ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar ultraviolet (UV) dapat menyebabkan berbagai masalah kulit, seperti penuaan dini hingga peningkatan risiko kanker kulit. Salah satu bentuk perlindungan terhadap sinar UV adalah penggunaan tabir surya. Kandungan senyawa antioksidan, seperti fenolik dan flavonoid, diketahui berperan dalam meningkatkan efektivitas tabir surya melalui kemampuan menyerap sinar UV. Daun tampoi (Baccaurea macrocarpa (Miq.) Mull.Arg.) diketahui mengandung senyawa fenolik dan flavonoid, serta berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam formulasi tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar fenolik, flavonoid, dan nilai SPF dari ekstrak etanol daun tampoi dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tahapan ekstraksi menggunakan metode maserasi etanol 70%, dilanjutkan dengan pengujian kadar fenolik menggunakan metode Folin-Ciocalteu, pengujian flavonoid dengan metode AlCl₃, serta penentuan nilai SPF secara in vitro dengan cara menganalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak etanol daun tampoi yaitu alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, steroid dan triterpenoid. Kadar fenolik sebesar 27,8021 ± 0,9553mg GAE/g dan kadar flavonoid sebesar 2,1548 ± 0,1586%. Nilai SPF ekstrak etanol daun tampoi pada konsentrasi 125 ppm sebesar 3,2005 dan 250 ppm sebesar 6,7021 termasuk dalam kategori rendah. Sedangkan nilai SPF pada konsentrasi 500 ppm sebesar 13,3355 dan 1000 ppm sebesar 27,0735 termasuk dalam kategori sedang. Korelasi menunjukkan bahwa kadar flavonoid memiliki hubungan sangat kuat terhadap nilai SPF sebesar 0,9007, sedangkan kadar fenolik menunjukkan hubungan rendah sebesar 0,362.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ekstrak etanol biji alpukat mengandung alkaloid, saponin, karbohidrat, asam amino, glikosida, terpenoid, fenol, flavonoid dan kumarin glikosida. Kandungan bahan aktif yang terdapat pada tanaman sangat dipengaruhi oleh proses pengeringan. Metode pengeringan yang tepat diperlukan agar diperoleh ekstrak biji alpukat dengan kadar senyawa fenolik yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar fenolik ekstrak etanol biji alpukat berdasarkan perbedaan cara pengeringan. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan penelitian meliputi determinasi tumbuhan , pengambilan sampel, pembuatan simplisia dengan cara pengeringan alami secara matahari langsung dan pengeringan buatan dengan oven pada suhu 60℃, ekstraksi secara maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan penetapan kadar fenolik secara spektrofotometri UV-Vis. Data yang diperoleh dinalisis secara deskriptif berupa data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji alpukat metode pengeringan matahari dan oven positif mengandung senyawa kimia alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid. Hasil penelitian diperoleh kadar total fenolik ekstrak biji alpukat menggunakan metode pengeringan matahari langsung sebesar 194,8769 ±0,3795 mg GAE/g dan kadar total fenolik ekstrak biji alpukat menggunakan metode pengeringan oven suhu 60℃ sebesar 56,1492 ±0,3957 mg GAE/g. Analisis data kadar fenolik menggunakan uji Independent T-Test dengan p0,05 dan didapatkan Sig. (2-tailed) adalah 0,000 maka H1 diterima yaitu, terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua metode pengeringan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Melastoma malabathricum L. (senduduk) dikenal memiliki berbagai aktivitas farmakologis, seperti antiseptik, antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan. Kandungan metabolit sekundernya, seperti flavonoid, tanin, dan triterpenoid, berpotensi sebagai agen tabir surya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak etanol serta fraksi n-heksan, etil asetat, dan etanol-air daun senduduk. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, dan tanin; sedangkan komposisi senyawa bervariasi pada masing-masing fraksi. Pada konsentrasi 800 ppm, nilai SPF tertinggi diperoleh dari fraksi etil asetat (30,91 ± 0,43) dan ekstrak etanol (30,06 ± 1,70), dikategorikan sebagai aktivitas tinggi. Fraksi n-heksan dan fraksi air masing-masing menunjukkan nilai SPF sebesar 22,37 ± 0,06 dan 19,00 ± 0,31 (kategori sedang). Uji statistik menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok (p = 0.000), namun tidak terdapat perbedaan signifikan antara ekstrak etanol dan fraksi etil asetat (p = 0.281). Dengan demikian, fraksi etil asetat dan ekstrak etanol memiliki potensi setara sebagai agen pelindung terhadap sinar UV.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Madu merupakan cairan alami yang umumnya memiliki rasa manis yang dihasilkan oleh lebah dan memiliki senyawa fenolik. Madu hutan dihasilkan oleh lebah liar Apis dorsata yang bersifat agresif. Madu merupakan produk turunan lebah yang mengandung berbagai senyawa fenolik dan memiliki aktivitas antivirus. Fenolik merupakan senyawa yang memiliki satu atau lebih gugus hidroksil (OH‾) yang menempel pada cincin aromatik.i Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol madu hutan kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Selatan Kalimantan Utara dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini meliputi determinasi hewan, ekstraksi, uji organoleptis, uji kadar air, skrining fitokimia, dan uji kadar fenolik total dengan metode spektrofotometri UV-Vis dengan pereaksi Folin-ciocalteau dan pembanding asam galat. Hasil penelitian skrining fitokimia yang terdapat pada ekstrak madu hutan kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Selatan terdapat metabolit sekunder yaitu, flavonoid, polifenol, dan triterpenoid. Hasil ekstraksi rendeman madu hutan Kayan Hilir sebesar 77,18% sedangkan madu hutan Kayan Selatan sebesar 79,96%. Kadar fenolik total ekstrak etanol madu hutan kecamatan Kayan Hilir sebesar 1,7303 ± 0,0169 mg GAE/g, sedangkan kadar fenolik total ekstrak madu hutan kecamatan Kayan Selatan sebesar 1,5096 ± 0,0504 mg GAE/g. Analisis data pada ekstrak madu hutan kecamatan Kayan Hilir dan Kayan Selatan homogen dan normal dilanjutkan uji independen T-test Two-Sampel Assuming Equal Variances didapatkan hasil p-value yaitu 0,002 (p 0,05) (adanya perbedaan yang signifikan).
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Madu kelulut (Heterotrigona itama) adalah madu alami yang dihasilkan oleh lebah tanpa sengat seperti yang banyak dibudidayakan di wilayah tropis, termasuk Indonesia. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa jenis madu tanpa sengat memiliki senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat bagi kesehatan, salah satunya yaitu flavonoid. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar flavonoid total madu kelulut budidaya dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir Kota Samarinda Kalimantan Timur dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Jenis penelitian ini termasuk penelitian eksperimental dengan objek atau sampel yang diteliti adalah madu hasil lebah kelulut (Heterotrigona itama). Prosedur penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, ekstraksi menggunakan pelarut etanol 95% dengan metode maserasi, fraksinasi ekstrak kental menggunakan pelarut n-heksana, etil asetat dan etanol, skrinning fitokimia dan uji kadar flavonoid total menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan pembanding kuersetin. Kadar flavonoid total dinyatakan dalam satuan mgQE/gram ekstrak. Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid ekstrak etanol 95% adalah 0,0607±0,0064 mgQE/g, fraksi n-heksana 0,0571±0,0012 mgQE/g, fraksi etil asetat 0,2031±0,0017 mgQE/g, dan fraksi air 0,0198±0,0008 mgQE/g. Uji normalitas menunjukkan distribusi nilai kadar flavonoid total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar flavonoid total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,025 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar flavonoid dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) berbeda secara signifikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
ABSTRAK Nama : Mei Lika Syaroh NIM : 21482011255 Judul Skripsi : Penetapan Kadar Fenolik Total Ekstrak Etanol Madu Kelulut (Heterotrigona itama) dan Fraksinya dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Pembimbing : 1. Henny Nurhasnawati, S.Si., M.Si. 2. apt. Siti Jubaidah, S.Far., M.Pd. Madu kelulut merupakan madu yang berasal dari lebah tanpa sengat (Heterotrigona itama) yang memiliki manfaat aktivitas bioligis sebagai antibakteri, antiinflamasi dan penyembuh luka, serta memiliki senyawa metabolit sekunder salah satunya yaitu fenolik. Senyawa fenolik merupakan senyawa kimia yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi dan gugus kromofor. Tujuan pada penelitian ini untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol pada madu kelulut dan fraksinya dari Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Data kualitatif diperoleh melalui skrinning fitokimia madu kelulut, sedangkan data kuantitatif diperoleh dari penetapan kadar senyawa fenolik pada madu kelulut. Tahapan penelitian meliputi determinasi hewan, pengumpulan bahan baku, pengolahan simplisia madu kelulut, ekstraksi secara maserasi menggunakan pelarut etanol 95%, fraksinasi bertingkat, skrining fitokimia, dan uji kadar fenolik total ekstrak etanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis menggunakan pembanding asam galat. Hasil penelitian menunjukkan kadar fenolik ekstrak etanol 95% adalah 1,2958±0,1362 mgGAE/g, fraksi n-heksana 1,2535±0,0254 mgGAE/g, fraksi etil asetat 2,9765±0,0733 mgGAE/g, dan fraksi etanol-air 1,1712±0,0175 mgGAE/g. Uji normalitas menunjukkan kadar fenolik total dari keempat kelompok uji adalah normal dan uji homogenitas nilai kadar fenolik total menghasilkan nilai p-value 0,05 (tidak homogen). Berdasarkan Uji Kruskal-Wallis, nilai signifikansi (Sig.) 0,055 ( 0,05) menunjukkan bahwa rata-rata kadar fenolik dari keempat kelompok perlakuan (ekstrak etanol 95%, fraksi n-heksana, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol-air) tidak ada perbedaan yang signifikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia terletak di garis khatulistiwa sehingga memungkinkan terpapar sinar matahari dengan intensitas tinggi yang dapat merusak kulit akibat radiasi UV A dan UV B. Daun kokang (Lepisanthes amoena (Hassk.) Leenh.) berpotensi sebagai tabir surya alami dan telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat Dayak untuk melindungi kulit dari sinar matahari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji potensi aktivitas tabir surya dari ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Variabel bebas pada penelitian ini adalah ekstrak etanol daun kokang serta fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi etanol air. Variabel terikatnya adalah aktivitas tabir surya ekstrak dan fraksi daun kokang. Hasil penelitian pada serbuk simplisia daun kokang didapatkan nilai susut pengeringan 10,73% dan hasil rendemen ekstrak 15,4% dengan nilai kadar air ekstrak 6,39%. Hasil yang didapatkan dari rendemen fraksi n-heksan 10,04%, fraksi etil asetat 22,92%, dan fraksi etanol air 36,96%. Hasil penelitian terhadap nilai SPF (Sun Protection Factor) menunjukkan konsentrasi 2500 ppm berturut-turut yaitu pada fraksi n-heksan memiliki nilai SPF 34,46 ± 0,13 (high protection), fraksi etanol air 29,73 ± 0,03 (medium protection), ekstrak etanol 28,94 ± 0,35 (medium protection) dan nilai SPF paling rendah pada fraksi etil asetat 15,91 ± 0,07 (medium protection). Hasil analisis data menunjukkan bahwa ekstrak dan fraksi memiliki nilai signifikansi (sig.) > 0,05 yang artinya berdistribusi normal, serta nilai homogenitas varians sebesar 0,206 (> 0,05) yang menunjukkan varians homogen. Uji One-Way Analysis of Variance (ANOVA) dinyatakan adanya perbedaan yang signifikan antara rata-rata nilai keempat sampel (p 0,05). Analisis data lanjutan menggunakan Uji Post Hoc Test (PHT) didapatkan bahwa keempat sampel memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda sehingga tidak dapat dianggap identik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tabir surya merupakan sediaan kosmetik yang berfungsi melindungi kulit dari efek buruk paparan sinar matahari. Namun, semakin banyak bukti menunjukkan bahwa penggunaan tabir surya tidak sepenuhnya aman, sehingga mendorong pencarian alternatif dari bahan alami. Salah satu tanaman yang berpotensisebagai bahan tabir surya alami adalah kratom (Mitragyna speciosa). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak etanol dan fraksi daun kratom yang berasal dari Desa Bayur, Kecamatan Samarinda Utara, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan metode in vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan etanol 70%, fraksinasi, skrining fitokimia, serta penentuan nilai SPF secara kuantitatif. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptifserta diuji menggunakan Shapiro-Wilk dan Analisis of Variance (ANOVA), dan uji lanjut Post Hoc Test (PHT) dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Labu kuning (Cucurbita moschata Duch.) merupakan jenis tanaman yang termasuk dalam keluarga cucurbitaceae. Buah labu kuning kaya akan sumber nutrisi, salah satunya adalah senyawa fenolik. Senyawa fenolik merupakan metabolit sekunder dan memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan yang juga terdapat pada kulit buah labu kuning. Kadar senyawa aktif bahan alam dapat dipengaruhi oleh metode ekstraksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning berdasarkan perbedaan metode ekstraksi. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan bahan baku, determinasi tanaman, pembuatan simplisia, pembuatan ekstrak secara maserasi dan refluks, skrining fitokimia, pengukuran kadar fenolik total secara spektrofotometri UV-Vis dan analisis data. Variabel bebas pada penelitian ini adalah metode maserasi dan refluks, variabel terikat adalah kadar fenolik total ekstrak etanol kulit buah labu kuning dan hasil skrining. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif berupa kadar fenolik total yang dinyatakan dalam mg GAE/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit buah labu kuning mengandung senyawa metabolit sekunder berupa fenolik, alkaloid, flavonoid, saponin, dan triterpenoid. Berdasarkan hasil penetapan kadar fenolik total ekstrak kulit buah labu kuning dengan perbedaan ekstraksi maserasi dan refluks, diperoleh masing-masing kadar sebesar 113,45 ±1,56 mg GAE/g dan 125,69 ±0,28 mg GAE/g. Hasil analisis statistik diperoleh data normal dan homogen selanjutnya digunakan uji independent t-test dengan hasil nilai p value (0,00 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan pada kadar fenolik total antara kedua sampel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Bahan kimia obat (BKO) parasetamol merupakan senyawa sintetis yang dilarang ditambahkan ke dalam jamu, namun masih dapat ditemukan pada produk jamu pegal linu. Penelitian ini bertujuan menganalisis keberadaan dan menetapkan kadar parasetamol pada jamu pegal linu yang beredar di pasar tradisional Desa Bunga Jadi, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dengan teknik purposive sampling terhadap 10 sampel jamu berkode A–J. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan FeCl₃ 10% dan pereaksi Tollens, sedangkan analisis kuantitatif dilakukan dengan spektrofotometri UV-Vis melalui penentuan λmaks, pembuatan kurva kalibrasi, dan pengukuran absorbansi sampel. Hasil kualitatif menunjukkan sampel B, E, dan H positif mengandung parasetamol. λmaks diperoleh pada 249 nm dan kurva kalibrasi menggunakan standar 5–25 ppm memberikan persamaan y = 0,0779x − 0,0294 dengan r = 0,9999. Kadar rata-rata parasetamol pada sampel B, C, D, E, F, G, H, dan I berturut-turut sebesar 0,0564%; 0,0326%; 0,0066%; 0,5385%; 0,0280%; 0,0004%; 0,4711%; dan 0,0126%, sedangkan A dan J tidak terdeteksi. Dapat disimpulkan bahwa sebagian sampel jamu pegal linu yang diteliti mengandung BKO parasetamol dengan kadar yang bervariasi, sehingga diperlukan pengawasan mutu dan kehati-hatian masyarakat dalam memilih jamu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kulit merupakan organ terluar tubuh manusia yang berfungsi sebagai
pelindung utama terhadap radiasi sinar ultraviolet (UV), sehingga penggunaan tabir
surya berbahan alami menjadi alternatif yang lebih aman. Salah satu bahan alami
yang berpotensi sebagai tabir surya adalah buah terong susu (Solanum mammosum
L.) yang mengandung senyawa metabolit sekunder seperti flavonoid dan fenol yang
berpotensi melindungi kulit dari radiasi sinar UV. Pelarut yang umum digunakan
untuk mengekstraksi bahan aktif adalah etanol, dimana konsentrasi pelarut etanol
berpengaruh terhadap jenis senyawa metabolit sekunder yang diperoleh dan
aktivitas farmakologinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai SPF pada
ekstrak etanol buah terong susu dengan variasi konsentrasi pelarut etanol 70% dan
etanol 95% menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Tahapan penelitian
meliputi determinasi tumbuhan, pembuatan simplisia, penetapan susut
pengeringan, pembuatan ekstrak etanol 70% dan etanol 95% dengan metode
maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan pengujian nilai SPF secara in
vitro menggunakan spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 290-320 nm
dengan interval 5 nm. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa buah terong
susu mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, fenolik, saponin, dan
steroid/triterpenoid. Hasil pada serbuk simplisia buah terong susu diperoleh nilai
susut pengeringan 5,50% dan hasil rendemen ekstrak etanol 70% sebesar 54,76%
serta etanol 95% sebesar 13,66% dengan nilai kadar air pada ekstrak etanol 70%
sebesar 19,86% dan ekstrak etanol 95% sebesar 13,05%. Berdasarkan hasil
penentuan nilai SPF, ekstrak etanol 70% memiliki rentang nilai SPF sebesar 9,70–
10,82 yang termasuk (kategori rendah), sedangkan ekstrak etanol 95% memiliki
rentang nilai SPF yang lebih tinggi yaitu sebesar 21,71–34,43 yang termasuk
(kategori sedang-tinggi). Hasil analisis statistik menunjukkan data berdistribusi
normal dan homogen, kemudian digunakan uji Welch T-Test dengan hasil nilai p-
value (0,0132) < (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan terhadap penentuan nilai SPF dari kedua sampel.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Indonesia sebagai negara tropis memiliki paparan sinar ultraviolet (UV) yang
tinggi sehingga berisiko menyebabkan berbagai gangguan kulit. Nilai Sun
Protection Factor (SPF) digunakan untuk mengukur kemampuan tabir surya dalam
melindungi kulit dari sinar UV. Kunyit hitam (Curcuma caesia Roxb.) berpotensi
sebagai tabir surya alami karena mengandung flavonoid, senyawa fenolik, dan
kurkumin yang bersifat fotoprotektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan
membandingkan nilai SPF ekstrak rimpang kunyit hitam berdasarkan variasi
pelarut metanol, etanol 70%, dan etanol 95% menggunakan metode
spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental. Tahapan
penelitian meliputi determinasi tanaman, pembuatan simplisia, susut pengeringan,
ekstraksi dengan metode maserasi, penetapan kadar air, skrining fitokimia, dan
pengujian nilai SPF secara in vitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada
panjang gelombang 290–320 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak
metanol memiliki nilai SPF sebesar 34,89–37,32 dengan kategori ptoteksi tinggi,
ekstrak etanol 95% sebesar 31,25–37,10 dengan kategori proteksi tinggi, sedangkan
ekstrak etanol 70% sebesar 20,46–27,49 dengan kategori proteksi sedang. Hasil
analisis statistik menunjukkan bahwa data berdistribusi normal dan homogen,
sehingga dilanjutkan dengan uji One Way ANOVA. Hasil uji One Way ANOVA
diperoleh nilai p-value (0,003) < (0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan terhadap nilai SPF ekstrak rimpang kunyit hitam
berdasarkan variasi pelarut yang digunakan. Uji lanjut Post-Hoc Tukey
menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% berbeda signifikan dengan ekstrak etanol
95% dan metanol, sedangkan ekstrak etanol 95% dan metanol tidak berbeda
signifikan terhadap nilai SPF.
Kata kunci: Curcuma caesia Roxb., SPF, etanol, metanol, spektrofotometri UV-
Vis.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tumbuhan endemik di berbagai daerah masih banyak yang belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, penelitian terkait pencarian antioksidan baru dari sumber alami, terutama dari bagian tanaman yang belum termanfaatkan, menjadi sangat relevan. Perhatian terhadap sumber antioksidan alami meningkat seiring kebutuhan untuk melawan radikal bebas penyebab penyakit degeneratif. Kulit buah tampoi (Baccaurea Pyriformis Gage), yang merupakan limbah pertanian, berpotensi tinggi mengandung senyawa bioaktif, khususnya kelompok flavonoid, yang dikenal memiliki aktivitas antioksidan signifikan. Penelitian non-eksperimental ini bertujuan menetapkan kadar flavonoid total dalam ekstrak kulit tampoi secara kuantitatif. Sampel kulit tampoi matang dari Kalimantan Tengah, Palangkaraya diolah menjadi simplisia, dilanjutkan dengan ekstraksi melalui metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Kuantifikasi kadar flavonoid total dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis yang melibatkan pereaksi AlCl₃ dan menggunakan kuersetin sebagai standar. Hasil pengukuran menunjukkan panjang gelombang maksimum pada 440 nm dengan persamaan regresi linear y = 0,0079x - 0,0063 dan koefisien korelasi (r) sebesar 0,9963. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar flavonoid total yang terkandung dalam ekstrak etanol kulit buah tampoi adalah sebesar 3,8409% dengan nilai Standar Deviasi (SD) sebesar 0,091. Kadar ini tergolong lebih tinggi dibandingkan kadar flavonoid pada bagian biji buah tampoi yang dilaporkan pada penelitian terdahulu. Hal ini menunjukkan bahwa kulit buah tampoi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami dari bahan alam.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jamu pegal linu merupakan salah satu obat tradisional yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia untuk meredakan nyeri otot dan rasa pegal, namun tingginya penggunaan produk ini membuka peluang terjadinya penambahan Bahan Kimia Obat (BKO) khususnya parasetamol yang secara regulasi dilarang karena dapat menimbulkan risiko kesehatan apabila dikonsumsi secara tidak terkontrol dan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, diperlukan metode analisis yang akurat dan efisien untuk mendeteksi keberadaan parasetamol dalam sediaan jamu. Spektrofotometri UV-Vis merupakan metode analisis instrumental yang didasarkan pada interaksi antara radiasi elektromagnetik di daerah ultraviolet dan cahaya tampak dengan molekul analit sehingga menghasilkan spektrum serapan yang khas sesuai dengan struktur kimia senyawa. Kemometrik merupakan pendekatan analisis data berbasis metode matematika dan statistik yang digunakan untuk mengekstraksi informasi kimia yang relevan dari data multivariat serta meningkatkan kemampuan interpretasi hasil analisis spektral. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan BKO parasetamol pada jamu pegal linu menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis kombinasi kemometrik. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan preparasi sampel melalui ekstraksi menggunakan etanol 95% p.a, kemudian dibuat campuran larutan jamu dan larutan baku parasetamol dengan variasi perbandingan 9:1, 8:2, 7:3, 6:4, 5:5, 4:6, dan 3:7. Pengukuran absorbansi dilakukan pada rentang panjang gelombang 200–400 nm dengan interval 2 nm. Data absorbansi dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA) dan Cluster Analysis (CA). Hasil menunjukkan meningkatnya nilai absorbansi pada saat bertambahnya konsentrasi parasetamol dengan puncak serapan 250 nm. PCA menghasilkan PC1 dan PC2 sebesar 94,6% variasi data, sedangkan CA menunjukkan pengelompokan sampel yang konsisten. Kombinasi metode ini efektif untuk mendeteksi BKO parasetamol pada jamu pegal linu.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder, salah satunya flavonoid yang berpotensi sebagai antibakteri dan antijamur. Flavonoid merupakan senyawa yang bersifat polar sehingga dapat diekstraksi menggunakan pelarut polar seperti etanol dan metanol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar flavonoid total ekstrak batang jarak pagar menggunakan pelarut etanol 70%, etanol 95%, dan metanol dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental. Sampel batang jarak pagar diperoleh dari Desa Berambai melalui teknik purposive sampling. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi, dilanjutkan dengan skrining fitokimia dan penetapan kadar flavonoid total menggunakan standar kuersetin dan pereaksi aluminium klorida (AlCl₃). Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70%, etanol 95%, dan metanol positif mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan steroid. Hasil penetapan kadar flavonoid total menunjukkan bahwa ekstrak etanol 95% memiliki kadar flavonoid tertinggi sebesar 0,2391 ± 0,0195%, diikuti ekstrak metanol sebesar 0,2199 ± 0,0197%, dan ekstrak etanol 70% sebesar 0,1657 ± 0,0367%. Uji lanjut LSD menunjukkan bahwa kadar flavonoid total ekstrak dengan pelarut etanol 70% berbeda nyata terhadap etanol 95% (p = 0,015) dan metanol (p = 0,047), sedangkan antara etanol 95% dan metanol tidak terdapat perbedaan nyata (p = 0,410). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jenis pelarut memengaruhi kadar flavonoid total ekstrak batang jarak pagar secara signifikan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Madu kelulut (Heterotrigona itama) merupakan produk alami bernilai ekonomi tinggi dan kaya senyawa bioaktif sehingga rentan terhadap praktik pemalsuan melalui penambahan larutan gula. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik spektrum UV-Vis madu kelulut asli dan madu yang dipalsukan serta menganalisis kemampuan metode kemometrik dalam membedakan kedua jenis sampel tersebut. Sampel madu berasal dari Desa Bhuana Jaya dan Graha Indah, Kalimantan Timur, yang dibagi menjadi madu kelulut yang diencerkan menggunakan Aquades dan madu kelulut yang dipalsukan menggunakan larutan gula 20% pada konsentrasi 0,90%, 0,48%, dan 0,32%. Pengukuran dilakukan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada rentang 200–400 nm. Data spektrum dianalisis menggunakan metode kemometrik berupa Principal Component Analysis (PCA) untuk mereduksi dimensi data dan Cluster Analysis (CA) untuk mengelompokkan sampel berdasarkan tingkat kemiripannya. Hasil penelitian menunjukkan seluruh sampel memiliki puncak absorbansi pada sekitar 204 nm dan nilai absorbansi menurun seiring penurunan konsentrasi. Analisis PCA menghasilkan PC1 sebesar 86,9% dan PC2 sebesar 8,7%, dengan total variasi yang dapat dijelaskan sebesar 95,6%. Loading plot menunjukkan rentang 200–220 nm, khususnya 200, 202, dan 204 nm, sebagai daerah yang paling berpengaruh dalam membedakan sampel, sedangkan score plot memisahkan sampel menjadi enam kelompok. Hasil CA menunjukkan bahwa sampel konsentrasi 0,32% memiliki tingkat kemiripan tertinggi dengan nilai similarity 91,42% dan distance 0,67. Kombinasi spektrofotometri UV-Vis dan kemometrik terbukti efektif untuk membedakan madu kelulut yang diencerkan menggunakan Aquades dan madu kelulut yang dipalsukan menggunakan larutan gula sebagai metode identifikasi keaslian madu yang cepat, sederhana, dan non-destruktif.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Paparan sinar ultraviolet (UV) memberikan sejumlah manfaat bagi kehidupan, namun di balik manfaat tersebut, sinar UV dapat menimbulkan efek yang merugikan bagi manusia seperti dapat memicu pembentukan radikal bebas pada jaringan kulit yang berujung pada terjadinya stres oksidatif, penuaan dini, hingga risiko kanker kulit. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan dampak negatif akibat paparan sinar matahari adalah dengan penggunaan tabir surya yang mengandung senyawa bioaktif alami. Kulit buah tampoi (Baccaurea pyriformis Gage) yang dapat ditemukan di wilayah Kalimantan, diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti fenolik dan flavonoid yang berperan sebagai antioksidan serta berpotensi sebagai tabir surya alami. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar fenolik, kadar flavonoid total, serta nilai Sun Protection Factor (SPF) dari ekstrak metanol kulit buah tampoi menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimental dan dilakukan secara in vitro. Objek penelitian ini adalah ekstrak metanol kulit buah tampoi. Pengujian kadar fenolik total menggunakan metode Folin-Ciocalteu, kadar flavonoid total menggunakan metode AlCl3, dan pengujian SPF dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam ekstrak metanol kulit buah tampoi yaitu flavonoid, fenolik, tanin, dan saponin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar fenolik total ekstrak metanol kulit buah tampoi sebesar 40,55 ± 0,44 mg GAE/g, kadar flavonoid total ekstrak metanol kulit buah tampoi sebesar 15,68 ± 0,42 mg QE/g, dan nilai SPF tertinggi diperoleh pada konsentrasi 1500 ppm sebesar 22,2824 termasuk dalam kategori SPF sedang.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Natrium benzoat merupakan salah satu bahan pengawet sintetis yang banyak ditambahkan ke dalam produk pangan seperti saus kemasan karena sifatnya mudah larut dalam air dan efektif mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Penggunaan natrium benzoat dalam saus telah diatur oleh BPOM RI dengan batas maksimum 1.000 mg/kg bahan. Namun, peredaran produk pangan kemasan yang mengandung natrium benzoat di pasar tradisional relatif kurang pengawasan sehingga masih banyak ditemukan produk yang melebihi batas maksimum yang telah ditetapkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar natrium benzoat yang ada dalam saus sambal dan saus tomat kemasan yang beredar di pasar tradisional kota Samarinda dengan metode Spektrofotometri UV-Vis. Objek penelitian ini yaitu kadar natrium benzoat dalam saus sambal dan saus tomat kemasan dengan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian non-eksperimental. Tahapan penelitian meliputi preparasi sampel, pengujian kualitatif menggunakan pereaksi FeCl3 5%, pereaksi AgNO3 0,1 M, dan uji esterifikasi serta uji kadar menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua sampel saus sambal dan saus tomat yang digunakan yaitu positif mengandung natrium benzoat yang ditandai terjadinya perubahan warna setelah dilakukan uji kualitatif dengan pereaksi FeCl3 5% dan pereaksi AgNO3 0,1 M serta timbul bau aromatis khas pada uji esterifikasi. Hasil uji kuantitatif menunjukkan kadar natrium benzoat pada sampel berkisar antara 7,74 ± 0,03 - 96,90 mg/kg ± 0,02. Semua sampel aman untuk dikonsumsi masyarakat karena tidak melebihi batas maksimum penggunaan yang telah ditetapkan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Hidrokuinon merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencerahkan kulit, dan mengatasi hiperpigmentasi. Banyak kosmetik yang mengandung hidrokuinon salah satunya adalah handbody lotion. Handbody lotion adalah kosmetik yang dapat diaplikasikan pada kulit bagian tangan yang berfungsi untuk mengurangi dehidrasi kulit. Pada handbody salah satu bahan pemutih kulit yang terkenal dan banyak digunakan adalah hidrokuinon. Hidrokuinon lebih dari 2% termasuk golongan obat keras yang hanya dapat digunakan berdasarkan resep dokter. Studi literatur ini bertujuan untuk mengetahui cara kerja dan hasil analisis kualitatif dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan analisis kuantitatif hidrokuinon menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Hasil analisis kualitatif dari 10 sampel handbody lotion yang diuji oleh Sari et al., (2021) enam sampel positif mengandung hidrokuinon, dengan nilai Rf mendekati 0,85. Sementara itu, hasil penelitian Amelia et al., (2022) bahwa sampel X negarif atau tidak terdeteksi mengandung hidrokuinon. Pada analisis kuantitatif, kadar hidrokuinon dalam sampel positif berkisar antara 0,05%–0,26%. Penelitian ini menegaskan bahwa masih ada produk kosmetik di pasaran yang mengandung hidrokuinon, sehingga diperlukan pengawasan dan edukasi konsumen yang lebih intensif terkait keamanan kosmetik.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kandungan senyawa astaxanthin yang terkandung dalam limbah udang memiliki jumlah yang berbeda-beda, hal tersebut dipengaruhi oleh spesies, habitat, makanan, dan juga kemampuan metabolism. Limbah udang vaname dari kepala, cangkang, karapas, dan bagian ekor udang mengandung senyawa astaxanthin yang dapat dimanfaatkan untuk produk kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah Mengetahui kadar astaxanthin dalam cangkang udang vaname (Litopenaeus vannamei) yang yang diukur dengan Spektrofotometri UV-Vis dan Mengetahui pengaruh pelarut minyak kelapa dan aseton pada kadar astaxanthin dalam ekstrak cangkang udang vaname (Litopenaeus vannamei). Metode penelitian ini adalah literature review dengan mengumpulkan jurnal terkait penetapan kadar astaxanthin pada cangkang udang vaname menggunakan metode spektrofotometri uv-vis. Senyawa astaxanthin pada ekstrak cangkang udang vannamei (Litopenaeus vannamei) memiliki kadar rata-rata yaitu 73,2%. Suhu ekstraksi astaxanthin yang terbaik adalah 70 derajat C dengan nilai total astaxanthin dan warna tertinggi yaitu 11,718 µg/g. Kesimpulannya kadar senyawa astaxanthin sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti lingkungan, suhu, dan cahaya. Diperlukan penelitian lanjutan terkait kadar astaxanthin pada udang vannamei