BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penyimpanan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap Sediaan Farmasi yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap terjamin. Permasalahan yang biasanya terjadi adalah stok obat yang berlebih atau kurang serta adanya obat rusak atau kadaluarsa yang masih ditemukan di gudang penyimpanan obat. Masalah ini muncul biasanya dipengaruhi oleh sistem pengelolaan obat di puskesmas yang kurang diperhatikan. Penelitian studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyimpanan obat di Puskesmas sesuai dengan standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah jurnal nasional tentang gambaran penyimpanan obat di puskesmas. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan mengidentifikasi, membandingkan, mengelompokkan temuan penelitian berdasarkan studi literatur tentang penyimpanan obat di puskesmas tentang bagaimana penyimpanan obat di puskesmas berdasarkan bentuk dan jenis sediaan, suhu penyimpanan, cahaya dan kelembaban, bahan yang mudah terbakar/ meledak serta penyimpanan narkotika dan psikotropika sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016. Hasil kajian studi literatur diperoleh bahwa perbedaan utama terdapat pada aspek ventilasi. Puskesmas Galesong Utara sudah memiliki ventilasi, sedangkan Puskesmas Piyungan belum memiliki ventilasi. Namun gambaran penyimpanan obat di kedua puskesmas secara umum telah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan No. 74 Tahun 2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di puskesmas.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Mahasiswa program studi farmasi dihadapkan pada tuntutan akademik yang tinggi, seperti kurikulum yang kompleks dan multidisipliner, intensitas praktikum, serta persiapan ujian, yang berpotensi mempengaruhi prestasi akademik. Resiliensi akademik menjadi faktor penting yang memungkinkan mahasiswa bertahan,
beradaptasi, dan tetap berfungsi optimal di tengah tekanan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat resiliensi akademik serta pengaruhnya terhadap prestasi akademik mahasiswa Program Studi S1 dan D3 Farmasi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Samarinda. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 349 mahasiswa dari populasi 647 mahasiswa S1 dan D3 Farmasi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Academic Resilience Scale (ARS-30) yang telah teruji valid (seluruh 30 item, r hitung > 0,361) dan reliabel (Cronbach's Alpha = 0,934, kategori sangat
tinggi). Hasil penelitian menunjukkan tingkat resiliensi akademik mahasiswa tergolong kategori sedang (rata-rata skor 92,02 dari rentang 30–120), dengan mayoritas responden (69,9%) berada pada kategori sedang. Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi akademik dengan Indeks Prestasi Semester (koefisien korelasi = 0,097; p = 0,070). Dengan demikian, resiliensi akademik bukan satu-satunya faktor penentu prestasi akademik mahasiswa farmasi.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter merupakan tantangan serius karena risiko resistensi antibiotik. Studi literatur ini bertujuan mensintesis bukti ilmiah tentang hubungan tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap tindakan penggunaan antibiotik tanpa resep. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan tinjauan artikel dari Google Scholar dan Garuda periode 2015– 2025. Hasil kajian terhadap dua artikel menunjukkan bahwa sikap masyarakat memiliki hubungan lebih dominan dibandingkan pengetahuan. Tingkat pengetahuan masyarakat masih tergolong rendah (47,7%), sikap cenderung negatif (54,2%), dan tindakan penggunaan antibiotik tidak tepat (57,3%). Secara bersama, pengetahuan dan sikap memiliki hubungan signifikan terhadap tindakan (p=0,000). Faktor pendidikan dan pekerjaan juga turut mempengaruhi ketiga aspek tersebut. Kesimpulannya, kepatuhan terhadap penggunaan antibiotik rasional tidak hanya ditentukan oleh tingkat pengetahuan, tetapi juga sangat bergantung pada sikap positif serta faktor sosiodemografi. Saran yang diajukan adalah perlunya edukasi berkelanjutan untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus membentuk sikap positif, serta penguatan peran tenaga kesehatan dalam mengawasi penggunaan antibiotik di masyarakat.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Radikal bebas merupakan molekul tidak stabil yang dapat menyebabkan stres oksidatif dan berperan dalam terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Salah satu sumber antioksidan alami yang berpotensi adalah herba sirih cina (Peperomia pellucida L.) yang diketahui mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenolik. Studi literatur ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pelarut etanol terhadap aktivitas antioksidan ekstrak herba sirih cina. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan objek penelitian berupa data sekunder dari jurnal ilmiah nasional. Kriteria inklusi meliputi penelitian yang menggunakan metode ekstraksi maserasi, pelarut etanol dengan variasi konsentrasi, serta pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Data dianalisis secara deskriptif dan komparatif dengan membandingkan nilai persen inhibisi dan nilai IC50 sebagai parameter aktivitas antioksidan.Hasil telaah menunjukkan bahwa penggunaan pelarut etanol 80% memberikan aktivitas antioksidan terbaik dibandingkan dengan etanol 96%. Berdasarkan data penelitian sebelumnya, ekstrak etanol 80% herba sirih cina menunjukkan aktivitas antioksidan kategori sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 19,031 ppm. Sementara itu, penggunaan pelarut etanol 96% menghasilkan aktivitas antioksidan dengan kategori sedang dengan nilai IC50 sebesar 132,85 µg/mL (ppm). Perbedaan efektivitas ini dipengaruhi oleh tingkat polaritas pelarut yang menentukan optimalisasi penarikan senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan polifenol. Studi literatur ini diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai pengaruh pelarut etanol terhadap aktivitas antioksidan herba sirih cina.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat di rumah sakit merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada pasien dan bertujuan untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien melalui obat yang aman, efektif dan rasional. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran pelaksanaan pelayanan kefarmasian dan pengelolaan obat berdasarkan STARKES 2024 di Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan evaluatif dengan informan kunci berjumlah 9 orang yang dipilih melalui purposive sampling. Variabel penelitian ini adalah variabel tunggal yaitu pelaksanaan PKPO, dengan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, telaah dokumen, dan simulasi. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk memberikan Gambaran yang sistematis dan terukur mengenai Tingkat keterlaksanaan PKPO berdasarkan 7 elemen penilaian STARKES 2024.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Kehalalan suatu produk saat ini cukup penting terutama untuk Indonesia, karena Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Muslim. Obat halal menjadi isu yang sangat penting dibahas meningkat mengingat masih banyak ditemukan obat yang diduga mengandung bahan haram dan belum bersertifikat halal, penting bagi masyarakat muslim untuk memastikan bahwa produk farmasi yang dikonsumsi sesuai syariat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pengetahuan, persepsi, dan sikap masyarakat tentang kehalalan obat di Kelurahan Harapan Baru. Penelitian ini merupakan penelitian (non eksperimental). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 100 responden yang dipilih dengan metode purposive sampling. Kuesioner didistribusikan secara langsung kepada masyarakat menggunakan hardcopy/kertas. Kuesioner mencakup pertanyaan tentang tingkat pengetahuan, persepsi, dan sikap masyarakat terhadap kehalalan obat. Penelitian ini merekomendasikan perlu adanya edukasi berkelanjutan dan peran aktif pihak terkait untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kehalalan obat.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Pelayanan kefarmasian di rumah sakit telah bergeser dari product-oriented menjadi patient-oriented demi menjamin mutu pelayanan kesehatan, penggunaan obat yang rasional, meminimalkan risiko terapi, dan mengoptimalkan biaya pengobatan. Salah satu instrumen utama untuk mencapai tujuan ini adalah Formularium Nasional (Fornas), yang menjadi pedoman peresepan peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan menilai kepatuhan peresepan obat terhadap Fornas di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti (ABADI) Samboja pada tahun 2024 berdasarkan standar minimal indikator mutu pelayanan kefarmasian nasional yaitu sebesar ≥80%. Penelitian deskriptif observasional retrospektif ini mengevaluasi data e-resep (Januari–Desember 2024). Dari total populasi 111.984 resep, diperoleh sampel minimal 9.180 resep berdasarkan rumus Slovin (margin of error 1%). Pengambilan sampel dilakukan secara proportional stratified systematic random sampling agar seluruh depo pelayanan farmasi terwakili. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan kumulatif sebesar 75,07%, sehingga belum mencapai standar mutu nasional. Target berhasil dicapai oleh Depo Instalasi Bedah Sentral (IBS) (100%) dan Depo Instalasi Gawat Darurat (IGD) (82,62%), namun belum optimal di Depo Rawat Inap (72,16%) dan Depo Rawat Jalan (70,40%). Faktor klinis dan sistemis memicu peresepan obat non-Fornas seperti piracetam, Tremenza, L-Bio, dan albumin oral. Komite Farmasi dan Terapi (KFT) direkomendasikan memperketat pengawasan serta mengintegrasikan fitur pengingat otomatis pembatasan non-Fornas pada Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS).
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Minyak atsiri daun kemangi (Ocimum basilicum L.) berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam sediaan kosmetik toner wajah. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan menentukan konsentrasi optimum gliserin dan propilenglikol sebagai humektan guna menghasilkan sediaan toner yang memenuhi persyaratan mutu fisik. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan desain faktorial penuh 2² (Design-Expert 13) dengan variasi konsentrasi gliserin (10% dan 15%) serta propilenglikol (5% dan 10%). Sediaan yang dihasilkan dievaluasi meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, viskositas, dan waktu kering. Hasil pengujian menunjukkan seluruh formula berbentuk cair, homogen, dan beraroma khas kemangi. Formula 2 dan 3 berwarna bening, sedangkan Formula 1 dan 4 berwarna putih susu. Rata-rata nilai pH sediaan berkisar antara 4,88–6,38, memenuhi syarat pH kulit 4,5–6,5. Nilai viskositas seluruh formula berkisar antara 2,30–4,70 cPs, memenuhi standar toner yaitu 1–5 cPs. Analisis ANOVA menunjukkan bahwa gliserin merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi penurunan respons ph. Hasil uji waktu kering menunjukkan seluruh formula memenuhi persyaratan 5 menit. Rata-rata waktu kering berkisar antara 1,05 ± 0,01 hingga 1,11 ± 0,02 menit, dengan Formula 2 paling cepat dan Formula 4 paling lama. Nilai standar deviasi yang rendah menunjukkan hasil pengujian yang konsisten dan viskositas secara signifikan (p 0,05). Kombinasi kedua humektan berhasil menghasilkan formula toner minyak atsiri daun kemangi yang optimal dan sesuai standar.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Bahan kimia obat (BKO) parasetamol merupakan salah satu senyawa sintetis yang sering disalahgunakan dalam pembuatan jamu tradisional untuk memberikan efek cepat dalam meredakan nyeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kandungan bahan kimia obat (BKO) parasetamol dalam jamu pegal linu yang beredar di pasar tradisional Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman, serta menentukan kadarnya menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Tahapan penelitian meliputi persiapan dan pengumpulan sampel, preparasi larutan sampel jamu pegal linu, analisis kualitatif parasetamol menggunakan pereaksi FeCl₃ 10%, K₂Cr₂O₇ 0,1 N, dan tollens, pembuatan larutan baku parasetamol, penentuan panjang gelombang maksimum, pembuatan kurva kalibrasi, serta analisis kuantitatif parasetamol pada jamu menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menyajikan hasil kualitatif dan kuantitatif dalam bentuk narasi dan tabel berdasarkan hasil pengukuran laboratorium. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengawasan mutu obat tradisional serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penggunaan jamu yang mengandung bahan kimia obat.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
ABSTRAK Nama : Dian Novita Sayuti Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Usulan Skripsi : Profil Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Preeklampsia Di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan Pembimbing : apt. Siti Jubaidah, S. Far., M.Pd. apt. Yullia Sukawaty, S. Far., M Sc. Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah setelah usia kehamilan 20 minggu yang disertai proteinuria atau gangguan organ lainnya. Kondisi ini menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat, termasuk penggunaan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain observasional retrospektif dan analisis deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis pasien preeklampsia rawat inap periode Januari–Agustus 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Dari 160 rekam medis yang diperoleh, sebanyak 61 rekam medis memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan meliputi usia pasien, usia kehamilan, riwayat hipertensi, proteinuria, diagnosis, lama rawat inap, serta penggunaan obat antihipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien preeklampsia paling banyak berada pada kelompok usia 20–35 tahun sebanyak 46 pasien (75%), usia kehamilan trimester III sebanyak 60 pasien (98%), memiliki riwayat hipertensi keluarga sebanyak 28 pasien (46%), proteinuria +3 sebanyak 27 pasien (45%), dan diagnosis preeklampsia berat sebanyak 40 pasien (66%). Pola penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi nifedipin, magnesium sulfat (MgSO₄), dan methyldopa sebanyak 24 pasien (39%), diikuti kombinasi nifedipin dan methyldopa sebanyak 19 pasien (30%). Penggunaan terapi kombinasi lebih dominan dibandingkan terapi tunggal karena sebagian besar pasien mengalami preeklampsia berat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan didominasi oleh terapi kombinasi nifedipin, MgSO₄, dan methyldopa. Terapi kombinasi digunakan untuk mengendalikan tekanan darah sekaligus mencegah komplikasi kejang pada pasien preeklampsia. Kata kunci: Preeklampsia, Antihipertensi, Nifedipin, Methyldopa, Magnesium Sulfat, Profil Penggunaan Obat.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
Infeksi bakteri merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia. Salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri adalah kombucha teh hijau (Camellia sinensis) yang mengandung berbagai senyawa bioaktif hasil fermentasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri kombucha teh hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis serta menentukan lama fermentasi optimum. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental laboratorium. Objek yang diteliti adalah kombucha teh hijau dengan variasi lama fermentasi 0, 3, 6, 9, 12, 15, dan 18 hari. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode well diffusion (sumuran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombucha teh hijau tidak memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada seluruh variasi lama fermentasi yang digunakan. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-3, 6, 9, dan 12, dengan diameter zona hambat tertinggi pada hari fermentasi ke-6 sebesar 2,75 ± 0,25 mm. Hasil uji One-Way ANOVA menunjukkan bahwa variasi lama fermentasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap diameter zona hambat bakteri Staphylococcus epidermidis (p0,05). Lama fermentasi optimum kombucha teh hijau dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis diperoleh pada hari fermentasi ke-6.
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan
BookOpen AccessMetadata saja
2026•Koleksi Perpustakaan