ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kesalahan pengobatan merupakan kegagalan dalam proses pengobatan yang menyebabkan atau berpotensi menyebabkan kerugian dan membahayakan pasien, mulai dari bahaya ringan hingga risiko yang mengancam nyawa. Kesalahan pengobatan dapat disebabkan oleh kesalahan dalam proses peresepan (prescribing), pembacaan resep (transcribing), persiapan hingga penyerahan obat (dispensing), dan proses penggunaan obat (administration). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesalahan pengobatan yang terjadi pada resep obat pasien hipertensi. Metode yang digunakan penelitian non eksperimental. Pengambilan data dilakukan secara prospektif bulan maret 2025 terhadap 735 resep dan 354 memenuhi kriteri inklusi resep pasien hipertensi di poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Inche Abdoel Moeis Samarinda. Hasil penelitian menunjukkan kesalahan pengobatan pada fase prescribing yaitu tidak ada nomor SIP dokter 100% karena resep elektronik dan nomor SIP dokter sudah terverifikasi dalam sistem rumah sakit sehingga dinyatakan tidak terjadi kesalahan pengobatan pada prescribing dan fase dispensing yaitu salah pengambilan obat sebanyak 4 resep (1%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penggunaan obat halal sangat penting bagi masyarakat Muslim untuk memastikan bahwa produk farmasi yang dikonsumsi sesuai dengan prinsip syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap obat halal di Desa Muara Muntai Ulu. Sampel penelitian ditentukan menggunakan rumus Slovin, menghasilkan 338 responden yang dipilih melalui metode Stratified Random Sampling. Kuesioner juga diuji validitas dan reliabilitasnya pada 50 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, serta dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS. Analisis mencakup perhitungan persentase tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku, rata-rata skor berdasarkan Skala Likert, serta hubungan antara pengetahuan dengan sikap dan perilaku menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian terhadap 338 responden menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat terhadap obat halal tergolong cukup baik (74,1%), sedangkan sikap dan perilaku berada pada kategori sangat baik (4,25%). Sikap berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku, sementara pengetahuan berpengaruh negatif dan signifikan. Nilai R2 sebesar 0,261.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan perbekalan farmasi harus menjamin mutu, kualitas dan keamanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan kefarmasian. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh gambaran tentang penyimpanan di beberapa gudang perbekalan farmasi rumah sakit berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2016. Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi literatur, yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, mempelajari dan menelaah buku-buku, jurnal-jurnal serta dokumen yang terkait seperti skripsi serta jurnal ilmiah. Objek penelitian ini adalah beberapa gudang perbekalan farmasi Rumah Sakit. Analisis data dilakukan dengan metode analisis deskriptif dengan membuat gambaran penyimpanan obat di gudang farmasi Rumah Sakit berdasarkan data-data yang terkumpul. Berdasarkan hasil studi literatur mengenai pengelolaan penyimpanan obat di gudang farmasi Rumah Sakit dapat disimpulkan bahwa penyimpanan di Gudang Farmasi Rumah Sakit Bhayangkara Manado telah memenuhi ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan No. 72 Tahun 2016. Sementara itu, di Gudang Perbekalan Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Lapangan Sawang Sitaro, tingkat kepatuhannya hanya mencapai 68%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perkembangan industri farmasi di Indonesia membawa perubahan signifikan dalam perilaku konsumsi obat di masyarakat, terutama pada pemilihan antara obat tradisional dan obat sintetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan preferensi konsumen dalam memilih obat tradisional dan obat sintetik di Apotek Kimia Farma 760 Balikpapan serta menganalisis faktor-faktor yang memengaruhinya, yaitu faktor ekonomi, sosial, budaya, dan psikologs. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif komparatif dengan pendekatan survei deskriptif. Objek yang akan diteliti adalah konsumen yang melakukan pembelian obat di Apotek Kimia Farma 760 Balikpapan. Pengambilan data dilakukan melalui kuesioner online menggunakan google form kepada 358 responden yang dipilih dengan metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan statistik deskriptif untuk menentukan adanya perbedaan signifikan antara kedua jenis obat berdasarkan faktor-faktor yang diuji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden lebih memilih obat sintetik dibandingkan obat tradisional. Faktor sosial merupakan faktor yang paling dominan dalam memengaruhi preferensi konsumen.
ResearchOpen AccessMetadata saja
•Hasil Penelitian dan Pengabdian
<p>
Toeri relatas enstein</p>
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertiroid merupakan gangguan endokrin akibat peningkatan produksi hormon tiroid yang berlebihan dan dapat menimbulkan berbagai manifestasi klinis serta komplikasi apabila tidak ditangani dengan tepat. Terapi farmakologis hipertiroid salah satunya menggunakan obat antitiroid, yaitu metimazol dan propiltiourasil. Penggunaan obat antitiroid dapat berbeda berdasarkan jenis obat, dosis, dan frekuensi pemberian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antitiroid pada pasien hipertiroid di Rumah Sakit Dirgahayu Samarinda tahun 2025, meliputi karakteristik pasien, jenis obat, dosis, dan frekuensi pemberian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien hipertiroid rawat jalan periode tahun 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh 39 pasien yang memenuhi kriteria penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertiroid didominasi oleh perempuan sebanyak 32 pasien (82%), dengan kelompok usia terbanyak 31–40 tahun sebanyak 12 pasien (31%). Hasil pemeriksaan fungsi tiroid menunjukkan bahwa pada pemeriksaan tunggal, sebagian besar pasien dengan pemeriksaan TSH memiliki kadar rendah (4 dari 5 pasien), sedangkan pada pemeriksaan fT4 terdapat 7 pasien dengan kadar tinggi dan 6 pasien dengan kadar normal. Pada pemeriksaan T4, 7 pasien memiliki kadar normal dan 6 pasien memiliki kadar tinggi. Pemeriksaan dua parameter juga menunjukkan variasi hasil kadar hormon tiroid pada pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kehalalan suatu produk saat ini cukup penting terutama untuk Indonesia, karena Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Muslim. Obat halal menjadi isu yang sangat penting dibahas meningkat mengingat masih banyak ditemukan obat yang diduga mengandung bahan haram dan belum bersertifikat halal, penting bagi masyarakat muslim untuk memastikan bahwa produk farmasi yang dikonsumsi sesuai syariat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat pengetahuan, persepsi, dan sikap masyarakat tentang kehalalan obat di Kelurahan Harapan Baru. Penelitian ini merupakan penelitian (non eksperimental). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 100 responden yang dipilih dengan metode purposive sampling. Kuesioner didistribusikan secara langsung kepada masyarakat menggunakan hardcopy/kertas. Kuesioner mencakup pertanyaan tentang tingkat pengetahuan, persepsi, dan sikap masyarakat terhadap kehalalan obat. Penelitian ini merekomendasikan perlu adanya edukasi berkelanjutan dan peran aktif pihak terkait untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kehalalan obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Biaya perawatan kesehatan yang terus meningkat menuntut adanya analisis efisiensi ekonomi dalam pengobatan. Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronik dengan prevalensi yang terus meningkat serta berkontribusi terhadap tingginya pembiayaan kesehatan. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas biaya penggunaan terapi insulin dan insulin kombinasi OHO pada pasien rawat jalan diabetes mellitus tipe 2 di RSUD Inche Abdoel Moeis dengan metode analisis efektivitas biaya (Cost Effective Analysis). Penelitian ini adalah penelitian non-ekperimental deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data diambil secara retrospektif dari rekam medis pasien diabetes mellitus di RSUD Inche Abdoel Moeis Samarinda. Teknik sampling menggunakan metode total sampling dengan seluruh anggota populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Efektivitas terapi dinilai berdasarkan penurunan kadar glukosa darah puasa (GDP). Biaya yang dianalisis adalah biaya medis langsung dari perspektif rumah sakit yang meliputi biaya obat, cek laboratorium, administrasi poli dan kefarmasian. Analisis statistik dilakukan untuk mengevaluasi perbedaan signifikan antar kelompok. Hasil menunjukkan rata-rata total biaya medis langsung pada kelompok terapi insulin lebih tinggi dibandingkan kelompok terapi insulin OHO. kelompok terapi insulin menunjukkan rata-rata penurunan GDP sebesar 37,541 mg/dL, sedangkan kelompok terapi insulin kombinasi OHO sebesar 32,672 mg/dL. Hasil analisis ACER menunjukkan terapi insulin kombinasi OHO menghasilkan biaya yang lebih rendah untuk setiap satuan penurunan GDP dibandingkan terapi insulin. Terapi insulin rata-rata memberikan penurunan GDP yang sedikit lebih besar, terapi insulin kombinasi OHO memiliki biaya yang lebih rendah sehingga menunjukkan efektivitas biaya yang lebih baik. Demikian terapi insulin kombinasi OHO dapat dipertimbangkan sebagai alternatif terapi yang lebih cost-effective pada pasien DMT2 sesuai dengan kondisi klinis pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan/atau diastolik ≥90 mmHg berdasarkan pengukuran berulang. Dalam praktik klinis, pasien hipertensi sering memperoleh terapi kombinasi antihipertensi serta obat untuk penyakit penyerta yang dapat meningkatkan risiko terjadinya interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Kembang Janggut Kabupaten Kutai Kartanegara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien hipertensi periode Oktober–Desember 2025. Sampel penelitian berjumlah 100 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik total sampling. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik pasien, diagnosis, dan terapi obat. Potensi interaksi obat diidentifikasi menggunakan aplikasi Drugs.com dan diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan menjadi minor, moderate, dan mayor, kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 144 potensi interaksi obat. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi kategori minor sebanyak 28 kasus (19,44%) moderate merupakan yang terbanyak yaitu 69 kasus (47,92%), kategori mayor sebanyak 25 kasus (17,36%), serta 22 kasus (15,28%) yang tidak menunjukkan adanya potensi interaksi obat. Berdasarkan mekanisme interaksinya, potensi interaksi lebih banyak terjadi melalui mekanisme farmakodinamik dibandingkan farmakokinetik. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pasien hipertensi di Puskesmas Kembang Janggut memiliki potensi interaksi obat yang didominasi oleh kategori moderate dengan mekanisme interaksi farmakodinamik, sehingga identifikasi potensi interaksi obat diperlukan untuk mendukung keamanan dan rasionalitas terapi pasien.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Kondisi hipertensi seringkali disertai dengan penyakit lain sehingga pasien mendapatkan terapi lebih dari satu obat. Kombinasi obat ini berpotensi untuk terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran potensi interaksi obat pada pasien hipertensi dengan penyakit penyerta di Poli Penyakit Dalam RSUD Aji Muhammad Parikesit periode Juli-Desember 2025. Jenis penelitian ini merupakan non-eksperimental dengan desain deskriptif observasional. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif. Analisis potensi interaksi obat dilakukan menggunakan aplikasi Drugs.com® untuk mengidentifikasi mekanisme interaksi dan tingkat keparahan (major, moderate, minor). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 263 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 206 (78,33%) sampel yang berpotensi mengalami interaksi obat dengan total kejadian sebanyak 562 interaksi. Berdasarkan severity level dari total kejadian tersebut, interaksi tingkat moderate merupakan interaksi yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 493 (87,72%), diikuti minor sebesar 51 (9,07%), dan major sebesar 18 (3,20%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi adalah pasangan obat amlodipin dengan atorvastatin sebanyak 56 (9,96%) dengan kategori moderate.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Interaksi obat merupakan salah satu dari delapan kategori Drug Related Problems (DRPs) yang paling sering dilaporkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pasien. Polifarmasi menjadi faktor risiko utama terjadinya interaksi obat, dengan prevalensi global mencapai 37%. Apotek Media Farma Samarinda melayani sekitar 9.000 resep dari 12.000 kunjungan pasien setiap bulan, sehingga berpotensi meningkatkan kejadian interaksi obat yang signifikan secara klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran interaksi obat berdasarkan pasangan obat, frekuensi kejadian, dan derajat keparahan pada resep yang diterima di Apotek. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif terhadap resep periode Oktober 2025. Sampel penelitian berjumlah 620 resep yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Identifikasi interaksi obat dilakukan menggunakan Software DrugBank dan dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 522 resep (84,19%) berpotensi mengalami interaksi obat dengan total 522 kejadian interaksi. Berdasarkan derajat keparahan, interaksi moderat merupakan kategori yang paling banyak ditemukan, yaitu sebanyak 271 kejadian (51,92%), diikuti interaksi minor sebanyak 143 kejadian (27,39%), dan interaksi major sebanyak 108 kejadian (20,69%). Pasangan obat yang paling sering berinteraksi pada kategori minor adalah acetaminophen dan amoxicillin (11,19%), kategori moderat adalah acetaminophen dan dexamethasone (12,55%), dan kategori major adalah dexamethasone dan dextromethorphan (21,30%). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien yang menerima resep di Apotek Media Farma Samarinda berada pada kelompok usia dewasa (19-59 tahun), berjenis kelamin perempuan, dan menerima terapi polifarmasi minor (2-4 obat). Sebagian besar resep berpotensi mengalami interaksi obat dengan derajat keparahan moderat sebagai kategori yang paling dominan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas didunia. Penggunaan obat antihipertensi yang tepat berperan penting dalam mengendalikan tekanan darah dan mencegah terjainya komplikasi. Oleh karena itu, diperlukan gambaran mengenai penggunaan obat antihipertensi sebagai bahan evaluasi pelayanan kefarmasian di fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi pada pasien di Puskesmas Ujoh Bilang Kabupaten Mahakam Ulu. Metode penelitian ini dilakukan menggunakan rancangan penelitian deskriptif non-eksperimental dengan pengumpulan data secara retrospektif dan pengambilan sampel dengan purposive sampling diperoleh 178 sampel yang memenuhi kriteria inklusi. Data analisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik pasien paling banyak berusia 49-59 tahun (50,0%), jenis kelamin terbanyak yaitu perempuan 122 pasien sebesar (68,5%), hipertensi tahap I sebanyak 86 pasien (48,3%), dan penyakit penyerta paling banyak adalah diabetes melitus sebanyak 26 (59,1%). Gambaran penggunaan obat antihipertensi menunjukkan bahwa obat paling banyak digunakan adalah golongan Calcium Channel Blocker (CCB) yaitu amlodipin 10 mg sebanyak 112 resep (58,6%). Pola penggunaan obat tunggal didominasi oleh amlodipin 10 mg sebanyak 164 pasien (99,4%), sedangkan pola penggunaan kombinasi yang paling banyak amlodipin 10 mg dan catopril 25 mg sebanyak 8 pasien (61,5%). Frekuensi pemberian obat paling banyak adalah 1 kali sehari sebanyak 112 (62,9%).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan global dengan lebih dari 1,28 miliar penderita dewasa di seluruh dunia. Di Kalimantan Timur, prevalensi hipertensi menempati peringkat ketiga tertinggi di Indonesia pada usia >18 tahun sebesar 29,6%, sedangkan di Kota Samarinda pada tahun 2023–2024 mencapai 39,46% pada usia >15 tahun. Kepatuhan minum obat antihipertensi merupakan faktor penting dalam pengendalian tekanan darah jangka panjang untuk mencegah komplikasi serius pada jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat kepatuhan dengan karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi) di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional cross-sectional. Sampel sebanyak 385 pasien hipertensi dipilih melalui purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi diagnosis hipertensi ICD-10:I10;I11, kesediaan menjadi responden, dengan kriteria eksklusi komplikasi jantung atau ginjal disertai edema/asites dan kehamilan. Tingkat kepatuhan diukur menggunakan kuesioner Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8). Pengumpulan data dilakukan melalui data pasien di aplikasi e-Pus dan kuesioner di Puskesmas Kampung Baqa Samarinda Seberang pada periode 25 Maret–25 Mei 2026. Analisis data menggunakan SPSS, meliputi analisis univariat dan bivariat dengan uji Chi-Square (α=0,05). Hasil penelitian menunjukkan jumlah responden terbanyak adalah pasien berjenis kelamin perempuan (74,8%), kelompok usia pralansia 45–59 tahun (47,5%), berpendidikan SD (34,3%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (56,1%), dan menderita hipertensi ≥5 tahun (53,5%). Tingkat kepatuhan minum obat menunjukkan kategori tinggi sebanyak 178 orang (46,2%), kategori rendah sebanyak 140 orang (36,4%), dan kategori sedang sebanyak 67 orang (17,4%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara karakteristik pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat antihipertensi, yaitu jenis kelamin (p=0,895), usia (p=0,363), tingkat pendidikan (Fisher-Freeman-Halton, p=0,508), pekerjaan (p=0,629), dan lama menderita hipertensi (p=0,552). Disimpulkan bahwa karakteristik pasien bukan merupakan faktor penentu kepatuhan minum obat antihipertensi pada populasi penelitian ini.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bahan kimia obat (BKO) parasetamol merupakan senyawa sintetis yang dilarang ditambahkan ke dalam jamu, namun masih dapat ditemukan pada produk jamu pegal linu. Penelitian ini bertujuan menganalisis keberadaan dan menetapkan kadar parasetamol pada jamu pegal linu yang beredar di pasar tradisional Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan teknik purposive sampling terhadap 10 sampel jamu berkode A–J. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan FeCl₃ 10% dan pereaksi Tollens, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis melalui penentuan λmaks, pembuatan kurva kalibrasi, dan pengukuran absorbansi sampel. Hasil kualitatif menunjukkan sampel B, E, dan H positif mengandung parasetamol. λmaks diperoleh pada 249 nm dan kurva kalibrasi menggunakan standar 5–25 ppm memberikan persamaan y = 0,0779x − 0,0294 dengan r = 0,9999. Kadar rata-rata parasetamol pada sampel B, C, D, E, F, G, H, dan I berturut-turut sebesar 0,0564%; 0,0326%; 0,0066%; 0,5385%; 0,0280%; 0,0004%; 0,4711%; dan 0,0126%, sedangkan A dan J tidak terdeteksi. Dapat disimpulkan bahwa sebagian sampel jamu pegal linu yang diteliti mengandung BKO parasetamol dengan kadar yang bervariasi, sehingga diperlukan pengawasan mutu dan kehati-hatian masyarakat dalam memilih jamu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Dian Novita Sayuti Program Studi : Sarjana Farmasi Judul Usulan Skripsi : Profil Penggunaan Obat Antihipertensi Pada Pasien Preeklampsia Di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan Pembimbing : apt. Siti Jubaidah, S. Far., M.Pd. apt. Yullia Sukawaty, S. Far., M Sc. Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah setelah usia kehamilan 20 minggu yang disertai proteinuria atau gangguan organ lainnya. Kondisi ini menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat, termasuk penggunaan obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain observasional retrospektif dan analisis deskriptif. Data diperoleh dari rekam medis pasien preeklampsia rawat inap periode Januari–Agustus 2025. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Dari 160 rekam medis yang diperoleh, sebanyak 61 rekam medis memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang dikumpulkan meliputi usia pasien, usia kehamilan, riwayat hipertensi, proteinuria, diagnosis, lama rawat inap, serta penggunaan obat antihipertensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien preeklampsia paling banyak berada pada kelompok usia 20–35 tahun sebanyak 46 pasien (75%), usia kehamilan trimester III sebanyak 60 pasien (98%), memiliki riwayat hipertensi keluarga sebanyak 28 pasien (46%), proteinuria +3 sebanyak 27 pasien (45%), dan diagnosis preeklampsia berat sebanyak 40 pasien (66%). Pola penggunaan obat antihipertensi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi nifedipin, magnesium sulfat (MgSO₄), dan methyldopa sebanyak 24 pasien (39%), diikuti kombinasi nifedipin dan methyldopa sebanyak 19 pasien (30%). Penggunaan terapi kombinasi lebih dominan dibandingkan terapi tunggal karena sebagian besar pasien mengalami preeklampsia berat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi pada pasien preeklampsia di RSUD Dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan didominasi oleh terapi kombinasi nifedipin, MgSO₄, dan methyldopa. Terapi kombinasi digunakan untuk mengendalikan tekanan darah sekaligus mencegah komplikasi kejang pada pasien preeklampsia. Kata kunci: Preeklampsia, Antihipertensi, Nifedipin, Methyldopa, Magnesium Sulfat, Profil Penggunaan Obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi yang terus meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Kondisi ini ditandai oleh gangguan metabolisme glukosa akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Berdasarkan laporan profil kesehatan, jumlah penderita DM menunjukkan tren peningkatan yang signifikan sehingga memerlukan perhatian serius. Pasien DM umumnya memiliki penyakit penyerta, sehingga sering menerima lebih dari satu jenis obat dalam satu resep. Penggunaan monoterapi maupun terapi kombinasi berpotensi menimbulkan interaksi obat, yaitu kondisi ketika dua atau lebih obat yang digunakan secara bersamaan saling memengaruhi efek masing-masing. Penelitian ini bertujuan menggambarkan potensi interaksi obat pada resep pasien DM. Metode yang digunakan adalah deskriptif non-eksperimental dengan pendekatan retrospektif. Data diperoleh dari resep elektronik di Instalasi Farmasi Puskesmas Barong Tongkok. Analisis dilakukan menggunakan Drugs.com dan Microsoft Excel secara sistematis untuk mendukung keamanan dan efektivitas terapi pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 174 resep pasien, sebanyak 132 pasien (75,9%) memiliki potensi interaksi obat, sementara 42 pasien (24,1%) tidak menunjukkan potensi interaksi. Total kejadian interaksi obat tercatat sebanyak 228 kejadian, dengan tingkat keparahan terbanyak adalah kategori moderat sebanyak 183 kejadian (80,3%), diikuti kategori minor sebanyak 37 kejadian (16,2%), dan kategori mayor sebanyak 8 kejadian (3,5%). Pasangan obat yang paling banyak berinteraksi adalah glimepirid dengan metformin, sementara interaksi mayor ditemukan pada kombinasi amlodipin dengan simvastatin. Temuan ini mengindikasikan tingginya beban farmakoterapi dan risiko polifarmasi pada pasien DM di Puskesmas Barong Tongkok, sehingga diperlukan pemantauan klinis yang ketat serta peran aktif apoteker dalam melakukan skrining, evaluasi, dan monitoring terapi guna memastikan keamanan dan efektivitas pengobatan bagi pasien
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Diabetes Melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi maupun kerja insulin. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan penggunaan obat antidiabetes adalah persepsi pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi penyakit, tingkat kepatuhan penggunaan obat antidiabetes, serta hubungan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Segiri. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Brief Illness Perception Questionnaire (B-IPQ) dan Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi penyakit kategori tinggi sebanyak 66 responden (78%), sedangkan tingkat kepatuhan penggunaan obat sebagian besar berada pada kategori rendah sebanyak 69 responden (81%). Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes (r = 0,224; p = 0,039). Nilai koefisien korelasi menunjukkan hubungan positif dengan kekuatan hubungan yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi persepsi penyakit pasien, maka cenderung semakin tinggi pula kepatuhan penggunaan obat antidiabetes. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan penggunaan obat antidiabetes pada pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Segiri..
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya terus meningkat dan berisiko menimbulkan komplikasi seperti penyakit jantung, stroke, serta gagal ginjal. Keberhasilan terapi hipertensi sangat dipengaruhi oleh rasionalitas penggunaan obat antihipertensi, Sehingga diperlukan evaluasi terhadap ketepatan penggunaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien hipertensi, pola penggunaan obat antihipertensi, serta mengevaluasi rasionalitas penggunaan obat berdasarkan ketepatan pasien, ketepatan indikasi, ketepatan obat, dan ketepatan dosis pada pasien hipertensi di Puskesmas Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat.Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan desain deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien hipertensi periode Januari–Desember 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling sehingga diperoleh 376 data resep yang memenuhi kriteria inklusi. Evaluasi rasionalitas penggunaan obat diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian, mengoptimalkan keberhasilan terapi, serta mencegah terjadinya komplikasi akibat hipertensi melalui penggunaan obat yang tepat dan sesuai pedoman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi didominasi oleh perempuan sebanyak 239 pasien (63,56%) dan kelompok usia 61–70 tahun sebanyak 130 pasien (34,57%). Penyakit penyerta yang paling banyak ditemukan adalah diabetes melitus sebanyak 104 pasien (71,72%). Sebagian besar pasien telah mencapai target tekanan darah sistolik, yaitu sebanyak 304 pasien (80,85%), sedangkan 72 pasien (19,15%) belum mencapai target pengendalian tekanan darah. Pola penggunaan antihipertensi didominasi oleh terapi monoterapi golongan Calcium Channel Blocker menggunakan amlodipin sebanyak 311 pasien (82,71%), sedangkan terapi kombinasi amlodipin–kaptopril diberikan pada 65 pasien (17,29%). Hasil evaluasi rasionalitas menunjukkan bahwa penggunaan obat antihipertensi telah memenuhi kriteria tepat pasien, tepat indikasi, tepat obat, dan tepat dosis sesuai pedoman terapi yang digunakan.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan obat antihipertensi di Puskesmas Barong Tongkok telah memenuhi prinsip penggunaan obat secara rasional sesuai pedoman terapi, meskipun masih terdapat pasien yang belum mencapai target tekanan darah sehingga diperlukan pemantauan terapi, peningkatan kepatuhan minum obat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat di rumah berperan penting dalam menjaga mutu, keamanan,
stabilitas, dan efektivitas obat selama masa penggunaannya. Penyimpanan obat yang tidak sesuai masih banyak ditemukan di masyarakat sehingga berpotensi menurunkankualitas obat, mengurangi efektivitas terapi, serta meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak rasional. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi perilaku tersebut adalah tingkat pengetahuan masyarakat mengenai penyimpanan obat yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Desa Loa Duri Ilir tentang penyimpanan obat di rumah, mengidentifikasi perilaku penyimpanan obat, serta menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku penyimpanan obat di rumah. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan kuantitatif dan desain Cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat Desa Loa Duri Ilir, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara sebanyak 13.509 jiwa. Sampel penelitian sebanyak 389 responden ditentukan menggunakan rumus slovin dengan tingkat kesalahan 5% dan dipilih menggunakan teknik Purposive Sampling. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2026 menggunakan kuesioner yang terdiri atas 12 item pengetahuan dan 10 item perilaku. Instrumen telah diuji validitas menggunakan korelasi pearson product moment pada 30 responden dan seluruh butir pertanyaan dinyatakan valid (Sig. < 0,05). Uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach Alpha sebesar 0,889 pada variabel pengetahuan dan 0,780 pada variabel perilaku sehingga instrumen dinyatakan reliabel. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil uji normalitas Kolmogorov-smirnov menunjukkan data tingkat pengetahuan dan perilaku tidak berdistribusi normal, sehingga analisis hubungan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan kategori baik (72,5%) dan perilaku penyimpanan obat kategori baik (70,9%). Hasil uji Chi-square menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan
antara tingkat pengetahuan masyarakat dengan perilaku penyimpanan obat di rumah. Semakin baik tingkat pengetahuan masyarakat, semakin baik pula perilaku
penyimpanan obat yang diterapkan. Edukasi mengenai penyimpanan obat yang benar perlu terus ditingkatkan melalui peran tenaga kesehatan, khususnya apoteker, guna mendukung penggunaan obat yang aman dan rasional di masyarakat.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penyimpanan obat di puskesmas merupakan aspek penting dalam pengelolaan sediaan farmasi karena sangat menentukan mutu, keamanan, stabilitas, dan ketersediaan obat dalam pelayanan kesehatan. Apabila penyimpanan tidak dilakukan sesuai standar, maka dapat timbul berbagai masalah seperti penurunan kualitas obat, kerusakan fisik maupun kimia, obat kedaluwarsa, pemborosan anggaran, serta terganggunya kelancaran pelayanan kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesesuaian penyimpanan obat di Puskesmas Kecamatan Tenggarong Seberang dan Kecamatan Loa Kulu berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan observasional cross-sectional yang dilakukan pada bulan Juni 2026 di empat puskesmas, yaitu Puskesmas Teluk Dalam, Puskesmas Separi III, Puskesmas Loa Kulu, dan Puskesmas Jonggon. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling terhadap seluruh sistem dan fasilitas penyimpanan obat yang diamati. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan tenaga kefarmasian, dan studi dokumentasi. Analisis data dilakukan secara univariat dengan menghitung persentase kesesuaian berdasarkan skala Guttman, kemudian disajikan dalam bentuk tabel, persentase, dan narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyimpanan obat di keempat puskesmas berada pada kategori sangat baik, dengan nilai kesesuaian Puskesmas Teluk Dalam 88,57%, Puskesmas Separi III 88,57%, Puskesmas Loa Kulu 85,71%, dan Puskesmas Jonggon 82,86%. Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa ketidaksesuaian, seperti belum optimalnya ventilasi ruang penyimpanan, belum tersedianya safety stock, adanya kebocoran pada atap atau plafon, serta belum adanya prosedur rotasi antibiotik yang spesifik. Temuan ini menunjukkan bahwa secara umum penyimpanan obat telah sesuai standar, namun masih diperlukan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan agar pengelolaan obat lebih efektif, efisien, dan mampu mendukung mutu pelayanan kefarmasian secara optimal.