrian kesehatan yaitu ≤ 30 menit, dan waktu tunggu pelayanan obat racikan adalah tenggang waktu pasien menyerahkan resep sampai dengan menerima obat racikan yaitu ≤ 60 menit. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui evaluasi lama waktu tunggu pelayanan resep di Rumah Sakit. Analisis data menggunakan metode deskriptif yaitu membuat gambaran dari data- data yang terkumpul dari jurnal penelitian sebelumnya, data disajikan secara deskriptif dalam bentuk tabel dan narasi, Disimpulkan bahwa RSUD dr. Edfram Hasana Magetan memiliki persetase lama waktu tunggu obat non racikan lebih tinggi yaitu 93% sedangkan Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin memilki persentase lama waktu resep racikan lebih tinggi yaitu 27%. Adapun Faktor yang mempengaruhi kedua rumah sakit tersebut yaitu sumber daya manusia (SDM), jadwal praktek, jumlah resep, alat, material, dan ketersediaan obat. Faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien atas pelayanan resep di rumah sakit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesehatan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi setiap manusia. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan pasien, salah satunya adalah pelayanan di rawat jalan, di lihat dari waktu tunggu. Standar pelayanan minimal (SPM) pada rumah sakit untuk resep obat racikan ≤ 60 menit dan untuk resep obat non racikan ≤ 30 menit. Permasalahan yang ada di rumah sakit waktu tunggu belum memenuhi standar. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan di beberapa rumah sakit. Rancangan yang digunakan pada penelitian yaitu studi literatur, yang melakukan pengumpulan data, menelaah, dan menganalisis data pada beberapa jurnal penelitian. Objek penelitian ini yaitu perbandingan waktu tunggu pelayanan resep pada rawat jalan di rumah sakit pada jurnal tahun 2021-2023. Analisis data menggunakan metode analisis deskriptif yaitu analisis dengan membuat gambaran dari data yang terkumpul dengan cara membandingkan literatur berupa perbandingan waktu tunggu resep racikan dan non racikan. Hasil dari ketiga rumah sakit yang berbeda-beda sudah memenuhi standar waktu tunggu pelayanan minimal rumah sakit, rumah sakit ciputra citra raya dengan resep racikan dengan rata-rata 17,23 menit dan untuk resep non racikan 7,12 menit, rumah sakit tangulandang memiliki rata-rata resep racikan 19 menit dan untuk resep non racikan 2,9 menit, dan untuk rumah sakit anwar medika memiliki rata-rata resep racikan 30,9 menit dan untuk resep non racikan 18,7 menit.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2024•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengkajian resep merupakan salah satu pelayanan kefarmasian yang digunakan
untuk meminimalkan terjadinya kesalahan pada peresepan obat. Peresepan pada
anak memiliki resiko yang tinggi dalam pengobatan sebesar sepuluh kali lipat
dibandingkan dengan peresepan pada dewasa. Tingginya resiko ini disebabkan
perbedaan pada massa tubuh anak di mana dosis dihitung secara individu
berdasarkan usia, berat badan, atau luas permukaan tubuh. Pengkajian ini bertujuan
untuk mengetahui tentang gambaran kelengkapan aspek administratif dan
farmasetis pada resep pasien pediatrik di instalasi rawat jalan rumah sakit.
Berdasarkan resep yang diamati dari Rumah Sakit Azzahra Kalirejo Lampung
Tengah dan Rumah Sakit Umum Daerah Lambuang Baji, masih ditemukan
ketidaklengkapan dalam penulisan resep menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No. 72 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di
Rumah Sakit. Berdasarkan hasil studi literatur terkait kelengkapan penulisan resep
pasien pediatrik di instalasi rawat jalan Rumah Sakit menunjukkan bahwa terdapat
4 (empat) aspek administratif yang persentase ketidaklengkapannya paling besar
yaitu berat badan pasien. Sedangkan pada aspek farmasetis yang memiliki
persentase ketidaklengkapan paling besar adalah kekuatan sediaan obat serta aturan
dan cara penggunaan obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kelengkapan resep merupakan aspek yang sangat penting dalam peresepan karena dapat membantu mengurangi terjadinya kesalahan pada resep dan dapat merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan. , skrining resep merupakan suatu pemeriksaaan resep yang pertama kali dilakukan oleh petugas apotek setelah resep diterima di apotek.Skrining resep meliputi skrining admninstratif, kesesuaian farmasetis, dan kesesuian klinis. Skrining administrastif adalah pengumpulan data dan informasi kelengkapan peresepan yang terdiri dari nama pasien, umur, jenis kelamin, tanggal penulisan resep, nama dokter, nomor Surat Izin Praktek (SIP), alamat pasien, nomor telepon pasien, dan paraf dokter. Skrining farmasetik adalah pengumpulan data dan informasi kelengkapan peresepan yang terdiri daribentuk dan kekuatan sediaan, aturan dan cara penggunaan obat, nama obat, jumlah obat, stabilitas, dan kompatibilitas (ketercampuran obat). Skrining Klinis adalah pengumpulan data dan informasi kelengkapan peresepan yang terdiri dari ketepatan indikasi, dosis obat, duplikasi dan interaksi obat.Skrining resep bertujuan untuk menjamin legalitas suatu resep dan meminimalkan kesalahan pengobatan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui presentase kelengkapan Resep di Apotek Sahabat Samarinda sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.73 Tahun 2016. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental bersifat deskriptif dengan melakukan analisis hanya pada taraf deskripsi atau hanya menggambarkan keadaan objek yang didasarkan pada data. Teknik pengambilan data adalah dengan metode purposive sampling dan hasil disajikan dalam bentuk tabel. Adapun data yang digunakan adalah resep di Apotek Sahabat Samarinda pada bulan Maret 2023. Pengambilan data bersifat retrospektif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Resep adalah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk sediaan tertentu dan menyerahkannya kepada pasien. Penulisan resep harus ditulis degan jelas, lengkap dan memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku. Resep yang ditulis tidak jelas akan menimbulkan terjadinya kesalahan saat peracikan, penyiapan obat dan penggunaan obat yang diresepkan. Kelengkapan resep meliputi administrasi, farmasetik dan klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan resep pasien rawat jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Wahab Sjahrani Samarinda pada tahun 2022 sesuai dengan Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit Tahun 2019. Metode penelitian yaitu secara observasional yang bersifat dekskriptif dengan pengambilan data dilakukan secara retrospektif. Objek dalam penelitian ini adalah kelengkapan dan kejelasan resep pasien di RSUD Abdul Wahab Sjahrani tahun 2022. Sampel yang digunakan adalah resep pasien poli rawat jalan yang masuk ke RSUD Abdul Wahab Sjahrani pada tahun 2022 dengan teknik sampling yaitu simpel random sampling. Data dianalisis secara deskriptif dan dihitung dalam besaran persentase sehingga menghasilkan angka persentase kelengkapan dan kejelasan resep pada kajian administratif, farmasetik dan klinis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Studi literatur bertujuan untuk mengetahui gambaran kelengkapan resep pada aspek administratif di Puskesmas sesuai dengan Permenkes No.74 tahun 2016. Resep yang baik harus memuat cukup informasi yang memungkinkan ahli kefarmasian yang bersangkutan mengerti obat apa yang akan diberikan kepada pasien. Dilakukan pengkajian terhadap kelengkapan administratif pada resep apakah memenuhi ketentuan Permenkes No 74 tahun 2016. Objek penelitian yaitu aspek kelengkapan administratif resep di Puskesmas, yakni meliputi kelengkapan data pasien (Nama, umur, jenis kelamin, berat badan pasien) , kelengkapan data dokter (Nama dan paraf dokter) tanggal penulisan resep dan ruangan asal/unit di Puskesmas Cilamaya di Kabupaten Karawang, Puskesmas Tamalanrea Kota Makassar dan Puskesmas Sarolangun Puskesmas menurut Permenkes No 74 tahun 2016. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif yaitu analisa dengan disajikan dalam bentuk berupa tabel data-data yang terkumpul Hasil analisis berupa persentase dan dinarasikan dalam bentuk paragraf. kelengkapan resep dari 3 jurnal aspek administratif berdasarkan nama pasien diperoleh persentasi keseuaian berkisar 100%, berdasarkan umur pasien berkisar 98,2%, jenis kelamin berkisar 33,3%, berat badan berkisar 32,2%, nama dokter berkisar 58,4%, paraf dokter berkisar 65,6%, tanggal penulisan resep berkisar antara 92,7% dan ruangan asal 25,3%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Resep adalah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk sediaan tertentu dan menyerahkannya kepada pasien. Kajian resep merupakan aspek yang sangat penting dalam peresepan karena dapat membantu mengurangi terjadinya medication error. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelengkapan resep pasien rawat jalan di Rumah Sakit Samarinda Medika Citra pada bulan Januari 2020 yang ditinjau dari 2 aspek yaitu persyaratan administrasi dan persyaratan farmasetik. Penelitian yang dilakukan adalah penelitan non eksperimental bersifat dekskriptif dan pengambilan data dilakukan secara retrospektif. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah kelengkapan dan kejelasan resep pasien rawat jalan yang masuk ke unit farmasi rawat jalan Rumah Sakit Samarinda Medika Citra pada bulan januari 2020. Sampel yang digunakan adalah resep pasien rawat jalan yang masuk ke unit farmasi Rumah Sakit Samarinda Medika Citra pada bulan Januari 2020 dengan teknik sampling yaitu stratified random sampling, yang kemudian dianalisis secara deskriptif dan dihitung dalam besaran persentase sehingga menghasilkan angka persentase yang dimaksudkan kelengkapan dan kejelasan resep pada kajian administrasi dan kajian farmasetik. Hasil Penelitian menunjukan kesesuaian persyaratan administrasi yaitu nama pasien, poli, umur pasien, alamat pasin serta tanggal resep sebesar 100%, riwayat alergi pasien sebesar 12,5%, berat badan pasien sebesar 19%, SIP dokter 96,25%, nama dokter 97,5%, serta paraf dokter sebesar 95,75%. Kesesuaian persyaratan farmasetis yaitu bentuk sediaan sebesar 75,5%, kekuatan sediaan 87,5%, nama obat 90%, aturan pakai 97,25% serta jumlah obat sebesar 100%. Kesesuian persyaratan klinis yaitu interaksi obat obat sebesar 68%, duplikasi obat sebesar 95% dan kesesuaian dosis obat sebesar 82,5%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2020•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Proses pelayanan resep harus memperhatikan kualitas pelayanan yang baik. Penentuan kualitas pelayanan dapat dipengaruhi oleh waktu tunggu. Waktu tunggu pelayanan resep dapat mempengaruhi kepuasan pasien pada pelayanan farmasi rumah sakit. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan di rumah sakit. Penelitian ini merupakan penelitian studi literatur. Tahapan penelitian dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah berbagai literatur ilmiah dan melakukan verifikasi serta tinjauan ulang data yang diperoleh, sehingga diperoleh kesimpulan yang benar. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dari data-data yang terkumpul. Hasil penelitian ini didapatkan dari jurnal-jurnal yang telah diteliti bahwa waktu tunggu pelayanan resep rawat jalan pasien JKN di tiga rumah sakit berbeda belum memenuhi standar pelayanan kefarmasian yang telah diatur oleh Keputusan Menteri Kesehatan No. 129 Tahun 2008. Adapun faktor yang mempengaruhi waktu tunggu pelayanan resep adalah jumlah SDM yang masih kurang secara kuantitas maupun kualitas, sarana dan prasarana yang kurang memadai, SOP di rumah sakit belum jelas dan belum diterapkan dengan baik, serta proses pelayanan resep yang terlalu lama di waktu jedanya.